Episode 6

1096 Words
Mansion Baru "Lo mampir kagak?", Tanya Rose beranjak turun dari mobil Lilis. "Kagak, udah malem", sahut Lilis sambil tersenyum. "Yaelah nginep di sini aja kalo kagak berani pulang", ucap Rose sambil menaik turunkan alisnya. "Kagak, gue lagi pengin balik ke mansion gue. Besok aja deh nginepnya", Ucap Lilis yang mulai memarkirkan mobilnya. "Oke, hati hati di jalan", sahut Rose sambil melambaikan tangannya. Lalu masuk ke mansion. Saat memasuki koridor menuju pintu utama sudah disambut dengan sepuluh orang pelayan membungkuk memberi hormat. Seorang pria mendatangi Rose dengan tersenyum formal. Wajah tampannya masih terlihat sekitar umur 20 tahunan, sementara umur aslinya 28 tahun. Dia orang yang tegas dan dingin terlihat jelas dimimik wajahnya. "Selamat datang Nona, perkenalkan nama saya Vian Feogi kepala pelayan", Ucap Vian di depan Rose penuh sopan santun. "Hm", sahut Rose yang langsung berjalan menuju pintu. Vian mengikuti langkah Rose dan membukakan pintu utama. Pintu terbuka lebar dan disambut sepuluh pelayan lagi serta memberi hormat ke Rose. "Ada berapa pelayan?", tanya Rose dingin. "Dua puluh pelayan, Nona", Sahut Vian. "Dimana kamarnya? Gue capek", Ucap Rose berjalan duluan dan di susul Vian sambil menunjukkan arah. *** Kamar utama Terlihat begitu luas dengan desain yang elegan berwarna putih dan abu abu. Terdapat Kasur ukuran big size dan juga meja belajar yang luas serta komputer dan lain lain untuk kebutuhan sekolah yang sudah tertata rapi. Ada juga Walk in closet yang sudah terdapat banyak baju baru untuk Rose. "Oh iya, seragam sekolah dan perlengkapan sekolah gue ada?", tanya Rose yang langsung duduk di sofa yang terletak di kamarnya. "Semua sudah siap, Nona", sahut Vian tegas. "Oh oke",ucap Rose menganggukan kepalanya. "Apa ada yang dibutuhkan lagi, Nona?", tanya Vian sopan. "Tidak, pergilah. Gue mau istirahat", ucap Rose pergi ke kamar mandi yang berniat membersihkan diri. "Baik, Nona. Apakah nona perlu disiapkan makan malam?", tanya Vian memastikan. "Enggak, gue mau langsung tidur abis membersihkan diri", sahut Rose menutup pintu kamar mandi. "Baiklah, Nona", sahut Vian yang langsung melenggang keluar dari kamar Rose. *** Pagi yang mendung semendung hati author yang abis ditolak kampus. eh malah curhat author ^^. Dering alarm dan panggilan memenuhi kamar Rose. Namun, yang punya kamar masih enak enaknya tidur tanpa terganggu sedikitpun apalagi cuaca mendung yang mendukung tidur makin nyenyak. Tok tok tok Vian mengetuk pintu kamar Rose berkali kali. Namun, si punya kamar masih terlelap sangat nyenyak. Akhirnya Vian memutuskan melenggang masuk dan berusaha membangunkan Rose lagi. Namun, berkali kali usaha Vian bahkan sampai berteriak teriak pun si putri tidur masih nyenyak. Tiba tiba si otak yang bersinar alias mendapatkan ide langsung menggendong Rose menuju kamar mandi dan meletakkannya di bath tube. Lalu, dinyalakannya air dingin. Sontak saja hal itu membuat Rose terkaget kaget ditambah dengan cipratan yang dicipratkan oleh Vian berkali kali ke wajah Rose. "Sialan lo Vi! Bangunin majikan lo kenapa kagak ada etikanya sama sekali!", kesal Rose memasamkan wajah cantiknya yang terkesan imut itu. "Makanya Nona harus bangun ketika saya berbicara baik baik", ucap Vian tegas dan pergi meninggalkan Rose yang masih ngedumel kagak jelas. *** Ruang Makan Rose menuruni tangga dengan wajah yang masih masam berjalan menuju meja makan. Rose menatap sinis Vian yang menarik kursi untuknya. Namun, Vian tetap berekspresi datar. Rose makan dengan santainya sambil bermain hp. "Maaf Nona, sekarang sudah jam 07.20 anda sudah terlambat 20 menit Nona", ucap Vian yang telat memberi kabar. Sontak saja Rose langsung memelototkan matanya dan berlari kencang yang disusul Vian. "Nona, mobil dan supir yang sudah disediakan Tuan Deborah sebelah sana",teriak Vian dengan wajah datarnya. Rose pun berlari kearah yang ditunjuk Vian. Lalu si supir yang melihat Nonanya terburu buru langsung membukakan pintu mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat. *** Sekolah Rose turun dari mobilnya tanpa menunggu si supir membukakan pintunya. Lalu, berlari menuju gerbang dan sudah pasti gerbang sudah ditutup. Rose menghela napas kasar. Tiba-tiba Rose melihat si anak cowok kemarin kemarin yang telat juga berjalan melewati Rose tanpa menyapa. Rose langsung mengikuti si cowok tersebut. "Woi! Lo telat juga?", tanya Rose yang sudah di samping si cowok. Si cowok tetap berjalan tanpa menjawab pertanyaan Rose karena si cowok beranggapan "udah tau kenapa nanya" begitulah kira kira pemikirannya. "Yak! Gue nanya loh, masa lo mengabaikan gue mulu si", gerutu Rose mengerucutkan bibirnya yang terlihat imut. Si cowok pun menoleh dan menatap datar. Namun berbeda dengan isi hatinya,"Gila! Imut banget! Gue kan jadi pengin coba tuh bibir kalo dimonyongin gitu!" Si cowok menghela napas mengatur diri agar tidak khilaf dan memanjat pagar sekolahnya. "Yak! Gue ikutttttt", ucap Rose mengulurkan tangannya sambil menatap penuh harap yang terkesan imut. Si cowok pun menarik tangan Rose dengan cepat dan sekarang tubuh Rose sudah berada di atas pagar bersama si cowok itu. Si Rose yang takut jatuh itupun memegang erat tangannya serta memeluk tubuh atletis itu. Si cowok yang mendapatkan respon seperti itu pun merasa sangat berdebar hatinya. "Entah gue kena penyakit jantung ato apa. Kenapa setiap kali ini anak selalu bikin jantung gue dangdutan ya", pikir si cowok dalam hati. Rose membuka matanya sembari tersenyum manis. Terlihat sangat cantik nan imut. "Ayo", Ucap Rose membuyarkan lamunan si cowok yang menatapnya tanpa berkedip. Si cowok pun lompat dari pagar dan menunggu Rose loncat. "Gue lancat nih, tangkep yang bener ya? Kayak kemarin kemarin itu", ucap Rose serius menatap si cowok. "Iya, cepetan", sahut si cowok menatap Rose. Rose pun meloncat dan yeah si cowok menangkap Rose ala bridal style. Prittttt Namun, tiba tiba bunyi peluit dari guru BK yang mendisiplinkan siswa terdengar nyaring membuat mereka menghela napas kasar. "Sialan", gerutu si cowok sambil menurunkan Rose dari gendongannya. "Sialan, kena hukuman gue", Gumam Rose "Pinter banget kalian! Sudah jam berapa sekarang!? Kenapa baru berangkat!? Mana manjat pager pula! Kalian ikut Bapak", teriak pak botak alias guru Bk mereka yang berjalan duluan menuju lapangan dan mereka pun mengikuti si guru tersebut. *** Lapangan Si guru Bk tersebut menatap tajam siswa siswa yang sudah berkumpul di lapangan alias terlambat lalu mulai berkata lantang. "Jika kejadian ini berulang lagi saya akan memangil orang tua kalian. Apa kalian dengar!" "Dengar pak", sahut siswa siswa bersamaan "Sekarang kalian bapak hukum hormat pada bendera sampai jam istirahat!", perintah pak botak tegas. "Baik pak", sahut mereka bersamaan "Tunggu apa lagi kalian!? Cepat laksanakan!", teriak pak botak kembali. "Jangan teriak teriak mulu pak, nanti sakit tenggorokannya", sahut Rose yang langsung berjalan menjalankan perintah. Semua siswa pun tertawa mendengar celotehan Rose yang dengan tampang polosnya lalu pergi begitu saja. Si pak botak menghela napas kasar sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Iya pak, nanti darah tinggi pula", sahut siswa lain sambil cekikikan. "Diam kalian! Cepat laksanakan perintahnya!", ucap pak botak tegas lalu, mereka pun menjalankan perintah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD