Mall
Rose dan kawan kawannya berjalan menuju cafe tempat biasa mereka nongrong.
Seorang waiters yang sudah paham betul terhadap mereka segera menyerahkan buku menunya.
Mereka memesan menu kesukaan mereka masing masing. Setelah beberapa saat kemudian makanan dan minuman yang mereka pesen pun tiba. Mereka makan dengan khusyu.
Setelah selesai makan mereka berkeliling di mall sambil bercerita.
"Oh iya, kita kagak ganti baju nih?", tanya Rose yang baru ingat mereka belum ganti baju sekolahnya.
"Ayo beli, gue juga baru ingat", sahut Lilis meneput jidatnya sendiri.
"Ayo",balas Jia yang langsung berjalan menuju toko pakaian yang diikutin yang lainnya.
***
Toko
Pelayan segera melayani mereka yang sedang memilih baju dan pelengkapnya.
Setelah mereka memilih, memakai dan membayarnya. Mereka pun pergi dari toko tersebut.
Untuk pakaian sekolah yang tadi dipakai, mereka meminta pakaiannya diantarkan ke alamat rumah mereka.
Lilis
Berpakaian dengan celana cargo panjang dengan atasan crop top tidak berlengan, lalu menggunakan snearkers yang cocok. Rambutnya yang pendek diatas bahu dibiarkan tergerai.
Jia
Berpakaian dengan dress selutut berwarna pink muda atau dusty pink yang bermotif bunga dibeberapa lengannya. Bagian kaki menggunakan snearkers. Lalu rambutnya diikat menjadi satu keatas.
Nana
Berpakaian celana jeans diatas lutut dengan kaos yang pas lalu cardigan panjang menjadi pelengkapnya. Rambut panjangnya digerai indah. Lalu menggunakan tas slempang yang pas. Dan bagian kaki menggunakan sneakers.
Rose
Berpakaian dengan dress selutut berwarna merah maroon berlengan panjang ala ala korean style. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, lalu dipadukan dengan topi baret serta sneakers putih lalu menggunakan tas slempang yang sangat cocok. Style ini bener bener trendnya anak muda jaman now lebih ke korean style gitu.
"Ayo",ucap Rose yang langsung berjalan duluan yang diikutin teman temannya.
***
Timezone
"Bayar sendiri loh", sarkas Rose yang berjalan menuju kasir untuk membeli card.
"Iyalah, tau diri gue", sahut Jia sambil cekikikan diikuti yang lainnya.
Tadi waktu makan habis 40 juta yang bayar Rose. Ditambah lagi mereka habis shopping sepaket baju casual udah habis ratusan juta tuh. Waktu shopping bayar sendiri sendiri pake black card masing masing.
***
Basketball
"Ayo, gue udah lama kagak main ini", ucap Rose semangat.
"Yang menang dapet apa?", sahut Jia menantang.
"Eh anjir, sejak kapan lo matre Kak?", sahut Nana polos.
Jia menepuk jidatnya sendiri dengan kelakuan adiknya yang super menguras kesabarannya tiap saat akibat kepolosannya itu.
Rose dan Lilis tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan Nana.
"Udah udah, mau main kagak lo?", tantang Jia menetralkan diri.
"Ayo", sahut Rose penuh semangat. Namun, tiba tiba saja ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Sialan! Ganggu aja", dengus Rose mengangkat teleponnya.
"Apa?",tanya Rose dingin.
"Maaf mengganggu waktunya Nona, saya pengurus apartemen. Saya mendapat laporan bahwa apartemen anda terlalu brisik setiap pagi sehingga banyak yang merasa terganggu akibat dering ponsel anda", ucap si penelpon sopan.
"Dimana manajer?", tanya Rose dingin.
Jia, Lilis, dan Nana yang memperhatikan perubahan raut wajah Rose langsung tau. Jika itu ada masalah.
"Ada hubungan apa Nona dengan masalah ini kenapa bawa bawa manajer segala? Nona tolong segera kembali di lobi sudah banyak keluarga yang protes. Mohon responnya Nona", ucap si penelpon yang mulai meninggikan suaranya.
Tut
Rose mematikan panggilan dan pergi menuju apartementnya.
Jia, Lilis, dan Nana langsung berlari mengejar Rose yang pergi tanpa pamit.
"Tunggu Oce, biar gue anter", ucap Lilis yang langsung menarik tangan Rose menuju mobilnya.
***
Di mobil Lilis
Rose langsung menelpon Oppanya. Dan langsung diangkat oleh jongki.
"Ada apa sayang? Tumben menghubungi Oppa dulu", sapa jongki dengan suara beratnya.
"Oppa... hiks ... hiks", Rose menangis karena tidak pernah dibentak seperti tadi. Bahkan Jongki selalu bersikap lembut kepada Rose walaupun Rose melakukan kesalahan. Namun, dinasehati dengan lembut tanpa menggunakan emosi.
"Kenapa sayang? Ada masalah apa? Siapa yang berani membuatmu menangis?", ucap Jongki beruntun merasa khawatir.
"Tadi pengurus apartemen bentak Oce... hiks... hiks sekarang Oce disuruh ke lobi, katanya banyak keluarga yang marah sama Oce karena Apartemen setiap pagi brisik Oppa hiks... hiks... Oppa apakah mereka tidak tau jika itu gedung apartemen milik kita?", tanya Rose diiringi tangisnya.
"Berani berani mereka!",batin Jongki penuh emosi menggertakkan giginya.
"Semua pegawai tau sayang, kalo keluarga kita pemilik gedung itu. Sudah jangan menangis sayang. Oppa akan menghubungi manajernya", Ucap Jongki menenangkan keponakan tercinta. Lalu memutuskan sambungannya dan menghubungi manajer.
Si manajerpun mengangkat teleponnya dengan penuh sopan.
"Ada apa Tuan? Ada yang...", tanya manajer basa basi yang langsung dipotong ucapannya oleh Jongki.
"Bereskan masalah yang terjadi hari ini, berani beraninya seorang pegawai seperti kalian membentak Rose Aila Deborah", gertak Jongki terdengar sangat menakutkan.
Si menejer yang mendengar itupun susah payah menelan salivanya dan membatin,"Sialan! Siapa yang berani menganggu Nona muda. Awas saja nanti".
"Baik Tuan, saya akan membereskannya sekarang", sahut manajer menyakinkan.
Jongki yang mendengar hal itu langsung mematikan sambungannya dan menghubungi tangan kanannya untuk membereskan pegawai yang berani membentak Rose.
***
Lobi Apartemen
Di lobi sudah dipenuhi beberapa keluarga yang merasa terganggu akibat brisiknya alarm dan dering ponsel Rose setiap pagi.
"Ada apa ini?", tanya manajer dingin dan mengintimidasi.
"Ini Tuan...",si pegawai menjelaskan apa yang terjadi.
"Sekarang bubar dan kumpulkan seluruh pegawai", perintah manajer lalu menatap sekertarisnya untuk mengumpulkan seluruh karyawannya.
Setelah beberapa saat, seluruh pegawainya sudah berkumpul semua.
"Apakah di sini ada yang tidak tau Nona muda?", tanya dingin Manajer mengintimidasi.
Suasana terlihat mencengkam dan banyak yang menundukkan kepalanya.
"JAWAB!", bentak manajer emosi.
"KAMI TAU PAK", Sahut pegawai bersamaan.
"Saya tanya yang tidak tau!?", ucap tegas nan dingin si manajer.
"S-saya pak...", si pegawai yang tadi membentak Rose pun mengajukan diri sambil bergemeter.
"Siapa namamu?", tanya dingin manajer.
"Saya Enok Pak", sahut Enok tak berani menatap manajernya.
"Apakah kamu pegawai baru?",tanya dingin manajer.
"Iya pak", sahut Enok gemeteran.
"Siapa yang menyeleksi pegawai ini!?", bentak manajer penuh emosi karena setiap perekrutan pegawai dan yang diterima menjadi pegawai mesti selalu diberitahukan jika di sini ada Nona mudanya. Namun, ini adalah kesalahan pertama yang belum pernah terjadi. Bagaimana bisa pegawai baru tidak diberitahukan hal itu. Ini sangat tidak bisa ditolerir. Apalagi Tuan Deborah sangat menyayangi Nona muda. Bisa bisa apartemen ini dirobohkan hari ini juga.
"S-saya pak, s-saya l-lupa pak", sahut penyeleksi tersebut ketakutan
Si menejer memijit pelipisnya dan menahan emosinya.
"Anda saya pecat", Ucap manajer tegas dan dingin.
"M-maafkan saya pak, saya bener bener lupa", ucap si penyeleksi yang langsung bersujud di kaki manajer.
Si menejer memanggil security dan memintanya membawa pergi orang tersebut.
Lalu si manajer menatap tajam orang yang bernama Enok yang berani membentak Nona mudanya.
"Sedang apa kamu di sini?",ucap manajer dingin.
"Kamu juga saya pecat", ucap manajer tajam dan juga memerintah security yang lainnya untuk mengusir pegawai itu.
Setelah suasana menegangkan itu. Si manajer mulai menceramahi pegawainya.
"Jika hal ini terjadi lagi, saya tidak akan segan segan mendepak kalian dari sini", ucap manajer dingin nan menatap tajam satu persatu pegawai.
Lalu si manajer menelpon Jongki. Jongki mengangkat teleponnya.
"Tuan, masalah sudah beres", ucap manajer yakin.
"Tidak ada lain kali untuk kejadian seperti ini", ucap Jongki dingin.
"Baik Tuan, Maafkan kami", ucap manajer.
Jongki langsung memutuskan teleponnya dan menghubungi keponakannya.
"Sayang masalah sudah beres", ucap Jongki lembut.
"Makasih Oppa", sahut Rose masih sesegukan.
"Udah dong sayang, nangis terus jelek loh", ucap Jongki berusaha mencairkan suasana hati keponakannya.
"Cantik cantik gini juga", sahut Rose yang menghapus air matanya.
"Mana Senyumnya sayang", ucap Jongki menatap hpnya. Mereka sedang video call.
Rose tersenyum dengan hidung yang merah sehabis menangis.
"Oh iya, Oppa udah siapin Mansion buat Oce. Oce mau pindah kapan? Sekarang atau besok?"
"Sekarang aja, Oce udah enggak mood balik ke apartemen", sahut Rose ketus.
"Ya udah sana, alamatnya di jalan Xx", ucap Jongki tersenyum lembut.
"Lis dengerkan lo?", tanya Rose menatap Lilis yang sedang menyetir.
"Dengerlah, emang gue budeg", sahut Lilis kesal.
"Haha", Rose menertawakan Lilis yang langsung cemberut. Jongki pun ikutan tertawa.
"Ya udah hati hati di jalan sayang, oh untuk barang barang Oce di apartemen aja. Nanti kalo butuh sesuatu langsung beli aja kagak usah ngambil barang lama", ucap Jongki.
"Siap Oppa", sahut Rose tersenyum senang. Panggilan pun berakhir.