Episode 4

966 Words
Beberapa saat kemudian. Tanpa disadari sedari tadi si cowok memperhatikan bibir Rose dan secara perlahan mendekatkan bibirnya. Rose yang merasa bahwa si cowok perlahan semakin dekat pun mendorongnya. "Gurunya udah pergi?", tanya Rose serius. "Hah?...", jawab si cowok gelagapan. Namun, langsung bisa menyesuaikan suasana. Si cowok mengintip dan memperhatikan sekitar. "Udah pergi", ucap si cowok yang langsung pergi. Rose tersenyum dan mengikuti langkahnya. "Makasih", ucap Rose yang langsung pergi menuju kelasnya. Si cowok menatap punggung Rose dan sedikit tercetak lengkungan di sudut bibirnya. "Apa-apaan?", si cowok berusaha menyadarkan dirinya. "Kenapa gue bisa begitu, masa iya gue hampir cium tuh anak", ucap si cowok lalu pergi menuju kelasnya. *** Rose mengendap-ngendap menuju kelasnya. "hoho gue udah kek detektif mo nangkep maling", ucapnya sambil menertawai dirinya. bruk Rose menendang pintu kelasnya, sambil berjalan santai menuju bangkunya. "Woi bangk*, kenapa baru berangkat? Untung jam kosong loh",ucap teman sebangkunya yang bernama Lilis. "Pasti kesiangen tuh curut", ucap teman depan bangkunya yang bernama Nana. "Eh anjir lo berdua, tau aja gue kesiangen", jawab Rose cengengesan. "Biasalah", sahut mereka bersamaan. "Tumben jam kosong, ada acara apa nih? Kok gue baru tau ya", tanya Rose sambil mengambil sarapan temennya yang duduk dibangku depan lilis. "Eh anjir lo, main comot aja", sahut Jia yang melihat Rose mengambil bekalnya. "Hehe, nanti gue traktir deh. Gue kan kagak sarapan Ji", ucap Rose yang kembali duduk ke bangkunya sambil makan sandwich milik Jia. "Beneran loh", ucap Jia menatap serius. "hm", jawab Rose sambil makan sandwich. "Eh bangk*, tadi pertanyaan gue belum dijawab. Ada acara apa?", Ucap Rose sambil makan sandwich. "Rapat, biasalah", sahut Lilis sambil menatap sandwich yang dimakan Rose. "Mau?", tawar Rose sambil memasukkan suapan terakhirnya. Pletak Lilis menjitak Rose. Rose pun cengengesan sambil mengelus jidatnya. "Sialan! udah ditawarin mana dimakan lagi. Kagak niat banget lo nawarin gue", cetus Lilis berdiri mengambil sandwich Jia. "Weh anjir, gue juga mau", ucap Nana yang duduk di sebelah Jia dan langsung mengambil sandwichnya. Jia hanya menghela napas untuk sabar dengan tingkah sahabat sahabatnya ini, yang super gesrek. Dan kadang tidak tau diri. *** Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berhambur menuju kantin. *** Kantin Rose dan teman temannya mengantri makan sambil berbincang bincang. "Lo mau traktir gue kapan?", tanya Jia yang sedari tadi menunggu info dari Rose. "Oh iya, nanti abis pulang sekolah ke mall ya",sahut Rose sambil cengengesan. "Gue ikut", ucap Lilis yang diangguki Nana juga. "Yaelah kenapa minta izin segala, kayak biasanya kagak langsung ngikut aja", sahut Rose mengambil makan diikuti teman temannya. "hehe", balas Lilis dan juga Nana. Setelah mengambil makan mereka makan hingga habis. *** Cafe Mereka sedang nongkrong di cafe yang terletak tidak jauh dari kantin di sekolah mereka. "Lo pada mau pesen apa?", tanya Rose beranjak dari tempat duduknya. "Latte, Green tea", sahut Jia dan Nana bersamaan. "Ayo", Rose menarik Lilis yang akan berbicara ingin memesan apa. "Yaelah, gue kira lo yang bakal pesenin gue sekalian",gerutu Lilis sambil berjalan mengikuti Rose. "Ya kali gue sendiri pesen segitu banyaknya, tangan gue kagak muat", sahut Rose yang sudah sampai di meja pemesanan. "Latte, Green Tea, Caramel. Lo apa Lis?", tanya Rose sambil menatap Lilis. "Green tea juga", sahut Lilis tersenyum lebar. Pelayan yang mendengar pesanan tersebut pun langsung menyiapkan pesanan mereka. Beberapa saat kemudian. Pesanan mereka telah jadi dan mereka pun kembali ke tempat tadi sambil menikmati minuman masing masing. Dari kejauhan terlihat sosok cowok yang sedari tadi memperhatikan Rose tanpa terkedip sekalipun. "Woi bro, lo kenapa? lo liatin apa?", tanya teman nongrongnya. "Bukan apa apa", sahut si cowok mengalihkan pandangannya, kemudian menatap Rose kembali. "Bukan apa apa, apaaan? Lo tuh naksir ya sama Rose? Atau Lilis? Kok dari tadi lo perhatiin mereka terus" "Rose", gumam si cowok sambil tersenyum penuh makna. "Ha? lo bilang apa? Kagak denger gue, kalo ngomong tuh yang jelas" "Brisik", balas si cowok dingin. "Sabar sabar punya temen kulkas harus punya kesabaran ekstra", gumam si teman sambil mengelus dadanya. Bel berbunyi tanda masuk. Seluruh siswa berhambur ke kelasnya masing masing. Begitu pula dengan Rose dan kawan kawannya. "Jam kosongnya sampe kapan?", tanya Rose sambil berjalan menuju kelas. "Udah kagak ada jam kosong cuma tadi doang", sahut Jia si murid teladan nan orang paling bener diantara sahabat sahabat yang gesrek ini. Rose, Lilis, dan Nana menghela napas kasar karena pelajaran pun dimulai juga. *** Pulang sekolah Ponsel bergetar lumayan lama tanda panggilan. Rose menatap layar hpnya yang tertera nama Jong ki Oppa yang artinya Omnya menelpon. Segera diangkatnya telepon tersebut. "Oppa?", sapa Rose sambil berjalan menuju parkiran diikuti teman temannya. "Udah pulang sayang?", sahut Jongki sambil tersenyum dibalik teleponnya. "Udah Oppa, ini Oce sama teman teman mau ke mall. Oppa lagi ngapain?", ucap Rose memasuki mobil Lilis. Omnya dan Sahabatnya Rose memanggil namanya dengan sebutan Oce. Lilis dan Jia selalu membawa mobil sport mereka. Bagaimana dengan Nana? Nana itu adiknya Jia jadi, dia selalu berangkat dan pulang bersama. Lalu kenapa Rose tidak membawa mobil sendiri? katanya orang terkaya. Itu karena Rose tidak boleh membawa mobil dan Rose juga belum bisa menyetir akibat larangan dari Omnya yang super protektif terhadap Rose. "Oppa lagi makan malam sayang, di sini udah malam banget", sahut Jongki sambil makan. "Kok tumben Oppa makan malam jam segitu, kan biasanya Oppa selalu tepat waktu. Ada apa ini?", tanya Rose khawatir. "Enggak ada apa apa sayang, tadi Oppa sibuk banget jadi baru ada waktu buat makan malam", sahut Jongki menenangkan keponakan tercintanya. "Oppa harus jaga kesehatan jangan telat makan lagi", ucap Rose mode imutnya. "Iya sayang, Oppa usahain", sahut jongki sambil membayangkan keponakannya yang memang sangat imut itu. "Ya udah Oppa, ini Oce dan kawan kawan udah nyampe mall",ucap Rose turun dari mobil. "Oke, pulangnya jangan kemalaman", sahut jongki lalu mengakhiri panggilannya setelah mendengar jawaban keponakannya. Jongki walaupun umurnya sudah 30 tahun dia belum ada niatan untuk menikah. Dia selalu fokus terhadap pekerjaannya dan menjaga keluarga satu satunya yaitu Rose.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD