Episode 3

224 Words
"Locat", perintah cowok itu dingin. "Hah? Nanti kalo gue jatuh terus patah tulang gimana?", kesal Rose. "Gue tangkap, cepat!", perintah dinginnya. Rose pun melompat dan langsung tertangkap ke atas tangan si cowok itu. Si cowok memperhatikan wajah cantik Rose yang masih terpejam karena takut jatuh. "Cantik", batin si cowok yang masih terus memperhatikan wajah cantik yang mempunyai bulu mata lentik, hitung mancung, wajah tirus memberi kesan imut dan wajah yang sehalus bok*ng bayi. Beberapa saat kemudian, Rose mulai membuka matanya dan tersenyum menatap cowok itu. Sontak saja membuat si cowok berdebar. "Turun", perintah Rose sambil tersenyum. "Hah?", seketika membuat si cowok nge blank. "Turunin gue", pinta Rose lagi. "Oh... Ya... ", jawab si cowok terbata dan menurunkan Rose, serta pergi begitu saja. "Woi", kejar Rose mensejajarkan langkahnya. "Makasih ya", ucap Rose sambil tersenyum manis menatapnya. Si cowok tak menanggapi hal itu dan terus berjalan. Rose pun setelah mengucapkan terima kasihnya pergi berlalu menuju kelasnya. Namun, si cowok menghentikan langkahnya dan menyeret Rose ke tempat sempit. Hal itu tentu saja membuat Rose terkejut. "Kenapa?", tanya Rose melototkan matanya. Si cowok mengbungkam mulutnya dengan menutupkan tangannya dan mengintruksikan untuk diam serta berbisik, "Ada guru BK". Rose pun mematuhinya untuk tetap diam. Dan si cowok melepaskan tangannya dari mulut Rose. Beberapa saat kemudian. Tanpa disadari sedari tadi si cowok memperhatikan bibir Rose dan secara perlahan mendekatkan bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD