Dia selalu membawa pertarungan di setiap kemunculannya. Aku bukannya takut menghadapi pertarungan antar pemimpin klan, hanya saja aku tidak suka kalau harus memperebutkan segala sesuatunya dengan kekerasan. Kecuali, mereka lebih dulu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.
“Dimana?” Tanyaku kemudian.
“Bristol”
“Bukankah disana ada Alaric?” Tanyaku lagi. Dan kali ini aku benar-benar bingung.
Bristol adalah salah satu daerah yang kuserahkan pada salah satu vampir pengikutku yang kuat. Karena daerah itu berdekatan dengan Wales yang merupakan daerah perbatasan. Ada banyak masalah yang sering terjadi disana dan Alaric selalu bisa mengatasinya dengan baik.
“Sepertinya mereka menyebrang dari Wales, Wren. Dan Alaric sama sekali tidak menyadari kalau serombongan vampir baru yang bulan lalu meminta suaka adalah vampir bertuan milik HECTOR. Kelihatannya Alaric diserang dari segala sisi.”
Scorpio Clan.
Klan vampir yang cukup besar dan sangat kuat. Selama ini aku hanya mendengar kehebatan nama pemimpinnya, dan beberapa kali bertemu saat ada pertemuan beratus tahun lalu sebelum Zac menjadi nosferatu. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana kekuatan mereka, yang kutahu hanyalah kenyataan kalau HECTOR, sang ketua klan adalah master dari beberapa klan vampir lainnya. Yang artinya, dia sudah cukup tua bila dibandingkan denganku.
“Kapan tempat itu jatuh ke tangan mereka?” Tanyaku sedikit berharap kalau Bristol masih bisa diselamatkan.
“Beberapa jam yang lalu. Alaric ditawan mereka.”
“Alaric ditawan mereka, jadi siapa yang memberi kabar?”
“Cartez.”
Brengsek!
“Kau membuatku membenci kemampuanku membaca pikiran, Wren. Sejak kapan kau belajar memaki dari awal hingga akhir seperti ini?” Tanya Zac yang entah sejak kapan berdiri dalam jarak 2 langkah dariku.
Zac berdiri disana dengan sangat tenang seolah tidak ada masalah sama sekali. “Seharusnya aku sadar sejak melihatmu muncul di rumahku, Zac.” Geramku sambil menekankan jari telunjukku di dadanya yang hanya membuat Zac tertawa. “Kau mau ikut denganku atau tidak?” Tanyaku kemudian setelah menyadari kalau semakin aku menyalahkannya, Zac hanya akan semakin bahagia.
“Tentu saja aku ikut. Bukankah aku selalu menantikan hal ini? Melihatmu bertarung? Lagipula ada sedikit pelanggaran yang harus kuurus disana.” Sahut Zac yang menurutku sangat bersemangat. Kalau aku tidak mengenalnya, maka aku pasti sudah mencurigainya sebagai salah satu yang terlibat dalam konspirasi perebutan wiWrenahku. Tapi aku sangat mengenalnya dan tahu kalau harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal kotor seperti itu.
Aku berbalik dan berjalan kembali ke kantorku bersama Zac. Kulihat Alby masih menikmati minumannya di meja bar. Laki-laki ini juga memiliki sifat yang unik. Lihatlah, dia sudah mengetahui jawaban pertanyaannya dari aura kekesalan yang kupancarkan, tapi dia masih bisa duduk santai disana sambil menyesap Darah dalam gelasnya dengan perlahan.
“Ada masalah?”
“Kita kehilangan Bristol.” Ujarku cepat sambil meraih telepon dan menelepon seseorang.
Setengah jam kemudian kami sudah melaju dengan menggunakan limosinku menuju Bristol. Karena misi kali ini hanya untuk menjemput Alaric, aku memutuskan untuk tidak membawa siapapun bersamaku, termasuk Alby. Hanya Zac dan Archard yang ikut denganku ke Bristol malam ini. Tapi aku juga tidak sebodoh itu untuk tidak menyiapkan apapun. Setidaknya Gloucester dan Swindon sudah bersiap menerima perintahku untuk menyerang Bristol kalau-kalau aku gagal mengusahakan jalan damai.
“Kau memang satu-satunya vampir paling glamor yang kukenal, Wren.” Ujar Zac sambil memperhatikan isi dalam limosinku yang sebenarnya tidak berbeda dari limosin manusia pada umumnya.
“Apa salahnya memanjakan diri? Aku tidak akan mengikutimu yang tinggal di gua atau seperti Aleandro yang tinggal di pedalaman hutan. Tidak. Aku suka hidup ditengah kota dengan segala keramaian dan kemewahan yang bisa kuperoleh.” Sahutku ringan.
“Gua yang kau katakan itu hanyalah ruangan bawah tanah, Teman. Kau selalu berlebihan kalau menyangkut masalah properti, Wren. Hanya karena kami tidak tinggal di rumah moderen dan canggih di tengah kota, bukan berarti kami tidak pandai memanjakan diri.” Ralat Zac tenang.
Aku mengabaikan protes Zac sambil menuang sekantong Darah yang sudah dihangatkan ke dalam gelas. “Banyak sekali kau minum hari ini, Wren?”
“Kau tidak mengira mereka akan melepaskan Alaric begitu saja bukan begitu aku memintanya?” Tanyaku datar lalu meneguk habis isi gelasku. “Tidak ada yang mudah sejak kau selalu mengikutiku, Zac.”
Telepon wireless di sebelah tempat dudukku berbunyi. “Ada apa?” Tanyaku pada si penelepon yang tidak lain tidak bukan adalah supirku.
“Lima menit lagi kita akan sampai di kediaman Alaric, Sir.” Lapornya tenang.
Zac hanya menggeleng pelan saat aku menjawab. “Terima kasih. Setelah kami turun, pergilah menjauh setidaknya 1 mil, dan kalau dalam setengah jam aku tidak datang, hubungi GEOFREY dan minta dia mengirim bantuan.” Ujarku sebelum memutuskan sambungan. Meski supirku sudah dilatih untuk bertarung melawan vampir, tapi dia tetap harus hidup untuk meminta bantuan,
“Berapa orang manusia yang kau pekerjakan, Wren?” Tegur Zac seakan dia sudah lama ingin mengetahuinya.
“Semua supir yang kumiliki adalah manusia, Zac. Kecuali untuk saat-saat tertentu, misalnya untuk menemuimu atau Aleandro. Aku butuh supir yang bertahan di bawah sinar matahari saat aku tidak ingin menyetir. Lupakan saja kalau aku memiliki pegawai manusia, okay? Dalam beberapa menit kita akan sampai, dan Archard, jangan pernah menggangguku. Kau hanya bertugas melindungi Zac, tidak peduli dia memintamu untuk menyelamatkanku.”
“Aku tidak mematuhimu, Wren. Kalau itu perintah Zac, aku akan melaksanakannya walau aku harus membunuhmu untuk membawamu ke hadapannya.” Balas Archard dingin.
“Kenapa kalian tidak pernah akur?”
“Aku akan akur dengannya saat aku menikah, yang artinya tidak akan pernah.” Sahutku cepat dan beberapa saat kemudian mobilku berhenti di depan sebuah rumah bergaya lama yang sebenarnya adalah rumahku sebelum Bristol diambil alih oleh Klan Scorpio.
Kami bertiga turun dari mobil dan kemudian sesuai perintahku, supirku segera pergi dari sana. Aku memperhatikan keadaan sekitar. Tinggal 2 jam menuju fajar. Itu artinya apapun yang kulakukan disini harus segera kuselesaikan. Oh, matahari tidak menjadi masalah bagiku, tapi jelas menjadi masalah cukup besar bagi Alaric. Aku bisa berdiri dibawah terik matahari Spanyol selama lebih dari 3 jam sebelum kulitku mulai terbakar. Dan terakhir kali aku melakukan uji coba kebodohan itu adalah satu abad yang lalu.
Hanya beberapa detik kemudian tubuhku terlempar begitu saja menabrak pohon saat mataku menangkap gerakan sebuah anak panah menuju tempatku berdiri sebelumnya. Aku tahu aku harus berterima kasih pada Zac dengan kekuatan telekinesisnya karena sudah menyelamatkanku dari panah tadi. Tapi, dia tidak harus menghantamkan tubuhku ke batang pohon paling besar yang ada disana. Dia bisa saja membuang panah itu dan bukannya tubuhku.
“Terima kasih sudah mematahkan tulangku, Zac.”
“Oh, biasa saja, Wren. Kau tahu itu bahkan tidak cukup untuk membuatmu memar apalagi sampai patah tulang.” Balas Zac sambil tersenyum.
Panah tidak akan pernah membuatku terluka, tapi berbeda jika mata anak panah itu terbuat dari perak murni. Seperti legenda, kami memang bisa terluka dengan matahari dan perak, tapi tidak dengan salib, air suci ataupun bawang putih! Jangan percaya itu. Satu-satunya alasan kenapa kami tidak menyukai bawang putih adalah karena baunya mengingat penciuman kami yang sangat sensitif. Aku yakin sebagian besar manusia juga memiliki alasan yang sama.
“Aku tahu kau ada disekitar sini, Cartez! Tunjukkan dirimu sekarang.” Teriakku sambil memperhatikan arah tempat munculnya panah tadi.
“Tidak semudah itu, Wren.” Ujar sebuah suara dan puNavaro panah kembali melesat ke arahku.
Menjadi vampir akan membuat gerakanmu nyaris seringan angin dan dapat bergerak dengan sangat cepat, tapi kecepatanku selalu menjadi kelebihanku karena sepanjang usia vampirku, tidak pernah ada yang bisa menyaingi kecepatanku. Aku berhasil menghindari puNavaro anak panah itu saat tiba-tiba kusadari seseorang melompat dari atas atap rumah dan menembakkan peluru vertikal ke arahku. Pilihannya adalah tertancap anak panah bermata perak atau tertembak peluru yang kemungkinan terbuat dari perak.
Dan aku tidak menginginkan keduanya!
Aku berusaha menghindari keduanya, tapi peluru perak itu berhasil menggores lenganku hingga berDarah.
“b******k!” Makiku saat melihat lenganku mulai berDarah dan menyebarkan nyeri menyengat khas yang selalu muncul saat bersentuhan dengan perak.
Oh, jangan salah, vampir juga bisa berDarah, Teman.
Dan saat itu sesosok tubuh jangkung muncul dari dalam kegelapan bayang-bayang pepohonan. Dari kilauan rambut keriting pirangnya yang tertimpa cahaya bulan aku langsung mengenali vampir itu. Vampir yang melakukan semua trik panah dan peluru kejutan tadi. “Baru keluar setelah memastikan salah satu senjatamu melukaiku?” Tanyaku dingin sambil berusaha menghentikan perDarahan di lenganku dengan menekannya, meski tahu usaha itu sia-sia.
Satu-satunya yang membuat vampir benci perak adalah kenyataan kalau luka yang diakibatkan oleh perak amat sangat lambat untuk sembuh dan tidak jarang beberapa luka besar tidak bisa kembali seperti semua. Vampir yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang sanggup membuat dunia kedokteran iripun harus bertekuk lutut dihadapan perak.
“Aku tidak sebodoh itu hingga menghadapi vampir berkecepatan tinggi sepertimu tanpa strategi.” Ujar Cartez dingin. “Kau ingin membebaskan bawahanmu yang setia itu, bukan? Apa yang bisa kau lakukan kalau kau terluka seperti ini?” Tanya vampir pirang itu jelas-jelas meremehkan kemampuanku.
“Dimana Alaric saat ini?”
“Coba tebak! Rumahmu ini untuk ukuran perumahan di Bristol sangat luas dan sangat mewah, Wren. Ada banyak sekali ruangan di dalamnya. Kau mungkin bisa menebak dimana kuletakkan Alaric dari sekian banyak kamar di rumahmu.”
Belum sempat aku berpikir, terdengar suara jeritan kesakitan dari dalam rumah diiringi suara tawa yang menggema yang terdengar sampai keluar. Bahkan aku yakin telinga manusia pun mampu mendengar jeritan itu. Cartez benar-benar menguji kesabaranku. Aku tidak tahu berita apa yang selama ini beredar, tapi kalau ada berita yang mengatakan bahwa siapapun yang menyiksa anggota klan-ku akan tetap hidup, jelas suatu kebohongan. Cartez sudah memastikan kalau dirinya akan mati di tanganku dengan menyiksa Alaric seperti itu.
Dari sudut mataku, aku dapat melihat kalau Zac sudah berpindah dan sekarang sedang bersandar di salah satu batang pohon di dalam gelap sambil memperhatikanku.
Aku menunggu pertunjukanmu, Wren. Berikan aku tontonan yang lebih menarik.
Suara itu masuk ke dalam kepalaku begitu saja seolah Zac benar-benar mengucapkannya dengan lantang. Aku tidak perlu provokasi apapun dari Zac, jeritan Alaric tadi cukup untuk memberikan Cartez tiket ke tangan Ker!
Aku membiarkan Darah mengalir dari lengan kiriku dan berjalan menghampiri Cartez saat vampir itu sempat terkejut dan mundur selangkah. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Cartez sambil terus berjalan mundur saat aku semakin mendekatinya. Matanya bergantian melirik lenganku yang terluka dan kembali ke wajahku.
“Izinkan aku melihat wajahmu dengan baik sebelum aku membunuhmu.” Bisikku pelan dan dengan sengaja mempercepat gerakanku hingga kini wajah Cartez berada hanya satu senti dari wajahku.
“Tembak dia!” Seru Cartez saat terdengar gerakan-gerakan disekitar hutan dan puNavaro anak panah kembali melesat ke arahku saat Cartez berusaha melarikan diri.
Aku merentangkan kedua tanganku. Dan seluruh anak panah itu terhenti di udara. Sebelum berbalik dan melesat kembali menuju si pemanah dengan kecepatan dua kali kecepatan sebelumnya. Dan malam mulai dihiasi teriakan-teriakan kesakitan yang kali ini berasal dari sekitar pepohonan.
“Kau! Kekuatan itu!” Ujar Cartez tidak percaya.
“Dia memiliki kekuatannya sendiri, Sobat. Aku heran kenapa selama ini kalian berpikir kalau kekuatan telekinesis yang ada disetiap pertempuran Wren adalah campur tanganku. Wren juga memiliki kemampuan itu.” Ujar Zac yang entah sejak kapan memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan menunjukkan wujudnya. “Park Cartez. Aku sudah menetapkan kalau setiap kepala klan boleh menantang kepala klan lainnya dan bertarung hingga salah satu dari mereka mati atau menyerahkan wiWrenah dan klannya secara sukarela. Dan aku juga sudah melarang segala bentuk penawanan terhadap semua makhluk yang dilakukan oleh kaum vampir. Jadi, apa yang kau lakukan pada vampir malang di ruang bawah tanah itu?”
Kali ini bukan keterkejutan yang ada diwajah Cartez. Ketakutan sudah menggantikan keterkejutannya. Perhatiannya yang terlalu terfokus padaku membuatnya tidak menyadari hadirnya sang nosferatu disekitarnya. Membangkang perintah sang raja sama saja dengan mengakhiri keabadian. Dan dia sepertinya tidak menyadari kemungkinan kalau Zac ada di Inggris saat ini, bukannya di Kanada.
“Jangan ganggu aku, Zac!” Geramku tanpa bisa menahan taringku yang mulai memanjang.
Zac meletakkan tangannya dibahuku. “Aku tidak akan menahanmu. Kau boleh membunuhnya setelah dia mengatakan ini atas perintah siapa.”
“Jelas HECTOR yang memerintahkannya!” Ucapku mulai tidak sabar saat menyebutkan nama pemimpin klan Scorpio itu.
“HECTOR tidak ada hubungannya dengan ini! Menahan Alaric sepenuhnya atas keinginanku.” Tukas Cartez yang sama sekali lupa apa akibat dari pengakuannya itu.
Aku menjulurkan tangan ke leher Cartez saat vampir pirang itu malah berusaha mencengkram lenganku. “Kau tidak akan bisa menyentuhku, b******k!”
Dengan sangat cepat aku berpindah ke belakang Cartez dan menendang punggungnya hingga ia jatuh tersungkur. Aku ingin sekali menyiksanya terlebih dahulu seperti yang selama ini selalu kulakukan pada orang-orang yang menyiksa anggotaku, tapi Alaric harus segera diselamatkan. Dalam satu lompatan aku menginjak kedua bahunya dengan kakiku.
“Ucapkan selamat tinggal pada bulan, Sobat.” Bisikku lalu dengan kekuatan yang cukup, aku memelintir kepala Cartez dan melepaskan bagian tubuh itu dari badannya. Setua apapun kaum vampir, kami tidak memiliki kemampuan untuk menyambung anggota tubuh yang terlepas. Dan vampir tidak bisa hidup tanpa kepala.
Aku melirik jam tangan yang kugunakan. Sudah hampir setengah jam. Kuambil ponsel dari dalam saku celana dan kulemparkan pada Archard. “Telepon supirku dan suruh dia menjemput kita. Aku akan mengeluarkan Alaric.” Seruku lalu segera menghilang ke dalam rumah hanya untuk menghabisi vampir level rendah dan mengeluarkan Alaric dari dalam ruang bawah tanah.
Begitu aku keluar bersama Alaric, tubuh Cartez yang tadinya masih utuh, kini sudah habis dimakan api. Zac tidak pernah meninggalkan bekas apapun dalam setiap pertempurannya. Hidup entah sejak kapan sebagai vampir membuat laki-laki dihadapanku ini memiliki banyak kekuatan alam. Dan kami semua segera masuk ke dalam mobil tepat sebelum fajar menyingsing.
***
“Tidak bisakah kau masuk ke dalam mimpinya?” Tanyaku pada Alby saat sudah hampir seminggu Alaric tetap tidak terbangun dari tidurnya.
“Setiap dream hunter tidak bisa memburu mimpi sesama anggota klan, Wren. Itu peraturan dari para oneroi.” Ujar Alby datar. “Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Kalau aku bisa, aku ingin sekali masuk ke mimpinya dan melihat apa yang membuatnya memilih untuk berada di alam bawah sadarnya.”
“b******k! Lalu siapa yang bisa membuatnya sadar!” Seruku benar-benar kesal karena aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Alaric.
Hampir seminggu ini aku sama sekali tidak keluar dari salah satu kediamanku di Maidenhead. Aku tidak bekerja atau bahkan menemui Lily hanya untuk memastikan apakah ada vampir lain yang berkeliaran di sekitar gadis itu yang mungkin sudah mengambil bekas Darahku. Alaric adalah prioritasku saat ini. Kalau Alby adalah vampir yang pertama bergabung dengan klan-ku maka Alaric adalah vampir pertama yang kuminta untuk bergabung denganku. Kulihat Alby hanya berdiri diam di pinggir tempat tidur Alaric sebelum dia menatapku tajam.
“Apa yang akan kau pilih, Wren? Seorang dream hunter dari klan lain memasuki rumahmu dengan risiko rumahmu tidak lagi aman dan setiap makhluk malam di luar sana dapat dengan mudah menemukannya atau Alaric tetap berbaring seperti ini?”
“Asal Alaric bisa sadar aku tidak peduli siapapun yang akan datang.” Jawabku cepat tanpa memikirkan akibatnya sama sekali.
Rumahku, setiap rumah yang kumiliki, memiliki perlindungan dari sang malaikat. Hanya klan-ku atau orang yang kuizinkan yang bisa memasuki rumahku. Bahkan mereka yang bukan klanku tidak akan pernah menemukan rumahku. Walaupun tipis, kekuatan malaikat mampu membuat rumahku hanya bisa ditemukan oleh sesama malaikat. Mustahil memang, tapi karena Navaro adalah temanku, hal itu bisa terjadi.
“Kau yakin?” Tanya Alby lagi.
“Memangnya dream hunter dari klan mana yang akan datang?” Tanyaku mulai tidak sabar.
“Scorpio, Wren.”