*Lily POV*
Aku tidak tahu apa sebenarnya alasan Wren mendekatiku sampai seperti ini. Setiap kali aku mendapat shift malam, maka siangnya Wren pasti akan muncul di depan rumahku, menjemputku, dan memaksaku ikut bersamanya. Terkadang kami pergi ke lokasi syuting tempat dia menjadi sutradara ataupun produser. Lain waktu aku menunggunya selesai mengajarkan dance untuk beberapa boyband di agensinya. Dia tidak benar-benar merayuku seperti yang kuduga sebelumnya. Dia hanya membawaku dari satu tempat kerjanya ke tempat kerja yang lain_yang pastinya berada di dalam ruangan.
Tim benar, Wren memiliki pekerjaan yang tidak tetap. Terdengar mirip dengan pekerja serabutan biasa, tapi jelas dalam tingkatan yang berbeda. Wren menangani semua pekerjaan itu bukan berdasarkan atas siapa yang membayar jasanya paling mahal, tapi lebih pada kenyataan kalau siapa dari mereka yang sanggup menandatangani kontrak kerja dengan syarat tidak memunculkan Wren dalam berita, maka dia yang akan dipilih Wren.
Oh, jangan salah.
Nama Wren selalu disebut dalam setiap pembuatan film, ataupun dalam acara penghargaan. Tapi tidak ada seorangpun yang berhasil mengabadikan sosok misterius yang melegenda di dunia hiburan itu. Yang mereka tahu_dan kini kuketahui karena sering bersama Wren_adalah kenyataan kalau apapun yang Wren tangani akan berujung dengan penghargaan terbaik.
Apapun yang kukatakan untuk menolak Wren, dia tidak akan pernah mendengarnya. Laki-laki itu memiliki kecendrungan untuk melakukan apa yang dia inginkan tanpa mempedulikan keinginan orang lain. Bahkan setelah aku mengatakan dengan sangat tegas kalau malam ini aku akan pulang lebih cepat sehingga dia tidak perlu menjemputku, laki-laki itu tetap dengan pendiriannya.
Pernahkah kalian bayangkan dalam 24 tahun hidup kalian tanpa pria, tiba-tiba saja suatu hari ada dua pria sedang berdiri di depan mobil mereka masing-masing di depan tokomu hanya untuk mengantarmu pulang? Kedua pria itu memiliki wajah yang selalu bisa memikat wanita manapun bahkan dalam diam! Aku rasa tidak semua wanita di dunia mengalaminya, bukan? Tapi itulah yang kini kualami saat selesai shift mendapati kalau Tim dan Wren sudah ada di pinggir jalan sedang bersandar pada mobil mereka masing-masing. Kedua pria yang merupakan magnet wanita itu dengan santainya bersandar di kap mobil mereka seakan mereka sedang memamerkan ketampanan serta kemewahan mobil mereka.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan disini?” Tanyaku berusaha mengabaikan jawaban yang muncul dalam kepalaku. “Dan kau, Tim! Sudah cukup terakhir kali aku harus menyembunyikanmu di dalam gudang pendingin karena serbuan penggemarmu. Jangan sampai aku harus melakukannya lagi dengan alasan yang lain.”
“Apa kau harus bertanya, Sayang? Tentu saja aku menjemputmu.” Ujar Wren santai seakan aku memang kekasihnya.
“Sejak kapan kau memanggilnya seperti itu, Wren! Lily bukan salah satu dari antrian kekasihmu.” Tukas Tim cepat dan kemudian menatapku lembut. “Kau tidak perlu melakukannya, Lily. Tidak ada yang mengikutiku kesini.”
Wren menggeleng pelan. “Tidak pernah ada kata antrian dalam kamusku, Tim. Dan itu berlaku untuk apapun termasuk kekasih. Aku bukan seorang Don Juan.”
“Lily tidak seperti kekasihmu yang lain, Wren.” Balas Tim lagi.
“Kekasihku yang mana? Saat ini aku tidak punya kekasih. Aku bisa membuktikannya kalau kau mau.” Jawab Wren cepat.
“Bisakah kalian menghentikan ini? Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan? Siapa yang akan menjadi kekasih siapa?” Selaku sebelum salah satu diantara mereka mulai meributkan berapa banyak kekasih Wren yang entah kenapa malah membuatku kesal.
Wren menatapku seakan tahu apa yang sedang kupikirkan, dan aku menyadari itu. Karenanya aku langsung memalingkan wajahku. Selama beberapa hari ini pulang dan pergi bersamanya, aku sadar kalau warna matanya berubah-ubah. Pertama aku bertemu dengannya bola mata indah itu berwarna hitam, kedua kali warna hitam itu sempat berubah menjadi hijau keperakan, dan selama beberapa detik tadi, warnanya jelas hijau zamrud sebelum kembali ke hitam kecoklatan!
Aku masih memikirkan masalah warna matanya saat beberapa detik kemudian Wren sudah mendekapku, memaksaku masuk ke dalam mobilnya sementara dia_yang entah sejak kapan_sudah kembali keluar dan dengan cara yang sama memasukkan Tim ke kursi belakang sementara dia sendiri sudah duduk dengan manis di kursi pengemudi saat sedetik kemudian terdengar bunyi peluru memecahkan kaca mobil Tim.
“Kenakan sabuk pengaman. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.” Ujarnya dingin dan benar-benar membuat suasana menjadi sangat dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sedetik yang lalu aku masih berdiri disana, sedetik kemudian aku sudah didalam mobil Wren, dan beberapa detik kemudian sebuah peluru memecahkan kaca jendela mobil Tim yang terparkir tanpa sedikitpun terlihat siapa yang menembakkan peluru itu.
Dan sekarang, kemana Wren akan membawa kami?
“Kau membuat Tim pingsan?” Tanyaku begitu saja saat melihat Tim di belakang sudah terbaring miring tidak sadarkan diri.
“Hanya sedikit pukulan dikepala belakang dan dia langsung pingsan seperti itu.” Jawab Wren datar sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan super.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Kemana kau akan membawa kami? Siapa kau sebenarnya, Wren?” Tanyaku cepat. “Aku tidak ingin terlibat dalam kasus pembunuhan apapun Wren, aku tidak ingin terlibat dengan kelompok mafia manapun! Aku ingin kehidupanku yang tenang!” Lanjutku dengan suara semakin meninggi meski dalam hati aku berdoa semoga ada polisi lalu lintas yang sedang berjaga dan menghentikan aksi kegilaan Wren ini.
Kudengar Wren tertawa geli. “Percayalah, Sayang. Kau tidak terlibat dengan kelompok mafia manapun. Aku bersumpah.”
Entah kenapa aku mempercayai ucapan Wren saat itu. Dan aku sama sekali tidak menduga kalau aku terlibat dengan sesuatu yang bahkan jauh lebih besar dan mengerikan daripada sekedar mafia.
“Lalu apa ini? Kau terlihat begitu misterius. Beberapa kali belakangan ini setiap kemunculanmu, kau selalu bersama pria dingin yang sepertinya siap kapan saja membunuhku hanya karena aku bicara denganmu, dan kau bilang aku berhak mengetahui informasi tentangmu saat tidak satupun orang yang bisa menjelaskan siapa kau, kau juga sepertinya sangat kaya luar biasa dengan semua mobil yang kau gunakan_yang aku tahu dengan pasti_tidak semua orang bisa memilikinya, dan malam ini! Ya Tuhan! Jangan kau kira aku tidak menyadarinya! Kau menyelamatkanku dari tembakan itu! Siapa mereka?”
Akhirnya aku mengatakan apa yang selama ini membuatku penasaran. Terlalu banyak hal misterius tentang laki-laki ini. Dan aku memutuskan kalau Wren harus menjawabnya dengan kebenaran.
“Saat kau tahu semuanya, aku yakin kau akan berpikir lebih baik tidak pernah ingin mengetahuinya sama sekali.” Gumam Wren yang dapat kudengar dengan jelas.
Apa dia berpikir aku akan ketakutan kalau mengetahui hal terburuk darinya?
“Demi Tuhan! Katakan yang sebenarnya, Wren!”
Saat itu aku menyadari kalau Wren semakin menambah kecepatan mobilnya. Dan dengan otomatis aku melirik ke belakang. Ada sebuah sedan hitam mengikuti kami. “Ini bukan waktunya memberikan penjelasan, Lily. Kencangkan saja sabuk pengamanmu dan ambil ponselku. Cari nama Geofrey disana dan katakan kalau dia harus membereskan sampah di sekitar tokomu.” Ujar Wren datar.
“Kau menolak memberikan penjelasan padaku tapi masih memperdulikan sampah?” Tanyaku tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
“Sayangku, Lily... Katakan saja pada Geofrey apa yang kukatakan tadi. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Aku pasti akan menjelaskannya nanti padamu.”
Aku memutuskan untuk menutup mulut dulu saat ini dan melakukan apa yang Wren katakan. Sekali lagi aku percaya begitu saja dengan janji Wren meski tidak ada jaminan dia akan menepati janjinya atau tidak. Aku mengambil ponselnya dan mencari nama yang dia maksud. Begitu menemukan nama itu, aku langsung meneleponnya. Dan baru satu kali nada sambung sebuah suara menjawab teleponku.
“Ada apa, Wren?”
“Maaf, ini bukan Wren. Wren sedang sibuk menyetir saat ini. Dia memintaku untuk meneleponmu dan membereskan sampah di sekitar tokoku di St. James Square.” Ujarku sesuai apa yang Wren inginkan.
“Ada berapa orang kalian saat ini?” Tanya suara itu terdengar sedikit mendesak dan membuat pertanyaan di dalam kepalaku semakin bertambah.
“Di mobil ada Wren, aku dan Tim. Tapi aku tidak tahu berapa jumlah orang yang mengejar di mobil belakang.” Jawabku jujur.
“Kau benar-benar tidak bisa diam ya, Lily?” Tanya Wren sambil melirik sekilas padaku dan kemudian kembali memperhatikan jalanan.
“Dimana kalian saat ini?”
“Aku tidak tahu. Wren benar-benar menganggap kalau dia adalah seorang pembalap dan mengemudikan mobil dengan sangat laju saat ini. Tadi kami masih di New Bond, sekarang kalau aku tidak salah bangunan di depan kami itu adalah Rumah Sakit Middlesex.”
Hening sejenak sebelum suara itu menjawab. “Katakan pada Wren, aku akan mengurus sampahnya. Minta dia menuju arah City Road.”
Dan itulah yang kusampaikan pada Wren beberapa saat kemudian. Pria itu bahkan sama sekali tidak berniat merespon apapun yang kukatakan. Dia hanya mengemudikan mobil dengan sangat cepat menuju arah yang diminta si penjawab telepon di seberang. Aku hanya sempat menatap Wren sebentar saat suara benturan-benturan kecil mulai terdengar. Mobil di belakang kami mulai menembaki mobil Wren, tapi anehnya tidak satupun peluru itu yang bisa menembus kaca.
“Anti peluru juga?” Tanyaku tidak percaya.
Bagaimana mungkin aku bisa terjebak dalam adegan action seperti dalam film ini? Tembak menembak di tengah jalanan kota pada malam hari!
Wren tersenyum. “Tentu saja.” Sahutnya bangga.
“Kau membawaku ke dalam masalah, Wren. Dan kau sama sekali tidak berniat memberitahuku siapa kau sebenarnya! Aku tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang melanggar hukum!” Teriakku frustasi.
“Saat aksi kejar mengejar ini selesai, semua pertanyaanmu akan terjawab, Lily. Aku berjanji.” Ucap Wren pelan. “b******k! Apa mereka akan terus menembaki mobilku seperti ini? Tidak tahukah mereka berapa uang yang sudah kukeluarkan untuk membuat mobil anti peluru seperti ini? Dan mereka malah membuatnya lecet dengan tembakan beruntun itu?” Geramnya kemudian.
Wren hanya terus mengomel_karena tembakan-tembakan yang menggores mobilnya, bukannya takut atau marah karena keselamatannya terancam_di dalam mobil tapi tidak melakukan apapun selain berputar-putar di Euston, Grays Inn, Clerkenwell, dan sekarang kami memasuki Old Street dan mulai menjauh dari pusat kota London. Sepertinya Wren sengaja menjauhi pusat kota dan menuju pinggiran London. Mobil sedan itu terus mengikuti kami, beberapa kali aku sempat melihat cahaya lampu lain dibelakangnya. Aku yakin kalau yang mengejar kami lebih dari satu mobil_yang artinya masalah ini semakin serius. Dan tidak jauh dari persimpangan Old Street dan City Road sebuah mobil datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi dan langsung membelok tepat di belakang mobil Wren hingga memblokir jalan dan menghentikan para pengejar kami. Sebuah mobil lainnya juga datang dari arah berlawanan dan hanya saja kali ini memutar tepat di depan mobil Wren dan kemudian berhenti di lajur berlawanan.
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Wren lakukan kemudian. Wren menghentikan mobilnya, dan kemudian dia menarik Tim keluar sebelum memasukkannya ke dalam mobil yang baru saja datang saat para pengejar kami mulai keluar dari mobil dan mulai menembaki kami. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Wren melompat_hanya satu kali lompatan_ke atap mobil yang memblokir jalan dan membuat remuk atap mobil di bawah kakinya. Tidak hanya itu, saat Wren menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengejar kami_bagaikan film Matrix_semua peluru yang ditembakkan ke arah Wren seperti bergerak sangat lambat di udara dan kemudian berhenti, melayang begitu saja, sebelum berjatuhan di jalan.
Tadi adegan film action dan sekarang science-fiction.
Aku masih terlalu takjub dengan apa yang terjadi hingga aku tidak menyadari seseorang mengetuk kaca jendelaku dan memberikan isyarat agar aku menurunkan kaca. Aku melakukannya begitu saja, seorang pria tampan memperhatikan isi dalam mobil dan kemudian tersenyum padaku. Aku menyadari kalau iris matanya berwarna sama seperti Wren, hijau zamrud. Pria itu menatapku lama, dan kemudian dia menggeleng tidak percaya dengan dahi berkerut dalam.
“Tetaplah di dalam mobil sampai Wren kembali. Aku akan membawa temanmu bersamaku. Wren tahu dimana harus mencariku.” Ujarnya dan kemudian segera beranjak dari tempatnya berdiri dan masuk ke mobil yang sama tempat Tim dipindahkan dan kemudian melaju kencang sebelum hilang ditelan malam.
Kini setelah pengganggu itu menghilang, aku kembali memperhatikan Wren. Tapi aku sama sekali tidak bisa memastikan yang mana Wren diantara begitu banyak orang-orang yang bergerak dengan sangat cepat. Mereka semua bergerak sangat cepat seperti bayangan. Aku bahkan tidak tahu ada berapa orang disana saat ini. Tapi ada satu orang yang bergerak paling cepat, dia menghindari setiap serangan yang ditujukan padanya dan menghampiri lawannya satu persatu sebelum menjatuhkan mereka ke jalanan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya setelah itu yang jelas saat sosok itu berdiri, aku sadar, dia adalah Wren.
Wren kembali berhasil menghindari serangan dan lagi-lagi menjatuhkan lawannya ke jalanan dengan sangat akurat. Dan teriakan pun mulai memenuhi malam yang semakin larut.
Apa yang Wren lakukan hingga lawannya sama sekali tidak bisa bangkit lagi?
Apa Wren membunuh mereka?
Tapi menggunakan apa?
Wren hanya bertarung dengan tangan kosong. Semakin lama jumlah musuh semakin berkurang, aku sadar kalau ada dua orang lain yang membantu Wren. Rasa penasaran membuatku melupakan kalau aku harus tetap berada di dalam mobil demi keselamatanku. Aku keluar dari mobil dan berjalan mendekati sedan yang memblokir jalan.
Aku masih berusaha mendekati tempat kejadian saat sesuatu yang dingin menyentuhku. “Hentikan semua itu, atau manusia ini akan menjadi santapan malamku.” Ujar sebuah suara tepat dibelakangku saat sebuah tangan terjulur dan mencekik leherku kuat.
Aku sama sekali tidak sempat berteriak, leherku tercekik dan aku kesulitan bernapas. Tapi aku masih bisa melihat kalau Wren menghentikan apapun yang sedang dilakukannya dan kemudian berbalik menghadapku. Dia bisa saja melanjutkan kesenangannya dan bersikap tidak memperdulikanku sama sekali karena aku bukan apa-apa baginya. Tapi Wren sama sekali tidak melakukannya. Tangannya mencengkram leher lawannya_sebelum mematahkan leher itu dan melepaskan kepala dari bagian tubuh_dan kemudian melemparkannya ke seberang jalan dengan sangat mudah seakan hanya membuang kotoran, bukannya sebuah tubuh manusia. Aku seharusnya mual dengan apa yang kulihat barusan. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasa aneh dengan itu semua. Mungkin karena tidak ada darah yang berserakan disana atau mungkin pikiranku sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi selain cara untuk berteriak dengan leher tercekik seperti ini.
Dalam gelapnya malam, mata Wren benar-benar bercahaya. Iris mata yang selama ini berwarna hitam kecoklatan bersinar terang dengan warna hijau zamrud nyaris keperakan. “Lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua.” Ujar Wren dingin.
Aku bersumpah kalau dia bicara padaku dengan nada seperti ini, aku akan menganggap dia orang paling tidak manusiawi di dunia. Tidak ada sedikitpun perasaan yang bisa kau rasakan dari ucapannya, tidak ada kehangatan atau perhatian. Wren seakan sedang bicara pada benda mati.
“Tapi sepertinya tidak begitu.” Ujar suara itu lagi, dan kini aku bisa merasakan hidungnya di leherku. “Ada baumu di tubuhnya. Dan aroma manusia ini benar-benar menggoda.”
Manusia?
Dia mengatakan kalau aku manusia?
Lalu siapa mereka?
Hantu?
“Jangan coba-coba menyakitinya.” Geram Wren mulai terdengar kesal.
Orang yang mencekikku kemudian tertawa dengan suaranya yang membuat bulu kudukku berdiri dan sedetik kemudian aku merasakan perih dan rasa terbakar bersamaan di leherku saat kami berdua tiba-tiba melayang di udara. Beberapa detik kemudian cengkraman tangan yang mencekikku melonggar dan benar-benar terlepas. Aku bersumpah sempat berpikir aku akan mati jatuh dari ketinggian seperti ini hingga aku memutuskan untuk menutup kedua mataku dan menanti rasa sakit akibat berbenturan dengan aspal. Tapi saat aku membuka mata, aku sudah berada dalam pelukan Wren dan bukan rasa sakit yang kudapatkan, melainkan kelembutan.
Laki-laki itu memelukku erat.
“Maafkan aku.” Bisiknya pelan lalu aku kembali merasakan perih dan rasa terbakar itu kembali saat Wren menancapkan giginya ke leherku, ke tempat bekas gigitan orang yang mencekikku sebelumnya dan sedetik kemudian kedua mata hijau milik Wren sudah menatapku tajam.
“Siapa kau sebenarnya, Lily?” Tanya Wren dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajahnya sementara aku masih harus berusaha mencerna apa yang sedang terjadi beberapa menit terakhir ini. Tidak ada rasa sakit saat Wren menancapkan giginya di leherku. Alih-alih rasa sakit menyengat seperti sebelumnya, aku malah merasakan kehangatan menyebar ke seluruh tubuhku.