*Wren POV*
Rasa darah setiap makhluk itu berbeda.
Hanya kami, kaum vampir yang bisa membedakannya. Kalau rasa darah manusia adalah yang paling lezat dan bagaikan heroin bagi kami, maka rasa darah hewan hanya bagaikan makanan biasa. Ada dua darah yang sebisa mungkin kami hindari karena rasanya yang bagaikan besi cair panas dan yang satunya racun untuk kemampuan alami vampir menyembuhkan diri, darah malaikat dan darah penyihir. Bahkan rasa darah sesama vampir jauh lebih baik dari rasa darah malaikat dan penyihir. Dan itulah yang tadi kurasakan saat menggigit Lily tadi.
Darah Lily terasa bagaikan heroin terlarang, kenikmatan dan rasa besi itu bercampur jadi satu..
“Siapa kau sebenarnya, Lily?” Tanyaku spontan bahkan saat Lily masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Untuk ukuran manusia yang baru saja mengetahui keberadaan bangsa vampir, maka Lily termasuk tipe orang yang sangat aneh. Dia tidak berteriak ketakutan atau semacamnya Dia dibawa terbang vertikal setidaknya hampir 10 meter tanpa berteriak ketakutan. Dia juga digigit dan jatuh dari ketinggian itu tapi tetap tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia sekarang hanya menatapku seolah aku baru saja mengatakan hal paling lucu sedunia. Saat aku masih menunggu jawaban Lily, Geofrey menghampiriku.
“Zac menelepon dan memintamu segera kembali ke Picasa Co sekarang juga, dia menunggu di kantormu saat ini.” Ujar Geofrey cepat.
“b******k! Kenapa dia selalu datang ke clubku, dan bukannya ke rumah! Apakah dia sama sekali tidak sadar kalau para tamuku takut padanya?” Geramku kesal walaupun aku tahu bukan Zac yang menelepon melainkan Archard, mengingat kekuatan telekinetis Zac yang sangat besar tidak memungkinkannya menyentuh barang-barang elektromagnetik.
Dengan terpaksa aku menghilangkan kekesalan di wajahku dan kemudian kembali menghadap Lily. “Kita akan tahu kau siapa, Sayang. Dan siapkan hatimu untuk mengetahui semua jawaban atas pertanyaan yang tadi kau tanyakan. Karena sekali kau mengetahui jawabannya, kau tidak bisa kembali ke duniamu yang dulu.” Sambungku kemudian sambil menggandeng tangan Lily dan membawanya masuk kembali ke mobilku sebelum kami kembali berkendara menuju Kensington Road.
Lily hanya duduk diam di sebelahku dengan satu tangan terus menutupi bekas gigitanku. Dengan sengaja kulukai jariku hingga berdarah dan menarik tangan Lily yang menutupi lehernya. Aku ingin mengobati bekas luka itu, tapi sebelum darahku menempel pada lukanya, bekas luka di jariku sudah menutup dengan sempurna.
“b******k!” Makiku kesal karena sesaat aku lupa kalau penyembuhan vampir jauh lebih cepat dari manusia, apalagi luka yang kubuat tadi sangat kecil hingga dalam hitungan detik langsung menutup kembali.
“Aku heran denganmu, Wren. Aku yang kau gigit, aku yang kau bohongi, aku yang menjadi korban dari semua kejadian aneh ini, tapi sejak tadi kau-lah yang marah-marah dan memaki tanpa alasan.” Ujar Lily dengan mata tajam menatapku. “Pertama aku bertemu denganmu aku sudah merasa aneh, apalagi sejak kantong belanjaku yang terkena darahmu menghilang begitu saja dari rumahku. Setelah semua yang terjadi malam ini, aku semakin yakin kalau kau memang berbeda.”
“Kau bilang aku berbeda?” Tanyaku tidak percaya. “Aku tidak hanya berbeda dengan kalian, Lily. Aku vampir! Dan aku adalah predator untuk manusia. Kata berbeda tidak cukup menjelaskan siapa aku dan betapa berbahayanya aku bagi kaum kalian!”
“Vampir?”
“Lalu apa sebutanmu untuk makhluk penghisap darah?”
“Aku kira kau seperti yang ada di film-film. Terkadang mereka memang suka mengigit leher hanya untuk bermain-main. Dan bukankah vampir hanya legenda semata? Hanya mitos?”
Mau tidak mau aku mengerem mobil mendadak lalu menatap Lily. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia berbohong atau mengarang apa yang baru saja diucapkannya. Gadis itu terlihat serius. “Lily, lihat aku!” Ujarku cukup kuat untuk dapat membuat Lily hanya memperhatikan aku. “Aku bukan manusia, okay? Aku adalah vampir, dan aku predator untuk seluruh spesies manusia yang ada dimuka bumi ini. Dan masih ada banyak lagi makhluk lain yang kalian_manusia_kira hanya ada dalam legenda.” Ujarku pelan.
Demi apapun yang bisa kupercaya di dunia ini, sepanjang kehidupan abadiku, baru kali ini, untuk pertama kalinya aku mengakui siapa aku sebenarnya hanya untuk membuat gadis di depanku ini tidak mengubur kepalanya dalam pasir hingga menganggap semua yang aneh hanyalah sesuatu yang sedikit berbeda.
“Apa kini kau sud-” Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Geofrey sudah mengetuk jendela mobilku. “Ada apa?” Tanyaku cepat sambil membuka kaca jendela.
“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa sampai kau berhenti tiba-tiba? Aku nyaris menabrakmu. Aku menunggumu untuk jalan kembali tapi kau tetap tidak bergerak.” Sahut Geofrey tenang.
“Baiklah, ayo kita berangkat. Picasa Co masih cukup jauh.” Ujarku beberapa detik kemudian setelah memutuskan kalau penjelasan ini bisa ditunda hingga aku tiba di kantorku.
Kaget tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kurasakan saat tiba di Picasa Co. Setelah apa yang terjadi sebelumnya dan melihat kondisi saat ini, murka mungkin lebih tepat menggambarkan perasaanku. Clubku ditutup dan tidak ada seorangpun pengunjung. Parkiran mobil kosong.
Apa Zac berpikir dengan menutup club aku akan berterima kasih padanya?
Yang jelas dia sudah memangkas pendapatanku malam ini dengan tindakannya yang sangat bodoh ini. Dan dia berhutang sedikitnya £500 ribu malam ini. Aku langsung memasukkan mobil ke garasi khusus di basement sebelum menarik Lily agar mengikutiku ke kantor.
“Selamat datang, Wren.” Ujar Zac tenang begitu aku membuka pintu ruang kantorku. “Selamat datang juga di club Wren, Lily.” Sambung Zac kemudian begitu melihat Lily.
Didalam kantorku yang memang cukup luas itu, sudah berkumpul Zac_yang selalu bersama Archard, Alby, dan Navaro! Tidak biasanya Navaro mau datang ke clubku kalau bukan aku yang memaksanya untuk datang. Untuk seorang malaikat yang sangat membenci vampir, aku menjadi pengecualian istimewa bagi malaikat itu.
“Aku tidak tahu harus bersyukur atau menyesal kau ada disini saat ini, Zac. Tapi ada yang ingin kutanyakan.”
“Secara garis besar aku tahu apa yang ingin kau tanyakan karena kau meneriakkannya sangat keras dalam pikiranmu, tapi kalau kau bisa tenang sebentar dan pergi minum, aku rasa tidak akan ada yang berubah.” Ujar Zac sangat tenang di saat seperti ini.
“Bukan saatnya minum-minum atau bertindak tenang saat ini, Zac. Saat si b******k itu menggigitnya, mereka berdua langsung melayang dan si b******k itu terpental, Zac. Dia mati! Itu sama sekali bukan kekuatanku. Itu terjadi begitu saja, seakan melindungi Lily dari makhluk penghisap darah. Tapi itu tidak terjadi padaku saat aku mencoba untuk membuktikannya sendiri. Aku bisa mengigitnya tanpa terpental. Hanya saja, rasa darahnya yang menggangguku.” Ujarku sama sekali mengabaikan perintah Zac.
“Bagaimana menurutmu rasa darahnya?”
“Walau samar, aku dapat merasakan darah malaikat di dalam darahnya.” Ujarku sambil melirik Lily sejenak dan kemudian kembali menatap Zac dan Navaro bergantian.
Sebelum Zac atau Navaro merespon apa yang kukatakan, Alby berdiri dan berjalan mendekati Lily kemudian meletakkan tangannya di dahi Lily. Dan hanya beberapa detik kemudian Alby mundur dan menggeleng tidak percaya. “Alaric bilang kalau dia tidak bisa menghapus ingatan gadis ini. Aku juga tidak bisa memasuki pikirannya untuk menghapus ingatannya.” Ujar Alby tidak percaya kalau kekuatannya sebagai salah satu Dream Hunter_yang selalu bisa menghapus ingatan siapapun_tidak berguna di hadapan Lily.
“Mereka semua vampir?” Tanya Lily pelan sambil menarik-narik tanganku layaknya seorang anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
“Aku sudah berjanji, bukan? Setelah aksi kejar mengejar itu selesai, kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanmu. Kami semua adalah vampir, Lily. Kecuali dia.” Ujarku sambil menunjuk Navaro. “Dia malaikat.”
“Benarkah vampir itu ada? Dan apa yang dilakukan malaikat disini?” Tanya Lily yang untuk kesekian kalinya sama sekali tidak percaya dengan apa yang kuucapkan dan itu membuatku frustasi.
Dan ledakan tawa Zac semakin membuatku frustasi. “Apa yang sudah kau lakukan padanya, Wren? Kenapa dia bisa menganggap kalau ‘kita’ tidak ada?” Tanya Zac disela-sela tawanya.
Mengingat Zac bukan orang yang suka tertawa lepas seperti itu_selain untuk membuatku frustasi_apa yang Lily ucapkan benar-benar lucu menurut sang nosferatu. Lily adalah manusia pertama yang bisa membuat Zac tertawa_itupun kalau Lily memang seorang manusia.
“Dia mengira kita sama dengan apa yang ada di televisi, Zac. Hanya akting menghisap darah dengan gigi palsu.” Jawabku malas. “Kau lihat apa yang kulakukan tadi, Lily. Kau pernah menyentuhku saat aku tidak siap dan merasakan betapa dinginnya tubuhku. Aku juga sudah menggigitmu. Apa itu semua tidak cukup?” Kali ini aku bicara pada Lily yang masih memegang tanganku.
Dengan sangat perlahan gadis itu mengulurkan tangannya ke wajahku dan menyentuh bibirku. “Kau tidak punya taring. Kau tidak mengenakan jubah hitam itu. Kau tidak tidur dalam peti. Kau bisa keluar siang hari.” Ujarnya pelan.
Aku membuka bibirku dan membiarkan kedua taringku memanjang hingga menyentuh jari Lily. Seakan ingin melihat apakah taringku asli atau tidak, Lily mengusapkan jarinya ke taringku dan tanpa sengaja melukai jarinya sendiri. Lily langsung menarik tangannya, dan tiba-tiba saja tetesan darah Lily melayang dan mengambang di udara. Saat itu juga aku tahu kalau Navaro-lah yang mengambil darah itu dan kemudian menaruhnya di telapak tangan. Navaro kemudian memancarkan cahaya dari telapak tangannya yang lain dan membuat tetesan darah itu kembali melayang di udara, sedetik kemudian sesosok tubuh muncul sebelum menguap dan menghilang bersama tetesan darah Lily. Aku memang sempat melihatnya sosok yang muncul itu, tapi aku sama sekali tidak tahu siapa dia.
Navaro berjalan menghampiri Lily dan merenggut tangan gadis itu. Memperhatikan tempat yang seharusnya luka tapi kini sudah tak berbekas sedikitpun. “Dimana kau menggigitnya, Wren?” Tanya Navaro cepat.
“Leher kiri.” Jawabku spontan sambil menyibakkan rambut Lily untuk melihat sendiri lehernya yang telah kugigit.
Tapi sama sekali tidak ada bekas luka juga disana.
“Apa kau pernah sakit?” Tanya Navaro yang kali ini ditujukan pada Lily.
Lily menggeleng pelan. “Tidak pernah.”
“Berapa umurmu sekarang?” Tanyaku sebelum Navaro sempat menanyakannya. Aku tidak tahu alasan kenapa aku menanyakan usia Lily, tapi aku merasa harus menanyakannya.
“24 tahun.” Jawab Lily cepat.
“Berapa lama kau berusia 24 tahun?” Tanyaku lagi.
“Baru saja. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian malah mengintrogasiku seperti ini?” Sembur Lily mulai kesal, sama seperti sebelumnya.
“Dia benar, Wren. Dia tumbuh dalam usia seperti manusia lainnya walau ada darah malaikat dalam tubuhnya. Kau lihat apa yang aku lakukan tadi bukan? Itu adalah kekuatan kami untuk mendeteksi manusia setengah malaikat, Wren. Manusia setengah malaikat adalah eksistensi yang dilarang di muka bumi ini. Kekuatan mereka tidak stabil.” Jelas Navaro pelan.
“Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku punya darah malaikat? Yang benar saja! Bahkan aku sama sekali tidak tahu siapa orang tuaku!” Seru Lily sambil menarik lepas tangannya dari genggaman Navaro dan menggenggam tanganku. “Antar aku pulang, Wren. Ini semua pasti mimpi, dan saat aku terbangun nanti, semuanya akan kembali normal.”
“Tentu saja kau tidak pernah mengenal orang tuamu, Lily. Manusia yang melahirkan makhluk setengah malaikat tidak pernah bisa hidup. Dia akan meninggal sesaat setelah melahirkan. Dan apa kau sama sekali tidak penasaran darah malaikat mana yang mengalir ditubuhmu?”
“Katakan, Navaro.” Ujar Zac terlihat tertarik dengan masalah ini.
“Duduklah. Kau pasti lelah. Daripada setengah-setengah, lebih baik kau mengetahui semuanya sekarang.” Ujarku sambil membimbing Lily menuju sofa panjang yang ada di kantorku dan aku pun ikut duduk disisinya karena Lily sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangannya. Entah kenapa aku merasa kalau aku harus berada disamping Lily saat ini.
“Legenda manusia mengatakan kalau ada malaikat yang dibuang dari langit. Itu benar, malaikat yang dibuang bukan hanya legenda atau khayalan. Dan dia adalah Lucifer, malaikat yang lebih kuat dari para Archangel, dan satu-satunya malaikat yang berani menantang kuasa-Nya.” Ujar Navaro tenang. “Dan kenapa dia tetap berada pada usia manusianya adalah karena darah malaikatnya disegel hingga dia tetap tumbuh seperti manusia biasa. Lucifer bisa melakukan itu dan dia selalu melakukannya untuk menyembunyikan anak-anaknya. Dia memiliki kekuatan yang tidak bisa dibayangkan, termasuk membuat anaknya_setengah malaikat_hidup layaknya manusia biasa. Lucifer melakukan itu semua entah karena dia terlalu menyayangi anak-anaknya atau karena dia membenci anak-anaknya. Hanya saja kenyataan kalau luka yang dia alami selalu lebih cepat sembuh dan dia tidak pernah sakit membuatnya sedikit berbeda.”
“Jadi, apa sekarang segel itu sudah lepas?” Tanyaku begitu saja.
Navaro menggeleng. “Belum sepenuhnya. Segel itu sangat kuat, Wren. Hanya bisa dilepas saat darahnya bertemu dengan darah makhluk abadi lainnya. Kalau darahnya tidak bertemu dengan darah makhluk abadi lainnya, maka dia tetap bisa meninggal seperti makhluk fana lainnya. Dia dilindungi dua segel. Keduanya ada di dalam darah. Yang satu untuk melindunginya dari makhluk penghisap darah seperti kalian dan yang satu untuk menyegel kekuatan malaikat yang mengalir dalam darahnya. Dan segel untuk melindunginya dari para penghisap darah jelas sudah terbuka karena kau masih hidup sampai saat ini meski sudah menggigitnya.” Jelas Navaro.
“Tapi kalau segel itu lepas, kekuatan malaikat yang ada didalam darahnya akan muncul. Dan setengah malaikat tidak pernah punya kekuatan yang stabil. Apalagi darah dalam tubuhnya adalah milik Lucifer. Aku tidak yakin kalau kekuatannya bisa diremehkan. Tidak ada yang pernah tahu seberapa besar kekuatan Lucifer yang akan diturunkan pada anak-anaknya, Lucifer punya cara sendiri untuk menurunkan kekuatannya pada anak-anaknya. Tapi aku punya cara untuk melihat apakah kekuatannya sudah terlepas atau tidak.” Sambung Navaro sesaat kemudian.
Dan untuk pertama kalinya Navaro melepas kekuatannya. Bajunya menghilang, hanya tinggal celana jeans membalut tubuhnya. Kedua sayap putih yang selalu disembunyikannya saat berwujud manusia kini terbentang lebar memenuhi ruangan. Aku pernah melihat sosok ini. Tapi aku tidak pernah melihat cahaya yang nyaris seperti cahaya matahari membalut tubuh Navaro seperti saat ini. Dan Lily langsung pingsan bahkan sebelum Navaro benar-benar menunjukkan wujud malaikatnya. Dan aku mengerti apa tujuan Navaro melakukan ini semua. Wujud asli malaikat hanya bisa dilihat oleh sesama malaikat, dan kalau kekuatan malaikat dalam diri Lily sudah terlepas, maka dia pasti bisa melihat wujud asli Navaro.
***
Sejak Navaro menunjukkan wujud setengah malaikatnya, Lily sampai sekarang belum sadar juga. Menurut Alby, dia hanya tertidur. Tapi, tetap saja Alby tidak mampu memasuki mimpinya. Dan sejak aku mengantarnya pulang, aku tidak pernah beranjak dari sisinya. Entah kenapa aku sama sekali tidak ingin meninggalkannya sendiri saat ini. Lily mungkin unik dengan caranya sendiri, tapi tetap saja mengetahui kalau dia sebenarnya bukanlah manusia biasa pasti memberikan tekanan pada dirinya. Apalagi dia adalah eksistensi yang dilarang di dunia ini. Semua makhluk setengah manusia adalah eksistensi yang dilarang di muka bumi. Setengah vampir, setengah penyihir, dan setengah malaikat adalah makhluk setengah manusia yang paling sering ditemui. Kekuatan yang akan mereka bawa tidak pernah stabil dan malah akan mengacaukan kestabilan dunia. Karena itu semua makhluk setengah manusia akan diburu dan dibunuh oleh hunter dari masing-masing spesies. Membayangkan Lily akan diburu hanya karena setengah darah malaikatnya membuatku ingin melindunginya.
Aku selalu seperti ini. Half Blood selalu membuatku melanggar aturan yang ada, dulu maupun sekarang.
Lagi-lagi kesadaran itu mengusikku.
Kenapa aku harus peduli padanya?
Kenapa aku harus terlibat sejauh ini dengannya?
Kalau aku tidak terlibat sejauh ini, dia tidak akan mungkin jadi seperti ini, dan jati dirinya akan tetap tersimpan bersamanya. Seharusnya aku bisa menjaga jarak denganya seperti yang pernah Navaro katakan, mengamati dari jauh hingga aku menemukan siapa yang mengambil bekas darahku dan bukannya melibatkan diri langsung seperti ini.
Lily bukanlah gadis paling cantik yang pernah kulihat sepanjang kehidupan abadiku. Aku pernah melihat dan berkencan dengan banyak wanita cantik. Lily hanya seorang gadis Asia, sama sepertiku dengan tubuh mungil dan rambut hitam lebat. Aku tidak yakin tubuhnya melewati kisaran 150cm. Tapi aku suka bersamanya, aku nyaman berada di dekatnya. Lily punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, dan aku tidak yakin akan ada yang memilikinya selain dia. Aku baru saja akan beranjak pergi saat Lily bergerak resah dalam tidurnya. Dalam satu langkah besar aku kembali duduk di pinggir ranjangnya dan menggenggam tangannya.
“Lily...” Panggilku lembut saat kedua kelopak mata itu bergerak dan perlahan mulai membuka.
“Kau masih disini?” Ucap Lily sangat pelan, dan aku beruntung menjadi seorang vampir karena daya dengarku jauh lebih baik dari makhluk fana.
Aku mengangguk pelan. “Kau ingin aku pergi?”
Lily menggeleng dan kemudian menggeser tubuhnya hingga kini kepalanya berbaring di pahaku. “Tidak. Jangan pergi.” Bisiknya pelan dan kembali tertidur pulas.