Chapter 12

3188 Words
Elysia tidak bergerak dari dinding. Kedua tangannya terentang lebar seakan dipaku oleh paku tak kasat mata. Tibalt_vampir yang selalu bersama Elysia kemanapun Elysia pergi_langsung berdiri diantara aku dan Elysia. “Sudah cukup, Elysia. Kau sudah keterlaluan kali ini.” Ujarku dingin. Elysia menatapku marah. “Lepaskan aku, Wren!” Geramnya seiring bertambah panjang kedua taringnya. “Lepaskan dia, Wren. Elysia hanya terlalu emosi.” Ujar Tibalt datar. “Jangan membelaku, Tibalt! Aku tidak butuh! Pergi!” Teriak Elysia keras kepala. Tibalt menggeleng. “Lepaskan dia, Wren. Kalau kau ingin menghukumnya, hukum saja aku.” Ujar Tibalt lagi. “Menyingkir dari hadapanku, Tibalt! Aku bisa membunuhmu dengan mudah walau kau adalah vampire hunter sepertiku!” Ujarku sama sekali tidak memperdulikan ucapan Elysia. Tibalt menggeleng pelan. “Tidak, Wren. Kalian berdua tidak bisa seperti ini.” “Apa kau membutuhkanku untuk menyingkirkannya?” Tanya Navaro yang kini sudah berjalan mendekatiku dan melewati Lily begitu saja dan mengulurkan tangan untuk menarik Tibalt. “Jangan coba-coba menyentuhku, b******k!” Seru Tibalt yang langsung menendang kursi terdekat ke arah Navaro. Salah. Navaro akan mengamuk. Kedua sayap putih itu terentang memenuhi ruangan. Kursi yang ditendang Tibalt sama sekali tidak pernah sempat menyentuh kulit Navaro. Kursi itu hanya mengambang di udara dan terjatuh begitu saja ke lantai. Langit malam yang tadinya penuh bintang mendadak mendung. Kelembapan udara meningkat hingga membuat udara menjadi dingin. Navaro marah.             “Jangan lancang! Terkutuklah aku kalau aku membiarkan makhluk seperti kalian menyentuhku!” Ujar Navaro geram dan langsung menghempaskan Tibalt keluar melalui jendela kaca yang kini hancur berkeping-keping.             “Cukup, Navaro. Ini masalahku.” Bisikku sambil menarik tangan Navaro mundur.             Navaro menatapku kesal. Walau Navaro bisa menerimaku_yang seorang vampire_menjadi temannya, tapi Navaro tidak pernah bisa menerima kehadiran vampire lain. Kebencian Navaro terhadap bangsa vampire mungkin tidak akan bisa dibayangkan oleh siapapun. Dulu, Navaro adalah malaikat baik hati yang benar-benar tidak memiliki keinginan apapun selain keinginannya untuk menolong seluruh makhluk, abadi ataupun fana. Navaro adalah satu-satunya malaikat yang pernah membela setengah vampir sepanjang keabadianku. Walau keberadaan setengah vampir adalah sesuatu yang dilarang. Tapi sejak kejadian yang menghancurkan separuh hidupnya itu, Navaro membenci vampire sepanjang keabadiannya. Dia mungkin tidak mencoba untuk membasmi vampire, tapi Navaro juga terang-terangan menyatakan kalau dia tidak akan menolong bangsa vampir lagi dan tidak ingin berurusan dengan vampire apapun alasannya. Dan saat alasannya tepat, Navaro tidak akan segan-segan membunuh mereka dengan cara yang paling keji yang pernah ada. Hanya aku, vampir yang diakui Navaro. Bahkan Navaro tidak suka berurusan dengan Zac, walaupun dia seorang nosferatu. Kejadian yang membuatku mengubah pandanganku pada beberapa orang.             “Aku bisa menangani ini, Navaro. Pergilah.” Ujarku lagi dan masih memegang tangannya sampai kedua sayap putih yang indah itu terlipat dan menghilang begitu saja. Navaro pernah mengatakan kalau kekuatan seorang malaikat bisa dilihat dari lebar sayapnya. Saat malaikat baru diciptakan, sayap mereka tidak lebih besar dari telapak tangan seorang bayi baru lahir. Dan kalian bisa membayangkan seberapa besar kekuatan Navaro kalau sayapnya bahkan hampir memenuhi setengah ruang dudukku yang memiliki luas 15 x 10 meter!             “Aku akan pergi, Wren. Aku tidak bisa bertahan disini lebih lama tanpa membunuh anggota klanmu dan kalau aku melakukan itu, kau pasti akan memburuku.” Gumamnya sangat pelan.             Aku memeluk Navaro erat. “Terimakasih atas bantuanmu, teman. Kau selalu menolongku.”             “Aku pergi.” Bisiknya lalu berjalan ke tepi jendela dan terjun begitu saja. Sedetik kemudian sesosok siluet putih meluncur keatas dengan sangat cepat dan menghilang di langit malam.             Setelah memastikan kalau tidak ada lagi pengganggu, aku kembali berhadapan dengan Elysia yang masih terpaku di dinding. Aku mendekatinya dan menyentuhkan pipinya lembut. “Aku menyayangimu, Elysia. Tapi hanya sebatas itu. Tidak peduli apa hubungan kita dulu, sekarang kau hanyalah salah satu dari anggota klan yang kusayangi. Kenyataan kalau kau adalah vampire pertama yang kubuat tidak memberikanmu hak untuk menghakimi ataupun membenci Lily. Jangan paksa aku untuk melukaimu.”             Kudengar suara Lily menahan nafasnya. Sepertinya fakta kalau Elysia adalah vampire pertama milikku membuatnya terkejut. Mulai saat ini Lily berhak mengetahui apapun tentangku, walau tidak akan pernah bisa dalam sekali pembicaraan. “Kau melakukan ini semua hanya karena makhluk fana itu?” Tanya Elysia dingin.             “Kau pasti tahu apa artinya ini.” Ujarku sambil membuka kemeja yang memang tidak kukancingkan itu dan memperlihatkan tato kuno yang semakin lama semakin jelas terukir di bahu kiriku sejak beberapa saat yang lalu. Tato yang tidak akan pernah kuduga bisa muncul di tubuhku.             Dan Elysia mengenali tanda itu. Matanya terbelalak dan dia menggeram marah. Berkali-kali Elysia menghantukkan kepalanya kedinding di belakangnya. Membuat dinding ruang dudukku retak. Aku akhirnya melepas kekangan kasatmata itu dan membiarkan Elysia jatuh terduduk di lantai. Air matanya mengalir deras saat dia mendongak untuk melihatku. “Kenapa, Wren? Kenapa harus dia?”             Aku hanya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, Elysia. Sejak aku merasa tidak ingin kehilangannya, sejak saat itu aku tahu kalau hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Aku tidak bisa mencegahnya.” Ujarku lembut. Aku dan Elysia saling menatap dalam diam. Elysia tahu kalau apa yang dilihatnya di bahuku adalah vonis akhir dari apapun hubungan yang dia harapkan dariku.             “Wren?” Panggil Lily pelan, menyadarkanku kalau gadis itu masih berdiri ditempatnya sejak tadi.             “Ya, Lily. Ada apa?”             “Bolehkah aku menelepon Sara? Aku yakin dia pasti cemas setelah aku menghilang tiba-tiba seperti itu.”             “Tentu, sayang. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan asal tidak keluar dari rumah tanpa pengawal.”               *Lily POV*             Aku sama sekali tidak mendengar apa yang Sara katakan di seberang sana. Yang kupikirkan hanyalah kenyataan kalau Elysia ternyata adalah vampire yang pertama kali dibuat oleh Wren. Dan apa arti tato yang terukir di bahu kiri Wren itu? Kapan tato itu ada disana? Kenapa saat melihatnya Elysia seakan mendapat vonis mati?             “Apa kau mendengarku, Lily?” Seru Sara yang kali ini berhasil menarik perhatianku.             “Sorry. Apa yang baru saja kau katakan?” “Aku bertanya dimana kau tinggal saat ini? Aku harus memastikan kalau kau baik-baik saja.” Tegas Sara yang sepertinya tidak ingin dibantah. “Aku tidak bisa memberitahumu, Sara. Maafkan aku.” “Kenapa kau tidak bisa memberitahuku? Dimana kau sebenarnya? Apa yang terjadi?” Desak Sara dan dari suaranya aku yakin kalau dia benar-benar mencemaskanku. “Sepertinya dia sangat mencemaskanmu.” Ujar sebuah suara yang kini sangat mempengaruhiku. Wren entah sejak kapan sudah berdiri di sisiku dan kini menumpangkan dagunya di bahuku. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku spontan. “Dengan siapa kau bicara, Lily?” Tanya Sara cepat. Dengan satu gerakan ringan Wren sudah mengambil gagang telpon dan bicara dengan Sara. “Hallo Sara. Ini aku, Wren, yang kemarin malam datang ke toko dan membawa Lily pergi. Jangan mencemaskan Lily. Dia aman denganku. Akan kupastikan kalau dia makan dengan teratur dan tidak sakit. Tapi kalau kau memang ingin berkunjung, aku bisa mengirimkan seseorang untuk menjemputmu.” Ujar Wren santai, seakan dia tidak pernah memperingatkanku untuk tidak sembarangan membawa orang lain kerumah ini tanpa izinnya. Dengan sengaja aku menekan tombol speaker agar aku tidak perlu rebutan gagang telpon dengan Wren. “Katakan saja alamatnya dan aku akan datang bersama Tim.” “Tidak perlu repot-repot. Besok pagi aku akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu. Kalau Tim ingin ikut, minta dia menunggu di rumahmu. Jam 8 bisa?” Tanya Wren yang lagi-lagi memutuskan segala sesuatunya sesuai dengan keinginannya. “Baiklah. Jam 8 di rumahku, Persephone Manor. Apa kau tahu dimana alamatnya?” “Tenang saja. Supirku cukup bisa dipercaya untuk mengetahui hampir seluruh rumah penduduk di London. Apa kau masih ingin bicara dengan Lily?” “Tidak. Terimakasih. Lebih baik dia istirahat. Suaranya terdengar lelah. Sampaikan salamku untuknya.” Ujar Sara sebelum memutuskan sambungan. “Karena kau juga mendengarnya, aku tidak punya kewajiban untuk menyampaikan pesan Sara padamu.” Aku mengabaikan ucapan Wren barusan. “Apa kau benar-benar akan membawa Sara kesini?” Tanyaku mencoba memastikan kebenaran ucapan Wren tadi. “Tentu saja tidak, sayang. Acasa Manor bukan tempat yang cocok untuk menerima tamu manusia. Dia akan mengunjungimu di Picasa Co besok. Tempat itu tidak tersembunyi dari makhluk manapun. Jadi itu tempat paling aman untuk bertemu.” Ujar Wren santai. “Apa kau siap untuk beberapa pelajaran lagi?” Tanya vampir itu sambil menyunggingkan senyum yang selalu membuat jantungku berpacu lebih kencang.   Delapan jam kemudian aku, Wren dan Alby sudah duduk di dalam limosin mewah milik Wren dalam perjalanan ke Picasa Co. Di mobil belakang ada Elysia dan Tibalt yang menurut Wren akan lebih baik kalau mereka tidak semobil dengan kami. Wren juga sudah mengatakan kalau dia sudah mengirim mobil untuk menjemput Sara dan Tim. “Kenapa kau tidak melakukan pertempuran itu secepatnya Wren? Daripada kau harus siaga setiap saat seperti ini.” Tanyaku cukup tiba-tiba sebagai usaha untuk memecah keheningan yang ada diantara kami. Wren terus memainkan jari-jariku diantara jemarinya saat dia menoleh untuk menatapku. “Tidak semudah itu, sayang. Saat suatu pertempuran dilakukan, harus ada Zac dan sang eksekutor di sana. Kalau mereka berdua tidak ada, maka pertempuran itu akan dianggap suatu serangan mendadak yang malah akan merugikan si penyerang.” “Jadi harus dijadwalkan, begitu?” “Sebenarnya tidak juga. Saat Zac mengatakan lakukan sekarang, maka pertempuran itu akan dilakukan saat itu juga.” “Aneh.” “Walau kami selalu dianggap makhluk fiksi, tapi kami ada dan kami punya peraturan agar kehadiran kami tidak diketahui oleh kalian para makhluk fana. Karena itu kami tidak bisa sembarangan melakukan perebutan klan.” Ujar Alby tanpa membuka matanya. “Dan kau, Wren, kau punya hutang dengan mengganggu tidurku kali ini. Tadi malam aku bahkan tidak berhasil memburu mimpi yang bisa memuaskan kebutuhanku.” Sambung vampir manis itu kemudian. “Apa aku boleh bertanya sesuatu?” “Tentu saja.” “Apa vampir itu dulunya adalah manusia?” Tanyaku begitu saja. Wren terdiam sejenak dan berhenti memainkan jari-jariku. “Kami semua dulunya adalah manusia, Lily. Kami menjadi vampir dengan berbagai alasan. Dan dalam kasusku, aku tidak pernah menginginkan diriku menjadi vampir.” “Siapa yang mengubahmu menjadi vampir, Wren?” Kulihat Wren terdiam. Dia mungkin sedang menimbang apakah akan menjawab pertanyaanku atau mengabaikannya. “Masterku adalah Archard.” Jawab Wren enggan. Dan kini aku sadar, kenapa Wren tidak pernah suka melihat pengawal sang nosferatu itu. Walau bukan itu alasan sebenarnya. “Maaf kalau membuatmu merasa terganggu. Aku hanya penasaran.” Wren langsung tersenyum padaku. “Kau tidak pernah menggangguku, Lily.” Semakin lama aku bersamanya, aku semakin menyukai senyumannya. Melihatnya diam tanpa senyuman membuat hatiku resah. Apa ini artinya aku menyukainya? Aku menggelengkan kepalaku kuat, berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalaku. Elysia adalah salah satu dari kekasih Wren seperti yang Tim katakan. Entah berapa banyak lagi kekasih Wren yang ada di luar sana. Kedekatan kami saat ini hanya kebetulan semata dan akan segera berakhir. Tapi entah kenapa memikirkannya saja membuat hatiku sakit. Aku sudah terbiasa bersama Wren disisiku. Rasanya akan sangat aneh kalau orang yang selama ini membuat kerusuhan dalam hidupmu tiba-tiba menghilang. Rasanya baru beberapa menit lalu Wren tersenyum padaku, dan sekarang Alby tiba-tiba duduk tegak dengan mata terbuka. Dia menatap Wren, dan kalau mata itu bisa bicara, maka saat ini sudah banyak sekali yang diucapkan oleh tatapan Alby pada Wren. “Kau merasakannya, Wren?” “Itu Sara, Alby. Dan ya, walaupun samar, aku bisa merasakannya.” “Sara? Ada apa dengannya? Apa Sara dalam masalah?” Wren meremas tanganku seolah meyakinkan aku atas apa yang akan diucapkannya. “Sara baik-baik saja, sayang. Kita sudah mendekati Picasa Co dan Sara sudah ada disana.” “Lalu apa yang kalian bicarakan? Apa yang kalian rasakan?” Lagi-lagi Wren dan Alby saling bertatapan sampai beberapa detik kemudian Wren tersenyum. “Tidak ada, sayang.” Ujarnya lembut. “Ayo kita turun. Sara sudah menunggumu. Dan kalau aku tidak salah, Zac juga datang. Dia tertarik dengan siapa selama ini kau berteman mengingat kau memiliki setengah darah malaikat.” Seandainya aku bisa membaca masa depan, maka aku tahu kalau setiap kali Wren tersenyum, aku harus memikirkan kemungkinan dia menyembunyikan sesuatu. Aku balas tersenyum pada Wren sebelum kami turun dari mobil beberapa saat kemudian. “Dimana Sara?” “Di ruang kerjaku, Lily. Club sedang dibersihkan, hanya ruang kerjaku yang tidak terjamah oleh manusia.” Ujar Wren sambil membimbingku masuk ke dalam bangunan walau saat itu kami turun tepat di depan Picasa Co yang bermandikan cahaya matahari. Wren yang pagi itu memilih mengenakan jaket putih dengan celana jeans abu-abu terlihat sempurna dengan kacamata hitam yang menyembunyikan mata hijau zamrudnya. Alby sendiri juga tidak kalah menarik perhatian para pejalan kaki pagi itu. Turun dari mobil sambil menyisir rambutnya dengan jari, Alby tampil bak model dengan jas sporty abu-abu gelap dengan dalaman kaos putih polos. Di pinggangnya tergantung rantai simple yang menambah kesan badboy pada dirinya. “Jangan pernah mengira aksesoris yang digunakan Alby hanya sebatas aksesoris, sayang.” Bisik Wren seakan tahu apa yang kupikirkan saat kami melangkah menelusuri koridor menuju ruang kerja Wren. “Apa maksudmu?” Tanyaku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Wren katakan. “Rantai di pinggangnya dan cincin di tangannya, itu semua terbuat dari perak murni, Lily. Berbahaya memang, tapi sangat ampuh untuk menghadapi musuh saat kau dalam keadaan tidak siap sekalipun.”jelas Wren pelan. “Tapi kau tidak menggunakannya.” Sahutku cepat. Wren menggeleng. “Aku memang tidak menggunakannya. Alby punya alasan tersendiri kenapa dia bersikap seperti itu.” Ujar Wren datar. “Dan silakan masuk, sayang.” Sambung Wren kemudian sambil membuka sebuah pintu kaca di depanku. Didalam sana Sara duduk di sebelah Tim dengan wajah cemas. Aku langsung berlari menghampiri Sara dan memeluknya erat. “Aku merindukanmu, Sara.” Sara membalas pelukanku dan langsung menangis. “Aku benci harus mencemaskanmu seperti ini, bodoh! Kenapa kau menghilang begitu saja malam itu!” Seru Sara disela tangisnya. “Sudah kukatakan jangan mencemaskannya, Sara. Lily aman bersamaku.” Ujar Wren ringan sambil menghempaskan tubuhnya di sofa terdekat. “Apa kalian sudah sarapan? Aku ingin memesan makanan, dan aku bisa memesan untuk kalian juga.” Aku menatap Wren tidak percaya. Vampir makan makanan manusia? Wren tidak pernah mengatakan tentang ini sebelumnya. “Aku ingin burger dengan double beef dan cheese tanpa sayuran.” Ujarku cepat, “Sara apa kau ingin sesuatu?” “Sepertinya aku memang ingin makan sesuatu setelah mencemaskanmu dari kemarin. Aku pesan double burger seperti milik Lily dan s**u vanila. Dan untuk Tim pesankan saja dia jus jeruk dengan seporsi kentang goreng.” Ujar Sara pelan. Wren mengedipkan matanya padaku sebelum menelepon seseorang dan memesan semua pesanan kami tadi. “Ada lagi yang kurang?” Tanya Wren sebelum mengakhiri pesanannya. “Kenapa kau tidak mengundangku padahal kau tahu aku ada disini, Wren?” Tanya sebuah suara dari arah pintu. Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Zac. Vampir yang memiliki julukan nosferatu_yang sampai saat ini aku tidak tahu apa artinya_berdiri di ambang pintu. Tingginya hampir mencapai pinggir atas pintu. Dan satu-satunya kesamaan diantara Zac dan kedua vampir dalam ruangan ini adalah kenyataan kalau mereka tercipta dari kumpulan gen sempurna di dunia. Dengan menggunakan jaket modis panjang selutut berwarna putih dengan potongan tak beraturan di beberapa tempat, Zac terlihat sangat tampan. “Karena aku tahu kau tetap akan datang makanya aku tidak mengundangmu turun, Zac. Kemarilah. Kenalkan ini Sara dan adiknya, Tim. Mereka berdua adalah teman Lily.” Ujar Wren sambil menunjuk Sara dan Tim bergantian. “Aku tidak pernah menganggap Lily sebagai teman ataupun saudara.” Ujar Tim untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke dalam ruangan ini. Zac tersenyum. “Aku tahu, anak muda.” Sahut Zac pelan. “Wren, ada yang ingin kubicarakan, kau juga Alby.” Lanjut Zac kemudian sambil menunjuk Alby. Aku menatap Wren spontan, dan_untuk kesekian kalinya dalam beberapa jam_menerima senyum darinya. “Aku akan segera kembali. Kalian bisa mengobrol. Dan kalau pesanannya datang, tolong bayarkan, sayang.” Ujar Wren sambil menyerahkan dompetnya padaku. Rasanya aku baru saja menerima dompet itu saat Wren sudah menghilang begitu saja bersama Zac dan Alby. “Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan pria itu, Lily?” Tanya Sara yang berhasil mengalihkan pikiranku. “Hah? Apa?” Sara menyentuh wajahku, membuatku menatap matanya. “Sejak kapan kau berhubungan dengan pria itu? Aku tahu kau pernah membawanya beberapa kali ke toko. Tapi sejak kapan, Lily? Siapa dia? Kau berubah, Lily.” “Aku tidak berubah. Sara. Tidak ada yang berubah.” Jawabku pelan. “Kau tahu kau berubah, sayang. Kau tidak pernah suka orang asing, tapi semua yang ada disini bahkan orang-orang yang baru kau kenal. Kau tidak suka perubahan karena itu kau menolak saat aku mengajakmu tinggal di rumahku, tapi kau tinggal bersama mereka. Apa yang terjadi?” Tanya Sara setelah mengungkapkan semua hal yang memang terjadi padaku. Aku menatap arah kepergian Wren. Aku tahu kalau dia tidak mungkin tiba-tiba balik dan kembali ke sisiku. Di sisi lain bangunan ini, terdapat sekelompok vampir kuat yang sedang berkumpul bersama, dan aku disini sendirian menghadapi teman-temanku yang merasakan perubahan yang selama ini tidak pernah kusadari. “Dia tergila-gila pada playboy itu.” Ujar Tim datar. “Diam, Tim. Aku tidak bertanya padamu.” Sela Sara masih menatapku ingin tahu. “Dia bahkan tidak menghiraukan peringatanku untuk menjauhi si b******k itu. Nanti dia akan sadar kalau dirinya tidak lebih dari hiburan sesaat untuk Wren.” Geram Tim yang mendapatkan lirikan kesal dari Sara. Aku menghembuskan napas panjang. “Mungkin aku berubah. Tapi hanya itu, Sara. Selebihnya aku masih sama seperti Lily Russell yang dulu. Aku masih si pemilik setengah toko kita. Aku masih si kasir yang bahkan tidak pernah mendapat perhatian dari pria manapun. Aku masih seperti dulu. Hanya saja bersama Wren aku merasa berbeda. Dia menghargaiku lebih dari siapapun yang kukenal. Dia tidak pernah memandangku sebelah mata. Aku nyaman bersamanya.” “Apa kami tidak pernah memberikan semua itu padamu?” “Itu berbeda, Sara. Bersama kalian aku merasakan hangatnya kekeluargaan. Tapi bersama Wren, aku merasakan seperti apa memiliki kekasih.” Sara seperti ingin menyela ucapanku saat sebuah suara mendahuluinya. Aku berjalan menghampiri sumber suara dan mendapati kalau ada seorang pria sedang berdiri dengan banyak sekali kotak makanan di tangannya. “Apakah anda yang memesan di Shea’s Burger?” Tanya pria muda itu sopan. Entah kenapa aku merasa kalau pria itu berbeda. Sejak tinggal bersama Wren dan ‘kaum’nya, aku mulai bisa merasakan perbedaan dari kehadiran makhluk abadi seperti mereka dan Navaro atau makhluk fana seperti manusia. Setidaknya, dia bukan vampir karena dia berdiri tepat di bawah terik matahari. “Aku tidak tahu apa nama tempatnya, tapi ya, kami memang memesan sejumlah burger. Silakan tunggu sebentar, saya akan mengambil uangnya.” Ujarku cepat dan siap berbalik saat aku menabrak dinding kokoh yang entah sejak kapan ada di belakangku. Aku mendongak dan mendapati Wren merangkulkan tangannya dipinggangku agar aku tidak kehilangan keseimbangan. Wren sama sekali tidak menatapku, dia menatap si pengantar burger. “Jangan terlalu sombong dengan kemampuanmu di bawah terik matahari, Aleandro. Lebih baik kau masuk, Zac sudah menunggumu dari tadi.” Si pengantar burger membuka topinya dan tiba-tiba tersenyum. Kalau senyum Wren bukan senyum mematikan dengan dekik kecilnya, maka senyum pria ini jelas mengakibatkan hal yang sama. “Dia vampir?” Tanyaku sambil menatap Wren. Wren mengangguk pelan tanpa melihatku, tapi tangannya tetap di pinggangku. “Manusia. Dan dia tahu rahasia kita.” Ujar pria itu penuh misteri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD