Wren mengetatkan pelukannya di tubuhku. “Jangan pernah berpikir kau bisa menyentuhnya, sialan. Sekarang pergilah ke atas, dan jangan berbuat apapun yang menimbulkan keributan. Saat ini bukan hanya dia manusia yang ada disini.” Geram Wren terdengar marah.
Pria muda itu tertawa pelan, membuatnya semakin tampan. Tapi tawa itu tetap tidak bisa menutupi kesepian dalam matanya. “Aku merasakan sesuatu, Wren. Dan aku rasa itu adalah ketakutan terbesarmu selama ini yang sudah menjadi kenyataan.” Ujarnya sebelum melesat pergi dari pintu meninggalkan bungkusan makanan di depan pintu.
Kulihat Wren hanya menatap kepergian pria itu dalam diam. “Wren?” Panggilku pelan sambil berusaha keluar dari dekapan kuat vampir itu.
Seakan menyadari gerakanku, Wren ganti menatapku. “Dia vampir, dan dia berbahaya bahkan untuk vampir sekalipun.” Gumamnya pelan. “Ayo kita bawa makanan ini. teman-temanmu pasti sudah kelaparan.” Lanjutnya kemudian sambil melepaskan pelukannya dan mengambil semua bungkusan itu sebelum berjalan masuk ke ruang kantornya.
Kami berjalan bersama memasuki ruang kantor Wren saat Sara tiba-tiba berdiri dan menghampiri Wren. “Katakan padaku kalau kau serius dengannya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kau bisa mempengaruhinya sejauh ini.”
“Sara!” Tegurku cepat tapi Wren hanya tersenyum.
“Kalau kau percaya Tuhan, Sara, maka hanya Tuhan-mu lah yang tahu kalau aku juga terkejut dengan apa yang terjadi diantara kami. Sampai saat ini aku serius dengan apapun yang aku lakukan bersama Lily. Hanya saja aku tidak bisa menjanjikannya masa depan apapun.” Ujar Wren pelan dan entah darimana datangnya, Tim langsung menerjang Wren, membuat Wren jatuh terduduk.
“b******k! Aku tahu kalau kau hanya menganggapnya hiburan! Karena itu aku benci melihatnya memilihmu! Aku sanggup menjanjikan apapun yang dia inginkan! Bahkan aku berniat menikahinya tapi dia memilihmu yang bahkan tidak bisa menjanjikan masa depan!” Teriak Tim yang sudah bersiap menghajar Wren saat Wren bangkit dan menatap Tim dengan mata hijau zamrudnya.
“Aku tidak bisa menjanjikannya masa depan karena aku tidak bisa melihat masa depan seperti apa yang menunggu di depan jalanku. Yang bisa kujanjikan adalah saat ini. Dan jangan paksa aku untuk berkelahi denganmu, Tim. Bukan aku yang akan terluka pada akhirnya. Kau menyerangku di wilayahku. Ini bukan pilihan bijak, sobat.” Bisik Wren datar. “Aku kehilangan nafsu makanku, amour. Kau bisa makan bersama mereka, dan kalau mereka sudah ingin pulang, kau bisa memanggilku di atas. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar mereka.” Sambung Wren sambil menyentuh pipiku dengan tangannya yang dingin.
Aku hanya mengangguk patuh sambil memperhatikan Wren bergerak anggun keluar dari kantor. Dan aku yakin itu membuat Tim penasaran karena Wren sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan atau apapun akibat terjangan Tim tadi.
*Wren POV*
Kemunculan Aleandro di Picasa Co hanya berarti satu hal. Pertarungan sudah ditetapkan. Tapi bukan itu yang membuatku cemas. Ada hal lain yang juga dirasakan Alby bahkan saat kami baru tiba di Picasa Co. Ada Angels Hunter di sekitar Sara. Kemungkinan besar dia memiliki kekuatan yang sama dengan Navaro karena saat dia tidak ada, auranya masih tersisa di tubuh Sara. Lily tidak boleh dibiarkan terlalu dekat dengan Sara. Sara mungkin tidak akan menyakiti Lily_kalau melihat bagaimana protektifnya dia pada gadis itu_tapi tidak ada yang menjamin Angels Hunter itu akan melakukan yang sama. Satu-satunya tugas Angels Hunter adalah memburu manusia setengah malaikat, jangan sampai keberadaannya mengganggu eksistensi malaikat itu sendiri.
Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri saat aku menyadari kalau Zac sejak tadi menatapku tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada yang lain. “Kenapa kau menatapku seperti itu, Zac?”
“Aku ceroboh karena tidak menyadarinya. Bau Lily sudah begitu melekat di tubuhmu hingga aku tidak menyadari perubahan pada dirimu. Tunjukkan padaku tanda itu, Wren.” Ujar Zac serius.
Sialan!
Siapa yang memberitahu Zac masalah tanda ini? Elysia tidak akan mungkin mengatakannya. Hanya satu orang, Aleandro. Dia pasti memberitahu Zac. Terkutuklah dia karena kepekaannya terhadap tanda kepemilikan. Pikirku sambil melirik Aleandro dan Elysia bergantian.
Baiklah.
Sepertinya sekarang bukan saatnya aku memikirkan Angels Hunter itu. Zac sedang kesal karena salah satu peliharaan kesayangannya sudah memiliki tanda yang bahkan tidak bisa dicegah oleh Zac. Aku membuka jaket yang kukenakan. Bahkan tanpa melepas kaos putih tanpa lengan yang kukenakan, tanda itu bisa dilihat dengan jelas. Tato kuno warna hitam dengan ukiran rumit memenuhi bahu kiri hingga lengan kiriku. Tanda yang seharusnya membuatku frustasi, tapi malah membuatku cukup bahagia.
Zac menatap tanda di lenganku dengan seksama sebelum menyentak kepalanya kebelakang dan memejamkan mata. Selama beberapa detik, tidak ada yang bersuara diantara kami berempat. Sampai Zac membuka mata dan menatapku dengan mata hijaunya yang kini nyaris bercahaya. “Apa dia juga memiliki tanda itu?” Tanya Zac datar.
Aku menggeleng pelan. “Entahlah, Zac. Aku tidak tahu. Kemungkinan tanda itu tidak muncul. Karena dia sama sekali tidak beraksi aneh.” Jawabku jujur.
Zac menghampiriku, memegang kedua lenganku, dan mengguncang tubuhku_yang kalau dilakukannya pada manusia pasti membuat lengan mereka lepas. “Kau tahu apa artinya ini, Wren! Kau tahu tanda ini tidak akan bisa dihapus oleh siapa dan apapun! Kau tahu tanda ini akan mengikatmu, jiwamu! Kenapa kau membiarkannya!”
“Kau tahu apa yang kupikirkan tentang ikatan selama ini, Zac. Kau tahu bagaimana pendapatku tentang hidup ini. Bahkan akupun tidak bisa mencegahnya. Tanda ini, Zac, sesungguhnya adalah bukti kalau kita juga masih punya jiwa.”
“Tidak denganku.” Gumam Zac pelan. “Tapi kenapa kau, Wren! Kenapa kau!? Kenapa harus kau, satu-satunya vampir yang kuyakini akan terus bebas?”
“Aku tidak akan berubah. Aku akan tetap menjadi seorang Wren, vampire hunter yang selalu siap menerima perintahmu. Tapi tanda ini, Zac, juga merupakan bukti kalau Lily adalah pasanganku. Bahkan kau pun tidak boleh menyentuhnya tanpa izinku. Setidaknya tidak ada vampir manapun yang boleh menyentuhnya sampai terbukti dia tidak memiliki tandaku.”
Dalam satu gerakan cepat, Zac sudah menjauh beberapa langkah dariku. Tubuhnya yang paling jangkung diantara kami begitu terasa mendominasi ruangan, apalagi dengan suasana hatinya yang tidak cukup baik. “Kalian dengar? Kalian lihat? Lily Russell menjadi tanggung jawab kita mulai saat ini. Aku mungkin akan terkesan sangat tidak adil, tapi tidak seorangpun dari bangsa vampir yang boleh menyentuhnya. Aku lebih suka dianggap pilih kasih daripada aku kehilangan orang yang kusayangi.” Ujar Zac datar.
“Kau serius dengan apa yang kau ucapkan barusan, Zac?” Tanya Aleandro terlihat cukup terkejut.
“Tentu saja. Dan aku akan segera pergi. Pergilah memenuhi kebutuhanmu untuk beberapa hari ini, Wren. Tidak akan ada masalah selama kau tidak mengambil terlalu banyak dan membunuh mereka. Sampai jumpa lusa, Wren.” Ucap Zac datar.
Archard mengikuti Zac berjalan keluar. Tapi diambang pintu dia sempat menatapku. “Tanda itu bukan kutukan. Bersyukurlah karena kau memilikinya.” Ujar Archard pelan lalu segera pergi menghilang bersama Zac.
Kali ini Aleandro lah yang mengamatiku seakan aku adalah barang yang sedang ditawarkan pada penawar tertinggi. Aleandro menggeleng tidak percaya. “Lusa, di rumahku. Pastikan tidak ada kecurangan yang kau gunakan.”
“Tentu saja. Aku tidak pernah berpikir melakukan sesuatu yang seperti itu. Seharusnya kau menegaskan hal itu pada Hector. Dialah yang menyerangku dengan vampir muda dan menggunakan perak cair. Pastikan kau akan mengeksekusi siapapun yang menggunakan perak cair saat pertarungan.” Sahutku cepat dan membuat Aleandro terkejut, walau dia berhasil menyembunyikannya dengan sangat baik. Tapi aku terlalu mengenalnya untuk tahu sedikit reaksi darinya.
“Kau tidak perlu mengajariku tentang itu, anak muda.” Geram Aleandro yang kemudian juga ikut menghilang di ambang pintu seperti Zac.
Dalam usia manusia, aku jauh lebih tua dari Aleandro dan Archard. Usia manusiaku bahkan sama dengan Zac. Tapi dalam usia vampir, Zac dan Aleandro jauh lebih tua dari yang bisa dibayangkan.
“Zac menerima ini jauh lebih baik dariku.” Gumam Elysia tanpa melihatku sedikitpun. “Aku akan kembali ke Sisilia, Wren. Sampai jumpa.” Sambungnya dan langsung keluar dari ruanganku bersama Tibalt.
Alby mendekatiku dan menyampirkan jaket ke bahuku. “Tidak akan ada yang berubah.” Ujarnya pelan lalu meninggalkanku sendiri di dalam ruang kerjaku yang lain.
Aku melepaskan jaket dan meninggalkannya di meja. Sama sekali tidak merasa risih dengan apa yang dapat dilihat orang di bahuku. Bagi manusia, apa yang ada dibahuku hanya akan terlihat sebagai tato biasa dengan ukiran rumit. Dengan cepat aku berjalan keluar dari kantor dan menuruni tangga menuju kantorku yang lain, tempat Lily dan teman-temannya berkumpul. Masalah tanda sudah selesai, sekarang aku ingin memastikan siapa Angels Hunter yang berhubungan dekat dengan Sara hingga auranya tadi terasa sangat jelas.
Berusaha terlihat tenang, aku melangkah masuk ke ruangan tempat Lily dan teman-temannya menunggu. “Sepertinya aku sudah jadi tuan rumah yang tidak baik karena meninggalkan kalian cukup lama.” Ujarku berusaha menarik perhatian ketiga manusia yang ada disana.
Dan saat itu aku yakin kalau Tim memang amat sangat membenciku. Dulu hubungan kami memang tidak bisa dibilang akrab, tapi setidaknya kami tidak saling membenci. Sekarang? Sepertinya Lily memang sangat berarti baginya. Tapi aku tidak bisa melepas Lily. Tidak. Bahkan saat Lily sudah memilih pasangannya, aku tetap akan bersamanya.
Kulihat Sara memperhatikanku lebih seksama daripada saat terakhir kali kami bertemu di toko. “Tidak masalah. Maaf kalau kami makan lebih dulu.” Ujarnya datar.
“Santai saja. Sebenarnya, Lily juga tuan rumah disini.” Ujarku ringan lalu mengambil posisi duduk tepat disebelah Lily.
Kulihat tatapan Tim mengikuti gerakanku. Oke, kalau dia ingin melihat apa yang kulakukan, silakan. Bukan aku yang akan terbakar cemburu saat ini. Saat itulah aku merasakan sikutan Lily di perutku. Sebenarnya sama sekali tidak sakit, hanya saja aku tetap harus bereaksi seperti itu.
“Itu benar, Lily. Kau harus terbiasa jadi tuan rumah menggantikanku.” Ujarku lembut lalu tersenyum pada Lily. “Ah, hampir saja aku lupa. Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu, Sara?”
“Apa yang ingin kau tanya, Wren?” Tanya Sara sedikit bersikap defensif.
“Sejujurnya aku seharusnya tidak mengatakan ini pada siapapun. Tapi karena kau adalah orang yang dipercaya Lily, maka aku akan mengatakannya. Kami sedang dalam masalah, ada beberapa pihak yang ingin melukaiku, menculikku, dan mungkin membunuhku. Dan karena Lily saat ini terlihat sering bersamaku, dia mungkin akan menjadi sasaran juga. Karena itu, aku ingin tahu, apa kau menceritakan masalah ini pada seseorang yang tidak ada disini? Tentang Lily ataupun tentangku?” Tanyaku cepat, dan sepertinya Lily mengira aku akan mengatakan siapa aku, karena dia baru melepas ketegangannya setelah aku selesai bicara.
“Kalau kau tahu akan membahayakan Lily, kenapa kau masih mendekatinya, b******k!” Tukas Tim nyaris murka sebelum Sara sempat menanyakan apapun.
“Kalau aku tahu aku akan membahayakan Lily, aku lebih rela melepaskan kesempatan aku bahagia bersamanya daripada melihatnya terluka, Tim. Aku bisa menjamin keselamatan Lily kalau aku tahu bahaya apa yang sedang mengintai kami. Karena itu aku butuh jawaban kakakmu, kalau kau bersedia berhenti menyela, Tim.”
“Bisakah aku menjawab pertanyaannya dulu sebelum kau menyela terus-terusan dengan amarahmu, Tim?” Tanya Sara dingin yang langsung membuat adiknya terdiam. “Ya, aku menceritakan semuanya pada Karl, dia kekasihku.”
Aku mengangguk pelan. “Dan ‘Karl’ ini, apa pekerjaannya? Apa kau sudah lama berhubungan dengannya?” Tanyaku berusaha untuk tidak terdengar terlalu ingin tahu, tapi jelas itu hal yang sulit mengingat aku adalah seorang pemburu dan terbiasa mengejar buruanku_termasuk jawaban_sampai dapat.
Sara menyipitkan matanya padaku, mencoba mencari sedikit saja celah untuk berbalik menyerangku dengan pertanyaan yang sama seandainya aku memberikan reaksi terlalu ingin tahu. Tapi dia tidak menemukannya karena sedetik kemudian Sara menghela napas pasrah sebelum menjawab pertanyaanku. “Karl adalah seorang pengacara. Dia baru saja mendapatkan kepercayaan menjadi salah satu rekanan di Smith and Black beberapa bulan lalu. Dan kami sudah kenal selama beberapa tahun tapi baru bertunangan selama setahun terakhir. Aku mempercayainya.”
Smith and Black, catatku dalam hati, adalah kantor pengacara ternama di London. “Baiklah, Sara. Aku rasa Karl-mu itu tidak berbahaya. Maaf kalau aku terkesan menyelidiki, tapi aku harus melakukannya untuk memastikan keselamatan Lily.” Ujarku sama sekali tidak tulus karena aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan.
Kalau pernyataan Sara memang sesuai dengan kenyataan, maka kemungkinan besar aura yang kurasakan adalah milik Karl, dan itu jelas sangat buruk karena itu artinya selama ini Lily berada sangat dekat dengan musuh terbesarnya, Angels Hunter.
“Sekarang, aku yang ingin bertanya padamu. Tim mengatakan padaku kalau kau adalah orang yang bekerja bersamanya selama beberapa waktu ini. Itu artinya kau juga ada dalam dunia yang sama dengannya. Tapi kalau beberapa hari ini kau selalu bersama Lily, kau tidak mungkin bekerja. Apa pekerjaanmu yang sebenarnya, Wren? Artis? Produser? Mafia atau apa? Aku tidak ingin Lily terlibat masalah_walaupun sebenarnya ini sudah terlambat.” Tanya Sara.
“Aku bisa menjadi produser, sutradara, atau apapun. Tapi aku tidak pernah menjadi artis dan mafia. Aku tidak terlalu nyaman terlibat dengan orang banyak. Dan sekarang yang kulakukan hanya mengelola beberapa usahaku.”
“Dan apa usahamu itu tepatnya?” Tanya Sara.
Sepertinya dia belajar mengejar jawaban dari kekasihnya yang seorang pengacara.pikirku enggan. “Club. Seperti yang kau lihat disini. Hanya saja karena hari ini adalah hari pertemuan kau dan Lily, maka aku menutup Picasa untuk hari ini. Aku tidak ingin kalian terganggu dengan adanya pengunjung yang lain.”
“Satu Picasa?”
“Sudahlah, Sara. Yang penting dia tidak melakukan kejahatan.” Tukas Lily sebelum aku sempat menjawab.
Sara menatap Lily kesal. “Aku ingin memastikan kau aman, terjaga, dan nyaman dengan semuanya!” Sergah Sara. “Berapa Picasa yang kau miliki Wren? Jangan berbohong, karena kalau kau hanya memiliki satu club, kau tidak akan menutupnya untuk alasan apapun. Kau tidak akan rela merugi hanya karena kami bertemu di clubmu.”
Aku menggenggam tangan Lily dan memberikan senyum. “Tidak masalah. Aku senang kalau ada orang lain yang begitu memperhatikanmu, amour.” Bisikku pelan. “Aku punya banyak Picasa yang tersebar di berbagai penjuru Inggris, Sara. Kau bisa mengunjungi Picasa Tower kapan-kapan Aku tidak mungkin menghitungnya satu per satu, tapi bisa kupastikan penghasilanku selama ini tanpa Picasa cukup untuk membiayai hidupku dengan mewah selama ini.”
“Aku tidak percaya kau mendukung hubungan mereka setelah apa yang kukatakan, Sara.” Ujar Tim dingin. “Aku harus pergi. Aku tidak tahan melihat mereka. Dan kau, Sara, aku kecewa padamu.” Sambung Tim lalu pergi begitu saja setelah sempat melemparkan umpatan kasar padaku.
“Aku harus pergi juga. Lily, jaga dirimu, sayang. Dan kau harus menjaganya, Wren.” Pamit Sara sambil melirik aku dan Lily bergantian sebelum menghambur keluar untuk mengejar Tim.
*Lily POV*
Apa Tim benar-benar menyukaiku? Pertanyaan itu lah yang pertama kali terlintas dalam kepalaku melihat kemarahan Tim melihat aku bersama Wren. Sebelum Wren masuk dalam hidupku, aku selalu berharap memiliki kekasih sebaik Tim. Oh, bukan berarti pria terakhir dalam hidupku itu jahat. Hanya saja kami berpisah dengan suasana hati yang buruk. Tim adalah pria pertama yang begitu dekat dalam hidupku setelah pria itu. Karena itu, melihat usianya yang lebih muda, aku cenderung menganggapnya sebagai adik walaupun semua yang ada di dirinya adalah yang kuinginkan sebagai kekasih.
Kini ada Wren dalam hidupku. Lebih dari apa yang kuharapkan. Tapi kenapa kemarahan Tim tetap membuatku ragu? Apakah bersama Wren memang yang kuinginkan atau ini hanya semata untuk melindungiku?
“Tidak. Kalau hanya untuk melindungiku, kami tidak mungkin sampai bercinta.” Bisikku pelan.
Bersama Wren hanya membuatmu sering berada dalam bahaya, Lily. Bisik hati kecilku.
Aku menggeleng cepat. “Tidak. Wren akan selalu melindungiku.”
Kau sama sekali tidak mengenal Wren. Siapa dia dulu dan bagaimana kehidupannya.
“Aku tidak peduli.” Bisikku pelan walau sejujurnya inilah yang menjadi pikiranku. Siapa Wren dulu sebelum dia menjadi vampir? Bagaimana kehidupannya dulu? Berapa banyak kekasih yang dia miliki?
Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri sampai aku tidak menyadari kalau di ruang kerja Wren_yang tadinya hanya ada aku_sudah bertambah satu orang.
“Dimana Wren?” Tanya malaikat itu membuyarkan lamunanku dengan sangat efektif.
Aku menatap Navaro seakan dia makhluk bertanduk. Dia datang dengan berjalan atau muncul tiba-tiba?
“Apa ada yang aneh, perempuan?” Tanya Navaro lagi.
Aku menggeleng cepat. “Kau tadi menanyakan Wren, bukan? Dia pergi bersama Alby. Aku rasa mereka sedang berburu untuk persiapan besok.”
“Kau juga sudah diberitahunya?”
“Aku yang bertanya padanya tadi. Ada urusan apa kau kesini?”
“Bukan urusanmu, perempuan.” Sahut Navaro dingin. “Sampaikan pada Wren dia harus menemuiku sebelum bertarung.”
“Tunggu!” Tukasku cepat sebelum Navaro sempat bangkit dari tempat duduknya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Kau memerintahku?”
“Sialan kau! Tidak! Aku hanya ingin bertanya!”
Tiba-tiba malaikat dingin itu tersenyum walau hanya beberapa detik. “Kau orang kedua yang berani memaki malaikat sepertiku. Bahkan sesama malaikat tidak berani memancing murkaku.” Jelas Navaro angkuh. “Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Mudah saja. Apa kelebihan yang aku dapat kalau aku mendapatkan Darah vampir dalam tubuhku?”
Mata Navaro langsung menyipit dan menatapku tajam. Aku merasa seperti ditelanjangi dengan tatapannya. “Kau benar-benar tidak tahu?”
“Begini, kalau Wren ingin semuanya tersembunyi dariku, darimana lagi aku bisa tahu kenyataannya?”
Navaro mengangguk setuju. “Aku tidak terlalu yakin apa kekuatanmu sebenarnya, perempuan. Tapi mengingat darah yang mengalir di darahmu adalah darah The Fallen Angel, maka kemungkinan kau mendapatkan sedikit dari kekuatannya sangat besar. The Fallen Angel terkenal dalam membaca pikiran seseorang bahkan saat orang itu berusaha menutup pikirannya. Malaikat adalah makhluk yang pikirannya tidak bisa ditebak, tapi The Fallen Angel bisa melakukannya. Selain itu kau jelas mendapatkan kekuatan lainnya, terbang, menyembuhkan luka dan pastinya berumur panjang. Dan satu hal, saat kekuatan itu terbebas, darahmu sepenuhnya racun bagi vampir kecuali bagi vampir yang darahnya ada di dalam darahmu. Jadi saat kau memilih untuk melepas kekuatan itu, pilihlah vampir yang memang berharga dalam hidupmu, perempuan. Karena selamanya, darah kalian akan saling berhubungan.”
“Dan apakah aku bisa mengontrol kekuatanku?”
“Tergantung seberapa kuatnya tekadmu untuk mengontrol kekuatan itu.”
“Apakah aku tetap akan diburu?”
“Kau akan semakin diburu, perempuan. Kecuali ada pihak yang menyatakan kau dibawah lindungan mereka hingga kekuatanmu tidak perlu dicemaskan. Tapi aku meragukan ada pihak yang ingin terlibat dengan Angels Hunter dan mengorbankan klannya.”
“Kenapa?”
“Aku rasa Wren sudah mengatakan padamu seberapa berbahayanya Angels Hunter yang memang seorang malaikat tinggi.”
Apakah ini artinya Wren juga tidak mungkin melindungiku dari Angels Hunter?
“Kau bisa menanyakannya langsung pada Wren. Apakah dia bersedia mengakuimu sebagai salah satu klannya dan mengorbankan klannya atau tidak.” Ujar Navaro tiba-tiba lalu segera melesat keluar dari ruang kerja Wren.