Chapter 14

2377 Words
Aku tidak tahu sejak kapan aku tertidur. Setelah Navaro pergi, Gavriel datang dan mengantarku pulang ke Acasa Manor, dan aku langsung berjalan ke kamar dan langsung tertidur begitu berbaring di ranjang. Entah sejak kapan aku merasakan belaian di tubuhku saat ini. Aku tidak ingin membuka mata, takut kalau ini hanya mimpi, karena aku tahu_walau hanya belaiannya saja_kalau Wren-lah yang melakukannya. Belaian-belaian lembut itu kini digantikan dengan ciuman-ciuman nakal di tempat-tempat yang hanya Wren yang tahu kalau bisa membuatku b*******h. Kalau ini mimpi, aku tidak ingin terbangun. Aku semakin memejamkan mata, menikmati apa yang Wren lakukan saat bisikan itu menyadarkanku kalau ini bukan mimpi. Dengan cepat aku membuka mata dan mendapati Wren berbaring di sebelahkan tanpa kemeja. “Sampai kapan kau akan pura-pura tidur, cherry?” “Wren? Apa yang kau lakukan disini?” Bisikku tidak percaya sambil mengamati betapa tampannya vampir di hadapanku ini. Bibir Wren yang mulai menciumi p******a membuatku sadar kalau baju yang kukenakan entah sejak kapan sudah terbuka dan memberinya akses untuk menciumi tubuhku. “Aku merindukanmu, Lily. Dan ternyata kau sangat sulit untuk dibangunkan.”bisiknya sambil menyelipkan tangan diantara pahaku dan mulai memberikan belaian lembut. “Semakin lama aku bersamamu, semakin banyak yang aku tidak tahu tentangmu, dan aku berjanji akan mencari tahunya satu persatu.” Ucap Wren tanpa berpikir kalau apa yang baru saja dia katakan mengandung arti selamanya. “Kau tidak bisa melakukan ini, Wren.” Bisikku tertahan. Sialan vampir ini. Dia selalu tahu bagaimana membuatku b*******h. “Kenapa tidak?” Aku berusaha menepis tangan Wren di pahaku, tapi aku tidak memiliki kekuatan itu. Aku jelas-jelas menyukai sentuhannya di tubuhku. “Kau membutuhkan tenagamu untuk bertarung besok.” Bisikku berusaha mengajukan alasan yang paling masuk akal sementara akalku sendiri seakan ingin meloncat keluar dengan semua yang Wren lakukan ini. “Nanti, sayang.” “Ha?” “Pertarungan itu nanti. Beberapa jam lagi mungkin.” “Lalu kenapa kau masih disini?” “Karena aku merindukanmu. Dan bertarung dengan perasaan merindukanmu seperti ini hanya membuatku kalah.” “Kau tetap tidak bisa, Wren.” “Kenapa lagi?” “Aku... Aku... Aku tidak ingin membuatmu lemah.” “Kau tidak pernah membuatku lemah. Percayalah. Dan sekarang kumohon berhentilah bicara, sayang.” Bisik Wren yang langsung meredam semua protesku dengan ciumannya sementara tangannya sudah berpindah ke p******a. Memijat lembut dengan jemarinya dan terkadang mengecupnya nakal. Sialan dia! Aku menangkup wajah Wren dengan kedua tanganku. “Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kau selalu bisa membuatku panas dan b*******h, Wren.” Wren tersenyum dengan senyumannya yang selalu membuatku sesak napas. “Tidak perlu, sayang. Kau tidak perlu berkorban sebanyak itu. Kau sudah cukup membuatku b*******h saat ini.” Bisiknya lembut di telingaku sementara tangannya membantu tanganku menyentuh bukti betapa bergairahnya dia sekarang. “Apakah caranya sama? Dengan menggigitmu?” Wren menegang. Dia tidak menjawab. Dan saat itulah aku tahu kalau aku benar. “Tidak perlu, Lily. Kau tidak perlu melakukan apapun.” Bisiknya lagi yang kali ini menatap mataku dengan mata hijau zamrudnya. Aku tersenyum. “Aku mau, dan aku memaksa.” “Kau hanya akan membuat dirimu berada dalam bahaya, sayang.” “Tidak masalah.” “Kau pasti akan menyesal.” “Tidak mungkin.” “Sialan kau, Lily. Aku tidak ingin membahayakanmu!” Aku menggeleng. “Aku tahu kau tidak suci, Wren. Kau pasti mengizinkan pasanganmu yang lain melakukannya? Berapa lama kau menahan diri, Wren? Dan aku mohon jawab aku.” “Ya! Aku selalu mengizinkan yang lain, hanya sesama kaumku, melakukannya! Dan aku memang menahannya selama bersamamu. Dan itu semua kulakukan karena aku tidak ingin kau berada dalam bahaya, Lily Russell!” Dengan cepat aku menarik kepala Wren dan merengkuh tubuhnya. “Terima kasih karena melindungiku selama ini. Tapi aku ingin kau juga merasakan kenikmatan yang kau berikan padaku.” Bisikku pelan lalu dengan sengaja aku menjulurkan lidah dan menjilat leher Wren. “Jangan, Lily.” Bisik Wren serak, menahan godaan antara kenikmatan yang kujanjikan atau keselamatanku yang dia inginkan. “Aku akan melakukannya, Wren.” Bisikku lagi dan langsung menggigit Wren. Sulit memang menembus kulit vampir tanpa taring seperti mereka. Tapi aku berhasil merasakan Darah memasuki mulutku. Awalnya memang terasa sangat jijik begitu Darah itu mengalir melalui tenggorokanmu, tapi saat merasakan Wren menegang dan kemudian mendesah pelan, rasa jijik itu menguap seketika. Wren menyukai. Belum sempat aku menjauhkan bibirku dari lehernya, Wren juga menancapkan taringnya di leherku. Kali ini Wren tidak hanya sebatas menggigit, tapi dia juga menghisap darahku. Aku terkesiap, mendesak nikmat karena ini sama sekali tidak menyakitkan. Bahkan rasanya dengan cara Wren mengigitku, aku bisa saja o*****e saat ini. Secara insting aku melakukan hal yang sama pada Wren. Selama beberapa detik tidak ada yang kami lakukan selain saling menghisap darah dan menikmati sensasi menakjubkannya. Wren yang lebih dulu menjauh dariku, menatap wajahku. Matanya semakin bersinar, tapi jelas dia kesal dengan apa yang kulakukan. “Sialan, kau Lily!” Umpatnya pelan lalu menghujani wajahku dengan ciuman-ciuman kasar dan b*******h. Aku tidak peduli. Saat ini yang kuinginkan hanya dirinya di dalam tubuhku secepatnya. “Wren, aku mohon~” “Kau menyiksaku, cherry. Sekarang aku yang akan melakukannya padamu. Seseorang harus menghukummu.” Bisik Wren serak saat bibirnya kini mulai menggigiti puncak payudaraku. Membuatku mencengkram  seprai dibawah tubuh kami. Wren sudah siap memasuki tubuhku saat keberanian itu memasuki hatiku. “Izinkan aku yang melakukannya.” Bisikku lembut sambil menatap langsung kedua mata Wren yang indah dengan warna hijau zamrudnya. Senyum puas menghiasi wajah pria itu, dengan sekali gerakan posisi kami sudah terbalik. Kini Wren-lah yang berbaring di bawahku. Satu tangannya menyentuh pipiku, menarik wajahku mendekatinya. “Lakukanlah. Aku milikmu.” Bisiknya serak. Dengan perlahan aku mundur dan menempatkan tubuhku di pinggang Wren. Dengan kedua tangan bertumpu di d**a Wren yang telanjang, aku mulai menurunkan tubuhku dengan perlahan hingga seluruh bukti gairah Wren berada dalam diriku. “Kau menyiksaku, Choceta.” Bisik Wren serak. Seharusnya aku merasa tersinggung dengan pilihan kata Wren yang menyebutku gadis nakal, tapi aku malah tersenyum. Dengan sengaja aku menjauhkan tubuhku sedikit untuk mengecup bibir Wren sebelum kembali duduk di pinggangnya. Berkali-kali aku melakukannya hanya untuk menggoda Wren, mencium bibirnya, bahunya dan dadanya sampai dia menggeram dan membalik tubuhku dengan sangat cepat. “Kau menghabiskan kendaliku, amour.” Geram Wren dan mulai bergerak dengan cepat, membawaku ke puncak kenikmatan bersamanya.   Kami bercinta, tertidur_walau hanya aku_dan bercinta lagi. Aku tidak tahu kalau aku bisa menikmati seks hingga o*****e berkali-kali bersama Wren seperti ini. Yang jelas saat aku terbangun, Wren masih berbaring di sisiku, telanjang. Saat itu juga aku menyadari betapa telanjangnya aku dan langsung menarik selimut menutupi tubuhku. Wren yang sama sekali tidak tidur langsung tergelak melihat tingkahku. “Terlalu terlambat untuk bersikap malu-malu, amour.” Bisik Wren lembut sambil menelusuri wajahku dengan jarinya. “Tidak ada kata terlambat.” Sahutku cepat dan berusaha bangkit dari tempat tidur saat saat tangan Wren mencengkram pergelangan tanganku. “Jangan pergi.” “Tapi, Wren. Ini sudah siang.” “Masih ada yang ingin kubicarakan denganmu, Lily.” Aku mendesah pasrah. “Baiklah. Katakan.” Wren duduk di kepala tempat tidur, bersandar pada tumpukan bantal. Sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang tidak tertutup apapun. “Segelmu sudah terlepas, Lily.” “Ha? Apa?” Segel? Segel apa yang dibicarakannya? Sedetik kemudian ingatan itu menerpaku. Aku menegang, tapi tetap berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin, tidak ingin Wren mengetahuinya. “Darahku melepaskan segelmu. Kau tidak aman, sayang.” “Aku tahu. Segera setelah pertarunganmu, aku akan pergi. Aku yakin aku bisa melindungi diriku sendiri saat ini.” Wren menggeleng. “Tidak. Kemarin, setelah selesai berburu bersama Alby, aku menyelidiki Karl. Apa yang kami temukan membuatmu benar-benar dalam bahaya, Lily.” “Apa maksudmu?” “Karl, yang diakui Sara sebagai kekasihnya adalah seorang Angels Hunter. Dia mengawasimu selama ini, Lily. Aku tidak tahu sejak kapan dia mengetahui jati dirimu, tapi dia bersama Sara karena mengawasimu, mengawasi kapan segel itu terlepas, dan kalau saat itu tiba, dia akan memburumu.” “Kau yakin? Karl selalu baik padaku.” Kulihat Wren hanya diam, sepertinya dia sendiripun tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya. “Pekerjaan Angels Hunter adalah memburu manusia setengah malaikat, Lily. Tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan sebaliknya.” Ujar Wren setelah memilih kata-kata yang mungkin menurutnya lebih dapat kuterima. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku cepat, berharap Wren tidak menyadari betapa kuatnya aku mencengkram selimut yang melilit tubuhku untuk mengatasi ketakutanku. Wren meraih sesuatu di laci meja nakas sebelah ranjang. Saat itu aku baru sadar kalau di laci itu ada senjata milik Wren. “Kau akan menyimpan ini. Isinya mungkin hanya peluru perak, tapi setidaknya bisa menghambat Angels Hunter walau tidak mematikan. Tapi jangan sampai kau salah menembak dan melukai vampir. Itu akan menjadi senjata mematikan.” Ujarnya sambil menyerahkan pistol itu padaku. “Beretta 92 mungkin sedikit berat, tapi percayalah, ini yang paling nyaman diantara semua senjata api yang kumiliki.” Lanjutnya kemudian. “Kau memberikanku ini?” Tanyaku tidak percaya. “Kau percaya aku bisa memilikinya?” “Seandainya aku masih memiliki nyawa, aku akan mempercayakannya padamu, sayang.” Ujar Wren lembut. “Aku mempercayaimu lebih dari apapun. Karena itu aku akan terluka kalau kau mengkhianati aku.”   *Author POV* Sementara itu, di berbagai penjuru Inggris, beberapa malaikat yang sedang menikmati malam mereka langsung menyadari ada kekuatan besar yang tiba-tiba muncul dari arah London. Di seberang Sungai Thames, di Great Dover St, seorang Angels Hunter terbangun dari tidurnya. Sambil memaki pelan, Angels Hunter itu bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman. Sebagai malaikat, dia memang tidak membutuhkan tidur sebenarnya. Tapi Angels Hunter itu tetap tidak senang saat istirahatnya terganggu. “Bertahun-tahun aku mengawasinya, dan kenapa harus malam ini semua terjadi.” Geram Angels Hunter itu yang dalam sekejap sudah mengenakan pakaianku. “Sial. Dia mungkin tidak akan merasakan perubahan apapun, tapi malaikat lain akan tahu, apalagi kami, Angels Hunter kalau ada buruan yang telah melepas segelnya dan mengungkapkan keberadaannya.” “Karl?” Panggil sebuah suara dari arah tempat tidur. Dalam beberapa langkah, Angels Hunter bernama Karl itu sudah mencapai tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Tangannya terjulur untuk mengelus kepala wanita yang sedang berbaring bersamanya beberapa saat yang lalu. “Aku harus pergi, Sara. Ada pekerjaan mendadak. Tidurlah.” Bisik Karl lembut lalu mengecup puncak kepala Sara, membiarkan wanita itu tidur sebelum keluar dari kamar. Belum sempat Karl menutup pintu dibelakangnya. Sebuah cahaya melintas di atas rumahnya dengan cukup cepat. Dan Karl tahu kalau keadaan akan semakin memburuk. Karl membentangkan sayap putihnya dan segera terbang mengikuti jejak cahaya itu. Hanya malaikat tinggi yang bisa terbang di udara hingga berupa cahaya di malam hari. Cahaya itu berhenti di puncak St. Paul’s Cathedral, dan makin lama makin membentuk sebuah wujud seorang pria berwajah sangat tampan. Karl berhenti di sisi pria tampan itu, melipat kedua sayapnya. Beberapa saat kemudian seorang malaikat lain juga muncul dan berdiri disana bersama Karl. Tiga orang malaikat berkumpul di puncak menara St. Paul’s Cathedral. Dan salah seorangnya adalah Archangel. “Hanya berdua?” Tanya sang Archangel. “Angels Hunter hanya kami berdua yang ada di London saat ini, My Lord.” Jawab Karl tenang. Sang Archangel terlihat tidak senang. “Berarti ada malaikat lain selain Angels Hunter disini?” Malaikat selain Karl mengangguk pelan. “Navaro ada di Windsor, My Lord.” “Anak itu. Hanya karena Seraphim menyayanginya, membuatnya besar kepala. Selalu melanggar semua peraturan dan berteman dengan sampah. Kau beruntung bisa menjauhkan diri darinya, Reynard.” Ujar sang Archangel. Malaikat yang dipanggil Reynard itu hanya diam, sama sekali tidak berkomentar. “Sanguine Mixta kali ini kuserahkan padamu, Reynard. Lakukan seperti biasa.” Ujar sang malaikat dingin. “Dan kau, Karl, kau harus bersiap kalau-kalau Reynard membutuhkan bantuanmu. Jangan kecewakan aku.” “Aye, My Lord.” Jawab Reynard dan Karl serentak dan beberapa detik kemudian sang Archangel dengan cepat kembali menjadi berkas cahaya saat dia terbang. Bukan wujudnya yang berubah menjadi cahaya, tapi karena kecepatan terbangnya, dan sayap putihnya membuatnya terlihat seperti cahaya. Sepeninggal malaikat tinggi itu, Karl langsung menahan lengan Reynard. “Apa yang akan kau lakukan, Reynard?” “Melenyapkannya, tentu saja.” “Jangan bodoh, Reynard. Kau tahu kalau gadis itu dekat dengan Master vampir teman Navaro.” “Lalu?” “Tidakkah kau pikir Navaro mungkin saja melindunginya?” Reynard terdiam. “Aku akan melakukannya sebelum Navaro sempat melindunginya.” “Navaro tidak akan suka, Reynard.” “Lalu, apa kau berharap aku mengabaikan perintah Icarus sang Angelic Regnum?” “Tidak. Aku tidak tahu.” “Kalau begitu jangan ikut campur, Karl. Aku akan tetap melakukannya. Aku akan melenyapkan Sanguine Mixta itu sebelum Navaro sempat berpikir untuk melindunginya. Aku tidak yakin Navaro akan memilih untuk melawan Icarus.” “Kita sama-sama tahu kalau Navaro adalah malaikat tingkat dua. Terlebih dia kesayangan Seraphim.” “Dan aku adalah rekannya. Membuatku tidak terlalu wajib mematuhinya.” “Aku hanya tidak ingin hubungan kalian semakin dingin. Sudah cukup kalau Navaro tidak pernah terlihat ke Regia Horto Angelus. Navaro hanya datang ke Regnum Caeli saat Seraphim memanggilnya. Selebihnya? Bahkan malaikat baru tidak ada yang mengenal Navaro. Kalau Seraphim berniat mempermasalahkannya, kita sama-sama tahu kalau kau-lah yang akan disalahkan.” “Kau menyalahkan aku atas ini semua?” “Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku hanya ingin kau mengerti Navaro. Kenapa dia memilih bersama vampir itu? Karena vampir itu memahami dia. Kau sebagai par-nya seharusnya yang paling memahami dia, bukan vampir itu. Dulu kalian adalah malaikat paling dikagumi di Regia Horto. Sampai sekarang, tidak ada par yang lebih baik daripada kalian, dan kalian adalah contoh bagi malaikat baru. Tapi kalau begini terus, aku tidak yakin apa hasil akhir yang akan muncul, Reynard.” “Jangan pernah menguliahiku!” Bentak Reynard kesal dan tanpa sadar melempar Karl hingga menghantam dinding menara. “Kalau kau tidak ingin membantuku, jangan ikut campur sedikitpun. Aku tidak segan-segan melukaimu kalau kau menghalangiku. Tidak akan ada yang menghukumku kalau aku melakukannya karena aku melakukannya untuk melancarkan tugasku.” Lanjutnya lalu segera terbang menjauh dari menara katedral. “Jangan sampai menyesal, Reynard.” Bisik Karl pelan tapi tetap dapat di dengar Reynard dengan jelas. Jangan sampai kau dan kita semua kehilangan Navaro, Reynard. Sudah cukup kalau Navaro berhenti mempercayai kita. Setidaknya kita masih memiliki dia di Regia Horto. Tapi kalau masalah ini berlanjut, siapapun tidak akan bisa menahan Navaro saat dia memilih meninggalkan Regia Horto.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD