*Wren POV*
Lily menegang mendengar apa yang kukatakan. Tapi aku benar-benar kagum padanya. Disaat nyawanya benar-benar terancam saat ini, Lily tetap berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Mungkin aku bisa keluar negeri.”
“Mungkin. Tapi aku tahu cara yang lebih mudah.”
“Apa?” Tanya Lily yang akhirnya menunjukkan ketertarikannya.
“Kita bisa menikah. Dan dengan begitu kau akan berada dalam perlindunganku. Angels Hunter atau siapapun tidak akan berani menyentuhmu kalau tidak menantangku bertarung.”
“Tidak!”
“Apa?”
“Tidak, Wren! Navaro bilang tidak akan ada yang berani menantang Angels Hunter! Aku tidak ingin melibatkanmu dalam bahaya.”
Navaro?Apa hubungannya dengan malaikat itu?
“Sialan! Kau sudah tahu dari Navaro kalau Darah vampir bisa melepas segelmu, bukan? Kau juga tahu beberapa hal lainnya dari malaikat sialan itu, bukan? Dan kau sengaja menggigitku untuk mendapatkan darahku agar kekuatanmu bangkit bukan?”
“Ya! Aku tahu semuanya dari Navaro! Dan sekali lagi, ya, aku memang menginginkan darahmu untuk melepas kekuatanku!”
“Sialan kau, Lily Russell! Kau tahu betapa berbahayanya kalau kekuatan itu bangkit! Kau akan menjadi buruan seluruh Angels Hunter di Inggris Raya! Sebegitu inginnya kah kau memiliki kekuatan itu!?”
“Sialan kau, Vampir! Aku melakukan itu bukan karena aku menginginkan kekuatan itu! Aku melakukannya karena ingin kau merasakan kenikmatan yang sama seperti saat kau menggigitku! Aku ingin menyenangkanmu!”
Aku mengguncang tubuh Lily sepelan yang aku bisa, “Aku memilih menahan semua gairah atau nafsuku hanya untuk melindungimu! Aku memilih menahan itu selama kau tidak berada dalam bahaya! Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya!”
Dan tiba-tiba saja Lily menangis. Sialan! Aku langsung merengkuhnya dalam pelukanku. “Kenapa kau peduli padaku, Wren? Kenapa kau begitu melindungiku? Kenapa Wren? Bahkan orangtuaku_yang entah siapa_tidak cukup peduli padaku untuk memberiku kesempatan mengenal mereka. Kita baru sebentar bertemu. Aku tidak mengenalmu, kau juga tidak mengenalku.”
Aku membelai kepala Lily lembut, membisikkkan kata-kata dalam segala bahasa yang aku tahu. Lily berhak mendapatkan lebih dari sekedar rasa peduliku. Dia berhak mendapatkan seluruh perhatianku, kasih sayangku, dan mungkin cinta_kalau kaum abadi sepertiku berhak mencintai seseorang dengan jiwa seperti Lily. Aku memeluknya, membuainya dalam pelukanku dan kemudian aku menjauhkannya, “Kau lihat bahu kiriku, Lily?”
Lily mengangguk sambil mengelap air matanya. “Lihat aku, sayang.” Bisikku pelan, dan beberapa saat kemudian mata biru Lily menatapku. “Tato itu, kalau kau menyadarinya, tidak ada dulu sebelum aku bertemu denganmu. Tato itu muncul di malam kita bercinta saat aku terluka, Lily. Saat aku menyadari kalau aku memilih terluka dan mati daripada melihatmu terluka. Tato itu adalah bukti kalau aku memilihmu menjadi pasanganku, belahan jiwaku. Dan itu juga bukti kalau aku adalah milikmu, kau suka ataupun tidak.”
“Aku tidak mengerti.” Bisik Lily lirih.
“Aku tidak berharap kau mengerti secepat itu, Lily. Yang jelas, dalam bangsa vampir, sangat jarang seorang vampir menemukan pasangan jiwanya, Lily. Jarang sekali karena kami memang tidak memiliki jiwa. Karena itu vampir cenderung memiliki banyak partner s*x_untuk kesenangan dan melampiaskan gairah kami. Dan saat seorang vampir memiliki pasangan jiwa mereka, akan muncul tanda di tubuh mereka, yang tidak bisa dihilangkan oleh apapun dan siapapun. Kalau mereka memang pasangan jiwa, tanda itu akan muncul di kedua pihak. Tapi kalau tidak, tanda itu hanya akan muncul disalah satu pihak.
Dalam kasus kita, karena hanya aku yang memiliki tanda itu, itu artinya adalah bagiku, kau adalah pasangan jiwaku, aku adalah milikmu. Tapi aku belum tentu pasangan jiwamu, sayang. Aku tidak ingin mengakui hal ini, tapi kau berhak memilih pergi dariku kalau kau ingin. Aku tidak bisa melarangmu. Tapi kau juga tidak bisa melarangku untuk bersama denganmu selama kau belum menemukan pasangan jiwamu. Dan aku bersungguh-sungguh saat memintamu menikah denganku. Klanku akan melindungimu dari Angel Hunter. Seharusnya itu membuat mereka melepaskanmu.” Jelasku pelan, benar-benar tidak berharap Lily akan mengerti langsung dengan keadaan rumit yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya secara beruntun ini.
“Aku tidak bisa, Wren. Aku tidak bisa~”
Aku hanya diam. Aku rasa Lily butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan memilih. “Baiklah. Jangan jawab sekarang. Aku harus segera pergi.”
“Kemana?”
“Kerumah Aleandro, tentu saja. Nanti malam waktunya, Lily.”
“Aku ikut.”
Aku menggeleng cepat. “Tidak. Kau akan tinggal bersama Navaro.”
“Apa?”
“Ya. Kau akan tinggal bersama Navaro, karena hanya dia yang bisa menjagamu saat ini, apalagi setelah segelmu terlepas, Lily. Hanya Navaro yang bisa melindungimu saat aku tidak ada.”
“Kenapa tidak Gavriel, Alaric atau yang lain?”
“Ya ampun, Lily. Aku akan bertarung nanti malam. Seluruh vampir kepercayaanku harus berada disana. Tenang saja, walau sebenarnya saat ini aku ingin sekali memukul Navaro karena memberitahukan semua itu padamu tanpa izinku, tapi aku masih mempercayainya dengan semua aksi mulut besarnya itu. Lagipula, tempat mana yang lebih aman selain berada sedekat mungkin dengan malaikat?”
Lily masih terlihat enggan. “Dimana Navaro tinggal?”
“Dragoste Hall, di Windsor.”
“Baiklah. Terserah kau saja.” Ujarnya pelan lalu beranjak dari tempat tidur dengan selimut melilit tubuhnya.
Satu jam kemudian kami sudah sampai di depan Dragoste Hall, di Windsor. Sekali lagi Lily terkejut melihat rumah itu. Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi aku tidak suka dengan rumah biasa. Aku tidak bisa memiliki rumah yang memiliki kamar kurang dari lima karena aku selalu sering mendapatkan kunjungan mendadak dari Zac, ataupun Alby yang memang lebih sering menghabiskan waktunya untuk membuatku frustasi daripada mencari kesenangan lain yang sebenarnya bisa mereka dapatkan dengan mudah.
“Navaro tinggal disini?” Tanya Lily saat kami berjalan masuk melintasi pekarangan yang entah siapa mengurusnya hingga tetap rapi seperti itu.
Aku mengangguk cepat. “Kalau kau berharap malaikat itu tinggal di tempat yang tidak manusiawi, maka kau akan kecewa, sayang. Navaro salah satu dari beberapa orang yang dengan sepihak mengklaim rumahku menjadi rumahnya.” Jawabku cepat.
Hari sudah jam 11 siang, matahari cukup terik hari ini. Dan aku tidak ingin menguji keberuntunganku saat aku_sangat_membutuhkan keberuntungan itu sendiri nanti malam. Aku menarik tangan Lily agar bergerak lebih cepat bersamaku. Sejak segelnya terlepas, aku bisa merasakan kekuatan Lily mengalir keluar tanpa disadarinya. Dan jelas itu sangat berbahaya karena Angels Hunter sama peka-nya dengan Vampire Hunter dalam memburu ‘mangsa’nya. Ingatkan aku untuk meminta Navaro mengajari Lily menahan kekuatannya.
Kami baru saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama saat pintu rumah terbuka lebar. Navaro berdiri disana dengan hanya mengenakan celana jeans putih selutut dengan kaos tanpa lengan. “Cepat masuk!” Serunya.
Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, Navaro menghambur keluar dan berdiri menghadap kami dan memunggungi jalanan, memeluk kami dengan sayapnya yang lebar. Desis pelan meluncur dari bibir Navaro saat aku mencium bau Darahnya.
Sial!
Ada serangan!
Aku mencoba keluar dari rengkuhan sayap Navaro yang sangat ketat. Walau sulit, aku akhirnya berhasil keluar dan mendorong Navaro beserta Lily memasuki rumah sambil mengawasi sekitar jalanan yang sama sekali tidak menunjukkan keanehan. Aku berhasil membawa Navaro dan Lily masuk ke dalam rumah dalam beberapa menit. Kalau saja aku tidak melihat panah putih berukir tertancap di bahu kanan Navaro, aku akan mengira kalau serangan tadi sama sekali tidak ada atau klan Scorpio-lah yang menyerang..
“Lepaskan Lily, Navaro. Kita aman, kita sudah didalam.” Bisikku sambil menarik Navaro dari Lily.
Aku tahu kalau Navaro sebenarnya sadar, panah itu tidak mengancam nyawanya, tapi cukup mengancam kesadaran Navaro. Navaro diam tak bergerak tadi bukan karena nyawanya terancam, tapi karena dia sedang berusaha menekan kekuatan malaikatnya agar tidak muncul saat aku dan Lily ada di dekatnya. Navaro_dengan segala kelebihannya_tidak bisa menahan kekuatan malaikatnya keluar saat emosinya tidak stabil. Dan ada alasan lain kenapa Navaro tetap memeluk Lily hingga aku mengatakan kalau keadaan sudah aman. Walaupun seorang malaikat, Navaro memiliki trauma-nya sendiri dalam menghadapi hunter.
“Angels Hunter, Wren. Itu alasannya kenapa kau tidak bisa merasakannya.” Ujar Navaro menjawab pertanyaan yang hanya kupikirkan tadi.
Lily menegang. Aku bisa merasakannya. Entah kenapa sejak darahku mengalir di tubuhnya, aku bisa merasakan emosi Lily, walau masih sulit bagiku untuk membaca pikirannya. “Dan ini adalah panah malaikat?” Tanyaku sambil berusaha mencabut anak panah putih berukir itu.
Navaro mengangguk pelan dan sekali lagi desis itu muncul saat anak panah itu berhasil kutarik. Sial. Mata panahnya bergerigi. Pantas saja Navaro mendesis saat kutarik. Panah malaikat berefek buruk bagi setengah malaikat dan makhluk lain. Tapi hanya menyebabkan luka biasa pada sesama malaikat. Dengan sangat cepat luka bekas panah itu mulai menutup dan hanya meninggalkan robekan pada kaos yang Navaro kenakan.
Tiba-tiba Navaro berdiri. “Aku tahu kalau kau akan segera pergi, Wren. Tapi aku harus mengatakan sesuatu. Aku tahu kalau segel itu sudah dilepas. Dan darahmulah yang melepasnya. Hanya darahmu yang bisa diterima Lily, Wren. Dan hanya kau lah yang bisa menerima darah Lily. Selain itu, kau tahu dengan pasti apa akibat melepas segel itu. Seperti tadi, Angels Hunter dengan mudah bisa menemukan kalian. Dia harus di klaim, Wren, kalau tidak ingin menimbulkan perang. Dan yang paling penting. Sejak kau menerima darahnya, Wren, aku sudah tidak bisa melihat masa depanmu. Aku tidak bisa melindungimu seperti dulu. Karena kami tidak bisa melihat masa depan siapapun yang memiliki darah malaikat kegelapan. Darah Lily menghalangi kemampuanku itu.” Jelas Navaro cepat.
“Aku mengerti. Aku sudah mengklaimnya. Aku sudah melamarnya. Dan seperti yang kau tahu, aku juga sudah memiliki bukti pasangan jiwa. Karena itu, aku ingin meminta tolong padamu. Lindungi dia sampai pertempuranku selesai. Aku tidak bisa membawanya ke rumah Aleandro saat aku sama sekali tidak bisa menolongnya. Saat semuanya selesai, kita akan mendengar jawabannya atas lamaranku.”
Navaro terdiam. “Aku tidak yakin, Wren. Aku bisa melindunginya dari siapapun Angels Hunter yang memburunya selain Icarus. Seraphim pasti tidak ingin melihatku di Curia hanya karena aku melawan Icarus.”
“Icarus tidak akan mungkin turun tangan hanya untuk mengatasi masalah kecil, Navaro. Dan kau bisa melawan siapapun yang kau inginkan, termasuk Icarus.”
“Kalau bisa, aku tidak ingin melawannya. Icarus malaikat yang mempunyai kemampuan bertarung sangat baik. Dan dia juga memiliki posisi yang lebih baik dariku dalam Regnum Angelorum.”
“Siapa Icarus?” Tanya Lily yang akhirnya berhasil mengeluarkan suara.
Aku dan Navaro saling bertatapan sebelum menatap Lily. Katakan seperlunya. Ujar Navaro dalam pikiranku. Dia masih belum mempercayai orang lain, pikirku enggan.
“Icarus adalah malaikat yang bertugas mengepalai pasukan Angels Hunter dan salah satu Archangel. Icarus memang tidak bisa melukai Navaro apapun alasannya, tapi Navaro juga tidak berhak menyembunyikan apapun pada Icarus.”
“Bukan tidak berhak, tapi tidak bisa.” Koreksi Navaro tenang.
Ya, karena kau memiliki hubungan erat dengan Icarus.
“Jadi, bisakah aku meninggalkannya disini?”
Navaro mengangguk pelan. “Satu lagi, teman. Tolong ajarkan dia mengendalikan kekuatannya. Aku ingin melakukannya sendiri, tapi tidak bisa hari ini. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya.” Ujarku cepat sebelum Navaro sempat mengatakan syarat-syarat yang mungkin saja akan dimintanya untuk membayar pertolongannya kali ini.
“Baiklah. Akan kulakukan.” Sahut Navaro cepat. “Oh, aku hampir lupa. Aku ingin memberikanmu sesuatu.” Lanjut Navaro lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian Navaro turun dengan memegang sebuah pedang panjang bermata dua dengan zamrud hijau besar di gagangnya yang bertabur permata. Pedang dengan gagang berornamen sayap itu terlihat sangat kuat sekaligus indah. “Aku ingin kau memakai ini nanti. Aku memberikannya untukmu. Pedang ini adalah salah satu senjata milik Michael. Terbuat dari baja murni berlapis perak suci Vatikan. Dan pedang ini punya rahasia.” Jelasnya lalu menekan zamrud besar itu hingga sebuah belati kecil muncul dari bawah gagang pedang.
“Kenapa kau memberikannya padaku? Ini milik Michael, dia akan marah.”
Navaro tersenyum. “Michael tidak pernah menolak keinginanku. Dan saat aku meminta senjata yang hebat, dia memberikanku pedang ini. Pedang yang juga pernah memenangkan pertempuran saat melawan Lucifer.”
“Tapi tetap saja, Navaro. Kau terlalu berlebihan.”
“Apa yang kau berikan dulu tidak sebanding dengan apa yang kuberikan sampai saat ini, Wren. Aku tidak ingin melihatmu terluka, apalagi karena bertempur dengan vampir. Spathi Ourano pasti bisa melindungimu.”
Spathi Ourano, pedang langit. Ternyata Archangel seperti Michael memberi nama pedangnya dengan bahasa Yunani.
Aku menerima pedang yang diberikan Navaro dan menimbangnya di tangan. Pedang itu terlihat sangat berat, tapi nyatanya sangat ringan. Memudahkan siapapun pemiliknya untuk mengayukannya dengan pasti. “Aku tidak pernah memintamu untuk mengingatnya, Navaro. Tapi aku akan menerima ini sebagai hadiah dari teman, bukan sebagai balas budi.” Ujarku datar.
15 Setelah memastikan beberapa hal dengan Navaro dan Lily, akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi. Aku harus segera terbang ke Carlisle. Jarak London ke Carlisle membutuhkan waktu sehari kalau menggunakan jalan Sarat, karena itu aku memutuskan menggunakan helicopter. Alby dan Gavriel akan berangkat bersamaku, sedangkan Alaric sudah berangkat lebih dulu kemarin.
“Pertempuran... Sepertinya akan menjadi acara paling menakjubkan tahun ini.” Gumamku sambil terus menyetir ke rumahku yang lain di Heathrow yang memiliki helipad.
Aku langsung memasukkan mobil ke dalam garasi dan bergegas menuju helipad tempat Alby dan Gavriel menungguku. “Ayo berangkat.” Ujarku sambil menaiki helicopter.
Alby dan Gavriel mengangguk. Mereka mengikuti di belakangku. Gavriel duduk di hadapanku sedangkan Alby disebelahku. “Pedang yang indah, Wren.”ujar Alby saat kami mulai terbang.
Dengan otomatis aku menyentuh Spathi Ourano yang kuletakkan di tempat kosong diantara kami. “Terlalu berharga menurutku. Entah apa yang dipikirkan Navaro saat memutuskan untuk memberikannya padaku.” Ujarku pelan.
“Aku tahu kalau aku yang akan menjadi ‘partner’mu nanti dan aku sangat senang, Wren. Tapi kalau aku harus menjaga pedang pemberian malaikat itu, lebih baik kau mencari partner lain. Aku tidak ingin malaikat itu mendapatkan alasan untuk memburuku.”
Ucapan Alby sukses membuatku tertawa dan meredakan ketegangan yang kurasakan sejak meninggalkan Lily tadi. Ya, semua orang memang cukup takut pada Navaro hingga berusaha mati-matian menghindari membuat malaikat itu kesal, bahkan anggota klanku sendiri menghindari bertemu dengan Navaro saat aku meminta Navaro datang ke klub atau saat Navaro menginap di rumahku. Walaupun selama ini tidak satupun klanku yang menjadi korban, tapi kenyataan kalau Navaro telah memenggal kepala seorang vampir master hanya karena menantang Navaro_saat vampir itu tidak tahu kalau Navaro adalah seorang malaikat_dan mengucapkan beberapa kata-kata kotor. Belum lagi kenyataan kalau Navaro pernah membantai satu klan sehari setelah peristiwa bersejarah itu.
“Navaro selalu membatasi diri terlibat dengan klanku, Alby. Kau tahu itu, dan dia tidak akan mungkin memburumu hanya karena kau memegang pedang pemberiannya.”
“Ya ya ya~ anggap saja kau benar. Tapi tetap saja pedang itu adalah satu-satunya senjata yang harus kau bawa sendiri. Aku sudah mengetahui bagaimana Tibalt di’buang’ keluar jendela dan mendarat tepat di hutan sebelah rumahmu yang jaraknya hampir 500m hanya karena menendang kursi untuk menghalangi jalan si malaikat. Tidak, terimakasih, Wren. Aku masih ingin menjadi Dream Hunter.” Ujar Alby kembali membuatku tertawa.
Walau kami berangkat tepat jam 1 siang, tidak sedikitpun cahaya matahari bisa menerobos masuk ke dalam heli karena bagian penumpang memang didesain sebaik mungkin untuk menghindari masuknya cahaya. Keheningan yang terjadi karena Alby dan Gavriel tertidur malah membuatku kembali memikirkan keputusanku meninggalkan Lily dengan Navaro. Aku tidak pernah meragukan kesetiaan Navaro_dalam mimpi pun tidak, tapi yang aku ragukan adalah kemampuan Navaro untuk menahan mulutnya agar tidak menceritakan terlalu banyak pada Lily. Malaikat itu terkadang memiliki kemampuan setipis kertas untuk menahan mulutnya agar tidak bercerita tentangku, sepak terjangku yang ada hubungannya dengan wanita.
Aku hanya termenung di dalam heli sampai pilotku_yang seorang manusia_memberitahu kalau dalam 10 menit kami akan mendarat di helipad rumah Aleandro di Carlisle, Padure Castel. Aku mengintip melalui celah kecil di jendela. Matahari masih bersinar. Sepertinya tidak banyak tamu yang datang se’siang’ ini ke rumah Aleandro untuk menyaksikan kami.
Tepat saat heli mendarat dan baling-balingnya sudah berhenti, Alby langsung membuka matanya. Seakan ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. “Tidak mungkin.”
“Ada apa?” Tanyaku bingung. Karena terkadang ada saat-saat dimana kekuatan Alby dalam menyadari sesuatu lebih peka dari pada kekuatanku.
“Ada Angels Hunter disekitar sini. Sial! Dia Karl!” Seru Alby diiringi umpatan-umpatan kotor yang pasti membuat telinga orang alim tuli.
Karl ada disini? Bagaimana mungkin? Setiap ada pertarungan, yang bisa ikut menyaksikan hanya vampir-vampir pemimpin klan dan vampir lain yang mendapatkan undangan. Aleandro atau Zac tidak akan mungkin mengundang seorang Angels Hunter. Dan lebih tidak mungkin kalau kedua vampir tua itu sampai tertipu oleh Angels Hunter yang bahkan bisa dirasakan Alby.
“Tenang saja, Lily tidak disini. Dia juga tidak ada alasan untuk berlama-lama disini.” Ujarku berusaha tenang lalu segera keluar dari heli diikuti oleh Alby dan Gavriel yang masih setengah sadar.
Dari helipad, aku dapat melihat lapangan yang akan menjadi arena pertempuran kami nanti. Lapangan hijau hampir seluas lapangan sepak bola yang dikeliling tribune penonton itu memang dibuat untuk pertarungan. Rumah ini diberi nama Padure Castel karena letaknya yang memang nyaris ditengah hutan dan bangunannya yang mirip sebuah kastil. Padure Castel sebenarnya adalah salah satu rumah peristirahatan-ku yang berhasil dimiliki Aleandro setelah Zac membuatku menyerah dalam taruhan kami yang terakhir, hampir 1 abad yang lalu. Dan dengan mudahnya Zac memberikan rumah itu pada Aleandro dengan alasan agar setiap pertempuran tidak terjadi hampir di setiap negara berbeda. Dengan mudah aku mengenyahkan kenangan itu. Tidak ada gunanya aku masih mengingat masalah itu karena sepertinya Aleandro_walaupun jarang_memilih tinggal disini. Aku terus berjalan memasuki pekarangan rumah dan terus berjalan hingga kami menemukan ruang duduk yang sangat kuat menguarkan aura Zac, Aleandro dan lawanku, Hector. Tanpa mengetuk aku langsung masuk begitu saja.
“Lama sekali kau baru muncul, Wren?” Tanya Zac begitu melihatku muncul dari balik pintu.
Aku mengamati ruangan itu. Hanya ada Zac, Aleandro, dan Hector. Tidak satupun dari mereka yang membawa pendamping, bahkan Zac. Dengan cepat aku berbalik dan menarik Alby mendekat padaku. “Aku akan bertanggung jawab atas apapun yang Navaro lakukan padamu nanti, tapi tolong bawa pedang ini. Tidak ada yang boleh tahu tentang pedang ini sebelum pertarungan. Dan suruh Gavriel dan Alaric mencari jejak Karl. Aku ingin laporan satu jam sebelum pertarungan dimulai.” Bisikku cepat lalu mendorong Alby menjauh sebelum menutup pintu.
“Tidak percaya diri datang kemari tanpa pendamping, Wren?”