Chapter 16

2969 Words
Hector menatapku mengejek. Sialan dia. Kalau dia ingin melihat kemarahanku sebelum pertarungan, dia tidak akan mendapatkannya. “Tidak juga. Hanya saja mereka memang terlalu sayang padaku. Itulah susahnya kalau klanmu sangat menyayangimu alih-alih takut padamu.” Ujarku tenang lalu mengambil tempat duduk paling jauh dari Hector walau satu-satunya tempat hanyalah di sebelah Aleandro. “Apakah kau ada mengundang bangsa lain selain vampir?” Tanyaku pelan tanpa menatap siapapun. Mereka diam. Saling pandang dan sama-sama bingung. Sampai sebuah nama muncul dalam pikiranku. “Ah, kau bertanya padaku rupanya. Selipkan nama orang yang ingin kau tanya di setiap akhir pertanyaanmu, Wren. Masa aku yang harus mengajarkan ini padamu?” Ujar Zac cepat yang langsung mendapatkan tatapan kesal dariku. “Aku tidak mengundang siapapun, Wren. Archard yang melakukannya. Tapi kurasa dia juga tidak mengundang kaum lain tanpa izinku. Bagaimana denganmu, Aleandro?” “Bukan aku yang mengirim undangan. Aku hanya meminta salah seorang dari klan Ursa untuk menyebarkan pengumuman tentang malam ini. Tapi aku juga sudah menekankan kalau tidak ada selain bangsa kita yang akan datang. Kenapa?” Lalu siapa yang mengundang Karl kemari? Ini bukan tempat yang mudah ditemukan. Dan rasanya tidak ada alasan sampai seorang Angels Hunter tersesat sampai kemari. “Karl? Angels Hunter?”tanya Zac dan Aleandro bersamaan. Sialan! Dua vampir tua ini memang menyebalkan! “Ya ampun, Wren! Sudah berapa kali kau mengumpat dari tadi?” Tanya Zac tidak percaya dengan kosa kata yang baru-baru ini sering kali kugunakan. “Sebagai salah satu vampir yang cukup ‘manusiawi’ kau juga benar-benar sudah terbiasa dengan cara para manusia itu mengungkapkan kekesalan mereka.” “Lupakan saja. Itu masalahku. Aku sudah mengutus orang untuk mencari tahu.” Sahutku cepat. Aku sama sekali tidak bicara apapun setelahnya. Pikiranku tidak bersamaku lagi saat ini. Aku sama sekali tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Aku lebih memikirkan apa yang sedang Lily lakukan saat ini? Navaro bukan tipe yang bisa diajak mengobrol santai. Dia hanya menjawab seperlunya saat ditanya, dan tidak akan pernah memulai pembicaraan. Sedangkan Lily adalah tipe orang yang mudah bosan bila ditinggal dalam diam. “...nganmu, Wren?” Aku terkesiap. Seperti ada yang menyebut namaku. Mau tidak mau aku menatap mereka bertiga yang kini juga balas menatapku. “Ada yang bertanya padaku?” “Aku yang bertanya.” Ujar Aleandro datar. “Senang sekali rasanya kau sangat perhatian terhadap detail pertarungan hari ini.” Sindir Aleandro kemudian. “Apa?” “Sialan, kau! Kami sudah memutuskan bahwa pertarungan kali ini hanya boleh menggunakan satu senjata. Bagaimana denganmu?” Ah~ jadi itu yang mereka bicarakan. Satu senjata? “Satu senjata?” Ulangku setelah memahami apa inti pembicaraan mereka. Hector kembali tersenyum mengejek. “Kenapa? Tidak percaya diri?” Tanya vampir berambut cepak itu. “Aku yakin kalau kau memutuskan memaAleandro jarum perakmu, bukan?” Tanyaku yang kutujukan pada Hector. Hector hanya mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku belum memutuskannya.” Jawab si b******k itu datar. “Kau? Apa kau akan menggunakan belati seperti biasa?” Tanya Zac antusias. Belati? Aku memang biasa menggunakan belati. Belati sudah seperti tanganku sendiri. Tapi aku punya Spathi Ourano pemberian Navaro. Apa gunanya kalau aku tidak memaAleandro pedang itu? Spathi Ourano itu juga memiliki belati kecil. Jadi aku sama sekali tidak curang. Yang jelas hanya satu senjata yang akan kubawa. Tapi ada satu masalah. Aku tidak terbiasa menggunakan pedang. “Menarik.” Gumam Zac lalu tersenyum. Sialan dia. Dia bisa membaca pikiranku. “Gunakan saja, Wren. Aku sempat melihatnya tadi, benda itu sangat indah. Aku rasa ada banyak cerita dalam benda itu. Aku ingin melihatmu menggunakannya.” Malaikat itu sangat melindungimu, bukan? Aku bisa merasakan kekuatan pemilik sebelumnya dari benda yang kau berikan pada Alby tadi. Senjata malaikat. Salah satu senjata yang mematikan untuk vampir. Ujar Zac dalam kepalaku. Kau tahu. Tapi kau masih mengizinkannya? Tantangku. Tentu. Mematikan mungkin, tapi selama kau tidak berniat membunuh lawanmu, itu tidak masalah. Aku tahu kalau kau tidak berniat membunuh. Kau hanya ingin menentukan siapa pemenangnya tanpa jatuh korban. Jawab Zac. Belum tentu aku akan menggunakannya, Zac. Kau pasti akan menggunakannya. Kau terlalu baik untuk tidak menggunakan benda yang diberikan Navaro. “Aku permisi. Aku ingin memikirkan apa yang akan kugunakan nanti.” Ujarku tiba-tiba lalu segera bangkit dan berjalan keluar saat Aleandro mengirimkan pesan dalam kepalaku. Pikirkan yang terbaik. Aku tidak ingin kau mati ditangannya, Wren. “Aku tidak akan mati!” Seruku kesal tepat sebelum menutup pintu yang disambut dengan gelak tawa Zac yang membahana. Sekali lagi, sang nosferatu itu selalu bahagia melihatku frustasi. Dan Aleandro... Aku tidak mau memikirkannya.   Hampir 4 jam kemudian aku baru keluar dari kamarku_kamar yang selalu kugunakan setiap kali aku kesini selama 1 abad terakhir_saat mendengar keributan di dekat lapangan. Kamarku memang tidak terlalu jauh dari lapangan. Aku melangkah keluar dari kamar sambil memegang pedang pemberian Navaro_aku sudah memutuskan untuk menggunakannya_saat seseorang menarikku kembali masuk ke kamar. Dengan spontan aku menarik pedang keluar dari sarungnya dan meletakkannya di leher orang yang menarikku saat orang itu sama sekali tidak memberikan perlawanan. “Karl?” “Ya. Aku Karl. Ada yang harus kukatakan padamu.” Ujar Karl tenang, sama sekali tidak terpengaruh dengan keberadaan pedang di tenggorokkannya yang juga bisa meluAleandronnya. “Jauhkan pedang itu, Wren. Aku tahu siapa pemilik pedang itu. Aku tidak mau mati sia-sia karena tanganmu licin. Dan aku juga tahu kalau kau menyuruh anak buahmu mencariku. Tapi aku memilih menunjukkan diriku padamu.” Entah kenapa aku percaya pada ucapannya hingga aku mengembalikan pedang itu ke dalam sarungnya. Aku mundur selangkah dan mengamati Angels Hunter yang sekarang berdiri di hadapanku ini. Rambutnya pirang dan dipotong dengan gaya yang nyaris tidak beraturan, tapi dia jelas malaikat yang sangat ‘manusiawi’ kalau melihat dari caranya berpakaian. Oh jangan salah, selera Navaro dalam berpakaian layaknya manusia dapat diacungi jempol, tapi Karl? Dia benar-benar stylish menurutku. “Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak diundang!” “Aku tahu. Lagipula selain kau dan bawahanmu si Dream Hunter, tidak ada yang mengetahui keberadaanku. Tidak banyak yang bisa merasakan keberadaan Angels Hunter, dan kau bisa merasakannya karena kalian pernah dekat dengan Sara sehingga auraku sudah cukup kalian kenali.” Ujar Karl sedikit angkuh bagiku. “Bukan itu alasanku menemuimu. Ini tentang Lily.” Saat itu juga aku seakan merasakan jantungku kembali berdetak_walau itu tidak mungkin_dengan cepat. Ketakutan mulai merayapiku. “Ada apa dengan Lily?” “Tidak ada apa-apa. Tapi mungkin akan terjadi sesuatu.” Bisik Karl penuh misteri. “Dengarkan aku. Aku yakin kau sudah tahu siapa aku. Tapi aku bukan musuhmu, dan juga bukan musuh Lily. Aku memang mengawasinya selama ini untuk menjaga agar darahnya tetap tersegel. Aku tidak ingin memburunya, bahkan sekarang saat segel itu telah lepas, aku tidak bisa memburunya. Sara lebih berharga, dan menyakiti Sara dengan melenyapkan Lily membuatku ingin mati. Kantong belanja di rumah Lily akulah yang mengambilnya, aku tidak ingin ada kemungkinan darahmu tercampur dengan darahnya walau itulah yang saat ini terjadi. Aku tahu ada serangan siang ini di rumah Navaro, dan aku juga tahu siapa penyerangnya. Lawan kalian bukan lagi Angels Hunter biasa sepertiku, tapi Angels Hunter tingkat tinggi yang menerima perintah langsung dari Icarus. Dan malaikat itu adalah Reynard. Reynard adalah par Navaro selama ini. Tapi sejak kejadian tiga abad lalu, dan Navaro memilih menghabiskan waktu disini bersamamu dan klanmu alih-alih Regia Horto, Reynard marah. Dia menerima tugas ini dengan senang hati. Kau tidak bisa meninggalkan Lily dengan Navaro. Navaro mungkin akan melindungi Lily, tapi kalau pertarungan terpaksa terjadi, Navaro tidak akan melawan Reynard, walau aku tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan Reynard. Navaro terlalu baik untuk bertarung melawan par-nya sendiri.” Jelas Karl cepat. Aku berusaha mencerna semua yang dikatakan Karl. Lily, Reynard, Navaro, dan serangan itu. Dan hanya ada satu kesimpulan yang bisa kuambil saat ini. Lily harus segera kujemput. Tapi pertarungan sebentar lagi dimulai. Aku sudah bisa mendengar suara-suara di lapangan. Kalau aku pergi sekarang, secara tidak langsung aku ‘menyerahkan’ klan Libra ke tangan Hector. Klan yang bahkan sudah seperti tubuhku sendiri. Tidak mungkin! “Menurutmu, apa Lily aman untuk malam ini?” Tanyaku benar-benar takut mendengar jawaban Karl. Karl mengangkat bahu. “Entahlah. Sampai saat ini aku belum mendapatkan informasi apakah Reynard akan memburu Lily lagi malam ini atau tidak. Semoga saja tidak karena serangan siang tadi sudah melukai Navaro, dan Reynard pasti sedang menghukum dirinya sendiri saat ini.” Aku mengangguk pelan. Aku mengerti. Tidak ada yang pasti saat ini. Tapi minimal aku harus mengirim bantuan ke rumah Navaro. Untuk seorang Angels Hunter tingkat tinggi seperti yang Karl katakan, Gavriel, Alaric dan Geofrey bukan lawan yang sebanding. Alby mungkin akan jadi lawan yang setara, tapi aku membutuhkan Alby disini. “Terima kasih atas peringatan yang kau berikan, Karl. Aku benar-benar menghargainya. Aku akan melakukan sesuatu. Kau bisa pergi sekarang.” “Aku harap tidak ada yang terluka, Wren. Sara menyukai Lily seperti keluarganya. Kehilangan Lily akan membuatnya bersedih.” Ujar Karl lalu bergegas keluar dan menghilang begitu saja. Aku juga bergegas keluar, menuju ke lapangan, karena aku tahu yang kucari ada disana. Begitu aku sampai di lapangan terdengar gumaman rendah dari berbagai penjuru yang menjadi sorak sorai. Itu dari klanku. Hanya klan Libra yang punya semangat layaknya manusia. Tapi itu tidak membuatku melupakan tujuanku saat ini. Klan Ursa duduk tepat disebelah klan Libra, dan dengan mudah aku menemukan Zac beserta pengawal elitnya, Archard. Aku butuh bantuanmu. Ujarku sengaja mengirim pesan bawah sadar pada Zac, berharap dia berhasil meloloskan diri dari beberapa kepala Klan yang kini sibuk mencari perhatiannya. Kenapa kau baru muncul? Jawab Zac dengan pertanyaan yang sama seperti tadi siang. Lupakan masalah itu. Aku butuh bantuan. Sekarang juga. Zac dengan mudah menemukanku di lapangan sedang menatapnya. Aku benar-benar tersanjung kau membutuhkanku. Kau tidak pernah membutuhkanku selama ini. Apa yang bisa kubantu? Aku ingin kau mengirim beberapa klan Ursa-mu ke Windsor sekarang juga. Lily mungkin dalam bahaya. Windsor? Dragoste Hall? Kau ingin aku mengorbankan klanku untuk malaikat itu? Navaro tidak akan meluAleandro siapapun. Aku hanya ingin klan Ursa-mu membantu melindungi Lily. Segelnya lepas, Zac. Dan dia sedang diburu. Bagaimana kalau aku menolak? Lily akan mati, begitu juga denganku, Zac. Sialan, kau Wren! Kau tidak boleh mati!! Lily pasanganku. Entah dia mendapatkan tanda itu atau tidak. Kalau dia mati, aku lebih baik mati. Ucapanku jelas berhasil memancing emosi Zac. Vampir jangkung itu tiba-tiba berdiri. Kemarahan jelas terpancar dari matanya saat menatapku. Umpatan kesal dari sekitarku akibat rusaknya jaringan komunikasi mulai terdengar. Zac tidak bisa menahan kekuatannya. Dan tiba-tiba dia berbalik dan menatap Archard dingin. Aku tahu kalau Zac sedang memberikan sebuah perintah karena beberapa saat kemudian_dua orang dari Klan Ursa yang hampir sama jangkungnya dengan Zac_Jaye dan Harvey berdiri dan membungkuk hormat sebelum turun dari tribun dan bergegas pergi. Aku sudah mengirim U-Know dan Harvey. Selain Archard, mereka yang kupercaya. Jangan mati. Ucap Zac dingin yang kali ini ditujukan padaku. Aku membungkuk di depannya_berkali-kali mengucapkan terima kasih_sebelum memasuki lapangan dan berhadapan dengan HECTOR. Jaye dan Harvey adalah petarung yang hebat di dalam klan Ursa. Kekuatan mereka sama dengan kepala klan. Aku bisa bernapas lega untuk saat ini. Semoga mereka bisa mengatasi Lily dan paling buruk menghadapi Angels Hunter. “Wah wah wah~ sepertinya kau memilih menggunakan mainan baru, Wren.” Ujar Hector yang tatapannya tertuju pada pedang pemberian Navaro. Aku berusaha tidak mempedulikan apapun ucapan Hector. Aku ingin pertempuran ini cepat selesai dan aku bisa kembali ke Windsor secepatnya. “Aleandro.” Panggilku. Aleandro yang tadi duduk di sebelah Zac langsung melompat turun. Dan dengan kekuatannya dia terbang vertikal setinggi tribune tertinggi di sana. “SauSara-sauSaraku. Malam ini kita akan menjadi saksi dari pertarungan Klan Scorpio dan Klan Libra. Sesuai perjanjian kuno, setiap kepala Klan boleh mengajukan tantangan pada siapapun untuk merebut klan yang lain. Dan setiap yang ditantang boleh menolak atau menerima dimana setiap penolakan berharga penyerahan klannya secara damai. Dan malam ini, pemimpin klan Libra telah menerima tantangan klan Scorpio. Mempertaruhkan keutuhan klan mereka masing-masing. Malam ini, pertarungan ini memberlakukan sebuah peraturan khusus. Tidak ada pendamping.” Kasak kusuk keributan mulai terdengar. Selama beratus tahun, setiap peserta pertarungan boleh satu pendamping. Tanpa pendamping artinya, senjata yang boleh digunakan hanya satu jenis, dan saat senjata itu jauh darimu, maka kau sendiri lah yang harus mengambilnya karena tidak ada pendamping yang membantumu melakukan itu semua. “Tanpa pendamping!” Seru Aleandro sekali lagi dan berhasil membuat para penonton terdiam. “Tanpa pendamping berarti mereka hanya akan menggunakan satu senjata. Tidak ada pembunuhan, hanya pernyataan menyerah seperti biasa.” Ujar Aleandro mengakhiri penjelasannya tentang peraturan malam ini. Sebenarnya aku lebih suka membunuh daripada menunggu pernyataan menyerah. Aku masih ingat dengan jelas pertarungan terakhir yang kulakukan harus berlangsung selama 3 hari karena vampir sialan itu menolak menyerah bahkan saat dia sudah nyaris mati di tanganku. Dan kalau bukan karena campur tangan Zac, aku yakin vampir itu tidak akan menyerah selama seminggu. Aleandro kembali ke sebelah Zac saat aku merasakan tatapannya. Lima abad yang lalu membuat segalanya berubah. Hubunganku dengan Aleandro, dan hubungan Navaro dengan Reynard yang memuncak sejak 3 abad lalu. Bukan saatnya aku memikirkan masalah itu sekarang. Aku harus konsentrasi pada pertarungan ini dan secepatnya kembali ke sisi Lily. Hector mengambil jarak terjauh dariku. Dia tahu kalau kelebihanku adalah kecepatanku. Dengan jarak sejauh ini, dia akan mudah menyerangku. Apalagi senjatanya adalah jarum halus yang terbuat dari perak, yang sangat mudah dilemparkan dari jarak jauh tapi bisa mengenai sasaran dengan tepat. Sedangkan aku hanya punya Spathi Ourano yang merupakan senjata jarak dekat. Seandainya aku memilih Beretta, jarak akan kukuasai dengan mudah. Selama beberapa menit kami hanya saling pandang, sama-sama memikirkan serangan apa yang harus kami lakukan. Aku baru saja akan mulai bergerak saat aku mendengar desing udara terbelah oleh jarum Hector dan 6 jarum halus hampir saja berjejer dijantungku kalau aku tidak bergerak secepat yang aku bisa. Dia terus melemparkan jarum-jarumnya dalam jumlah yang banyak untuk menjaga jarak denganku. b******k! Sepertinya Hector sudah mempelajari cara bertarungku selama ini dengan serangan-serangan mendadaknya. Aku sama sekali tidak bisa mendekat. Spathi Ourano bahkan masih tergantung manis di pinggangku. “Hanya terus menghindar, Wren?” Ejek Hector saat dia berhenti melemparkan jarum peraknya. Sial. Dia tidak pernah kehabisan jarum karena jarum-jarum yang dilemparkannya akan diambilnya kembali saat kami berputar di tempat jarumnya tertancap. b******k! Aku tidak bisa terus menghindar seperti ini! Aku harus cepat! Spathi Ourano bisa membelah udara, Wren. Ujar sebuah suara dalam pikiranku. Navaro? Ini tidak mungkin! Navaro ada disini! Dimana Lily? Aku tidak bisa merasakannya! Tanpa sengaja aku menoleh ke tempat lain hanya untuk memastikan kalau orang yang bicara dalam pikiranku benar-benar Navaro. Jauh di menara lapangan sebelah utara, sebuah sosok putih melayang. Hector memanfaatkan pecahnya perhatianku dan melemparkan banyak jarum yang tiga diantaranya berhasil tertancap di lengan kiriku. “b******k!” Umpatku kesal sambil melihat hasil serangan Hector dan kembali memusatkan perhatianku pada pertarungan ini. Jarumnya benar-benar terbuat dari perak, bukan hanya gosip. Sarah mulai mengucur dari lenganku. Di seberang lapangan Hector tertawa puas. Dengan penuh amarah karena serangan dan kenyataan kalau Navaro ada disini tanpa Lily, aku mengeluarkan Spathi Ourano dan menyabetkannya ke arah Hector, menguji apakah pedang ini benar-benar bisa membelah udara. KRRKKK KRRRKKK BRAK!!!! Suara tiang batu yang roboh itu menjadi bukti ucapan Navaro. Tiang yang tadinya berdiri kokoh di seberang lapangan kini hanya berupa tumpukan batu karena sabetan pedangku. Aku bisa merasakan penonton terkesiap melihat hasil kerjaku barusan. Spathi Ourano berhasil menarik perhatian banyak orang! Sialan kau, Navaro! Ini senjata pembunuh! Spathi Ourano tidak cocok menjadi nama pedang ini! Telingaku menangkap komentar-komentar ketakutan, kagum, dan kemarahan. Sial. Sial. Sial! Pada saat itulah aku sadar perhatian Hector terpecah oleh kekuatan pedangku. Sepertinya dia tidak menyangka kalau mainan baruku ini punya kekuatan yang menakjubkan seperti tadi. Dengan segera aku memperpendek jarak kami saat Hector kembali sadar dan mulai melancarkan serangan. “Tidak lagi, Hector.” Seruku sambil mengarahkan tangan ke arah jarum-jarum perak milik Hector dan membuat jarum itu berhenti di udara, berbalik ke pemiliknya, dan dengan kecepatan yang sama, melesat ke arah Hector. “Aku sudah tahu kekuatanmu, Wren.” Ujar Hector lalu dengan sekali hentakan kaki, tanah yang kupijak bergetar, aku kehilangan konsentrasi mengontrol kekuatan telekinesisku hingga membuat jarum-jarum yang beberapa senti lagi mengenai HECTOR, jatuh di lapangan. Dia punya kekuatan alam itu! Sial. Tapi aku tidak hanya punya telekinetik. Hector baru saja akan menghentakan kakinya lagi saat tubuhku mulai melayang, dan terbang! Ini merupakan hal baru bagi Hector karena dia terlihat sangat terkejut. Kekuatannya yang bisa membuat tanah bergetar tidak akan mempan padaku saat aku sama sekali tidak menginjak tanah. Kalau tadi akulah yang menjadi buruan, maka sekarang Hector lah buruanku. Jarum-jarumnya jelas tidak berguna dibawah kekuatan telekinesisku, dan kekuatan alamnya tidak berfungsi saat kakiku bahkan tidak menyentuh tanah. Terbang mungkin bukan hal baru bagi vampir master, tapi bagi orang yang memilih berjalan kaki dari satu kota ke kota lain sepertiku, atau memilih menggunakan mobil dan kenSaraan lainnya, terbang jelas bisa dibilang bukan kemampuanku. Aku tidak pernah menunjukkan pada siapapun, bahkan anggota klanku sendiri kalau aku bisa terbang. Padahal, kemampuan yang satu ini bisa menegaskan seberapa kuat seorang vampir itu. Kemampuan vampire akan bertambah seiring semakin tuanya mereka. Dan kemampuan terbang hanya dimiliki oleh vampire berusia lebih dari 500 tahun. Dengan satu tangan, aku mengendalikan semua jarum perak yang tertancap di tanah hingga melesat kembali ke arah Hector mengurungnya dalam lingkaran jarum setinggi lehernya. Dan dengan sangat cepat aku meluncur mendekati Hector dan baru berhenti saat jarak kami kurang dari 1m. “Menyerahlah, Hector. Aku tidak ingin membunuhmu.” Gumamku pelan. Hector menatapku penuh kebencian. Tidak ada tanda-tanda akan menyerah. Sialan. Aku harus segera mengakhiri ini dan menemui Navaro. “Tidak semudah itu, Wren, karena aku sangat ingin membunuhmu.” Bisiknya lalu entah darimana munculnya sebuah belati menancap tepat di jantungku, membuatku terlempar ke tanah dan terserert bermeter-meter jauhnya. Secara refleks aku menjauh sambil menyabetkan pedang begitu saja tanpa melihat ke arah Hector saat teriakan memenuhi kepalaku. Lambat namun pasti kesadaran mulai menghilang. Hal terakhir yang kuingat adalah seseorang terbang dan berlutut di sisiku dengan wajah penuh misteri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD