*Wren POV*
Aku tidak sadarkan diri selama seminggu penuh. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi selama itu karena begitu aku sadar, aku berada di dalam kamarku di rumah Aleandro. Navaro ada disana bersama Archard. “Navaro?” Panggilku pelan sambil berusaha bangkit dari ranjang tapi yang kudapati hanyalah sepasang kaki lemas menopang tubuhku. Selama beberapa saat aku yakin Navaro nyaris berteleport ke sisiku karena tiba-tiba saja dia sudah memegang lenganku dan membantuku duduk di pinggir ranjang.
“Kau baru sadar, Wren. Jangan sok kuat.” Tegur Navaro yang kembali ke tempat duduknya setelah memastikan kalau aku tidak tumbang.
“Kalian disini. Dimana Lily?” Tanyaku cepat karena satu-satunya orang yang ingin kulihat saat ini adalah Lily.
Navaro hanya diam, sementara Archard sepertinya tidak sabar ingin segera keluar dari kamar. “Kalau kau ingin keluar, pergilah.” Ujarku tanpa melirik Archard sedikitpun.
Tanpa menunggu apapun lagi Archard langsung melesat keluar dari kamar, saat Navaro berjalan menuju sisi jendela. “Kau terkadang terlalu sinis padanya. Padahal dia tidak melakukan kesalahan padamu.” Tegur Navaro pelan.
“Bukan itu jawabannya, Navaro.”
“Lily pergi. Itu jawaban yang kau inginkan.”
“Apa maksudmu?”
“Kau pasti tahu kalau Lily tidak ada disekitar sini, sejauh jangkauanmu merasakan. Itu karena Lily memang tidak ada disini.” Jelas Navaro datar. “Dia pergi setelah melihatmu baik-baik saja malam itu.”
“Dan kau membiarkannya?”
“Dia memberikan alasan yang tidak bisa kutolak, Wren.”
“Dan apa alasannya yang membuatmu begitu bodoh membiarkan dia pergi?”
“Kau dan klanmu akan hancur kalau mencoba melindungi dia. Apalagi setelah melihat kau terkapar seminggu ini. Itu bisa saja terjadi. Dan kau tahu aku tidak ingin itu terjadi.”
“Kau lebih memilih melihatku mati perlahan karena memikirkan Lily?”
“Aku tidak ingin kau mati!”
Dulu, ucapan Navaro seperti itu membuatku bangga. Seorang malaikat menghargai kehidupanku yang seorang vampir lebih dari kaumku sendiri. Mungkin sekarang aku masih bisa merasakan sedikit kebahagiaan itu, tapi kenyataan kalau Navaro mengatakan Lily pergi lebih menyakitiku dibandingkan apapun. Seharusnya Navaro tahu perasaan itu. Aku yang sejak sadar tadi merasa tidak memiliki kekuatan entah kenapa sekarang merasa dipenuhi kekuatan. Aku menatap Navaro yang kini menatapku dengan sedikit memohon. Entah apa arti tatapan itu. Aku tidak peduli.
“AKU_TIDAK_INGIN_HIDUP_TANPA_LILY” Geramku lalu dengan sengaja melepaskan semua kemarahan yang sejak tadi menyesakkan dadaku.
DUUUUAAAARRRR!!!!!!
Ledakan besar terdengar. Sesaat sebelum ledakan akibat kekuatan telekinesisku, aku bisa melihat Aleandro dan Zac melewati ambang pintu. Aku kembali pingsan. Terakhir kali yang kulihat adalah Navaro tetap berdiri di tempatnya dalam lindungan sayapnya, begitu juga dengan Aleandro dan Zac saat rumah Aleandro hanya tinggal reruntuhan.
Kedua kalinya aku tersadar, aku sudah berada di kamarku sendiri di London. Sepertinya setelah rumah Aleandro tidak bisa ditempati, mereka memutuskan membawaku ke Seara Manor. Kali ini trio sialan itu yang menungguku sadar (sekali lagi Zac terbukti benar bahwa kosa kata kotorku memang meningkat tajam belakang ini). Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan Aleandro setelah berabad-abad berlalu. Dulu hubunganku dengan Aleandro cukup dekat. Tapi setelah peristiwa yang melibatkan Navaro menimbulkan pecahnya pertempuran, dan membuat hubungan kami tidak seperti dulu lagi. Dan aku samar-samar aku ingat kalau orang pertama yang berlutut di sisiku saat aku terkena belati Hector adalah Aleandro.
“Aku ingin mencari, Lily.” Ujarku sambil berusaha bangun dari tempat tidur.
“Tidak, Wren. Kekuatanmu belum pulih.”
“Aku akan tetap mencarinya. Lily dalam bahaya.” Tukasku setelah berhasil berdiri mantap dengan kedua kakiku dan mulai berjalan menuju lemari, aku hanya mengenakan celana jeans tanpa baju.
Tiba-tiba saja tubuhku terhempas ke tempat tidur. Ada kekuatan samar membelengguku disana. Dari auranya, Zac-lah pemilik kekuatan ini. “Apa yang kau lakukan!”
“Mencegahmu berbuat bodoh.” Jawab Zac santai.
Tidak lama kemudian Archard bergegas masuk. Dia menatap Zac. Aku tahu kalau mereka sedang bicara saat ini. Zac punya kemampuan memasuki pikiran siapa saja, kecuali Navaro tentunya. Apapun yang disampaikan Archard sepertinya merupakan masalah serius karena Zac langsung pergi begitu saja hingga belenggunya padaku juga ikut terlepas, tapi saat aku melompat bangkit_lagi-lagi_aku terhempas ke tempat tidur. Kekuatan Aleandro yang menahanku kali ini.
“Lepaskan aku.” Geramku sambil menatap Aleandro penuh kebencian. Dia kira siapa dirinya menahanku seperti ini?
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Navaro saat dia bicara. “Lepaskan dia, Aleandro. Ada yang ingin kukatakan padanya.”
Aleandro hanya diam. Dia menatapku tanpa emosi. “Kau dengar dia! Lepaskan aku!” Semburku makin kesal melihat Aleandro hanya diam padahal Navaro sudah memintanya melepaskanku.
“Jangan sampai dia bertindak bodoh, malaikat.” Gumam Aleandro pelan, mengacuhkanku, dan kemudian berjalan keluar.
Begitu merasakan kekuatan Aleandro mulai menipis, aku langsung melompat dari ranjang saat Navaro berkata dengan tenang, “Kalau kau pergi, itu artinya kau mengkhianatiku, mengorbankanku untuk jadi sasaran kemurkaan mereka.”
“Sialan, kau! Sesungguhnya kau pantas menjadi sasaran kemurkaan mereka setelah membiarkan Lily pergi sendirian saat dia dalam bahaya.” Umpatku kesal.
“Dengarkan aku dulu, Wren. Kau harus tahu apa yang terjadi dari pertarungan itu, apakah klanmu atau klan Scorpio yang dikorbankan.”
Ucapan Navaro bagaikan air dingin di kepalaku. Benar. Bagaimana bisa masalah Lily membuatku melupakan masalah ini? Aku pingsan sebelum tahu hasil akhir pertarungan itu apa. Tapi mengingat aku yang jatuh duluan, mungkin saja saat ini Hector sedang menungguku untuk menyerahkan tampuk kekuasaan klan Libra padanya. Ya, itu benar. Kalau tidak, untuk apa Zac dan Aleandro menjagaku? Mereka disini untuk memastikan kalau aku bersikap jujur pada hasil pertarungan ini.
“Aku tahu. Aku akan menemui Hector dan memintanya untuk tidak berlaku kejam pada klanku.” Bisikku pedih. Kenyataan kalau harus menyerahkan klan yang selama keabadian ini menemaniku membuatku terluka.
“Ya, pergilah temui dia... Di Tartarus.” Ujar Navaro kesal.
Tartarus? Apa maksud Navaro?
“Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan, Navaro?”
“Kau bilang mau menemui Hector dan aku menjawab ya, silakan. Tapi kau hanya bisa menemuinya di Tartarus.”
“Dia mati? Bagaimana bisa?” Tanyaku benar-benar tidak percaya. Tartarus adalah tempat yang mungkin bisa dibilang penjara atau dunia bawah bagi para makhluk abadi. Hanya kaum abadi yang sudah tidak lagi abadi atau ingin mengakhiri keabadian yang ada disana.
Navaro mengangguk. “Sesaat sebelum kau pingsan, kau sempat menyabetkan Spathi Ourano ke arahnya, tidak terlalu mematikan memang, walau tepat di jantungnya. Tapi setelah kecurangan yang dia lakukan, dua senjata padahal hanya boleh satu senjata, Aleandro murka. Dia melempar belati tepat di luka yang kau sebabkan dan menembus jantungnya. Zac yang memastikan kalau dia mati. Kedua vampir itu seakan sama sekali tidak menganggap hadirnya ratusan pengikut Hector disana. Klan Scorpio memprotes apa yang terjadi, mereka tidak terima pemimpin mereka dibunuh dihadapan mereka padahal hasil akhir belum ditentukan, mereka siap turun ke lapangan dan menghabisimu saat Aleandro dan Zac berdiri di tengah lapangan dan mengatasi semua masalah. Mereka berdua bahkan tidak bergerak selangkahpun untuk meredam semua protes itu. Aleandro-lah yang membawamu ke kamar, Wren. Dia yang merawatmu, bahkan dia tidak mengizinkanku masuk ke kamarmu selama tiga hari pertama.”
Aleandro.
Mendengar penjelasan Navaro, mau tidak mau aku kembali teringat peristiwa hampir setengah milenia yang lalu yang mengubah segalanya. Peristiwa yang membuat hubunganku dengan Aleandro yang cukup akrab itu berubah. Peristiwa yang malah membuatku bisa berteman dengan malaikat eksentrik seperti Navaro. Peristiwa yang jadi titik balik dari semua kejadian di masa ini.
1512
Saat itu usia vampirku sudah 3 abad walau usia manusiaku bahkan baru dua dekade. Aku sudah memiliki klanku sendiri saat itu dan Inggris sebagai wilayahku. Sebagai vampir dengan usia cukup tua aku sudah berteman baik dengan Zac dan Aleandro. Saat itu Zac mungkin sudah memiliki kekuatan nyaris sebagai sang nosferatu, tapi masih ada nosferatu yang bertahan dan menjadikan Zac sebagai tangan kanannya.
Kehidupan saat itu jauh lebih keras. Sang nosferatu tidak segan-segan menyuruh anggota klannya memburu manusia. Zac, walaupun memiliki klannya sendiri, tetap mengabdi dengan sangat setia pada sang nosferatu, walau tidak suka, dia tetap melakukann perburuan manusia. Kesetiaan Zac pada sang nosferatu lebih dari yang bisa dibayangkan. Tapi setiap kepala klan saat itu tahu, sang nosferatu hanya memiliki namanya saat ini, karena pada kenyataannya, Zac-lah yang mengurusi semua masalah diantara bangsa vampir, dan Zac-lah yang ditakuti oleh makhluk lain, Zac-lah yang menciptakan kedamaian semu dalam bangsa vampir, bukan sang nosferatu. Saat itu sudah muncul desas desus kalau Zac yang akan menjadi nosferatu selanjutnya.
Zac yang tidak pernah memikirkan hal itu dengan tegas menyuruh setiap orang untuk berhenti memikirkan kemungkinan itu. Tidak pernah terbayangkan olehku pada masa ini kalau dimasa depan aku akan berteman sangat dekat dengan seorang malaikat dan memiliki pasangan seorang Sanguine Mixta.
“Kau membeli toko konyol itu?” Tanya Aleandro disalah satu kunjungannya ke Inggris. Sebagai seorang eksekutor_yang selalu mengeksekusi vampir-vampir pembangkang atau yang sering tertangkap manusia_Aleandro memang harus selalu berkeliling dunia. Tapi akhir-akhir ini dia lebih sering menghabiskan waktunya di Eropa dan Amerika, mengingat komunitas vampir di kedua tempat ini sangat banyak dan tidak semuanya punya pikiran jernih untuk tetap menyembunyikan diri di balik gelapnya malam. Kalau boleh aku merasa sedikit bangga, sang eksekutor selalu menghabiskan waktu di Inggris, di tempatku, disetiap kunjungannya ke Eropa.
Aku menatap Aleandro sambil terus berjalan menyusuri gelapnya jalanan London di malam hari. “Kenapa kau menyebutnya konyol? Wajar saja kalau aku ingin memulai usaha.” Sahutku cepat.
“Kau? Usaha? Siapa yang percaya, Wren? Lagipula untuk apa kau mencari uang, ha? Semua bayaran dari para penyewamu itu masih kurang? Kau bahkan bisa hidup mewah_dalam standar manusia_selama beberapa abad ke depan tanpa harus melakukan apapun selain menjadi hunter.”
“Ya. Tidak. Mereka membayarku sesuai yang kuminta. Tapi bukan itu yang kuinginkan, Aleandro.”
“Lalu? Kau kurang kerjaan? Apa sebagai satu-satunya orang yang mewakiliku memburu semua berandalan itu membuatmu tetap punya waktu luang?”
“Dengar. Aku hanya ingin punya sesuatu yang bisa kuurus dan kupikirkan, Aleandro. Semua pekerjaanku_termasuk yang kau berikan hanya membuatku seakan berolahraga. Kau selalu mengambil sendiri tugas yang berat. Toko itu akan kuubah menjadi tempat hiburan. Banyak dari kita yang tidak melupakan sifat dan kebiasaan kita sewaktu menjadi manusia. Dan aku ingin memanfaatkan itu.”
“Kau memang satu-satunya vampir yang begitu terikat dengan kehidupanmu sebagai manusia dulu walaupun sudah melewati 4 abad.”
Aku tersenyum. Aku memang berusaha mempertahankan sisi kehidupanku selama menjadi manusia. Toko ini merupakan usahaku yang pertama. Aku ingin membuka sebuah club. Bukan hanya untuk vampir, tapi juga untuk makhluk lainnya. “Lihat saja nanti Aleandro. Aku yakin kau akan menyuAleandronya. Kau harus mengubah kebiasaanmu. Gubuk di tengah hutan itu sudah saatnya kau ganti.”
“Aku tidak peduli dengan rumahku, Wren. Lagipula aku tidak terlalu sering tinggal disana. Sudah kukatakan, hanya kau yang menyuAleandro hidup di tengah-tengah manusia. Dan tidak memburu mereka.” Sahut Aleandro cepat. “Hanya kau yang kuizinkan menghinaku seperti itu, Wren.”
“Hey! Aku tidak memburu mereka karena mereka yang bersedia memberikan Sarah mereka padaku. Karena itu, cobalah hidup lebih ‘manusia’ dan kau hanya perlu bersantai di rumah dan ‘makanan’ akan datang sendiri ke hadapanmu. Lagipula aku bukan menghinamu. Aku hanya menyampaikan kebenaran.”
“Terserahlah, Wren. Aku masih sanggup berburu. Dan terima kasih atas kebenaran yang kau sampaikan. Aku terharu.” Tukas Aleandro pasrah.
Aku hanya tersenyum lebar melihat Aleandro sambil terus berjalan menuju rumahku yang juga baru saja kubeli. Yang dimasa depan kuberi nama Seara Manor. Terkadang Aleandro memang cukup menyebalkan seperti Zac hingga beberapa kata dari mereka berdua bisa membuatku frustasi. Tapi terkadang kupikir, akulah yang membuat mereka frustasi, terutama Aleandro, karena sikapku yang sering menentangnya.
Sebulan setelah aku membuka club-ku, ada seorang gadis yang selalu datang ke club setiap harinya. Aku tidak bisa merasakan apakah dia vampir atau bukan. Auranya sangat aneh dan terkesan disembunyikan. Gadis itu selalu datang bersama seorang pria manis yang sepertinya suka sekali mengenakan warna putih.
“Hai!” Sapaku sengaja menghampiri pasangan itu pada suatu malam.
Sang pria menatapku dingin, sementara gadis itu tersenyum padaku. “Hai juga. Bukankah kau Wren, pemilik tempat ini?”
Aku mengangguk pelan. “Aye. Senang sekali melihat para tamu sering datang kesini.”
“Aku menyukai tempat ini. Selain nyaman, ada banyak sekali yang datang kesini hanya untuk bersantai.” Ujarnya ceria.
Sang pria yang menemani gadis itu kembali menatapku dingin. “Kalau kau tidak ada urusan, tolong tinggalkan kami.” Ujarnya datar dengan tatapan tajam padaku, dan saat itulah aku merasakan aura dari pria itu. Kekuatannya, walaupun samar, jelas sangat besar. Dan dia bukan vampir.
Dia seorang malaikat!
Ada banyak makhluk yang sering datang ke klub-ku, incubus dan succubus, were, vampir, gargoyle, dan makhluk lainnya, tapi tidak pernah malaikat! Sepanjang keabadianku, aku tidak pernah melihat malaikat apapun alasannya. Dan kalau sebulan ini dia selalu berhasil menyembunyikan auranya, maka jelas sekali kalau kali ini dia juga sengaja membuatku menyadari siapa dia. Tapi dia sepertinya tidak sadar kalau saat dia melepaskan sedikit pengendalian dirinya, aku juga bisa merasakan aura si gadis yang lebih membuatku terkejut. Gadis itu adalah makhluk yang HARUS aku buru.
Setengah vampir!
“Tadinya aku tidak punya urusan dengan kalian, tapi setelah aksi angkuh yang baru saja kau lakukan, aku tidak yakin kalau aku tidak punya urusan denganmu. Aku ingin bicara denganmu.” Ujarku sambil menekankan telunjukku di d**a pria itu yang sepertinya sangat tidak disukainya.
“Aku tidak punya urusan denganmu!” Serunya sambil menepis tanganku seolah aku adalah makhluk paling kotor di dunia.
“Kau punya dan kau harus.” Tegasku. “Disini hanya menerima Pure Blood.” Sambungku pelan. Dan ucapanku itu berhasil menarik perhatiannya. Pria itu langsung berdiri, membisikkan sesuatu pada sang gadis sebelum mengikutiku ke ruangan pribadiku.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kalau dia setengah vampir?” Tanyaku balik.
Pria itu mengangguk.
“Saat aksi sok hebatmu menunjukkan siapa kau, saat itu aku bisa merasakannya. Awalnya aku memang tidak menyadarinya, tapi kau sepertinya menganggapku remeh.”
Pria itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kau bukan vampir biasa. Kau Vampire Hunter!” Ucapnya tidak percaya dan langsung bergerak menjauh.
Aku mengiyakan tebakannya. “Aku tidak ingin membuat keributan. Aku minta kau dan dia jangan pernah datang kemari lagi. Aku berani menjamin keselamatan setiap pengunjungku kalau dia pure blood, tapi tidak dengan Half Blood. Aku Hunter, dan masih banyak hunter lainnya disini. Pekerjaanku adalah memburu Half Blood. Belum lagi kenyataan kalau Aleandro sering sekali kesini.”
“Sang Eksekutor?”
“Ya. Karena itu, walau kau bukan kenalanku, aku tetap tidak ingin ada keributan. Pergilah dalam damai, sobat.”
Pria itu hanya diam. “Sally suka dengan suasana disini. Kalau aku tiba-tiba tidak membawanya kesini, dia pasti akan bertanya-tanya. Bahkan dia sendiri tidak tahu kalau Sarahnya adalah Sarah terkutuk.”
“Dia pasanganmu?”
Pria itu menggeleng. “Bukan. Tapi aku menyayanginya. Aku-lah yang membesarkannya.” Ujar pria itu sepertinya tanpa sadar sudah mengungkapkan rahasianya karena sedetik kemudian dia kembali memasang wajah dinginnya.
“Kalau begitu bawa dia pergi dari sini. Kau sudah terlalu lama disini, akan berbahaya baginya. Aku hanya bisa menjamin keselamatan kalian hari ini di dalam gedung ini.” Ujarku pelan sambil menepuk pelan bahu pria itu.
Dia terlihat tidak menyuAleandro sentuhanku, tapi setidaknya dia tidak menepisnya lagi. “Aku tahu kau menyadari kalau aku malaikat. Aku tidak bisa menyebutkan nama malaikatku, tapi kau bisa memanggilku Navaro.” Ujarnya datar lalu keluar dari ruanganku.
Navaro.
Sejak hari itu aku tidak pernah lagi melihat Navaro maupun gadis yang dipanggilnya Sally itu di klub-ku. Tidak ada pengunjung lain yang menyadarinya sampai suatu hari, seminggu sejak terakhir kali Navaro datang, Aleandro muncul di klub-ku. Kali ini dia datang bersama Zac. Sepertinya ada tugas baru yang harus kulakukan.
“Serius sekali wajahmu, Aleandro.” Tegurku sebelum Aleandro sempat mengucapkan apapun sejak kemunculannya di klub.
Aleandro sama sekali tidak bicara. Wajahnya terlihat begitu serius. Sebaliknya dengan Zac, vampir jangkung itu tersenyum penuh arti padaku. “Ada yang lucu, Zac?”
“Nama klubmu.”
“Ada yang salah?”
“Tidak. Hanya saja, kau benar-benar menderita sindrom pangeran, Wren.” Sahut Zac ringan.
Apa salahnya dengan nama Picasa?
“Itu urusanku! Dan kau, Aleandro. Ada apa denganmu? Kalau suasana hatimu memang begitu buruk, jangan datang kesini. Kau hanya membuat pengunjung lain ketakutan.”
“Buruanku menghilang.”
Ini baru mengejutkan. “Apa? Buruanmu menghilang?” Ulangku tidak percaya. Tidak ada satupun vampir yang bisa kabur dari Aleandro saat sang eksekutor memutuskan untuk mengejarnya. Insting liar Aleandro bahkan lebih mengerikan daripada insting liar hewan manapun, karena itu sejak dia menjadi vampir, tugas sebagai eksekutor ada ditangannya.
“Ya, sudah seminggu aku mencarinya dan aku tidak menemukan jejak apapun. Sepertinya aku akan membutuhkan bantuanmu, Wren. Aku tidak yakin akan menemukannya kalau tetap memburunya seorang diri.”
“Aku tidak percaya. Ada makhluk yang bisa kabur darimu. Katakan saja, aku pasti akan membantumu.”
“Seminggu yang lalu aku terakhir kali menemukan jejaknya disini. Di klubmu. Tapi sejak hari itu dia seakan menghilang. Lenyap lebih tepatnya. Jejaknya yang terakhir itu saja aku tidak terlalu yakin karena benar-benar samar seolah ada kekuatan besar yang sedang melindungi dan menyamarkan keberadaannya. Aku berpikir, suatu hari nanti dia mungkin akan datang kesini. Dan kalau saat itu tiba, jangan ragu-ragu untuk melenyapkannya. Kau tidak perlu menungguku karena aku percaya padamu.”
“Baiklah, tapi aku harus tahu siapa dia.”