Chapter 19

2535 Words
Aleandro menyisirkan jemarinya ke rambut hitamnya. “Dia wanita, Half Blood pastinya. Tidak terlalu tinggi, rambutnya hitam panjang, cukup cantik kalau saja dia bukan Half Blood. Ras asia timur. Dia hampir selalu bersama seorang pria china muda yang aku rasa seorang manusia.” Jelas Aleandro benar-benar membuatku terkejut. Aku berusaha untuk tidak memikirkan siapa yang memiliki ciri-ciri seperti itu karena aku tahu baik Aleandro ataupun Zac keduanya bisa membaca pikirkan. Kemampuan yang masih belum bisa kudapatkan walau usiaku sudah menginjak 3 abad. “Tidak terlalu spesifik mengingat ada banyak sekali ras asia timur disini. Tapi aku rasa aku bisa membedakannya dengan auranya.” “Disitu masalahnya. Dia terlalu pintar menyembunyikan auranya hingga sulit terlacak. Tapi mungkin saja kau bisa melakukannya, karena selain aku hanya kau lah yang bisa melacak orang sebaik aku.” Aku mengangkat tangan. “Aku tidak menganggap itu pujian, Aleandro.” Sahutku cepat yang langsung membuat Zac tertawa. “Ngomong-ngomong, dimana Alby, Wren? Setiap kali aku kesini dia tidak pernah ada.” Tanya Zac sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya. “Alby sedang di Amerika. Dia bilang ingin mencari suasana baru.” Zac mengangguk cepat. “Kalau begitu aku harus segera kembali ke rumahku. Aku sudah lama tidak ‘bermain’ bersama Alby.” “Jangan ganggu dia, Zac.” Tegur Aleandro seakan tahu apa yang akan dilakukan Zac pada salah seorang temanku itu. Zac menatap Aleandro kesal. “Jangan rakus, Aleandro. Kau sudah memonopoli Wren untuk menemanimu, dan sekarang aku hanya punya Alby untuk menemaniku. Walau sejujurnya aku lebih suka kalau kalian bertiga ada untukku.” “Kau bisa bermain dengan klan Ursa-mu.” Balas Aleandro cepat. “Mereka terlalu serius.” Jawab Zac tidak kalah cepat. “Lagipula kau tahu sendiri kalau Archard dan Wren tidak pernah akrab, aku hanya seperti melihat dua batu kalau bersama mereka. Yang satu tangan kananku, yang satu orang yang kusayang.” Aleandro menatapku pasrah. “Tidak ada yang bisa menyelamatkan Alby, Wren. Aku sudah mencoba.” Ujarnya pelan. “Aku harus pergi. Aku akan mencarinya.” Pamit Aleandro yang langsung bergegas keluar sebelum aku sempat menawarkannya untuk ‘makan’. Zac mengikuti Aleandro setelah sempat menatapku dalam, mencoba mencari sesuatu dalam pikiranku. “Kau terkadang sangat pintar menyembunyikan pikiranmu. Dan itu adalah bakat berharga yang tidak dimiliki setiap orang.” Ujar Zac dan menghilang di keramaian klub. “Aleandro mencari Sally.” Gumamku nyaris tanpa suara lalu bergegas mencari Geofrey, vampir kepercayaanku yang selalu berikan tanggung jawab mengurus klub saat aku sedang berburu Half Blood. Tugasku akan mewajibkanku untuk membantu Aleandro memburu Sally, bahkan sebelum Aleandro datang kesini malam ini, aku seharusnya sudah memberi tahu Aleandro kalau ada Half Blood disekitar kami. Tapi entah kenapa rasa tertarikku pada kenyataan kalau Half Blood itu dilindungi malaikat lebih besar daripada rasa tanggung jawab pada kewajibanku. Dan entah apa yang membuatku memilih mencari malaikat itu_menyusuri London_untuk memberitahunya tentang ancaman ini daripada langsung memburunya. Mungkin karena aku tiba-tiba merasa terlalu tersanjung dengan kedatangan malaikat di Picasa, dan terlebih lagi sang malaikat memberitahukan namanya padaku. Aku sudah meninggalkan pesan khusus pada GEOFREY untuk tetap menjalan Picasa seperti biasa tidak peduli selama apa aku pergi, karena aku tidak yakin bisa menemukan Navaro dengan cepat atau malah aku akan bernasib sama dengan Aleandro, sepanjang minggu tanpa hasil. Walau aku memiliki anggota klan di seluruh penjuru Inggris, tapi masalah ini harus kutangani langsung. Aku hanya berharap aku bisa menemukan Navaro sebelum Aleandro. Aku tidak ingin memilih antara memuaskan ketertarikanku atau menentang sang eksekutor yang tidak lain tidak bukan adalah teman baikku sejak aku menjadi salah satu kaum abadi.   Dua hari kulalui dengan sia-sia. Sepertinya sang malaikat menganggap serius ucapanku karena sama sekali tidak ada jejak mereka di London. Padahal aku sudah mencari hampir di setiap sudut kota dan hampir menghabisi lebih dari 5 vampir pembangkang tiap harinya yang tidak sengaja kutemukan. Tiga hari kemudian, aku juga sudah menyusuri seluruh daerah dari High Wycombe sampai Gravesend, dan Guildford hingga ke Chelmsford. Tapi malaikat dan Half Blood itu seakan menghilang. Dengan kata lain, minggu pertama pencarianku tidak membuahkan hasil apapun. Minggu kedua aku menyusuri Selatan Inggris, dari kota kecil paling selatan Inggris, Land’s End hingga ke kota pelabuhan Plymouth. Dan sama seperti minggu sebelumnya, tanpa hasil. Aku nyaris frustasi dengan pencariaan ini saat memasuki minggu keempat. Aku memang wajib bersusah payah untuk memenuhi kewajibanku, tapi untuk menyelamatkan buruanku sendiri? Kata TIDAK pasti akan langsung meluncur mulus keluar dari kamus besar. Aku baru saja akan memasuki rumah peristirahatanku di Carlisle saat_hanya beberapa detik_aku merasakan aura Navaro sebelum kembali menghilang. Aku langsung memunggungi rumahku, memicingkan mata menatap jalanan malam yang sangat sunyi_yang membuat manusia manapun berpikir lebih dari dua kali keluar dari rumah mereka walau hanya selangkah. Tidak ada siapapun disana, tapi aku bisa merasakan kembali aura Navaro, bahkan semakin jelas. “Sial. Dimana dia sebenarnya?” Makiku kesal sambil berjalan menjauhi rumah. Saat itulah hembusan angin menyapaku dari atas. Sebuah sosok putih turun dengan anggun bersama seorang gadis dalam pelukannya. “Apa yang kau lakukan disini?” Itu ucapan yang dilontarkan Sally saat dia mengenali wajahku. Navaro kini sudah berdiri mantap di hadapanku dengan sayap masih terbentang lebar. Jadi ini sosok malaikatnya? Indah. “Ini bukan wujud asliku.” Gumamnya seakan bisa membaca pikiranku, sama seperti Zac dan Aleandro. “Dan satu lagi orang tidak sopan berhasil memasuki pikiranku tanpa izin.” Balasku cepat. “Aku mencari kalian. Ada hal yang sangat penting yang harus kukatakan.” “Apa ada yang lebih penting lagi selain kenyataan kalau aku setengah vampir yang sedang diburu?” Tanya Sally datar. Aku menatap Sally terkejut, masih ingat dengan ucapan Navaro yang mengatakan kalau Sally bahkan tidak tahu ada Sarah vampir di tubuhnya. Aku mengalihkan tatapanku pada Navaro. “Dia tahu?” “Seminggu setelah aku membawanya keliling London menghindari Vampire Hunter, dia mulai menerorku dengan pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa’. Mau tidak mau aku harus mengatakannya.” Jawab Navaro enggan. Aku mengangguk pelan. “Kita bicara di dalam. Apa yang akan kukatakan akan lebih baik kalau hanya kita yang mendengarnya.” Ujarku sambil berbalik dan mulai membuka pintu. Sepuluh menit kemudian, Navaro dan Sally sudah duduk di ruang duduk rumah peristirahatanku. Aku tidak menjamu mereka dengan apapun karena memang tidak ada makanan disini. Aku sudah mendapatkan kebutuhanku sendiri sebelum memasuki Carlisle. “Aku akan mengatakannya sesingkat mungkin. Aleandro, satu-satunya vampir eksekutor, sedang mencari dia. Aleandro sudah menurunkan perintah padaku untuk mencarinya dan melenyapkannya_maaf kalau aku bicara terlalu gamblang_dan aku memutuskan untuk tidak memburu dia.” “Kenapa? Setahuku, kau adalah vampire hunter dan secara tidak langsung Aleandro adalah atasanmu.” Tanya Navaro cepat. Aku mengedikkan bahu. “Atasan mungkin, tapi dia bukan masterku. Dan aku sudah lama menerima kebebasan untuk klanku sendiri. Sebenarnya Aleandro tidak pernah memerintahku, dia meminta bantuanku. Dan alasan kenapa aku berkata akan membantunya tapi pada kenyataan malah sebaliknya, aku juga tidak tahu.” “Dan kau memilih menciptakan perang dengan bangsamu karena menyelamatkan kami daripada melenyapkan satu Half Blood?” Tanya Navaro lagi, masih curiga dengan apa yang aku lakukan saat ini. “Tidak akan ada pertarungan, apalagi perang kalau aku bisa membawa kalian keluar Inggris.” “Dan kau berasumsi kalau kami bisa keluar Inggris, maka vampir itu tidak akan mencari kami?” “Entahlah, aku ragu dia akan menyerah, tapi aku berpikir dia mungkin akan mendapatkan buruan baru selama kau menghilang.” Navaro mengangguk, seolah mengerti dengan apa yang kupikirkan. “Terima kasih sudah susah-susah mencari kami dan menjelaskan ini semua, tapi Sally sangat menyuAleandro Inggris, aku sudah cukup menjauhkan dia dari tempat favoritnya, aku tidak akan menjauhkannya dari negara kelahirannya. Kalau saatnya datang, aku yang akan menghadapi Aleandro.” “Aku tahu kau malaikat, aku tahu kalau kau mungkin jauh lebih kuat, tapi Aleandro ditugaskan sebagai eksekutor bukan tanpa alasan.” “Aku menghargai usahamu. Tapi aku-lah yang memutuskan sebenarnya. Navaro sudah memprotes keputusanku, tapi dia tidak bisa berbuat apapun.” Ujar Sally tiba-tiba. “Baiklah. Aku akan menemani kalian. Kalau kalian memang memutuskan untuk menghadapi Aleandro, maka tidak ada salahnya kalau kita kembali ke London? Kalian bisa tinggal bersamaku. Aku mungkin tidak bisa menjamin keselamatannya, tapi aku bisa menjamin akan memberikan bantuan selama aku bisa.” Navaro kembali mengangguk. “Satu pertanyaan. Kenapa kau bertindak sejauh ini?” “Sekali lagi aku jawab, aku tidak tahu. Aku hanya merasa kalau aku harus melakukannya.” Jawabku jujur. “Malam ini kita bermalam disini, besok kita kembali ke London. Sudah satu bulan aku meninggalkan Picasa untuk perjalanan ini. Kalian bisa mencari kamar yang mana saja. Aku ingin istirahat.”   Seharusnya kami langsung kembali ke London keesokan harinya, tapi entah kenapa kami memilih membatalkan rencana itu. Kami akhirnya menghabiskan waktu di Carlisle seminggu hanya untuk bersenang-senang. Menikmati kesunyian daerah pinggiran. Dan selama itu juga Navaro beberapa kali menengahi pertarungan vampir yang kerap terjadi di Carlisle dan sekitarnya. Dia berkali-kali membantu bangsa vampir saat terjadi pertempuran dengan makhluk lain. Saat itu hubungan bangsa vampir dengan makhluk lain, terutama werewolf dan penyihir sangat buruk. Navaro benar-benar bertindak sebagai malaikat, memberikan pertolongan pada yang membutuhkan walau tidak ada yang memintanya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke London, ke rumahku. Navaro dan Sally lebih sering menghabiskan waktu berdiam diri di rumah, menghindari keramaian, dan baru keluar saat matahari terbit. Aku sendiri tidak terlalu sering menghabiskan waktu di rumah karena aku harus mencari tahu dimana Aleandro saat ini. Hingga pada suatu malam saat aku tidur di rumah, peristiwa itu terjadi. Entah aku tertidur atau tidak_karena sebenarnya vampir tidak tidur_yang jelas saat aku membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah Aleandro duduk di sofa tunggal di kamarku. Aku langsung melompat bangun, tidak peduli dengan ketelanjanganku_karena aku memang selalu istirahat tanpa mengenakan paAleandroan apapun_dan menatap Aleandro tidak percaya. “Kerja bagus, Wren. Padahal aku sudah mengatakan untuk membereskannya langsung, tapi sepertinya kau memilih untuk memberitahukan keberhasilanmu padaku. Hingga kau masih menahan mereka sampai saat ini.” Ujar Aleandro terdengar riang. Aku sama sekali lupa untuk memblokir pikiranku, karena sedetik kemudian Aleandro melompat dari sofa dan menghujamku dengan tatapan sinis yang selama ini hanya ditujukannya pada buruannya. “Kau menerima mereka disini bukan untuk menungguku? Kau ingin melindungi mereka?” Seru Aleandro tidak percaya. Aku memunggungi Aleandro dan meraih celana panjangku lalu mengenakan secepat mungkin. “Maafkan aku karena tidak bisa membantumu, tapi mereka bukan ancaman, Aleandro. Gadis itu dibawah perlindungan makhluk suci.” “Kalau yang kau katakan adalah pria yang bersamanya, dia hanya manusia!” “Tidak, Aleandro. Dia malaikat. Dan kalau kita melawan malaikat, tidak ada untungnya.” “Aku tidak peduli, Wren. Half Blood adalah keberadaan yang mutlak harus dilenyapkan! Itu hukum alam!” “Kau salah. Selalu ada pilihan.” “Dan bukan hak kita untuk memilih saat sang Nosferatu sudah memerintahkan melenyapkan semua Half Blood.” “Aku tidak pernah tunduk dibawah perintahnya. Dia gila! Bahkan saat ini dia tidak bisa keluar dari sarangnya tanpa bantuan Zac!” Jawabku cepat. Aleandro mengumpat. “Kalau kau tidak ingin melakukannya, biar aku. Tapi jangan halangi aku. Aku tidak ingin meluAleandromu.” “Aku akan berusaha semampuku untuk menghalangimu, Aleandro. Aleandro, aku mohon. Pikirkan lagi. Dia tidak akan tahu kalau kau melepaskan yang satu ini. Aku mohon. Aku berani menjamin kalau yang satu ini bukan ancaman.” “Aku akan memberikan apapun, Wren. Tapi tidak yang ini. Janjiku adalah kehormatanku.” “Kalau begitu kita sepakat. Janji adalah kehormatan. Maka aku akan melawanmu.” “Tidak, Wren!” “Aku sudah berjanji untuk berusaha melindungi mereka!” “Dan kenapa kau lakukan itu saat kau tahu itu artinya melawanku?” Aku menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, Aleandro. Hanya saja kesaSaran itu muncul. Kenapa kita harus memburu Half Blood saat mereka tidak melakukan kesalahan? Kenapa kita harus memburu mereka kalau kita tahu ada orang yang bisa melindungi mereka agar tidak berbuat kesalahan?” “Kau terlalu banyak berpikir. Half Blood saja sudah merupakan sebuah kesalahan tanpa mereka harus melakukan kesalahan yang lain.” Sahut Aleandro yang langsung bergegas keluar menuju kamar tempat Sally_dan Navaro mungkin_berada. “Tidak, Aleandro!” Teriakku yang mungkin membangunkan penghuni kamar lain, karena saat itu juga kudengar sebuah pintu terbanting diiringi bunyi kaca pecah. Aleandro sudah mendobrak pintu kamar yang ditempati Navaro sementara sang malaikat sedang meWrenang terbang di luar rumah dengan Sally dalam dekapannya, masih tertidur. “Pergi, Navaro!” Teriakku sambil menerjang Aleandro hingga kami berdua menSarat mulus di dalam kamar. Aku tidak terlalu jelas apa yang terjadi selanjutnya, karena sepertinya Aleandro tetap menolak melawanku dan hanya menghempaskanku berkali-kali ke dinding yang sama setiap kali aku berusaha menghalanginya. Dan Navaro_entah bagaimana dan dimana dia menyembunyikan Sally_dia sudah menerobos masuk ke kamar dan berdiri diantara aku dan Aleandro. “Terima kasih, vampir. Tapi ini pertarunganku.” Ujar Navaro tulus dan tanpa bicara sedikitpun dia menerjang Aleandro begitu saja. Tidak ada sayap kali ini. Aku terpana menyaksikan pertarungan itu. Tubuh Navaro sedikit lebih kecil dari Aleandro, tapi sepertinya memiliki tenaga yang besar, karena dia dengan mudah dapat menyeimbangi Aleandro yang memang terlahir seolah untuk bertarung. Aku bergegas keluar, mencari dimana Sally saat kulihat gadis itu menatap tidak percaya apa yang sedang terjadi di dalam rumah saat ini. Rumahku mulai retak dimana-mana, dan tidak sedikit dinding mulai berderak lepas. Tapi kedua makhluk yang sedang bertarung itu sama sekali tidak memperdulikannya. Aku sama sekali tidak bisa memikirkan siapa yang sedang terpojok saat ini. Karena mereka memang saling membalas dengan sangat mematikan. Berkali-kali Navaro terbang menghantam dinding hingga retak, dan berkali-kali juga Aleandro menSarat di lantai dengan bunyi yang pasti akan langsung meremukkan tubuh manusia. Tapi mereka sejauh ini masih baik-baik saja. Mereka berdua seakan melupakan kehadiranku ataupun Sally disini karena tidak seorangpun yang pernah berteriak sesuatu atau memberikan sedikit perhatian pada kami. Aku berdiri bersisian dengan Sally, menjaganya dari beberapa perabotan yang meWrenang terbang kearahnya karena sepertinya gadis itu terlalu shock untuk bergerak menghindari apapun yang dilemparkan kedua makhluk itu tanpa sengaja. Aleandro akhirnya mengeluarkan belati kesayangannya, begitu juga dengan Navaro yang entah darimana mendapatkan sebuah pedang indah bergagang hitam. Denting logam itu mulai terdengar, tapi sepertinya tidak satupun dari mereka yang mencederai lawan dengan fatal. Aku baru saja akan menjauhkan Sally dari rumahku yang sudah berubah menjadi arena pertempuran saat aku sadar, ada vampir lain yang sedang mendekat, dan sialnya, itu adalah Zac dan Archard. Navaro tidak akan menang. Zac saja sudah cukup merepotkan kalau dia memang ingin bertempur tanpa di tambah Aleandro dan klan Ursa milik Zac. Navaro yang sepertinya juga menyadari kedatangan tamu tak diundang itu membuatnya tidak berkonsentrasi pada Aleandro sehingga Aleandro bisa melemparkan satu belatinya ke arah Sally. Tubuhku refleks bergerak ke arah jalur belati itu dan melindungi Sally saat belati lain muncul dari arah datangnya Zac dan mengenai punggung Sally, tepat di jantungnya. Raut wajah Zac yang terkejut membuatku yakin kalau Archard-lah yang melempar belati itu. Aku masih berusaha menarik belati yang tertancap di bahu kiriku saat Navaro mengamuk. Kedua sayapnya terentang lebar dan pedang yang tadinya masih di tangannya kini sudah lenyap digantikan sebuah busur dan panah. Navaro mengepakkan sayapnya dan terbang. Sedetik kemudian puNavaro helai bulu-bulu putih dan panah bercahaya meluncur turun dengan kecepatan mencengangkan bagaikan hujan dari langit. Sebuah panah berhasil tertancap di lengan Aleandro saat Zac menggunakan kekuatan telekinesisnya dan menghentikan serangan Navaro di udara sebelum memakan korban. “Hentikan_pertempuran_ini_sekarang_juga.” Ujar Zac dengan suara membahana, nyaris memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD