"Okey.." Ara menarik nafas dalam-dalam laku menghembuskannya. "Ini pilihan gue, dan gue nggak boleh kabur lagi. " Ujarnya lirih sebelum masuk ke dalam rumah.
Pintu rumah terbuka pelan. Suara kunci yang diputar terdengar singkat, lalu diikuti bunyi gesekan kayu saat daun pintu didorong ke dalam.
Udara sore masuk bersamaan dengan Ara yang melangkah pelan, masih dengan tas kerja yang menggantung di bahunya.
Ara menutup pintu, melepas sepatu, lalu meletakkannya di rak. Dari arah dapur, terdengar suara piring yang saling bersentuhan.
Ara melangkah mendekat.
Mas Arga berdiri di depan meja dapur, menuang sesuatu dari panci kecil ke dalam mangkuk. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma sup hangat yang ringan.
Ara berhenti beberapa langkah dari sana. “Mas.”
Mas Arga menoleh. Wajahnya tenang seperti biasa. “Oh, kamu udah pulang.”
Ara mengangguk. “Iya.”
“Udah makan belum?”
Ara menggeleng. “Belum.”
Mas Arga mengangguk kecil. Ia mengambil satu mangkuk lagi, lalu menuangkan sup yang sama. Gerakannya rapi, tidak terburu-buru. “Makan dulu ya,” katanya.
Mas Arga membawa dua mangkuk, meletakkannya di atas meja. Sendok diletakkan di samping masing-masing, lalu ia duduk di kursi seberang Ara.
“Mas.”
Mas Arga mengangkat kepala. “Iya?”
Ara menarik napas sebentar. “Aku mau bahas soal itu.”
Mas Arga diam beberapa detik, lalu mengangguk. “Soal kontrak.”
“Iya.”
Mas Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. “Sebelum kamu mulai,” katanya pelan, “aku mau ngomong dulu.”
Ara mengangguk kecil.
“Aku sebenarnya nggak setuju sama ide kontrak itu,” lanjutnya. Nada suaranya tetap tenang. “Menurut aku, kita bisa jalanin aja pelan-pelan. Nggak perlu dibikin kaku.”
Ara menunduk sedikit, mendengarkan.
“Aku juga nggak keberatan kalau kamu butuh waktu,” tambahnya. “Aku ngerti posisi kamu. Dan aku bisa nunggu.”
Ara mengangkat wajahnya.
Mas Arga menatapnya lurus. “Kita nikah, Ra. Aku bakal usaha jadi suami yang baik buat kamu. Nggak harus langsung sempurna, tapi kita bisa belajar.”
Ara terdiam.
“Tapi…” Mas Arga berhenti sebentar. “Kalau kamu tetap mau kontrak, Mas juga nggak bakal maksa.”
Ara menghela napas pelan. “Aku… tetap mau, Mas.”
Mas Arga mengangguk sekali.“Ya udah,” katanya. “Kita bahas.”
Ara menggeser sedikit mangkuknya, lalu menyandarkan kedua tangan di meja. “Aku cuma punya tiga poin.”
Mas Arga menatapnya. “Okep.”
Ara menarik napas lagi, mencoba merapikan kata-katanya. “Yang pertama,” katanya pelan, “hubungan kita tetap kayak dulu.”
Mas Arga tidak langsung menjawab.
"maksud aku…” lanjut Ara, “kita tetap sepupu. Kayak abang sama adik. Nggak ada yang berubah. Persis kayak dulu.”
Mas Arga menatap Ara beberapa detik. “Nggak ada yang berubah sama sekali?”
Ara mengangguk kecil. “Iya.”
Mas Arga menghela napas pelan. “Oke. Lanjut.”
Ara melanjutkan. “Yang kedua… soal Papah.”
Mas Arga langsung paham. Tapi ia tidak langsung memotong.
“Aku nggak mau Papah tahu kalau sebenarnya kamu bukan calon pengantin aku dari awal,” kata Ara. “Kita harus rahasia in itu sampai kapan pun.”
Mas Arga mengangguk. “Berarti kita tetap jalanin ini seolah dari awal ini emang rencana kita?”
“Iya.”
“Terus yang ketiga?”
Ara menunduk sebentar, lalu mengangkat lagi. “Soal itu,” katanya lebih pelan. “Aku nggak siap untuk… hal-hal yang terlalu dekat.”
Mas Arga langsung mengerti. Ia mengangguk pelan. “Maksud kamu, nggak ada sentuhan yang berlebihan diantara kita.”
Ara langsung mengangguk cepat.
Mas Arga menatapnya beberapa detik, lalu menggeser sedikit posisinya di kursi.
“Oke,” katanya akhirnya.
Ara mengangkat kepala. “Oke?”
“Iya,” jawab Mas Arga. “Aku bisa terima itu.”
Ara terlihat sedikit lega, tapi belum sepenuhnya.
“Tapi aku juga punya satu syarat,” lanjut Mas Arga.
Ara langsung menegang sedikit. “Apa?”
Mas Arga menatapnya lurus. “Kalau suatu saat kamu sendiri yang melanggar salah satu dari tiga poin itu…”Ia berhenti sebentar.
"…aku bebas melanggar kontrak kita.”
Ara mengerjap. “Maksud Mas?” tanyanya.
“Simple,” jawab Mas Arga. “Kalau kamu yang mulai melanggar batas yang kamu buat sendiri, berarti aturan itu udah nggak relevan. Dan aku nggak harus terikat lagi sama itu.”
Ara diam. Ia memproses kalimat itu pelan-pelan.
“Jadi kalau aku…” Ara berhenti, mencari kata. “Misalnya aku yang berubah sikap duluan…”
“Iya,” potong Mas Arga tenang. “Mas juga bakal langgar kontrak ini."
“Mas nggak mau rugi sendiri,” lanjut Mas Arga. “Aku nurutin semua yang kamu minta, tapi aku juga berhak minta sesuatu.”
Ara menatapnya lama. “Kalau aku nggak pernah melanggar?” tanyanya.
“Ya kontraknya tetap jalan,” jawab Mas Arga.
“Dan kalau aku melanggar…”
Mas Arga mengangguk. “Kia berdua sama-sama bebas, kontrak itu langsung batal.”
Wanita itu menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Oke.”
Mas Arga menatapnya. “Yakin?”
Ara mengangguk lagi. “Iya.”
“Ini bukan keputusan yang bisa kamu tarik lagi nanti,” kata Mas Arga.
“Aku tahu kok mas.”
Mas Arga akhirnya menggeser mangkuknya sedikit. “Ya udah. Kita jalanin.”
Ara mengangguk kecil.
Untuk beberapa detik, mereka tidak bicara. Hanya suara sendok yang mulai menyentuh mangkuk.
Ara akhirnya menyuap sedikit sup yang masih hangat itu. Rasa asin dan gurihnya ringan di lidah.
Mas Arga juga mulai makan.
Beberapa saat kemudian, Mas Arga bicara lagi.
“Kamu capek?”
Ara mengangkat kepala. “Lumayan.”
“Kerjaan banyak?”
“Iya.”
Mas Arga mengangguk. “Habis makan, istirahat aja.”
Ara menatapnya sebentar. “Mas nggak nanya lagi soal kontrak?”
"Ada satu hal." Mas Arga menyimpan sendoknya. "Aku masih bisa deket sama kamu kan walau bukan sebagai suami istri? Seperti poin kamu yang pertama?"
Pertanyaan dari pria itu hanya dibalas anggukan oleh Ara "Kita kan dulunya deket, nggak mungkin tiba-tiba asing cuman karena ini."
"Kalau gitu jadiin nomor ponsel Mas sebagai nomor darurat, kalau ada apa-apa telfon Mas, sering berkabar juga. Kalau gitu nggak papa kan?"
Wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum menjawab ragu, "Iya Mas, nggak papa."