Kamar Ara sore itu sangat jauh dari kata rapi.
Di atas ranjang, ada tiga dress yang sudah terbentang. Satu warna hitam, satu soft blue, satu lagi nude dengan potongan simpel. Di kursi dekat jendela, ada dua pasang heels. Sementara di meja, ada banyak perhiasan seolah sedang di toko.
Dan di tengah semua itu, Ara berdiri sambil melipat tangan di d**a.
“Mas Arga!” teriaknya dari dalam kamar.
Suara langkah kaki terdengar dari luar, lalu pintu diketuk dua kali. “Kenapa Ra?”
“Mas masuk deh bentar.”
Pintu terbuka. Mas Arga berdiri di sana dengan masih memakai kaos rumah dan celana santai. Begitu melihat kondisi kamar, dia langsung berhenti.
“Kamu mau pindahan?” tanyanya datar.
Ara melotot. “Nggak lucu.”
Mas Arga masuk sambil menutup pintu pelan. Matanya menyapu isi kamar sekali lagi. “Ini semua pilihan kamu?”
“Iya.”
“Acara ulang tahun Tante Mala doang kan?”
Ara langsung nyaut, “Mas, itu bukan ‘doang’. Itu acara keluarga. Papah aku pasti ada. Dan kita harus pura-pura inget?”
Mas Arga ngangguk santai. “Iya, inget.”
“Nah, jadi harus proper.”
Mas Arga mendekat ke ranjang, melihat satu-satu dress yang ada. “Yang ini terlalu formal,” katanya sambil nunjuk dress hitam.
Ara langsung menyambar, “Nah kan, aku juga mikir gitu. Terus yang ini?” Ujarnya sambil mengangkat dress berwarna nude.
Mas Arga miringin kepala dikit. “Itu kayak kamu mau ke lamaran orang.”
Ara mendengus. “Ya ampun Mas, ini susah banget ternyata ya jadi istri pura-pura.”
Mas Arga ketawa pelan.
Inilah maksud Ara saat ia mengatakan akan tetap menjadi adik sepupu seperti sebelumnya tanpa ada yang berubah.
Ara lalu ngambil dress terakhir. “Kalau yang ini?”
Mas Arga ngeliat lebih lama. “Hmm, lumayan lah.”
Ara menyipitkan mata. “Yakin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Mas Arga ngangkat bahu. “Enak dilihat aja.”
Ara bengong sebentar, lalu nyengir kecil. “Oke, valid.”
Dia langsung balik badan, dengan cepat mengganti baju tanpa basa-basi. Hal itu membuat Mas Arga refleks menengok ke arah lain.
Lalu perlahan berjalan keluar ke arah pintu.
“Eh, Mas jangan keluar dulu, bantu pilihin lagi dong!” kata Ara
Mas Arga geleng kepala pelan sambil nahan senyum. “Cepet.”
"Nah udah!"
Dress soft blue itu jatuh pas di badannya. “Gimana?” tanyanya sambil muter sedikit.
Mas Arga ngangguk. “hmm, cocok.”
Ara langsung senyum puas. “Oke fix.”
"Kamu mau pakai heels yang mana?" Tanya Mas Arga.
Ara yang berdiri di depan cermin langsung bebalik. "Bagusan yang mana?
Mas Arga jalan mendekat, lalu berjongkok sedikit untuk melihat lebih jelas. “Yang ini terlalu tinggi,” katanya sambil nunjuk heels pertama.
Ara langsung nyaut, “Tapi bagus.”
“Acaranya di taman loh, entar malah minjem sepatunya Jinan lagi kayak tahun lalu.”
Ara berhenti, mikir sebentar. “Bener juga.”
Mas Arga lanjut, “Yang ini aja.”
Ara langsung ambil yang kedua. “Mas Arga, jujur ya, kalau aku jatuh nanti di depan Papah, aku bakal diledekin terus sama Juan.”
Mas Arga ketawa kecil. “Makanya.”
Ara duduk di kursi, mulai memakai heels. Bunyi kecil terdengar saat hak sepatu menyentuh lantai. Laku ia berdiri sambil bejalan dua langkah dengan pelan
“Lumayan stabil,” katanya.
“Lumayan?” ulang Mas Arga.
“Ya nggak goyang-goyang amat lah.”
Mas Arga cumab menggelengkan kepalanya.
Ara kembali lagi ke meja rias. Kali ini fokus ke rambut. Dia membuka ikatan rambutnya, lalu ngacak-ngacak sedikit.
“Mas,” panggilnya lagi.
Mas Arga langsung refleks jawab, “Iya.”
“Rambut diikat apa dilepas?”
Mas Arga melirik sekilas lewat cermin. “Lepas aja.”
Ara nyengir. “Mas cepet banget jawabnya.”
“Karena kamu pasti nanya lagi nanti.”
Ara ketawa. “Kok Mas hafal sih?”
“Dari dulu juga gitu.”
Ara langsung berhenti sebentar. Lalu kembali melanjutkan seolah perkataan Mas Arga bukan apa-apa. “Yaudah lepas aja ya,” katanya.
Dia mengambil catokan lalu merapikan rambutnya perlahan.
Sementara Mas Arga hanya berdiri di belakang, bersandar ke lemari.
“Mas,” panggil Ara lagi.
Mas Arga langsung mengangkat tangannya dramatis. “Apa lagi?”
Ara ngelirik ke arah cermin. “Make up aku aneh nggak yah?”
Mas Arga ngeliat beberapa detik. “Enggak tuh.”
“Beneran?”
“Iya.”
Ara mendekat sedikit ke cermin. “Aku ngerasa muka aku kayak abis nangis tiga hari tiga malam.”
Mas Arga jawab santai, “Kan emang.”
Ara langsung nengok. “Mas!”
Mas Arga tertawa lepas sementara Ara hanya melirik jutek, meski ujung bibirnya diam-diam tetap naik ke atas juga.
“Yaudah lah ya, yang penting nggak serem.” wanita itu mengambil parfum lalu menyemprot kan sedikit ke pergelangan tangan.
Di saat itulah, ponselnya bergetar.
Ara langsung mengecek karena mengira itu dari Tante Mala.
Taoi ternyata...
Satu pesan masuk yang membaut tangannya berhenti sebentar.
-Unkown Number-
Aku harus jelasin ini, Ra
Ara terdiam beberapa detik menatap layar ponselnya. Membuat Mas Arga yang dari tadi di belakang akhirnya menyadari bahwa ada yang salah.
“Kamu kenapa?”
Saat Ara tersadar, wanita itu malah langsung mematikan layar dan membalikkan ponselnya di meja.
Andai saat itu ia bisa berkata jujur tanpa ragu.
“Oh, nggak ada apa-apa kok, Mas. Cuman email berita acara doang, kerjaan aku, bukan apa-apa kok.”
Meski curiga, Mas Arga memilih untuk mempercayai wanita itu saja.
Andai saat itu ia memilih bertanya lebih jauh.
Ara memilih kembali fokus ke cermin, berpura-pura mengecek make up-nya. Padahal catokannya bahkan masih ada di tangan kanan.
“Mas, aku udah oke belum?” tanyanya, nadanya kembali ringan.
Mas Arga ngangguk. “Udah.”
"Eh? Mas belum mandi yah?" Pertanyaan dari Ara itu hanya di balas gelengan santai dari Mas Arga.
Ara lalu berdecak. "Astaga, Mas! Kita tuh udah telat, kamu ini gimana sih?"
"Loh, siapa tadi hayo yang nahan Mas buat keluar cuman buat minta pendapat?" Mas Arga tersenyum jail.
Ara menarik napas panjang. “Yaudah sana buruan, nanti pasti macet, terus telat deh. Kita kan harus kasih kesan yang baik sebagai pengantin baru ke Papah.”
Mas Arga mengangkat alis. “Kamu heboh banget yah dari tadi.”
Ara nyengir. “Ya justru itu. Kita harus bersikap kayak biasanya, aku kan biasanya emang heboh."
Mas Arga lalu tersenyum kecil lalu mendekat dan mengacak-acak rambut Ara yang dari tadi sudah ia catok.
"MAS ARGA!"
Dengan cepat laki-laki itu berlari keluar kamar sambil tertawa.