"Izinin aku jelasin ini semua, Ra.. Please...."
Ara mengedipkan matanya berkali-kali. Untuk beberapa detik ia hanya mampu berdiri kaku di tempat.
Meneliti laki-laki yang dulu menjadi tempat ia menaruh hidupnya sendiri.
Arga kini tampak berbeda.
Tidak serapi yang Ara ingat. Rambutnya sedikit berantakan, kemejanya kusut, dan wajahnya terlihat lelah. Tapi bukan itu yang membuat jantung Ara terasa sesak.
Melainkan fakta bahwa dia ada di sini.
Di tempat yang sama.
Di hari ini.
“Ara…” ulang Arga pelan.
Dan itu cukup.
Ara langsung melangkah cepat, tangannya meraih lengan Arga tanpa aba-aba. Mencengkram dengan kuat.
“Ikut gue,” katanya pendek.
Arga sempat kaget, tapi tidak melawan. Ia mengikuti langkah Ara yang semakin cepat menjauh dari jalur utama taman.
Suara musik dari arah pesta mulai terdengar samar.
Ara berhenti di area yang lebih sepi, di belakang deretan semak bunga yang cukup tinggi. Ia langsung melepas tangan Arga dengan kasar.
“Ngapain lo di sini?!” Ujarnya sambil menaikkan nada bicaranya yang biasa lembut.
Arga menghela napas. “Aku ke sini nyari kamu."
Ara tertawa pendek, tidak ada lucu sama sekali di sana. “Nyari gue?”
“Iya.”
"Tau dari mana lo?! Lo masih sadap handphone gue yah?" Ara mendorong kasar bahu Arga yang tegap.
"Gue cuman mau mastiin keadaan lo."
Ara menggeleng, lalu melangkah mundur satu langkah. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Lo udah ilang berhari-hari lo sadar nggak sih?!” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Di hari pernikahan kita lo nggak dateng. Lo nggak bisa dihubungin. Terus sekarang lo muncul kayak nggak ada apa-apa?”
“Ara, aku bisa jelasin—”
“Jelasin apa?” potong Ara cepat. “Lo kabur? Itu penjelasan yang gue butuh?”
Napasnya mulai tidak beraturan. Ia menahan, terlihat jelas dari hembusan nafasnya yang terdengar kasar.
“Aku panik, Ra,” kata Arga. “Aku takut.”
Ara langsung ketawa lagi, kali ini lebih keras, tapi kosong. “Takut?”
“Dengerin aku du— ”
“Terus gue?” Ara menunjuk dirinya sendiri. “Gue nggak takut? Gue nggak panik? Gue nggak hancur?”Suaranya mulai bergetar. Tapi ia tetap berdiri tegak.
“Gue duduk di ruang rias, nungguin lo kayak orang bego,” lanjutnya. “Gue nelpon lo berkali-kali. Gue nangis. Gue bahkan nggak bisa keluar karena semua orang nungguin.”
Arga menunduk sedikit. “Aku tahu aku salah—”
“Lo tahu?” Ara mendekat satu langkah. “Lo tahu tapi lo tetep milih pergi.”
Hening sebentar.
Hanya suara angin yang lewat pelan.
“Ara, ada hal yang kamu nggak tau,” kata Arga lagi. “Aku bingung mau bilangnya gimana."
"Bilang Arga.. Kayak gue yang selalu cerita semua masalah gue ke lo. Gue jadiin lo rumah yang apa-apa gue andelin."
"Nggak segampang itu, waktu itu gue panik, gue bingung Ra.."
Ara menatapnya datar. “Terus solusi lo kabur?”
“Aku lagi butuh waktu pas itu.”
Ara menggeleng pelan. “Waktu itu lo ambil keputusan sendiri. Tanpa mikirin gue sama sekali.”
Arga mendekat sedikit. “Makanya aku ke sini. Aku mau benerin semuanya.”
Ara langsung mundur lagi. “Benerin gimana lagi sih?”
“Kita bisa mulai lagi, Ra.”
Kalimat itu menggantung.
Ara diam beberapa detik.
Lalu tertawa dengan sinis.
“Lo sadar nggak sih apa yang lo omongin?”
“Ara—”
“Gue udah nikah.”
Arga langsung jawab, “Itu bukan nikah beneran kan, Ra? Itu cuman boongan karena sebenarnya kamu mau nikah sama aku.”
Ara terdiam.
“Kamu pikir aku nggak tahu?” lanjut Arga. “Kamu oakai dia cuman biar kelihatan baik-baik aja kan di depan Papah kamu?”
"Nggak usah bawa-bawa Papah gue!"
"Kenapa Ra? Gara-gara dia kan? Gara-gara Papah kamu makanya kamu mau nikah boongan sama orang lain. Ternyata ada untungnya juga dia nggak pernah terlibat selama proses lamaran kemarin."
"Diem Lo!"
Ara menarik napas panjang. “Lo nggak ada di sana,” katanya pelan. “Lo nggak lihat apa yang terjadi.”
“Tapi aku tahu kamu nggak cinta sama dia,” kata Arga cepat. “Kamu cuma butuh penyelamat saat itu.”
Ara menatapnya nyalang.“Dan lo pikir lo penyelamat itu sekarang?”
Arga tidak langsung jawab. Ia malah menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada lebih lembut. “Ara, aku sayang sama kamu.”
Ara tidak bergerak.
“Aku cuma salah langkah,” lanjut Arga. “Aku takut, aku lari. Tapi sekarang aku balik. Aku di sini. Buat kamu.”
Ara menutup matanya sebentar.
“Kasih gue satu kesempatan lagi,” kata Arga.
“Lo tahu nggak,” katanya pelan, “gue sampai sesek napas cuman buat tungguin orang yang nggak niat dateng.”
Arga diam.
“Gue nangis di depan orang-orang yang nanya ‘calon suaminya mana’,” lanjut Ara. “Gue harus sembunyiin ini ke Papah aku sendiri karena takut ngecewain dia. Dan sekarang lo seenaknya gini?" Suaranya kini bergetar dengan sangat jelas, mungkin sebentar lagi ia akan menangis.
“Dan sekarang lo dateng, cuman bilang kalo lo sayang sama gue?”
Arga melangkah maju. “Karena itu kenyataannya! Cuman aku kan yang bisa sayang sama kamu, aku satu-satunya orang yang nggak akan ninggalin kamu.”
" Lo boong!" Ara langsung mundur beberapa langkah. “Jangan deket-deket,” katanya cepat.
Arga berhenti. “Ara, kamu juga punya salah,” katanya tiba-tiba.
Ara langsung mengangkat wajah. “Apa?”
“Aku mau dateng jelasin semuanya hari itu, tapi kamu malah udah laksanain akad sama orang lain."
Ara lansung tertawa kencang seolah meratapi nasibnya. “Jadi ini salah gue?”
“Aku nggak bilang sepenuhnya salah kamu—”
“Tapi gue punya salah?”
Arga mengangguk pelan. “Kita berdua salah.”
Ara menatapnya tidak percaya. “Gila kamu!"
“Ara, kalau kamu lebih ngerti aku waktu itu—”
“Cukup.”
Ara mengangkat tangannya sedikit, menghentikan Arga bicara.
“Lo ninggalin gue di hari pernikahan kita,” katanya. “Dan sekarang lo nyalahin gue karena sesuatu yang bahkan nggak siap buat lo ceritain?”
Arga menunduk sebentar sebelum akhirnya menatap sendu wajah Ara. “Aku cuma minta kita coba lagi,” katanya pelan.
Ara menggeleng. “Gue udah coba,” jawabnya. “Dan lo malah pergi.”
“Ara…” suara Arga melembut. “Please ikut aku dulu ke mobil, aku bakal ceritain semuanya. Aku butuh kamu sekarang , Ra..”
" Gue nggak mau!" Ara menatapnya lama. “Gue kemarin juga butuh lo, tapi lo nggak dateng sama sekali,” katanya.
"Ra aku—”
Dan tepat di saat itu. Langkah kaki terdengar cepat dari arah belakang.
“Ara.”
Suara itu familiar. Ara menoleh dengan cepat.
Mas Arga berdiri beberapa langkah dari mereka. Dengan rahangnya yang mengeras.
Matanya langsung tertuju ke sosok laki-laki di depan Ara.
“Mas…” Ara tidak tau bagaimana caranya ia menjelaskan situasi ini sekarang.
Tapi Mas Arga tidak menjawab. Ia berhenti tepat di depan Ara.
Lalu, tanpa banyak bicara, ia menarik Ara pelan ke belakangnya.
Posisinya langsung berubah.
Ara berdiri tepat di belakang Mas Arga. Seolah menjadikan tubuhnya tameng.
Mas Arga menatap sosok laki-laki itu dengan datar. “Lo siapa?”
Arga menghela napas. “Gue Arga. Calon suami Ara”
Mas Arga mengangguk kecil. “Calon doang kan? Kenalin, Saya Suami Ara.”
Ara yang mendengar itu dari balik tubuh suaminya hanya mampu menunduk. Ia mengusap air matanya yang sudah dari tadi ia tahan.Untung nya tubuh Mas Arga jauh lebih besar hingga menutupi dirinya yang sudah kalut.
"Kalau udah nggak ada kepentingan, silahkan pergi. Taman ini sudah di sewa oleh keluarga Kusumo."
Arga berdecih sinis. "Saya ada keperluan dengan Ara. Kamu nggak usah ikut campur."
"Oh tentu saja harus dong. Anda kan berurusan dengan Istri saya. Dan saya tidak mengizinkan Istri saya bertemu dengan Anda." Mas Arga menekankan kata 'Istri' di depan laki-laki itu. Membuat sosok di depannya hanya mampu berdiri kaku.