"Gue nggak bicara sama lo, gue bicara sama Ara." Arga Pratama menatap ke arah Ara yang berdiri di belakang.
“Ara, kita belum selesai. Kasih aku waktu sampai aku siap jelasin semuanya sama kamu.”
Mas Arga langsung sedikit geser, makin nutupin Ara dari pandangan itu. “Udah selesai,” katanya dingin.
Arga mengernyit. “Ini urusan gue sama dia.”
Mas Arga menjawab tanpa naik nada. “Sekarang dia istri saya.”
Ara semakin mematung di belakangnya dengan tangan masih gemetar.
Arga terdiam beberapa detik. Lalu tertawa kecil. “Lo serius?”
Mas Arga tidak merespon tawa itu. “Kalau anda punya masalah sama istri saya,” lanjutnya, “biar saya yang selesai in."
Arga menatapnya. “Lo nggak tahu apa-apa.”
“Saya nggak harus tau apa-apa,” jawab Mas Arga.
Akhirnya, Arga menghela napas panjang. Ia melirik Ara sekali lagi, tapi kali ini tidak mendekat. “Ara,” katanya pelan, “aku bakal nunggu kamu. Kamu tau kan”
Ara kembali terdiam. Dia semakin bersembunyi saat sadar bahwa Arga Pratama celingukan mencari dirinya dari balik tubuh kekar itu.
Dan Mas Arga tetap berdiri di depan. Lalu menatap dengan nyalang. “Mau apa lagi?” Nada suaranya mulai naik.
“Saya tanya sekali lagi,” katanya, suaranya lebih keras dari sebelumnya. “Anda ngapain di sini?”
“Gue udah bilang, gue mau ketemu Ara.”
“Dan saya juga udah bilang,” potong Mas Arga, “Anda udah ketemu, dan segala urusan Anda dengan istri saya sudah selesai.”
Arga tertawa sinis. “Lo sok ngatur.”
Mas Arga menggeleng kecil. “Saya memang punya hak mengatur istri saya."
Arga melangkah lebih dekat lagi. “Lo bukan siapa-siapa buat gue.”
“Saya suami Ara.”
Udara di sekitar mereka seolah berhenti sejenak.
Ara yang berdiri di belakang langsung terdiam.
Arga juga terdiam, tapi hanya sepersekian detik. Lalu ia tertawa. Kali ini lebih keras. “Suami?” ulangnya. “Lo serius ngomong gitu?”
Mas Arga tidak bergeser satu inci pun. “Saya suami Ara. Anda siapa ganggu istri saya?”
Arga menggeleng, masih dengan tawa yang terdengar dipaksakan. “Itu nikah karena keadaan. Jangan sok punya hak penuh.”
Mas Arga melangkah maju satu langkah. Sekarang jarak mereka sangat dekat.
“Anda nggak ada di sana,” katanya. “Jadi Anda nggak punya hak ngomong apa pun soal itu.”
Arga langsung menatap tajam. “Gue lebih kenal Ara dibanding lo.”
“Dan itu alasan Anda ninggalin dia?” balas Mas Arga cepat.
Suara mereka mulai terdengar lebih jelas, lebih tinggi.
Dari arah taman utama, beberapa orang mulai melirik.
“Mas…” Ara mendekat sedikit, tangannya hampir menyentuh lengan Mas Arga, tapi ia ragu.
Di depan, Arga semakin terpancing.
“Gue nggak ninggalin dia!” katanya keras. “Gue cuma butuh waktu!”
“Di hari pernikahan?” Mas Arga langsung potong. “Anda udah hilang tanpa kabar. Itu bukan butuh waktu, itu kabur namanya.”
“Lo nggak tahu apa yang gue rasain!”
“Dan Anda pikir dia nggak ngerasain apa-apa?”
Arga terdiam sebentar, tapi emosinya sudah terlanjur naik.
“Ara juga punya salah!” katanya. “Dia terlalu maksa semuanya sempurna!”
Ara langsung mengangkat kepala. da danya kembali terasa sesak lagi.
Mas Arga menatap Arga dengan sorot yang berubah lebih tajam. “Jangan pernah nyalahin dia.”
“Lo nggak tahu hubungan kita,” balas Arga.
“Saya nggak harus tau.” jawab Mas Arga. “Tapi intinya hubungan kalian nggak cukup kuat buat dia pantas dapet perlakuan kayak gitu.”
Arga mendekat lagi, hampir sejajar bahu. “Lo pikir lo lebih baik?” tantangnya.
Sebelum Mas Arga menjawab, Arga Pratama lalu menoleh ke belakang tubuh laki-laki di depannya.
“Ara,” panggil Arga, mencoba melewati Mas Arga. “Kamu denger sendiri kan?”
Ara refleks mundur setengah langkah. Lalu Mas Arga langsung bereser, menutup jalan itu sepenuhnya.
“Ngomong ke saya,” katanya.
“Gue ngomong ke Ara!”
“Dia nggak perlu denger apapun dari kamu.”
.
Ara bisa melihat jelas dari belakang, bahunya sedikit menegang. Ini bukan lagi sekadar bicara. Ini sudah hampir jadi perkelahian.
“Mas…” Kali ini Ara benar-benar mendekat. Tangannya pelan menyentuh lengan Mas Arga.
Mas Arga sedikit menoleh, tapi kembali menatap nyalang laki-laki di depannya itu.
Ara lalu mendekat lagi, sedikit menjinjit, sambil berbisik pelan di dekat telinganya.
“Mas… jangan di sini.”
Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. “Ada Papah di sini, aku takut dia tau.”
Kalimat itu seperti menarik Mas Arga kembali. Membuatnya mundur sambil menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya pelan.
Ia mundur setengah langkah.
“Pergi.”Katanya dingin.
Arga Pratama menggeleng. “Gue belum selesai.”
Mas Arga tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku.Menekan sesuatu.
Tidak sampai satu menit, dua orang security taman datang dari arah samping. Seragam mereka rapi, langkahnya terdengar begitu tergesa.
“Pak?” salah satu dari mereka bertanya.
Mas Arga menunjuk ke arah Arga tanpa menoleh. “Orang ini bukan bagian dari tamu kami.”
Security itu langsung memahami situasi.
“Maaf, Pak. Ini area private,” katanya ke Arga. “Kami minta Bapak untuk keluar.”
Arga langsung tertawa keras. “Serius? Lo manggil security?”
Mas Arga tidak menjawab.
Arga menatap Ara sekali lagi. Kali ini lebih lama. “Ara,” katanya, suaranya naik lagi. “kamu mau diem aja?”
Ara tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam ujung baju Mas Arga tanpa sadar.
“Ara!” panggilnya lagi, lebih keras.
Security mulai mendekat lebih tegas.
“Pak, silakan keluar sekarang,” ulang mereka.
Arga mengibaskan tangan mereka. “Jangan sentuh gue!”
Suaranya mulai terdengar tidak stabil. “Jadi kayak gini? Kamu mau kita selesai kayak gini?!" teriaknya ke arah Ara. “Nggak bakal, Ra! aku nggak bakal tinggalin kamu!”
Ara menunduk. Tak berani menghadapi sosok laki-laki itu.
“Bawa dia keluar secepatnya,” kata Mas Arga ke security.
Kali ini dua orang itu langsung memegang lengan Arga, mencoba mengarahkannya ke pintu keluar taman.
Arga memberontak sedikit. “Lepasin!” teriaknya. “Ara! Denger aku, Ra!”
Suaranya semakin menjauh. Masih terdengar, tapi semakin samar sering waktu.
"ARA! KAMU YAKIN PERLAKUIN AKU KAYAK GINI HAH?!"
Sampai akhirnya benar-benar hilang di balik kesunyian yang datang.