12

1001 Words
Setelah kejadian itu, keduanya sepakat untuk meninggalkan acara sebelum waktunya. Meski banyak pertanyaan dari Tante Mala, maupun Papahnya Ara, mereka tetap memilih pergi dari sana. Ara hanya duduk dengan tenang di kursi penumpang, menatap ke luar jendela tanpa benar-benar fokus pada apa yang ia lihat. Lampu jalan hanya ia perhatikan satu per satu, memantul di kaca, lalu hilang begitu saja. Tangannya sudah tidak gemetar. Tapi ia membuat jari-jarinya saling menggenggam, sesekali bergerak pelan seperti menenangkan diri sendiri. "Mau singgah makan dulu nggak?" Tapi Ara tidak menjawab, pikirannya mengelana kemana-mana. Lalu Mas Arga memilih kembali fokus ke jalan daripada memaksa wanita itu untuk bercerita. Beberapa hal memang tidak perlu ditanyakan saat itu juga. Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Ara menarik napas pelan, lalu turun dari mobil setelah Mas Arga membuka kan pintu untuknya. "Aku udah pesenin makan pas di mobil tadi, kayaknya udah mau sampai." Ara hanya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam rumah. Mas Arga menyusul di belakang, menutup pintu, lalu meletakkan kunci di meja seperti biasa. Begitu sampai di lantai atas, Ara langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Mas Arga berdiri di bawah, menatap ke arah tangga beberapa detik. "Ra, Jangan lupa turun bentar yah buat makan." Lalu menghela napas pelan saat tidak mendapati jawaban. Ia lalu berjalan menuju dapur lalu duduk di sana. Tangannya masuk ke saku, mengambil ponsel. Beberapa detik ia mengotak-atik layar. Lalu menekan satu kontak. Panggilan tersambung. “halo," suara di seberang terdengar cepat. “Ada apa?" “cari in gue informasi tentang seseorang ,” kata Mas Arga singkat. “Tentang Arga Pratama.” Hening sebentar di seberang. “Yang… tadi di acara itu? Mantan Ara kan?” tanya asistennya memastikan. “Iya.” “Lo mau yang lengkap banget nih?” “Semua yang lo bisa dapet.” “Siap. Tambahin gaji gue yah.” “Tergantung secepat apa lo bisa kasih.” Lalu oanggilan ditutup tanpa basa-basi. Mas Arga terdiam beberapa detik, masih memegang ponsel. Lalu berjalan ke ruang kerja kecil di dekat ruang tamu. Ia duduk di kursi, lalu membuka laptop dengan santai. Tangannya bergerak di keyboard, membuka beberapa file, mencoba mencari informasi apa pun yang bisa ia dapatkan sekarang. Suara jam dinding terdengar pelan. Detik demi detik berjalan. Sampai tiba-tiba— Semua mati. Lampu padam. Rumah itu mendadak sunyi. Mas Arga hanya berdecak pelan, melupakan bahwa ada orang lain di rumah ini yang tidak bisa setenang dirinya. Beberapa detik, tidak ada suara. Sampai— “Mas Arga!” Suara Ara terdengar dari lantai atas. Terdengar panik. “Mas Arga!” Mas Arga langsung berdiri. Langkahnya cepat menuju tangga menggunakan penerangan dari handphone nya. “Iya!” balasnya. “Iya, Mas ada di sini!” Ia bahkan naik dua anak tangga sekaligus. Gelap membuat langkahnya sedikit melambat, tapi ia tetap bergerak cepat mengikuti arah suara. “Mas!” Suara Ara terdengar lagi. Lebih dekat. Mas Arga sampai di depan kamar Ara. Lalu langsung membuka pintu itu dengan keras. “Ara!” panggilnya khawatir. Di sudut ranjang, Ara terduduk lesu. Tangannya memeluk dirinya sendiri, bahkan suara napasnya terdengar cepat. “Mas…” suaranya lebih kecil sekarang, tapi masih jelas panik. Mas Arga langsung naik ke atas ranjang. “Iya, aku di sini.” Ara pun langsung mendekat tanpa pikir panjang. Tangannya meraih lengan Mas Arga, menggenggam kuat. “Lampunya mati…” “Iya, listriknya padam, biasanya jarang kejadian kok.” jawab Mas Arga tenang. Ara menggeleng cepat, seolah tidak peduli penjelasan itu. “Gelap banget… Aku takut...” Mas Arga menghela napas pelan. Ia bisa merasakan genggaman Ara yang belum juga tenang itu. Dengan refleks dia langsung meneluk tubuh Ara. "Kalau kayak gini, termasuk pelanggaran kontrak nggak?" Ujarnya pelan. Ara lalu terdiam sebentar sebelum menjawab. Kemudian menggeleng dalam dekapan laki-laki itu. "Nggak kok, kan nggak berlebihan." lalu keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Kamu habis nangis lagi yah?" "Nggak kok." "iya-iya Mas percaya kok." Ara yang kesal lalu mencubit pinggang laki-laki itu yang masih ada dalam peluknya. "Kalau nangis emang kenapa hah? Gara-gara lampunya mati tau, bukan gara-gara cowok breng sek itu!" Mas Arga mengerang kesakitan, lalu tertawa kecil. "Iya dong, Masa Ara nangis gara-gara cowok breng sek itu. Yang bener aja." Lalu Ara hanya kembali berdecak. Sambil mendusel kan kepalanya di da da bidang milik Mas Arga. “Ara,” kata Mas Arga pelan. “Iya…” “Kamu masih takut gelap?” Ara mengangguk pelan. “Iya.” Suaranya kecil. Wanita itu sudah mulai tenang, tapi ia masih belum melepas pelukannya. “Mas…” panggilnya lagi. “Iya.” “Jangan keluar ya.” Mas Arga melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Ara. “Iya, Mas di sini kok.” Ara mengangguk. Ia menarik napas lebih dalam, mencoba mengatur dirinya sendiri. “Mas kakau mau… tidur di sini aja.” Mas Arga diam. Beberapa detik. Ara buru-buru nambah, “Maksudnya… sampai listriknya nyala aja.” Nada suaranya terdengar cepat, seperti takut disalahartikan. Mas Arga menghela napas pelan. Mencoba menahan senyumnya yang mulai muncul. Meski tidak akan ketahuan juga karena gelap. “Iya.” Ara langsung mengangguk. “Mas belum ngantuk?” tanya Ara pelan sambil melepas pelukannya. “Belum, kamu tidur duluan aja. Biar Mas yang jagain,” jawabnya sambil mengatur posisi tidur Ara. Ia pun ikut berbaring, setelah memastikan wanita itu juga berbaring. Tapi Mas Arga memilih menjaga jarak. Pelukan itu sudah lepas dan Mas Arga bingung harus bertindak bagaimana. "Mas..." "Iya, Ra? Kamu butuh apa?" "Emmm... Aku masih takut.." Mas Arga lalu tersenyum kembali, kini terang-terangan walaupun tidak disadari oleh wanita itu. "Iya, Ra. Jadi Mas peluk lagi nih?" "Kalau boleh." "Iya, iya. Boleh kok." "Ini nggak melanggar kontrak kan?" Tanya Mas Arga saat tamgannya sudah melingkar di punggung wanita itu. Ara menggelengkan kepalanya. "Dibilang nggak, ini kan nggak berlebihan, jangan-jangan Mas terpaksa yah?" "Nggak, Mas rela banget malah meluk kamu." Ujarnya lembut. "Yaudah diem." "Nggak boleh ketawa?" "Nggak!" Dan lagi-lagi, Mas Arga hanya mampu tersenyum dari balik kegelapan itu. Menyembunyikan rasa gemas pada sag istri yang untung saja tertutupi dengan sempurna. "Selamat malam, Mas." "Selamat malam, Ra."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD