13

1084 Words
Dan tibalah waktu pagi datang Cahaya matahari masuk dari sela tirai, jatuh tipis di lantai lalu merambat ke atas kasur. Udara kamar terasa lebih hangat dibandingkan malam tadi. Mas Arga sebenarnya sudah bangun lebih dulu. Ia memilih berdiam diri di sana, dalam pelukan sang istri tanpa berniat berganti posisi sama sekali. Ia tak pernah membayangkan wajah Ara adalah hal yang pertama kali ia lihat saat bangun tidur. Mas Arga bahkan menahan napas beberapa detik, takut gerakan kecil saja bisa membangunkan Ara. Tangannya yang semalam berada di samping sekarang terjebak di antara tubuh mereka. Ia tidak berani menariknya. Beberapa menit berlalu. Mas Arga hanya bisa menatap. Lalu menghela napas pelan, hampir tidak terdengar. “Cantiknya istri Mas…” gumamnya dalam hati, tapi tidak benar-benar mengucapkannya. Ara lalu bergerak sedikit. Mas Arga refleks memejamkan mata. Ia berpura-pura tidur entah karena apa. Sementara Ara sudah mengerjapkan matanya pelan. Cahaya pagi menyilaukan sedikit, membuatnya mengernyit. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Beberapa detik. Lalu ia sadar. Tangannya masih melingkar pada sesuatu. Dan yang ia peluk jelas bukan bantal karena sangat berat. Ara langsung membeku. Matanya terbuka lebar seketika. "EH?!" Ia menatap wajah Mas Arga yang tampak tenang seperti masih tidur. Ara langsung menarik tangannya dengan pelan. Lalu duduk tegak. "Mas Arga kok nggak pindah kamar ih, malah ketiduran di sini." Lalu— “ASTAGA!” Suaranya langsung pecah menghancurkan pagi yang tenang itu. Mas Arga yang kaget mencoba tetap konsisten berpura-pura tidur. Ara langsung berdiri dengan gerakan cepat hingga tanpa sadar, kakinya tersangkut selimut. “AHHH !!” Bruk. lututnya menghantam paha milik Mas Arga. “Duh!” keluhnya sambil meringis. Meski kesakitan, Mas Arga masih menahan diri untuk tidak bereaksi. Padahal dia sudah berteriak kesakitan dalam hati. "Aduhh, maaf yah Mas. Untung aja nggak kebangun, maaf yah Mas... " Ara berdiri lagi, kini lebih memerhatikan pijakannya. Tangannya meraba wajah sendiri, lalu melihat jam di meja samping. Dan— “ASTAGA!” Kali ini lebih keras. Mas Arga hampir refleks membuka matanya, tapi masih menahan. “Aku telat! Aku telat! Ya ampun!” Ara langsung mondar-mandir kebingungan di dalam kamarnya sendiri. "Oh iya! Cari baju dulu!" Pintu lemari dibuka agak keras. Bunyi kayu beradu terdengar jelas yang sebenarnya membuat Mas Arga semakin susah melanjutkan aktingnya. “Aduh, baju mana sih…” gumamnya cepat. Ia menarik satu baju. Lalu berhenti. “Belum disetrika…” Ia buang lagi ke dalam. Ambil yang lain. “Ini juga kusut banget ih… ya ampun gimana dong!” Mas Arga akhirnya membuka matanya sedikit. Penasaran dengan wajah imut Ara yang tengah panik. Ara berdiri di depan lemari dengan gelisah, tangannya bergerak cepat bolak-balik antara gantungan baju. Ia lalu menoleh ke arah tempat tidur. Melihat Mas Arga yang membuka matanya. Awalnya dia tidak sadar, hingga beberapa detik kemudian ia kembali menoleh. "Loh, perasaan tadi matanya kebuka deh." Begitu pintarnya Mas Arga ber akting. “Mas…” Panggil Ara. Tapi tdak ada respon. Mas Arga tetap memilih pura-pura tidur. Ara lalu mendekat sedikit. “Mas Arga…” Masih tidak ada respon. Ara menyipitkan mata lalu mengangguk kecil sendiri. “Oh, masih tidur ternyata." Ia berbalik lagi. Lari kecil ke arah kamar mandi. Beberapa detik kemudian — “EH ASTAGA!” Suara teriakan itu menggema dari dalam kamar mandi Mas Arga menutup matanya semakin erat, berusaha tidak tertawa. Pintu kamar mandi terdengat dibuka dengan cepat. Langkah Ara dengan keras keluar dari sana . “Handukku mana sih?!” katanya sendiri. Ia melihat ke kursi. Lalu langsung menarik handuk berwarna merah yang bertengger di sana lalu kembali berlari masuk ke kamar mandi. Mas Arga yang sedang mengintip itu hampir saja reflek berteriak agar wanita itu tidak berlarian. Untung saja berhasil ia tahan. Beberapa menit kemudian, Ara keluar dengan rambut setengah basah. Tangannya sibuk mengeringkan dengan handuk. Ia kembali ke lemari dan menganbil baju lagi. Meski kali ini dipilih asal. “Udah lah, yang penting nutup,” gumamnya. Ara langsung mengganti pakaiannya di depan lemari. Membuat Mas Arga yang sedang mengintip langsung mengubah posisi badannya jadi membelakangi wanita itu dengan cepat. Untung saja, Ara yang sedang grasak-grusuk itu tidak sadar. "Aduh, jangan sampai aku kelupaan laptop…” Ia langsung menoleh ke meja. “Mana berita kemarin belum diketik lagi...” Ara memijat pelipisnya sendiri. “Ya ampun, semalam aku nggak ngetik apa-apa…” Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Liputan jam berapa sih hari ini…” Ia berhenti. Meneliti jadwal yang tertera. Lalu— “SETENGAH JAM LAGI?!” Mas Arga hampir ketawa. Ara langsung lari ke meja. Membuka laptopnya dengan buru-buru. Bunyi keyboard cepat dan tidak beraturan. “Judul… judul apa ya…” Ia berhenti lagi. “Fokus Ara, fokus…” Ia tarik napas. mengetik lagi. Mas Arga akhirnya tidak tahan. Ia mengerjapkan matanya. Melakukannya se natural mungkin seolah-olah memang baru bangun. “Pagi Ra…” Ara langsung menoleh. “Mas, aku telat!” “Iya, kelihatan.” Ara langsung berdiri lagi. “Mas udah makan belum?” Mas Arga menggeleng. "Belum, Ra Aku aja baru bangun.” Ara langsung panik lagi. “Ya ampun! Mas harus makan!” “Tenang aja—” “Nggak bisa tenang!” potong Ara cepat. Ia langsung berjalan ke arah pintu kamar. Lalu kembali lagi mengambil tas. Lalu berhenti lagi. “Handphone… Handphone aku mana yah…” Mas Arga menunjuk meja. “Di situ.” Ara langsung mengambil dengan cepat. “Mas nanti makan ya, jangan lupa! Ada roti kayaknya di dapur, atau nggak Mas pesen aja, jangan kosong perutnya!” Mas Arga mengangguk pelan. “Iya.” " Oh iya, aku naik taksi biar bisa sambil ngetik di jalan. Soalnya udah telat banget! " Mas Arga kembali mengangguk sambil menyembunyikan tawanya. " Kamu ke kantor tanpa ngeringin rambut kamu?" Ujarnya saat melihat rambut Ara yang masuh setengah basah. " Gampang, tinggal ke ruang presenter juga aman kok. Paling dibantuin Lena nanti. " Mas Arga lalu kembali mengangguk. "Udah yah Mas, nggak usah banyak tanya lagi. Aku udah telat banget ini." "Eh tadi naik apa?" "Naik taksi mas, udah pesen kok." "Kenapa nggak naik mobil sendiri?" Tanya Mas Arga dengan jail. "Biar bisa ngetik Mas di jalannya......" Jawab Ara dengan gemas. Lalu Mas Arga tertawa lepas. "Mas nyebelin ah!" "Haha! Iya-iya, sana pergi. Hati-hati yah.." "Nggak usah nanya-nanya lagi!" Mas Arga mengangguk. "iya, nggak nanya lagi." Ara berdiri di depan pintu, lalu berbalik lagi berjalan mendekat ke arah Mas Arga. Wanita itu mengulurkan tangannya. "kenapa? Mau uang jajan?" Mas Arga kembali menjaili Ara neski melihat wajah sang istri yang sudah sangat kusut. "Salim dong! Ihh Mas ah!" "Oh, Salim. Hahah...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD