Mungkin benar kata pepatah, untuk jadi orang besar kita harus melewati hal-hal besar pula. Tidak ada sesuatu yang diraih dengan jalan yang benar-benar mudah dan lancar. Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga ternyata dibutuhkan usaha yang tak main-main seriusnya, juga pengorbanan yang tak sedikit tentunya.
Saat ini, Renjana mungkin baru saja mengorbankan perasaannya, menelan begitu saja penghinaan yang baru saja ia dapatkan. Tapi entah suatu hari nanti. Mungkin ia harus mengorbankan lebih banyak hal lain yang tentu belum ia ketahui sekarang.
Ia sedikit demi sedikit mulai mengerti apa yang dialami oleh ayahnya dulu. Mungkin seperti inilah perasaan ayahnya ketika itu, ketika ia hanya dipandang sebelah mata di awal merintis pabrik. Lalu bagaimana cara ayah supaya bisa bertahan dan terus maju pada akhirnya, tanya Renjana dalam hati.
Dadanya terasa sesak mengingat ia tak akan mendapat jawaban itu, bahkan menanyakannya saja sudah tak mungkin. Tiba-tiba kerinduan itu menyergapnya. Bersama sesal yang tak kunjung terobati.
Andai ia sedang tidak dalam situasi yang rumit seperti sekarang, ia mungkin akan menghabiskan waktu di kamar dan menangis lebih lama, sepuasnya. Sayangnya, ia hanya punya sepuluh menit sebelum acara akan kembali dimulai. Cepat-cepat dibasuhnya wajahnya berharap hati dan pikirannya akan merasa lebih baik setelahnya. Beruntung ia bukan tipe gadis yang direpotkan oleh urusan make-up. Karena itu, setelah mengeringkan wajahnya, ia hanya berniat memoleskan sedikit bedak yang terbawa air.
"Apa kau benar-benar hanya lulusan sekolah kejuruan?" Sebuah suara terdengar dari arah belakang ketika Renjana tengah memastikan tak ada jejak-jejak air mata lagi di wajahnya. Renjana menatap sesosok wanita cantik dari cermin di depannya. Sosok yang ia kagumi karena presentasinya begitu memukau seperti juga penampilannya hari ini. "Aku menanyakan hal itu bukan bermaksud untuk menghinamu, jika itu yang kau pikirkan. Sebaliknya, justru aku kagum padamu. Kau punya tekad sekuat baja aku rasa. Oh ya, kenalkan, aku Regina."
"Ya, saya tahu nama Anda, Nona Regina. Design maupun presentasi Anda bagus sekali. Anda pasti lulusan universitas ternama atau bahkan luar negeri. Anda juga nampak sudah sangat berpengalaman, tidak sepertiku."
"Apa kau akan membiarkan tanganku ini menggantung seperti ini? Ayolah, apa kau pikir aku benar-benar hanya ingin mencelamu karena latar belakang pendidikanmu?"
Renjana tidak tahu apakah yang dikatakan wanita di hadapannya itu sungguh tulus. Hatinya sudah terlanjur sakit dan ia jadi cenderung ingin berprasangka buruk pada semua orang yang ada di sana. Tapi entah mengapa ia merasa bahwa wanita bernama Regina itu sebenarnya memang orang yang baik. Setelah beberapa saat menimbang, ia pun akhirnya meraih tangan yang diulurkan padanya itu.
"Baiklah, saya akan menganggap bahwa Anda memang berbeda dengan mereka."
"Tentu saja."
Renjana melihat senyum mengembang di bibir Regina. Ia pun membalasnya meski masih terkesan agak canggung. Mereka lalu berjalan bersama untuk kembali ke ruangan meeting sebelumnya untuk melanjutkan satu lagi presentasi yang harus disajikan Renjana. Sepanjang perjalanan yang singkat itu Regina terus menyemangati Renjana dan menyarankan untuk tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di presentasi sebelumnya. Perlahan Renjana pun merasa sedikit lebih tenang.
Ia bertekad untuk semaksimal mungkin menyampaikan pada mereka yang hadir mengenai design yang sudah susah payah ia buat. Sebuah karya yang ia kerjakan dengan keseriusan dan penuh perasaan. Ia tak peduli lagi bagaimana pandangan orang-orang yang merendahkannya hanya karena ia lulusan sekolah kejuruan. Toh buktinya ia berhasil sampai pada tahap final. Bukankah itu artinya karyanya memang layak diperhitungkan, batin Renjana.
Tapi meskipun ia merasa telah berusaha menyajikan presentasi dengan sebaik mungkin, tetap saja orang itu seolah tak pernah puas. Ya, orang yang sama yang telah menghinanya pada presentasi sebelumnya, presentasi rancang bangun cottage-nya. Padahal Renjana dapat melihat adanya perubahan pada raut wajah beberapa orang yang kali ini nampak terkesan dengan design furniturnya. Atau mungkin mereka hanya heran bagaimana mungkin ia bisa maju ke final untuk dua kategori yang berbeda.
"Sebelum mengikuti kontes ini, tidakkah Anda mempelajari seluk-beluk perusahaan ini terlebih dahulu? Ritel furnitur Chandra Khan selama ini mengedepankan prinsip modernitas dan kepraktisan dalam setiap produknya. Apa yang membuat Anda begitu percaya diri sehingga mengajukan design ini?"
"Saya memang berasal dari sebuah kota kecil, tapi saya merasa tidak kurang pengetahuan mengenai Chandra Khan Group. Apalagi akses informasi yang ada saat ini memudahkan saya untuk mencari tahu seperti apa perusahaan ini. Saya tahu pasti prinsip itu, maka dari itu saya merasa tak perlu ragu untuk mengikutsertakan design ini. Lagi pula, andai design saya memang tidak cukup berkualitas dan memenuhi standard Chandra Khan Group saya tidak akan berdiri di sini, bukan?
Baiklah, maaf karena sudah sedikit melenceng. Kembali pada persoalan design ini, mengapa saya begitu yakin jika perusahaan ini menjual produk yang saya design maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang signifikan. Sesuai dengan tujuan diadakannya kontes ini yaitu guna memperingati lima puluh tahun berdirinya perusahaan ini, saya juga menangkap sisi sentimentil yang tersirat yaitu mengenang pendiri perusahaan yang ternyata juga seharusnya berulang tahun pada hari ini.
Seorang yang bijak, seperti apapun ia telah maju dan beranjak dari masa lalunya, ia tetap tidak akan berhenti berterima kasih pada masa lalunya tersebut. Seburuk apapun itu, sesulit apapun ia melewatinya dahulu. Karena tanpa masa lalu itu tentu ia tak akan dapat belajar dan kemudian mengambil langkah terbaik hingga pada akhirnya berhasil meraih masa depan yang lebih baik.
Kursi goyang ini, mungkin bagi sebagian orang hanya terlihat sebagai barang kuno, ketinggalan zaman. Tapi kursi ini sesungguhnya merepresentasikan sebuah perenungan. Perenungan berdasarkan masa lalu yang telah dilalui seseorang untuk menemukan benih kebijaksanaannya, kita dapat melihatnya dari design ukirannya yang berupa biji yang mulai berkecambah. Design ini adalah pesan bahwa hendaknya kita menjadikan masa lalu itu sebagai benih kebijaksanaan yang ditanam, lalu tumbuh dan berbuah, kemudian kembali memberikan benih. Berulang seperti itu seperti sebuah siklus. Karena kebijaksanaan tidak memiliki batas, ia terus tumbuh dan berkembang hingga nyawa terlepas dari badan.
Saya rasa nilai-nilai itulah yang mulai luntur dalam prinsip modernitas saat ini yang mengedepankan kepraktisan. Karena itulah produk yang saya tawarkan ini ibarat pengingat bagi customer, juga bagi kita semua di industri ini, bahwa masa kini juga masa depan tak akan ada tanpa masa lalu. Sekian dan terima kasih."
Sejenak ruang mendadak membeku. Tak ada satu pun suara terdengar setelah Renjana menutup penjelasannya. Semua mata tertuju padanya dengan pandangan yang bermacam-macam dan sulit diartikan. Gadis itu sendiri masih agak kurang percaya bahwa ia dapat berbicara sepanjang itu. Meski ia pun tak terlalu yakin apakah penjelasan itu cukup memuaskan atau tidak. Apapun itu, ia bersyukur tidak pingsan di tempat karena gugup.
Mungkin kegugupannya itu lenyap begitu pertanyaan dari seorang dewan direksi yang nampak paling senior itu diucapkan. Seseorang yang sejak awal pengamatannya selalu berusaha menjatuhkan para kandidat. Apakah memang seperti itu caranya untuk menguji kemampuan para kandidat, batin Renjana.
Keheningan yang terasa mencekam itu berlangsung beberapa menit hingga tiba-tiba terdengar suara roda kursi yang bergeser dan tepuk tangan lambat tapi mantap. Seketika semua pandangan menuju pada arah si pelaku pembuat suara tersebut, seseorang yang duduk di kursi yang berseberangan dengan layar proyektor. Siapa lagi kalau bukan sang CEO yang terkenal dingin dan minim ekspresi itu, Harris Chandra Khan.
Sebelum orang lain bereaksi atas perbuatannya itu, ia pun segera menyampaikan hal yang membuat orang-orang dalam ruangan itu tak punya pilihan lain kecuali terdiam dalam sesuatu yang terasa menggoncang pemikiran mereka.
"Saya, sebagai CEO perusahaan ini maupun sebagai seorang cucu dari almarhum kakek, merasa sangat beruntung bisa berjumpa dan melihat karya Anda, Nona Renjana. Apa yang Anda sampaikan sungguh menggugah pemikiran saya, mengingat kembali nasehat almarhum kakek yang mana kurang lebih sama seperti yang baru saja Anda sampaikan. Bahwa apapun yang ada pada diri kita saat ini dan nanti adalah berkat pengajaran yang terserap dari masa lalu. Merepresentasikan suatu prinsip hidup dalam sebuah karya adalah satu hal yang mengagumkan, satu pekerjaan dari seniman sesungguhnya."
Setelah menyelesaikan tanggapannya yang mengejutkan mereka yang ada dalam ruangan itu, Harris kembali bertepuk tangan. Bedanya, kali ini tepuk tangannya diikuti oleh suara tepuk tangan yang lain. Ruangan itu pun seketika dipenuhi keriuhan, ditambah dengan gumaman dan bisik-bisik yang kurang lebih menyatakan dukungannya pada apa yang disampaikan oleh lelaki berdarah dingin itu. Mereka semua berdiri tak terkecuali beberapa orang yang mungkin dalam hati sebenarnya tengah merasa begitu kesal. Tapi tentu saja tak ada yang bisa dilakukan saat ini selain mengikuti saja kemana arus mengalir, apalagi jika arus itu dikendalikan oleh ia yang paling berkuasa di sana.
"Nenek tidak menyangka seorang Harris akan turun tangan sendiri mengatasi kekacauan." Latifa membuka suara begitu mobil yang mereka tumpangi mulai melaju. Ya, perhelatan yang menentukan siapa pemenang dari kontes design yang diadakan Chandra Khan Group telah berakhir beberapa saat lalu. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada acara gala dinner malam nanti di salah satu hotel ternama di pusat kota. Sementara saat ini, mereka tengah menuju kembali ke rumah untuk melepas penat.
"Jadi, Nenek ingin agar saya diam saja?"
"Bukan seperti itu maksud nenek. Hanya saja nenek penasaran apa yang akan terjadi andai kau menahan dirimu sedikit lebih lama. Nenek rasa hal itu akan bagus supaya gadis itu belajar lebih banyak."
"Dia sudah cukup belajar dari presentasi pertamanya. Buktinya pada presentasi kedua dia jauh lebih tenang dan berani."
"Kau tertarik pada gadis itu, Harris?"
"Apa maksud Nenek?" Harris sedikit menggeser duduknya seolah merasa kurang nyaman. Ia menatap sang nenek masih dengan wajah datarnya.
"Kau tertarik pada gadis bernama Renjana Saga itu. Oleh sebab itulah, kau tidak mau membiarkan Andy bertindak lebih jauh dan mengatakan lebih banyak hal yang mungkin akan jauh lebih menyakitkan baginya."
"Nenek tahu sendiri bahwa saya memang sejak dulu tidak pernah menyukai laki-laki itu." Jawab Harris setelah terdiam beberapa detik dan mengalihkan pandangannya pada jendela mobil di sampingnya.
"Ya. Nenek tidak lupa satu hal itu. Tapi bagaimanapun, dia adalah orang yang tidak boleh kau singgung seenaknya. Apa yang kau lakukan tadi mungkin akan membuatmu sedikit kesulitan di kemudian hari."
"Nenek tidak perlu khawatir. Saya akan lebih berhati-hati lagi lain kali."
"Bagus kalau kau mengerti. Soal gadis itu, nenek juga melihat potensi yang dimilikinya. Nenek tidak masalah jika kau ingin merekrutnya untuk bergabung dalam perusahaan. Tapi kau harus membuatnya mengerti segala resiko yang mungkin akan ia hadapi terkait dengan latar belakang pendidikannya. Secerdas apapun gadis itu, sehebat apapun bakatnya, kenyataannya klien tentu akan terlebih dahulu melihat portofolionya."
"Saya mengerti. Terima kasih untuk nasehat dan dukungan yang Nenek berikan."
"Kau adalah satu-satunya cucu nenek. Kau satu-satunya penerus Chandra Khan. Nenek tahu beban itu mungkin berat bagimu. Tapi nenek harap kau selalu menjalaninya dengan senang hati. Meski Chandra Khan Group juga penting bagi nenek karena itu adalah mimpi dan kerja keras keluarga kita, tapi nenek juga ingin supaya kau bahagia dan menikmati hidupmu."
Harris merasa terenyuh mendengar kata-kata neneknya. Meski ekspresinya tak jauh berubah, hanya senyum tipis yang membuatnya nampak sedikit lebih manusiawi. Laki-laki itu meraih jari-jemari wanita tua di sampingnya itu dan mengecup punggung tangan keriputnya dengan takzim, mengisyaratkan hormat dan rasa sayangnya pada satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
**