Part 6

1721 Words
Pagi ini lobi gedung Chandra Khan Group nampak jauh lebih ramai dari biasanya. Hari ini adalah hari penentuan siapakah yang akan mendapat gelar juara kontes design yang diadakan perusahaan multinasional ini. Nampak sejumlah wartawan entah itu media cetak maupun online, bahkan reporter dan kru TV tengah bersiap meliput dan berburu berita terkini. Mereka tetap terlihat sangat antusias meski hanya dapat menunggu di lobi di depan sebuah layar datar lebar yang telah disiapkan. Layar itu nantinya akan menampilkan kondisi ruang meeting yang dijadikan tempat penjurian babak presentasi. Sebelumnya, tiga hari yang lalu, tiga kandidat terpilih untuk masing-masing kategori kontes, design furnitur dan cottage, telah diumumkan dan untuk dapat mengukuhkan gelar sebagai sang pemenang, mereka masih harus melalui satu tahap penjurian lagi, yaitu presentasi design. Presentasi itu akan dimulai satu jam lagi, tepatnya pada pukul sembilan. Satu per satu kandidat mulai hadir dan itu tak lepas dari sorot kamera yang menyala seolah mengawasi tiap ayunan langkah di atas karpet merah yang terbentang. Seorang lelaki berkacamata dengan wajah yang ramah dan senyum menawan memasuki lobi bersama seorang wanita cantik dengan setelan berwarna hijau botol gelap yang berjalan dengan anggun. Sekilas mereka nampak seperti pasangan yang sangat serasi. Apalagi tangan kanan lelaki itu ada di punggung sang wanita. Siapa yang dapat menduga apa yang tersimpan dalam hati mereka masing-masing? Sementara itu di sebuah apartemen yang terbilang mewah masih di kawasan SCBD, Renjana telah lebih dari tiga puluh menit berdiri di depan cermin mematut diri. Ia memandang bayangan dirinya sendiri dengan perasaan cemas. Ia tak yakin dengan penampilannya kini. Ia tak tahu apakah ia pantas mengenakan gaun navy tanpa lengan selutut itu. Sejak semalam ia memang telah memutuskan akan mengenakannya setelah melihat foto almarhum ibunya. Gaun itu adalah gaun sang ibu. Meski bertahun-tahun di lemari, gaun itu sama sekali tidak rusak ataupun berbau tidak sedap. Ia sendiri heran. Renjana beberapa kali memutar tubuhnya mengamati lengannya yang kini terekspos. Nampak otot lengannya yang kencang dan warna kulit sawo matang yang tiba-tiba membuatnya agak kurang percaya diri. Ia ingat teman-teman sekelasnya dulu sering mengolok-olok bahwa warna kulitnya yang gelap itulah penyebab tak ada anak laki-laki yang mau menjadikannya kekasih. Mereka selalu mengatakan bahwa yang menjadi idaman para lelaki adalah wanita berkulit putih mulus. Saat itu ia dengan percaya dirinya justru membalas bahwa orang-orang dengan kulit seperti dirinya justru jadi rebutan para bule. Renjana mencoba memantapkan hati, ia berdoa semoga orang-orang tidak akan memandanginya dengan tatapan aneh. Karena jujur saja ia memang tidak mengerti mode sama sekali. Apalagi ini di ibukota, sementara ia sendiri hanya gadis yang berasal dari kota kecil. Ditambah lagi, selama ini dia lebih banyak bergaul dengan laki-laki. Pakaian yang ia pakai selama ini tak jauh-jauh dari kemeja flannel dan celana jeans. Namun keinginannya untuk bernostalgia dengan mengenakan gaun sang ibu membuatnya bertekad bahwa hari ini ia harus berani tampil beda. Bukankah anak perempuan selalu ingin tampil seperti ibunya, batin Renjana. Gadis itu lalu mengenakan kalung emas putih dengan liontin mutiara sebagai pelengkap penampilannya. Kalung itu adalah bagian dari satu set perhiasan yang diserahkan padanya oleh Mina di malam setelah pemakaman ayahnya. Mina mengatakan bahwa kalung itu milik ibunya yang merupakan perhiasan turun-temurun di keluarga besar sang ibu. Renjana sendiri tidak tahu-menahu mengenai keluarga besar ibunya. Kedua orang tuanya tidak pernah menceritakannya dan terkesan selalu menghindar setiap kali ditanya. Hingga pada akhirnya Renjana tak pernah lagi berani menanyakan hal tersebut. Yang ia selalu tanamkan dalam hatinya adalah bahwa kedua orang tuanya tentu memiliki alasan tersendiri dan dia harus menghormatinya. Dering ponsel menyadarkan Renjana dari lamunan. Diraihnya smartphone keluaran tahun lalu itu dan ia pun kemudian bergegas menyambar tasnya. Taxi online yang ia pesan rupanya sudah sampai di depan lobi apartemen. Beruntung unitnya ada di lantai tujuh, tak perlu terlalu lama untuk turun. Meski demikian, ia tetap saja cemas terutama ketika memikirkan bagaimana ia akan presentasi nanti. Lebih dari tiga puluh menit kemudian Renjana baru sampai di gedung Chandra Khan Group karena jalanan cukup macet hari itu. Driver taxi online yang ia tumpangi memberinya nasehat untuk selalu berangkat lebih awal jika bepergian di kota yang konon masuk dalam daftar sepuluh kota paling macet di dunia ini. Renjana bukan tak tahu soal itu. Hanya saja yang ia bayangkan tak sampai separah ini. Mulai saat itu juga Renjana berjanji pada dirinya sendiri ia akan mengingat satu hal itu dengan baik. Ya, tentang betapa parah kemacetan Jakarta. ** Pintu kaca lobi terbuka, sepasang kaki yang terbungkus flatshoes beludru navy nampak menapak dengan penuh keyakinan. Di pundak kirinya tergantung sling bag broken white sedangkan tangan kanannya menentang tas laptop. Beberapa langkah berlalu ia masih belum menyadari keramaian di sekitarnya disebabkan banyaknya para pemburu berita. Hingga lampu flash dari kamera mulai mengganggu pandangannya. Sosok tersebut pun menghentikan langkahnya sejenak karena merasa sedikit pusing setelah terkena flash kamera bertubi-tubi. Beruntung di sisi kanan kiri jalur karpet merah ini diberi pembatas sehingga ia tetap aman. Para pemburu berita itu tak mungkin maju merangsek lebih dekat. Dalam hati ia membatin, sepertinya kontes ini memang benar-benar bergengsi dan menyedot perhatian banyak pihak. Renjana Saga, si pemilik kaki bersepatu flat beludru warna navy itu pun terus melangkah sesuai arahan petugas keamanan yang tentu saja sudah tahu bahwa ia adalah salah satu kandidat pada babak final kontes karena wajahnya terpampang di layar datar raksasa di lobi berselang-seling dengan ditayangkannya juga kandidat lain dan kilasan-kilasan info terkait kontes. Beberapa langkah kemudian, kilatan flash kamera dan seruan-seruan pertanyaan bersahutan di belakang Renjana. Penasaran, gadis itu pun sedikit memutar tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi. Melihat siapa yang baru saja datang seketika membuatnya gusar. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap dengan setelan jas yang sekali lihat saja semua orang akan tahu betapa mahal harganya. Navy, warna yang sama dengan gaun yang dikenakan Renjana. Sebuah kebetulan yang menggelitik batin gadis yang entah kenapa justru mematung seakan tengah menanti lelaki yang bak pangeran itu mendekat. Seolah sadar ada sepasang mata yang mengawasi, lelaki itu menolehkan kepalanya dari arah samping ke depannya. Nampak oleh netra lelaki dengan ekspresi datar itu seorang gadis yang ia ingat betul seperti apa pertemuan pertama mereka. Gadis tomboy dengan kemeja flannel merah yang sempat ia ragukan jenis kelaminnya. Gadis yang suara letupan sepatunya saat itu begitu mengganggu tapi suaranya yang tersengal-sengal membuat pikirannya melayang-layang. Tanpa sadar, satu sudut bibir lelaki itu sedikit terangkat, menampilkan seringaian yang tak disadari siapapun yang ada di sana. "Harris." Sebuah suara dari arah samping menyadarkan lelaki itu. "Ya. Mari, Nek." Harris menggenggam tangan keriput Latifa. Mereka kembali berjalan dan kembali berhenti tepat di depan kerumunan wartawan untuk sesi foto dan memberikan sedikit kata basa-basi sekedar untuk kepantasan serta ucapan terima kasih. ** Tepat pukul sembilan pagi itu, suasana di dalam salah satu ruang meeting yang cukup besar di gedung Chandra Khan Group terasa menegangkan. Lima orang kandidat terpilih duduk di barisan kursi sebelah kanan meja. Sementara barisan yang menghadap ke layar proyektor diduduki oleh sang CEO, Harris Chandra Khan bersama Nyonya Latifa, neneknya. Di seberang para kandidat, hadir pula sejumlah anggota dewan direksi perusahaan yang meski pada babak itu tak memiliki hak memutuskan siapa pemenangnya, tapi mereka boleh mengajukan pertanyaan ataupun tanggapan pada para kandidat. "Saya senang karena kita telah tiba pada hari yang menentukan ini. Hari bersejarah bagi Chandra Khan Group yang telah genap berusia lima puluh tahun. Hari ini bagi saya pribadi dan nenek pun sangatlah penting. Hari yang menjadi titik balik bagi kami sekeluarga. Karena itulah saya harap para kandidat yang telah terpilih dapat mempresentasikan karyanya dengan sepenuh hati. Bagaimanapun, di babak ini sebenarnya kalian sudah menjadi pemenang." Tak salah apa yang selama ini diberitakan di berbagai media, seorang Harris Chandra Khan memang memiliki kharisma yang agung. Dia layaknya seorang pemimpin muda yang tangguh dan seolah siap menghadapi apapun tapi sekaligus menawan dalam dinginnya ekspresi yang ia tunjukkan. Tatapannya yang mengintimidasi dan suara berat yang membuat siapa saja yang mendengar serasa terhipnotis. Setelah pidato singkatnya, Harris memberi kode pada asistennya, Raffi, untuk segera memulai acara. Urutan presentasi ditentukan dengan undian. Meski lima kandidat itu merupakan peserta dari dua jenis kontes, tetapi urutan presentasi tidak didasarkan pada jenis kontes yang diikuti. Renjana mendapatkan urutan terakhir. Entah ia patut merasa bersyukur karena dengan demikian ia sedikit banyak dapat belajar bagaimana kandidat lain mempresentasikan karyanya. Atau ia justru harus merasa semakin tertekan andai nanti ia melihat lawan-lawannya terlihat lebih profesional dan berpengalaman. Ia sendiri sebenarnya tidak menyangka akan sampai pada babak ini. Meski sejak awal memutuskan akan mengikuti kontes ini ia begitu menggebu-gebu. Tapi ia merasa harus sadar diri. Bagaimanapun Chandra Khan Group adalah perusahaan multinasional yang tidak dapat diremehkan. Sudah barang tentu orang-orang yang mengikuti kontes pun adalah orang-orang yang memang tak bisa diragukan lagi kemampuannya. Sementara ia sendiri tak lebih dari seorang amatir lulusan sekolah menengah kejuruan di sebuah kota kecil dan minim pengalaman. Waktu terus berjalan. Satu demi satu kandidat berhasil mempresentasikan karyanya dengan mengagumkan. Seperti itulah yang Renjana lihat. Lima belas menit sebenarnya adalah waktu yang sangat singkat untuk mempresentasikan sebuah design. Ditambah lagi, setelahnya mereka harus menghadapi tanggapan dan menjawab pertanyaan yang diajukan dewan direksi yang entah mengapa terdengar sangat menyudutkan bagi Renjana. Bahkan salah seorang di antara mereka yang nampaknya paling senior terkesan merendahkan karya para kandidat. Renjana yang sejak awal dengan hati-hati berusaha menyimak dan mempelajari situasi pun menjadi gugup. Telapak tangannya berkeringat padahal suhu di ruangan itu cukup dingin ketika ia baru masuk tadi. Tapi semakin lama, udara terasa semakin berat dan panas. Setidaknya sekarang ia merasa telah cukup tepat dengan nekat memilih gaun ibunya yang tanpa lengan ini. Tak terbayang andai ia tetap dengan pilihan awalnya berupa kemeja lengan panjang juga celana kain panjang yang ia bawa dari rumah, tentu ia akan kepanasan. Lima menit lagi, giliran Renjana mempresentasikan designnya setelah peserta sebelumnya kini sudah kembali ke tempat duduknya semula. Harris dan Latifa masih nampak berdiskusi dengan suara lirih yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua. Lelaki itu juga terlihat menuliskan sesuatu, mungkin poin-poin kelebihan dan kekurangan dari presentasi para kandidat maupun design itu sendiri. Renjana tak sadar, entah telah berapa lama ia memperhatikan wajah yang sangat serius itu. Wajah yang seolah punya daya tarik seperti medan magnet membuatnya sulit sekali untuk berpaling. Hingga tiba-tiba tanpa signal ataupun peringatan apapun, sang CEO bermata cokelat terang itu menolehkan kepala dan menatap tepat ke iris matanya yang segelap malam tanpa gemintang. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD