Renjana duduk dengan gelisah di kursi pesawat yang tengah membawanya untuk pulang. Baru dua hari ia di Jakarta dan seharusnya ia masih di sana hingga pengumuman kontes lima hari lagi. Tapi telepon dari Bibi Mina pagi itu membuatnya terpaksa harus pulang ke Jepara. Pabrik kebakaran, terangnya.
Gadis itu pun tanpa pikir panjang segera memutuskan untuk pulang dengan pesawat untuk menghemat waktu. Meski sebenarnya ia takut karena itu adalah kali pertama ia menaiki si burung besi itu. Tapi pabrik membutuhkannya segera. Ia tak berani menduga-duga bagaimana petaka itu bisa terjadi dan separah apa kondisinya sekarang. Selama ini ia yakin para pekerja di pabrik ayahnya selalu berhati-hati, lalu bagaimana kebakaran itu bisa terjadi, ia ingin menangis rasanya.
Pabrik itu adalah satu-satunya peninggalan sekaligus impian ayahnya. Ia tidak bisa membiarkan pabrik itu hancur. Ia besar dan tumbuh bersama pabrik itu. Dan jika pabrik tidak bisa diselamatkan, bagaimana ia akan hidup nanti, rasanya sangat mengerikan andai ia harus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang semakin besar. Rasa bersalah karena telah tidak mempercayai sang ayah di akhir masa hidupnya sudah sangat cukup menyiksanya, bagaimana ia akan sanggup jika harus menanggung rasa bersalah lebih besar lagi karena tidak dapat menjaga pabrik itu, Renjana merasa jantungnya seakan diremas-remas.
Ketika mendarat di Semarang, Hasan putra Mina yang hanya empat tahun lebih tua darinya sudah menunggu. Hasan juga salah satu pekerja yang dipercaya oleh ayahnya. Ia juga lulus dari sekolah kejuruan yang sama dengannya.
Selama perjalanan, Hasan menceritakan mengenai apa yang terjadi. Tapi laki-laki yang sudah Renjana anggap seperti kakaknya sendiri itu juga tidak mengerti bagaimana kebakaran itu bisa terjadi. Sore hari sebelum kejadian, ia mengaku ia sendiri yang memastikan semuanya aman seperti biasa. Karena Paman Tirto, orang kepercayaan ayah Renjana yang selama ini diberi tanggung jawab memegang kunci pabrik sudah dua hari tidak dapat datang karena sakit.
Renjana dapat melihat raut kebingungan dan keputusasaan di wajah Hasan. Lelaki muda itu tentu merasa bersalah dan mungkin khawatir telah melewatkan sesuatu yang akhirnya memicu kebakaran. Tapi Renjana sendiri kenal betul seperti apa laki-laki itu. Hasan di mata Renjana adalah sosok yang sangat hati-hati, disiplin dan bertanggung jawab. Ia jauh dari kata ceroboh dan lalai, tidak seperti dirinya. Gadis itu yakin kebakaran itu bukan karena salah Hasan.
"Bagaimana dengan CCTV, Bang?"
"Anehnya tidak ada satupun CCTV yang merekam kejadian itu. Tapi pagi hingga sore hari semua CCTV masih bekerja dengan baik. Mulai pukul lima, CCTV mulai tidak bekerja. Entahlah, aku takut memikirkannya, Nana. Polisi mengatakan selain kemungkinan adanya kerusakan, ada indikasi bahwa rekaman sore itu dihapus dengan sengaja. Polisi masih menyelidikinya. Andai polisi dapat menemukan bukti adanya unsur kesengajaan rekaman itu dihapus, maka orang yang pertama kali dicurigai pastilah aku, Nana. Karena akulah orang terakhir yang terlihat di sana."
"Aku percaya Bang Hasan tidak bersalah. Sekalipun memang ada orang jahat yang mendalangi kebakaran ini, aku yakin orang itu bukanlah Abang. Bisa jadi orang itu saingan ayah kan? Di kota ini ada banyak pabrik furnitur yang mungkin tidak menyukai kita."
Hasan tak menjawab. Meski apa yang dikatakan Renjana memang benar, tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kekhawatirannya. Yang jelas dia adalah orang yang paling dicurigai saat ini. Ia ingat betul bagaimana Nyonya Rosi, menatapnya tajam dan langsung menyalahkannya atas kejadian naas itu. Tapi ia enggan menceritakannya pada Renjana karena tidak mau gadis disampingnya itu khawatir padanya. Ia juga tidak ingin dituduh mengadu domba anak dan ibu tiri itu.
Mereka pun akhirnya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hasan berusaha tetap fokus menyetir dan Renjana mulai memikirkan apa yang harus dan bisa ia lakukan nantinya.
Setelah hampir tiga jam perjalanan dari Semarang, sampailah mereka di Jepara. Mereka berdua memutuskan untuk langsung menuju kantor kepolisian sebelum pulang ke rumah. Renjana tak sabar ingin segera tahu perkembangan penyelidikan yang dilakukan polisi. Ia juga ingin meyakinkan Hasan bahwa pemuda itu tidak melakukan kelalaian dalam tugasnya seperti yang telah begitu ia khawatirkan.
Sayangnya, saat mereka sampai di sana, pihak kepolisian mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kebakaran itu. Mereka hanya mengatakan masih ada beberapa hal yang perlu penyelidikan lebih lanjut. Mereka bahkan tidak mau menyebutkan apa itu sebagai wujud dari prinsip kehati-hatian. Sebenarnya Renjana berharap dalam hati polisi akan mengatakan bahwa penyebab kebakaran itu adalah adanya hubungan arus pendek, seperti dalam berita yang sering ia tonton di televisi. Tapi harapan itu hanyalah sebuah harapan yang tidak terwujud.
Dua hari kemudian, polisi datang dengan membawa surat penangkapan untuk Hasan. Polisi menetapkan Hasan sebagai tersangka utama pembakaran pabrik, satu hal tidak masuk akal menurut Renjana. Tapi polisi mengatakan bahwa bukti-bukti yang ditemukan mengarah pada pemuda dua puluh lima tahun itu.
Pertama, Hasan memiliki akses penuh ke pabrik karena ia memegang kunci sehingga bisa keluar masuk pabrik dengan bebasnya. Kedua, adanya fakta bahwa CCTV memang dimatikan dengan sengaja pada sore hari. Ketiga, adanya dua orang saksi yang mengatakan bahwa ia melihat Hasan kembali ke pabrik pada malam hari beberapa saat sebelum kebakaran itu terjadi. Semua temuan itu dianggap cukup oleh polisi untuk segera mengamankan Hasan.
Renjana tentu tak dapat menerima hal itu begitu saja. Sekalipun polisi menemukan bukti dan saksi itu, ia masih tidak mengerti apa motif yang melandasi Hasan melakukan kejahatan itu. Tentu setiap kejahatan selalu memiliki motif bukan, pikir Renjana. Saat gadis itu menyatakan apa yang ada di pikirannya itu, Rosi, ibu tirinya mengungkit kembali kecelakaan kerja yang menimpa ayah Hasan yang juga pekerja pabrik beberapa tahun lalu, kecelakaan yang membuat ayah Hasan cacat seumur hidup.
Mina tentu menyangkal apa yang dituduhkan oleh nyonya yang selalu bersikap kasar padanya itu. Ia mengatakan bahwa suami dan putranya sama sekali tidak mendendam atas peristiwa itu. Mereka sekeluarga menerima semua itu sebagai musibah yang bisa saja menimpa siapapun. Mereka tidak pernah menyalahkan siapa-siapa apalagi almarhum Anggoro sebagai pemilik pabrik. Lagi pula almarhum tuannya itu menanggung semua biaya pengobatan dan memberi tunjangan yang tidak sedikit untuk mereka.
Namun polisi tetap membawa Hasan bersama mereka. Apalagi kejahatan yang dituduhkan tergolong berat dan membahayakan. Beruntung kebakaran itu tak sampai merenggut korban jiwa, tapi tetap saja dikhawatirkan ia mengulangi atau melakukan tindak kejahatan lainnya jika memang benar dendamlah yang menjadi motif utama Hasan.
Renjana tak dapat berbuat apapun. Ia hanya bisa memeluk Mina untuk menguatkan hati pengasuhnya itu. Pikirannya berkecamuk. Sekeras apapun ia mencoba menilai kembali seperti apa Hasan dan keluarganya, ia tak dapat menemukan sedikit pun hal yang mencurigakan, apalagi dendam. Tapi bagaimana membuktikan semua itu, bahwa polisi dan ibu tirinya telah keliru, bahwa Hasan tidak bersalah, Renjana bergelut dengan pikirannya sendiri.
**
Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan Renjana. Tiga hari yang terasa begitu berat baginya. Jika dipikir-pikir lagi, betapa malang nasibnya kini. Setelah ayahnya meninggal, hanya selang beberapa hari kemudian pabrik terbakar dan mirisnya, seseorang yang sudah ia anggap layaknya saudara kandung justru menjadi tersangka dari kebakaran itu. Ia memang telah menyewa pengacara untuk menangani kasus ini berharap Hasan akan terbukti tidak bersalah. Tapi entah mengapa ia merasa pesimis.
Ia yakin memang bukan Hasan dalang di balik peristiwa itu. Tapi bukti-bukti dan saksi nampak begitu menyudutkan Hasan. Renjana mulai berpikir bahwa ada seseorang yang telah membuat skenario jahat entah dengan alasan apa. Ia pun telah memikirkan satu nama yang mungkin sanggup melakukannya. Hanya saja, ia terlalu takut mengambil kesimpulan.
Namun, apa yang ia lihat dan dengar selama tiga hari ini semakin menguatkan prasangkanya. Orang itu memang sama sekali tidak ramah, temperamennya cenderung buruk, tapi mungkinkah ia bisa melakukan hal sejahat itu, batin Renjana.
Selama lebih dari lima tahun mengenal dan hidup di bawah satu atap dengannya, gadis itu memang merasa selalu diperlakukan tidak adil olehnya, bahkan cenderung dianggap tidak ada. Dia hanya akan diperlakukan baik di hadapan ayahnya. Tapi saat tidak ada sang ayah, wajah wanita itu, ibu tirinya, seketika itu juga langsung berubah.
Langit telah memerah dan udara terasa semakin dingin. Renjana masih berdiam di sana, di depan pabrik yang hanya tinggal puing-puing dengan bau hangus yang belum hilang sepenuhnya. Hatinya benar-benar remuk, nyaris putus asa. Email yang membawa kabar bahagia kemarin bahkan tak mampu mengangkat sedikit pun ujung bibirnya. Ya, kabar bahagia mengenai lolosnya design karyanya sebagai tiga besar pemenang kontes.
Lusa ia harus sudah berada di Jakarta untuk mengikuti babak penentuan, yaitu presentasi design. Bagaimana ia bisa pergi dan meninggalkan Hasan serta Bibi Mina dalam keadaan kacau seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang lebih bisa disebut keluarga baginya, dibandingkan dengan ibu dan saudara tirinya. Tapi ia sungguh tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Ditambah lagi ada pekerja pabrik yang tidak bisa ia abaikan begitu saja nasibnya. Mereka yang tidak dapat lagi bekerja di pabrik dan harus segera mencari pekerjaan lain yang entah memerlukan waktu berapa lama. Ia berpikir, jika ayahnya masih hidup, tentu ayahnya akan memberikan mereka pesangon. Dari mana ia bisa mendapatkan uang itu, sementara asuransi pabrik tidak dapat di klaim karena ternyata telah enam bulan preminya tidak dibayar.
Satu hal itu juga sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin ayahnya tidak membayar premi asuransi itu. Enam bulan ini pabrik baik-baik saja meski sedikit mengalami penurunan produksi. Tapi Renjana yakin seharusnya ayahnya masih sanggup jika hanya untuk membayar premi asuransi.
Sekarang, aset yang tersisa hanya showroom meubel dan rumah saja. Tidak mungkin ia menjual rumah penuh kenangan itu. Tapi showroom itu juga terlalu berharga untuk dilepas. Sejujurnya dalam hati gadis itu masih berharap bisa membangun kembali pabrik itu suatu hari nanti. Meski ia sendiri belum tahu bagaimana caranya selain ia harus bekerja dan mengumpulkan banyak uang.
Malam harinya setelah makan malam, Rosi meminta waktu untuk bicara dengan Renjana, satu hal yang sangat jarang terjadi.
"Aku tahu kau harus kembali ke Jakarta lusa," kata Rosi mengawali pembicaraan. Renjana tersentak mendengar ibu tirinya itu mengetahui satu hal itu. "Aku tak sengaja mendengarnya ketika kau bicara dengan Mina."
"Ya, itu benar." Jawab Renjana.
"Pergilah. Kau tak perlu mengorbankan impianmu. Aku akan mengurus masalah di sini dan menyelesaikannya, termasuk persoalan pesangon untuk para pekerja seperti yang kau inginkan."
Renjana terdiam sesaat. Ditatapnya wajah wanita di depannya itu dengan penuh tanya. "Bagaimana caranya? Dari mana kita bisa mendapatkan uang untuk membayar pesangon itu? Bukankah Ibu bilang asuransi pabrik tidak dapat di klaim?"
"Tidak ada pilihan lain, bukan? Kau paham maksudku."
"Melepaskan showroom meubel? Ibu sungguh-sungguh akan menjualnya?"
"Apa kau punya solusi lain?"
Renjana terdiam. Ia tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Saat ini, memang hanya itu kemungkinannya.
"Kau sendiri yang memaksa untuk memberi para pekerja itu pesangon. Meski kalau dipikir-pikir itu tidak masuk akal. Mereka tidak lagi bisa bekerja di pabrik bukan karena mereka dipecat, tapi karena pabrik terbakar. Kita sedang dalam kesusahan dan tidak bisa membangun pabrik itu lagi. Sementara kau berkeras ingin memberi mereka pesangon? Jika bukan dengan menjual showroom meubel kita, dari mana kita punya uang? Apa kau ingin kita menjual rumah ini saja?"
"Tidak! Aku mohon, jangan jual rumah ini." Renjana menjeda sesaat untuk menstabilkan emosinya. "Baiklah. Ibu benar, kita tidak punya pilihan lain."
Gadis itu menunduk dalam memendam kesedihan yang membuat dadanya nyeri. Betapa kehidupannya telah berubah hanya dalam hitungan hari. Begitu cepat, itulah yang ia rasakan dan ia sama sekali tidak siap. Tapi siapa yang dapat menduga skenario seperti apa yang Tuhan siapkan untuk makhluk-Nya?
**