Part 1

1666 Words
"Selama tiga pekan ini sudah ada hampir lima ratus peserta yang mengirimkan designnya, Tuan. Itu adalah total untuk dua kontes. Tapi dari lima ratus itu, hanya tersisa tiga ratus sembilan puluh tiga yang lolos seleksi awal dari unsur plagiarisme dan standard perusahaan." "Apa menurutmu jumlah itu menunjukkan antusiasme yang cukup besar?" "Saya rasa itu benar. Apalagi waktu yang kita berikan bisa dibilang cukup singkat. Perhitungan waktu yang dimulai sejak kontes ini diumumkan mungkin juga cukup mengejutkan. Meski terkadang inspirasi bisa datang tiba-tiba, tapi saya rasa keadaan itu sangat langka. Bisa jadi sebagian design yang diikutsertakan adalah design yang memang sudah dibuat dan disimpan sejak sebelum kontes ini diumumkan." "Ya, itu pasti. Tidak masalah selama design itu belum pernah diikutsertakan dalam kontes lain sebelumnya. Dan yang paling penting, design itu sesuai dengan tema yang kita usung." "Baik, Tuan." Ruangan yang cukup besar dengan interior design yang modern dimana mereka berada saat ini terletak di lantai empat puluh tiga di sebuah gedung dengan green building design di Sudirman Central Business District, satu area perkantoran elit di Jakarta Selatan. Bangunan megah yang menerapkan konsep intelligence workspace dalam pembangunannya ini memiliki aneka teknologi canggih dalam tiap ruangan kantor. Seseorang yang dipanggil dengan sebutan 'tuan' itu nampak sibuk membolak-balik dokumen di hadapannya dan membubuhkan tanda tangan di beberapa tempat. Beberapa kali ia nampak mengerutkan kening lalu memberikan coretan di beberapa halaman dokumen yang bertumpuk-tumpuk itu.  Setelah selesai dengan dokumen terakhir, lelaki tersebut meletakkan bolpoinnya dengan keras ke meja. Raut wajahnya nampak menunjukkan ketidakpuasan. Hal yang dapat diduga oleh lelaki yang berdiri di depan meja kerjanya yang besar itu.  "Sonia, bisa tolong kau buatkan dua cangkir espresso?" Seru Harris Chandra Khan, si tuan muda yang duduk di kursi kebesarannya setelah menekan interkom. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju sofa putih yang terletak di sisi kanan ruangan sambil melepaskan kancing jasnya.  Ia duduk di sofa panjang dengan menyandarkan punggung berusaha melepaskan penat yang mendera. Kepalanya terasa berdenyut nyeri sejak bangun tidur pagi tadi. Beberapa hari terakhir ia sangat sibuk dengan pekerjaannya dan mengharuskan ia lembur hingga larut malam. Kesibukan itu juga seringkali membuatnya kehilangan nafsu makan dan pada akhirnya ia melewatkan jam makannya begitu saja.  "Bagaimana keadaan nenek, Raffi?" "Dokter mengatakan Nyonya Besar hanya sedikit dehidrasi dan kelelahan. Beliau tidak mau mendengarkan Ruby dan terus berkebun hingga menjelang siang." Raffi, sang asisten yang masih setia berdiri menghentikan penjelasannya meski sebenarnya ada informasi lain yang ia dapat dari Ruby, perawat Nyonya Besarnya. Tapi ia agak ragu apakah ia harus menyampaikan satu hal ini ataukah tidak. Satu hal yang ia tahu sangat sensitif untuk bosnya itu.  Nyonya Besar bahkan jarang sekali membicarakan satu hal tersebut secara langsung dengan bosnya itu. Kedekatan hubungan mereka berdua tak cukup membuat sang cucu memberi respon baik setiap kali membicarakan topik tersebut. Karena itulah Nyonya Besar hanya dapat mengeluhkannya pada Ruby atau Raffi. "Katakan jika memang masih ada hal lain yang ingin kau sampaikan, Raffi. Apa kau lupa, kau tidak bisa menutupi apapun dariku." Harris berkata dengan mata yang masih terpejam sejak ia duduk di sana.  Raffi hanya menghela nafas mendengar bosnya berkata demikian. Memang benar, ia tak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari laki-laki 'mengerikan' itu. Bukan hanya Raffi seorang tentunya, siapapun yang menghadapinya tak akan mampu untuk menutupi hal sekecil apapun, apalagi berbohong. Ia pun lalu ikut duduk di sofa, berhadapan dengan Harris.  "Baiklah. Bisakah aku berbicara sebagai seorang teman sekarang?" Tanya Raffi. "Kita hanya berdua di sini. Tentu saja." "Nenek kesepian, Harris. Beliau terus mengeluh dan membicarakan tentangmu yang tak kunjung mau menikah padahal usiamu hampir kepala tiga. Apa kau benar-benar tidak berminat pada satupun wanita yang ada di sekitarmu? Artis, model, atau putri dari rekan bisnis kita mungkin? Bukankah pilihan terakhir itu akan menguntungkan?"  Belum sempat Harris menjawab, terdengar suara ketukan di pintu. Rupanya Sonia, sang sekretaris, yang datang membawakan kopi.  "Sonia, tolong kau bereskan dokumen di atas meja Tuan Harris. Ada beberapa laporan yang masih harus direvisi dari divisi perencanaan, keuangan, dan marketing. Katakan pada mereka bahwa besok semuanya harus sudah beres. Lalu jadwalkan meeting evaluasi kinerja tiap divisi untuk lusa." "Baik, Tuan Raffi."  "Terima kasih kopinya." Kata Raffi yang hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan oleh Sonia.  "Kau memang selalu bisa diandalkan, Raffi." Ucap Harris setelah Sonia keluar dari ruangan itu.  "Bersyukurlah untuk itu dan...naikkan gajiku." Jawab Raffi lalu ia pun tertawa terbahak. Sejenak ia melupakan sopan santun antara atasan dan bawahan. Ia bahkan tak peduli pada Harris yang hanya berdecak lalu menyeruput espressonya.  "Hey, tidak bisakah kau membuat wajahmu nampak lebih berekspesi, Harris?" "Seperti apa?" "Tidak bisakah kau tertawa karena candaanku tadi? Bukankah itu cukup lucu?" "Tidak."  "Ah, kau ini. Lupakan. Jadi, kembali pada persoalan tadi. Bagaimana jika kau menjalin hubungan dengan salah satu putri rekan bisnis kita? Hubungan yang bisa memberikan keuntungan tentunya." "Apa kau pikir aku bersedia melakukan hal semacam itu?"  "Kenapa tidak? Bukankah itu adalah hal biasa di kalangan konglomerat dan pebisnis seperti kalian?" Harris tak menjawab. Ia memang tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Meski ia tahu bahwa apa yang Raffi katakan memang benar. Tapi ia tak pernah menyangka Raffi akan mengatakan hal semacam itu padanya. Hal itu sungguh membuatnya kecewa. Ia tak menyangka Raffi akan menyamakan dirinya dengan orang lain.  "Kenapa kau diam? Apa yang aku katakan salah?" "Tidak. Apa yang kau katakan memang benar. Tapi aku bukan salah satu di antara mereka."  Harris mengatakan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan, berharap Raffi mengerti bahwa ia tersinggung dengan kata-katanya. Ia lalu kembali menyesap espressonya. Sementara Raffi hanya menyunggingkan sebelah bibirnya dan segera menandaskan kopinya.  Setelah itu mereka terus terdiam dan kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Hingga beberapa jam kemudian ketika tiba waktunya pulang, Harris hanya mengatakan pada Raffi untuk menyiapkan mobil.  Situasi canggung seperti itu sangat jarang terjadi. Meski dua orang itu sering beradu argumen, tapi sebelumnya tak pernah sampai saling mendiamkan. Lebih tepatnya, Harris yang mendiamkan Raffi. Sedangkan Raffi yang sudah paham betul tabiat sang bos sekaligus kawan sepermainannya itu memilih untuk diam saja sementara waktu. Sepuluh menit sebelum pukul enam petang mereka telah sampai di kediaman Chandra Khan. Sebuah rumah besar tiga lantai bercat putih yang terletak di kawasan elit yang sudah lama dikenal sebagai Beverly Hills Indonesia, yaitu Pondok Indah, Jakarta.  Bangunan dengan konsep memadukan unsur kesederhanaan tapi modern, tetap dengan green building design yang ditandai dengan ditanamnya berbagai macam jenis tanaman di berbagai sudut halaman dan vertical garden di dinding pagar dan beberapa sisi lain bangunan, juga panel surya di beberapa bagian atap rumah sebagai sumber energi. Rumah itu juga memiliki basemen yang berfungsi untuk garasi dan gudang.   Seorang pelayan membukakan pintu untuk Harris dan menyambutnya dengan ramah. Harris pun membalas dengan senyum tipis dan langsung menanyakan dimana neneknya. Setelah mendengar jawaban dari sang pelayan, ia pun bergegas menuju ke tempat yang disebutkan.  Harris berdiri di depan pintu yang tak tertutup sepenuhnya itu. Ia terpaku menatap neneknya yang tengah duduk di kursi yang dulu selalu diduduki almarhum kakeknya ketika harus menyelesaikan pekerjaan di rumah. Harris dapat menangkap isyarat kerinduan yang bercampur dengan kesedihan di mata sang nenek. Ia tahu betul, foto siapa yang tengah dipandangi oleh wanita tua yang sangat ia sayangi itu.  "Sampai kapan kau akan terus berdiri di sana?" Ucap Latifa, nenek Harris. Ia lalu meletakkan pigura kecil yang sejak beberapa saat lalu ia pandangi tanpa bosan. Ia mengalihkan perhatiannya pada sang cucu yang nampak sedikit pucat dan berantakan. Ia tahu, cucunya itu tentu semakin sibuk akhir-akhir ini, sampai-sampai sering pulang terlambat melewatkan makan malam bersama dengannya.  "Saya takut mengganggu." Jawab Harris sambil mendekati sang nenek. Begitu sampai di sampingnya, ia pun meraih kepala wanita itu dan mencium keningnya. "Bukankah seharusnya nenek istirahat? Dokter mengatakan nenek dehidrasi dan kelelahan."  "Jadi mereka mengadu?" Tanya Latifa. "Itu sudah menjadi tugas mereka." "Nenek baik-baik saja. Pergilah mandi, nenek tunggu di bawah makan malam nanti. Nenek sudah meminta Hannah untuk memasak makanan favoritmu."  "Baiklah. Aku sayang nenek." Sebelum beranjak dari ruang kerja almarhum kakeknya itu, Harris sekali lagi memberikan kecupan di kening sang nenek.  Latifa kembali menatap foto dalam bingkai yang ia pegang. Foto terakhir di saat anggota keluarga mereka masih lengkap. Nampak dalam foto itu ia dan suaminya duduk berdampingan sementara anak, menantu dan cucunya berdiri di belakang. Foto itu diambil atas keinginan almarhum putra tunggalnya, Zain Chandra Khan hanya dua hari sebelum hari naas yang merenggut nyawanya. Satu hal yang seolah menjadi pertanda bahwa itu adalah kenangan terakhir yang ingin ia tinggalkan.  Zain Chandra Khan dan istrinya merupakan dua dari tujuh warga negara Indonesia yang menjadi korban dari hilangnya pesawat MH370 pada 8 Maret 2014 yang masih menjadi misteri hingga kini. Terjadi satu hari sebelum hari ulang tahun sang ayah. Karena harus menghadiri pertemuan bisnis di Beijing, ia sengaja merayakan hari ulang tahun ayahnya dua hari lebih awal yaitu pada tanggal 7 Maret. Mereka makan malam bersama di La Chapelle, sebuah restoran Perancis di kawasan Senayan milik seorang sahabatnya, lalu berfoto di sana.  Saat itu, mereka semua nampak sangat bahagia dengan senyum yang merekah tanpa beban. Siapa sangka, itu adalah senyum terakhir di rumah besar ini. Karena setelah hari itu, senyum yang ada tak lebih dari sekedar kepalsuan untuk menutupi segala kepedihan yang ada.  ** "Bagaimana?" "Sepertinya kita tidak bisa menjalankan rencana pertama. Menurut pengamatan saya, akan lebih baik jika kita memilih opsi ke-dua." "Kau yakin?" "Saya yakin. Jika kita memaksakan diri dengan rencana pertama, saya rasa itu hanya akan mengakibatkan kekacauan. Ini tidak baik bagi semua pihak." "Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi. Sampaikan pada orang-orangmu untuk lebih ketat mengawasi dewan direksi, juga anggota keluarga mereka. Laporkan padaku segera jika ada hal yang mencurigakan." "Baik, akan saya laksanakan." "Terima kasih untuk semua bantuanmu. Akan kupastikan balasan yang setimpal untuk semua kerja kerasmu." "Anda terlalu berlebihan. Justru keluarga kami yang telah berhutang budi begitu banyak pada Anda." "Kau memang anak berbakti. Baiklah. Kau boleh pergi sekarang. Beristirahatlah." "Baik. Saya mohon undur diri. Terima kasih untuk perhatian Anda."  Lelaki dengan setelan jas hitam itu lalu menunduk untuk memberi hormat dan keluar dari ruangan itu. Ia berlalu dengan berbagai macam hal yang ia simpan dalam kepalanya. Semua tugas yang ia tanggung tak pernah sekalipun ia rasakan sebagai beban. Karena kenyataannya, seperti apapun ia bekerja keras untuk keluarga itu, tak akan cukup untuk membalas apa yang telah mereka lakukan untuk keluarganya selama ini.  Barangkali hanya kesetiaan yang bisa ia janjikan. Satu hal yang mudah diucapkan tapi tidak demikian dalam pelaksanaannya. Tapi apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, ia tentu tak pernah tahu, apakah itu akan mengokohkan atau justru menggoyahkan kesetiaan itu.  **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD