Salah satu hal yang layak diperjuangkan dalam hidup ini barangkali adalah impian. Segala daya upaya, tetes keringat dan pengorbanan, layak untuk mewujudkan satu hal itu. Karena impian, adalah satu perwujudan dari adanya tujuan, alasan kita menjalani kehidupan.
Tidak ada takaran tinggi rendah untuk satu impian. Impian yang mungkin menurut orang lain begitu kecil, sederhana, bisa jadi merupakan satu hal besar dan luar biasa bagi yang lainnya. Karena barometer yang dipakai setiap orang tentunya berbeda-beda.
Sebagian orang mungkin menetapkan impiannya karena dapat merasakan bahwa itulah yang ia inginkan. Sebagian lainnya mungkin melukis impiannya berdasarkan cerminan dari kekagumannya pada sosok tertentu yang menjadi suri tauladan. Bisa jadi juga impian itu tumbuh begitu saja seiring pengalaman yang terserap dalam proses penghayatan hidup.
Renjana Saga hanyalah salah satu dari sekian banyak manusia di dunia ini yang terus berusaha meraih impiannya, apapun aral yang melintang di depannya. Ia begitu keras kepala dan gigih meski dengan segala keterbatasan yang ada. Setidaknya, kekeras-kepalaan yang satu itu mungkin bersifat positif.
Menjelang tengah malam di sebuah ruangan empat kali empat meter tersebut, gadis itu masih nampak serius di depan meja gambarnya. Selembar kertas terbentang di atas board yang di setiap tepinya ditempeli pita perekat supaya kertas tidak mudah bergeser. Di atas kertas itu, ia nampak membuat garis-garis lurus maupun melengkung dengan mistar yang terkunci pada handel pengatur membentuk satu pola tertentu.
Senyum nampak merekah di wajah gadis itu. Satu langkah lagi ia akan semakin mendekat pada impiannya. Satu pekan waktu yang tersisa untuknya menyelesaikan apa yang tengah fokus ia kerjakan. Satu hal yang akan memberinya kesempatan untuk membuktikan pada semua orang bahwa ia juga mampu.
Pembuktian akan kemampuannya itu merupakan salah satu hal terpenting dalam hidupnya. Ia mendedikasikan diri untuk mewujudkannya. Karena hanya dengan cara itulah ia dapat memelihara kenangan yang sama sekali tak ingin ia hapus dari ingatannya. Kenangan yang selama lebih dari lima tahun ini seolah terlarang di rumahnya.
Lima tahun lebih Renjana Saga harus menekan segala emosi di dirinya. Berusaha berdamai dengan keadaan yang sebenarnya membuatnya begitu muak. Semua itu tak lepas dari kehadiran dua orang wanita baru dalam kehidupannya, kehidupannya bersama ayahnya setelah kepergian sang ibu.
Andai bisa, ia tentu ingin lari menghindarinya. Tapi tentu ia tak mungkin bisa. Karena ia tidak dapat meninggalkan sang ayah seorang diri bersama dua wanita rubah itu. Ia tak dapat membayangkan kehidupan seperti apa yang akan dilalui ayahnya jika ia tidak bertahan di sini.
Meskipun itu berarti ia harus mengambil keputusan berat dengan tidak meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi sesuai yang dicita-citakan. Tapi bukan berarti gadis itu melepaskan impiannya begitu saja. Gadis dengan tekad sekuat baja itu diam-diam mempelajari berbagai hal yang ia butuhkan secara otodidak.
Ruang kerja berukuran empat kali empat milik ibunya inilah yang menjadi saksi betapa kuat Renjana Saga berusaha untuk terus menggenggam impiannya. Berbekal buku-buku dan peralatan peninggalan sang ibu. Ia menghabiskan beberapa jam hingga tengah malam dalam setiap harinya untuk belajar sedikit demi sedikit. Beruntung ia memang lahir dengan berkah kecerdasan yang tak main-main. Tapi meski demikian, gadis itu tentu akan merasa lebih senang jika ia dapat belajar di perguruan tinggi.
Mungkin suatu hari nanti akan tiba saatnya. Ia tak ingin terlalu memikirkannya. Ia hanya berusaha menjalani apa yang terbentang di depan matanya saat ini.
Jam di dinding kini telah menunjukkan pukul satu dini hari. Mata gadis itu sudah tidak kuat untuk tetap terjaga lebih lama lagi. Seharian tadi ia membantu di pabrik seperti biasa. Hanya saja, belakangan ini pabrik sedang sedikit lebih sibuk karena harus mengejar target menyelesaikan pesanan seratus set tea table untuk sebuah hotel terkenal yang baru selesai di bangun di kotanya.
Renjana Saga merapikan meja gambar dan peralatannya. Tapi ia tak sempat melepas dan menggulung kertas dimana ide dan kreativitasnya telah tertuang. Ia sudah terlalu lelah dan perlu tidur secepatnya. Maka ia hanya menutup meja gambarnya dengan selembar kain putih yang biasa ia gunakan untuk melindunginya dari debu.
Gadis itu kemudian keluar dari ruangan itu dan menutup serta mengunci pintunya dengan sangat perlahan, berusaha tak menimbulkan suara yang dapat membuat penghuni lainnya terbangun. Tak ada seorangpun yang boleh mengetahui apa yang biasa ia lakukan di ruangan itu.
Baru saja beberapa langkah melintasi ruang tengah, tiba-tiba lampu menyala. Seketika itu Renjana pun terhenti dan mematung. Jantungnya berdegup berkali lipat lebih cepat. Ia tak berani menerka siapakah itu yang telah menyalakan lampu. Yang jelas, ia harus segera memutar otak untuk mencari alasan yang paling masuk akal guna menjawab keberadaannya di sana hingga lewat tengah malam seperti ini.
"Nana? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"A..ayah? Oh, aku hanya merasa haus dan baru saja dari dapur untuk minum. Apa Ayah juga ingin minum? Biar aku ambilkan."
Renjana berusaha menyembunyikan kegugupannya dan berbicara senormal mungkin supaya tak menimbulkan kecurigaan di benak ayahnya. Ia sungguh beruntung kali ini karena bukan dua wanita rubah itu yang memergokinya.
"Hmm, tidak perlu. Ayah bisa sendiri. Kembalilah ke kamarmu dan tidur lagi. Pagi masih lama."
"Baiklah kalau begitu. Aku ke kamar dulu."
Gadis itu menyempatkan diri memeluk dan mencium pipi sang ayah ketika melewati lelaki paruh itu untuk menuju tangga ke kamarnya. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena telah berbohong pada orang yang sangat ia kasihi tersebut. Tapi ia merasa tak punya pilihan lain.
Dihempaskannya tubuh lelahnya di ranjangnya yang masih cukup empuk setelah mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur untuk tetap menyala. Sejenak pikirannya menerawang, bercabang kemana-mana. Tapi tak lama kemudian ia telah terlelap dalam damai yang melebur dengan pekatnya malam. Menepikan sejenak segala persoalan yang berdesakan dalam benak.
**
Suara lirih derit pintu terbuka memecah keheningan malam menjelang pagi yang dingin itu. Gelap, hanya itulah yang tertangkap netra sosok yang mulai melangkah perlahan ke dalam ruangan itu. Ia lalu meraba dinding di sisi pintu dan menekan saklar lampu. Seketika itu jelaslah apa saja yang ada di dalam ruangan.
Nampak sebuah lemari buku menempel di dinding yang berhadapan dengan pintu. Di sisi kanan ruangan, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih. Lalu di sisi kiri terdapat rak kayu berisi plakat dan piala penghargaan, juga beberapa pigura kecil yang tergeletak begitu saja, tanpa foto terpasang di sana. Di bagian bawah rak terdapat laci memanjang yang terkunci.
Sosok itu menutup pintu perlahan dan mengedarkan pandangannya berulang-kali ke setiap sudut ruangan, seolah tengah memindai untuk menemukan sesuatu yang cukup menarik baginya. Ia kemudian melangkah menuju rak dan membaca tulisan yang tertempel di salah satu plakat berlapis emas yang nampak mengkilap. Masih dengan ekspresi yang sulit ditebak, ia lalu melangkah perlahan melewati meja yang tertutup kain menuju lemari buku yang menjulang tinggi hampir mencapai langit-langit. Sekilas ia membaca judul-judul buku yang ada di sana lalu seakan ada sesuatu yang menyadarkan, ia seketika berbalik dan menatap meja yang sempat ia lalui.
Ekspresi di wajah yang semula datar itu kini nampak berubah begitu drastis. Ada keterkejutan yang nyata terlukis di wajah pucat itu. Kain putih yang semula menutupi meja telah teronggok di lantai. Ditatapnya lekat-lekat apa yang ada di atas meja itu.
Beberapa saat berlalu, kedua tangannya mulai mengepal semakin kuat. Nampak jelas dalam sinar matanya ada kilatan amarah, juga kebencian yang mendalam. Maka tanpa perlu berpikir lama, setelah melihat sebuah cutter di kotak pensil, ia pun dengan tanpa ampun membuat apa yang ada di atas meja itu terkoyak dengan mengenaskan.
Merasa puas dengan apa yang nampak di hadapannya sekarang, ia pun menghentikan aksinya. Dilemparkannya cutter yang ia genggam ke sembarang arah. Wajahnya segera berubah kembali menjadi datar lagi.
Tak ingin berlama-lama dan tertangkap basah oleh seseorang, ia lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tak lupa ia kembali menutup dan mengunci pintu dengan sangat hati-hati. Digenggamnya kunci yang sebenarnya adalah kunci duplikat itu dengan kuat. Lalu ia pun mengendap-endap menuju ke kamarnya kembali di lantai dua.
Sesampainya di dalam kamar, ia menghembuskan nafas lega. Sebenarnya ia cukup tegang tadi. Tapi kini ia merasa semua keingintahuan dan pengintaiannya selama lebih dari sepekan terbayarkan sudah dengan apa yang telah ia lakukan. Ia dapat tidur dengan jauh lebih nyenyak mulai saat ini, pikirnya.
**
Lima hari menjelang deadline kontes design yang diselenggarakan Chandra Khan Group, Renjana Saga tak sabar menanti malam. Ia hendak memeriksa sekali lagi hasil kerja kerasnya hampir sebulan ini sebelum menyerahkannya esok hari. Dua hari lalu ia terlalu lelah sehingga meninggalkannya begitu saja di meja. Sementara kemarin lebih parah lagi karena ia benar-benar seolah kehabisan tenaga sehingga langsung terlelap selepas makan malam, melewatkan ritual rahasia yang ia lakukan diam-diam selama ini.
Ia bersyukur sore ini bisa dibilang ia masih cukup bertenaga karena pekerjaan di pabrik sedikit santai. Pengerjaan pesanan tea table sudah selesai dan mereka kembali fokus pada produksi item-item untuk showroom meubel mereka seperti biasa.
Sepulang dari pabrik bersama ayahnya, Renjana segera mandi lalu turun ke dapur. Ia membantu Bibi Mina, asisten rumah tangga yang bekerja sejak ia kecil, memasak untuk makan malam. Siapapun yang melihatnya tentu dapat melihat keceriaan yang terpancar dari wajah gadis itu. Tak terkecuali seseorang yang tengah mengamatinya diam-diam dari ujung tangga dengan tatapan penuh arti.
Selepas makan malam yang, seperti biasa, dingin, penuh kecanggungan dan kepalsuan, Renjana hendak menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara perdebatan dari dalam kamar ayahnya. Beberapa saat ia terdiam di sana mencoba mencari tahu permasalahan apa lagi yang dibahas kali ini.
Setelah merasa cukup paham dengan akar permasalahan yang diributkan, ia segera kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang terletak di ujung lorong sambil menahan kekesalannya. Lagi-lagi mereka berdua bersikap egois tanpa memikirkan kondisi ayahnya maupun pabrik saat ini.
Entah sudah berapa kali pertengkaran dengan permasalahan yang sama terus berulang. Uang, uang dan uang, tak ada habisnya. Kali ini pun sama. Yang menggelikan kali ini adalah alasan untuk apa wanita itu meminta uang yang tak main-main jumlahnya itu. Putrinya yang selalu tahu bagaimana untuk menghambur-hamburkan uang itu ingin menjalani operasi plastik. Merasa pakaian dan barang-barang mewah saja tak akan cukup untuk menunjang penampilannya di dunia showbiz.
Si model dan artis pendatang baru yang selama ini hanya mendapat pemeran pendukung itu tidak ingin tampil apa adanya sesuai penghasilannya. Ia selalu berlagak layaknya selebriti papan atas sehingga penghasilannya tak pernah cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya yang tak masuk akal. Padahal di luar sana pun tak sedikit artis terkenal yang tetap tampil bersahaja. Bukankah yang membuat mereka 'naik kelas' adalah kemampuan dan prestasi, bukan bagaimana mereka berpenampilan, batin Renjana.
Renjana Saga berkali-kali menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba meredam emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Ia benar-benar muak dan lelah. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ayahnya sendiri selalu lemah di hadapan mereka. Hal itu tak lepas dari bagaimana masa lalu mereka.
Masa lalu yang selalu diungkit-ungkit oleh wanita itu, ibu tirinya. Bahwa tanpa bantuan orang tua wanita itu dulu, pabrik ayahnya tentu sudah bangkrut dan tak tertolong. Renjana merasa miris, bertanya dalam hatinya apakah wanita itu tak pernah berpikir bahwa jika gaya hidupnya dan sang putri juga telah membuat pabrik kembali dalam kondisi yang sulit.
**