Part 3

1945 Words
Setelah hampir tiga jam meninggalkan Jepara, sampailah Renjana di Semarang sekarang. Tepatnya ia kini berada di Stasiun Poncol. Rencananya, ia akan naik kereta Jayabaya untuk menuju Stasiun Senen, Jakarta. Maghrib baru saja lewat. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi hingga jadwal keberangkatan keretanya. Ia menyempatkan diri untuk membeli dua botol air mineral, sandwich kemasan siap makan dan juga crackers kesukaannya. Siang tadi ia tak sempat makan sehingga perutnya mulai terasa perih. Setelah memasukkan bekalnya yang akan menemani perjalanan panjangnya itu dalam ransel, Renjana segera menuju peron dan duduk di salah satu bangku. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Ia merasa begitu gugup karena ini adalah perjalanan pertamanya seorang diri. Ditambah lagi, kota yang ia tuju kini adalah Jakarta, kota metropolitan yang bisa membuat siapa saja tersesat, apalagi gadis sepertinya yang tak punya pengalaman bepergian ke kota. Beruntung teknologi kini semakin canggih. Renjana sudah mencari tahu beberapa hal yang ia perlukan sepanjang perjalanan dari Jepara tadi. Ia sudah bertekad dan tak mungkin mundur. Ini bukanlah impiannya seorang. Karena itulah ia terus menyemangati dirinya sendiri dan berusaha untuk tegar. Pukul tujuh lewat tujuh menit petang itu, kereta yang ditumpangi Renjana pun akhirnya melesat di atas jalurnya. Renjana duduk dengan perasaan yang ia sendiri sulit mendeskripsikannya. Senyum mengembang di bibirnya disertai air mata. Entah itu air mata kesedihan atau kebahagiaan, atau malah keduanya. Ia lalu memejamkan mata sambil memeluk erat ransel dan tabung gambarnya. Ransel yang hanya berisi beberapa potong pakaian dan bekalnya. Sementara tabung gambar hitam peninggalan sang ibu berisi hal yang mungkin akan mengubah hidupnya. Kerja keras dan jerih payahnya tertuang dalam dua lembar kertas yang tergulung rapi di dalamnya. Kilasan-kilasan peristiwa beberapa hari lalu berkelebatan membuat Renjana harus menarik nafas dalam-dalam karena sesak melanda dadanya. Malam itu, seperti biasa setelah menunggu semua orang terlelap, ia kembali ke ruang kerja ibunya untuk memeriksa sekali lagi pekerjaannya. Tapi yang ia temui hanyalah kepedihan ketika ia melihat kertas yang ia tinggalkan di meja gambar telah terkoyak mengenaskan. Gadis itu begitu syok. Ia sampai memukul-mukul pipinya berulangkali dan mencubit lengannya untuk memastikan bahwa apakah itu mimpi atau kenyataan. Ia jatuh bersimpuh di lantai begitu menyadari bahwa apa yang terjadi memang nyata. Hanya beberapa hari sebelum deadline dan kerja kerasnya selama lebih dari tiga minggu hanya akan berakhir di tempat sampah. Malam itu ia rasa adalah malam terburuk setelah kematian ibunya. Ia menangis meraung-raung membuat semua penghuni rumah berhamburan dari peraduannya. Saat itulah amarah dan kesedihan membuatnya gelap mata. Masih jelas terpatri di ingatan Renjana saat ayahnya memergokinya ketika ia baru saja keluar dari ruang kerja ibunya hendak kembali ke kamar beberapa hari sebelumnya. Karena itulah tanpa pikir panjang ia menuduh sang ayah lah yang telah merusak gambar designnya. Tanpa ia tahu, seseorang yang berdiri dengan menyandar ke pintu dan bersedekap tengah tersenyum sinis dan berteriak kegirangan dalam hati. Sekembalinya sang ayah ke kamar tanpa sepatah kata pun, Renjana masih bertanya-tanya kenapa hal ini terjadi padanya. Apakah ayahnya benar-benar ingin menghapus kenangan tentang ibunya sampai ke akar-akarnya, lalu mengapa ruang kerja itu tetap dibiarkan ada. Seberapapun kerasnya ia berusaha menemukan alasan mengapa ayahnya tega melakukan ini padanya, gadis itu tak berhasil menemukan apapun. Ia lalu memikirkan kemungkinan lainnya. Bagaimana jika ternyata bukan ayahnya yang melakukannya, tapi dua orang wanita yang memang tidak pernah bisa menerimanya itu. Hanya saja kemunculan sang ayah malam itu seolah-olah menunjukkan bahwa dialah yang melakukannya. Bagaimana jika setelah ia dan ayahnya kembali ke kamar lalu ada orang lain yang diam-diam masuk ke sana. Tapi bukankah kunci ruangan itu tak pernah lepas dariku, Renjana berusaha memecahkan keruwetan dalam pikirannya. Tak begitu lama kemudian ia tersentak seakan ada suara lain dalam kepalanya. Kunci cadangan? Seketika itu Renjana kembali terisak semakin keras, menyadari suatu kesalahan besar yang telah ia perbuat. Kesalahan yang membuatnya menyesal seumur hidupnya. Pagi hari setelah malam itu, ayahnya harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung dan nyawanya tak tertolong. Anggoro Kusuma, ayah Renjana, meninggalkan sang putri tanpa sepatah kata pun. Hanya raut kesedihan yang terus terbayang di benak sang putri di malam ketika ia kehilangan kepercayaan dari gadis itu. Hal itulah yang membuat Renjana terus menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa sang ayah. "Puas kau sekarang, hah? Dasar anak tidak tahu diri! Anggoro sudah memanjakanmu sedemikian rupa, tapi apa yang kau lakukan? Kau membuatnya sakit. Kau membunuhnya!" Rosi, ibu tiri Renjana, meneriaki gadis itu di lorong rumah sakit pagi itu. Ia tak peduli pandangan orang lain dan suster yang menegurnya untuk tidak membuat keributan. Ia terus mengumpat dan menumpahkan kata-katanya yang penuh kebencian. Sementara Hesa Cynthia, sang kakak tiri, diam-diam tersenyum sinis di balik tangis kepura-puraannya. Hanya Mina satu-satunya orang yang tahu persis bagaimana perasaan Renjana. Betapa hancur hati gadis itu. Tapi saat ini, ia tak bisa berbuat apa-apa selagi dua wanita itu ada di hadapan mereka. Ia hanya duduk di samping Renjana dan mengelus punggung gadis itu mencoba membuatnya tetap tegar. Sepanjang hari hingga proses pemakaman selesai, air mata Renjana seakan tak ada habisnya. Ia pun hanya menanggapi ucapan bela sungkawa para pelayat yang datang dengan diam. Ia tak sanggup berkata apapun bahkan itu sekedar ucapan terima kasih pada mereka yang datang. Bibirnya seakan terkunci setiap mengingat kata-kata terakhir yang ia lontarkan justru melukai hati ayahnya yang tak akan pernah bisa ia peluk lagi. Mina yang melihatnya pun merasa prihatin. Gadis yang ia asuh sejak kecil itu sekarang telah menjadi yatim piatu. Gadis itu harus bisa benar-benar bertahan seorang diri di tengah dunia yang semakin penuh dengan kemunafikan. Ya, seperti halnya kemunafikan yang ditunjukkan dua orang wanita yang sepanjang hari berusaha keras berperan seolah-olah mereka benar-benar merasa kehilangan. Tapi ia yakin, dalam hati mereka kini tengah kegirangan dan sibuk memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Renjana dan menguasai seluruh warisan yang ditinggalkan almarhum majikannya. Malam perlahan merambat. Langit hitam pekat tanpa satu pun bintang yang nampak. Sesekali terdengar suara gemuruh seakan memberi signal bahwa hujan mungkin akan segera datang. Renjana terbaring meringkuk di atas ranjangnya masih dengan pakaian berkabung dan wajahnya yang sembab. Waktu makan malam telah lewat tapi ia tak merasakan lapar sedikitpun. Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya tapi ia tetap bergeming. Tak lama kemudian pintu itu dibuka perlahan. Seseorang melangkah masuk sambil membawa nampan berisi makanan. "Nona, ada sesuatu yang perlu segera saya sampaikan, malam ini juga. Ini adalah amanah dari almarhum Tuan Anggoro." Kata-kata Mina kali ini nampaknya berhasil menarik perhatian Renjana. Gadis itu perlahan mencoba duduk tapi kepalanya terasa berdenyut sehingga hampir saja ia roboh andai tak dibantu Mina. "Saya tahu Nona masih dalam suasana berkabung. Saya minta maaf. Tapi saya benar-benar harus menyampaikannya sesegera mungkin." "Hmm. Tidak apa-apa. Katakan saja apa itu, Bibi." Renjana menjawab dengan suara lirih. "Saya akan mengatakannya begitu Nona selesai makan. Saya sudah bawakan sup ayam. Saya juga membuat teh herbal untuk Nona." Belum sempat Renjana menjawab untuk menolak makan, Mina sudah berdiri dan mengambil nampan makanan yang ia letakkan di meja belajar tadi. Ia lalu kembali duduk di samping gadis itu, menyendok sup ayam di hadapannya. Ia ingin memanjakan gadis itu dengan menyuapinya. Seketika itu air mata kembali meleleh membasahi pipi Renjana. Tapi ia tetap berusaha membuka mulut menerima suapan Mina sambil sekuat mungkin menahan isakannya. Di tengah kesedihannya, Renjana merasa ada hal yang patut ia syukuri. Itu adalah kasih sayang dari Mina yang tak pernah berubah sejak ia kecil hingga saat ini. Satu-satunya hal yang bisa sedikit menghibur duka laranya. "Ini." Mina menyodorkan sebuah pounch dari bahan kulit pada Renjana. "Tuan Anggoro menitipkan ini pada saya sejak lima tahun lalu, tepatnya sebelum beliau menikah dengan Nyonya Rosi." Renjana terkejut begitu mendengar apa yang baru saja disampaikan Mina. "Apa ini, Bibi?" "Nona buka saja. Itu mungkin salah satu bukti betapa besar kasih sayang Tuan Anggoro. Beliau jauh-jauh hari telah memikirkan masa depan Nona, mempertimbangkan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi setelah pernikahan itu." Tangan Renjana bergetar mengeluarkan apa yang ada di dalam pounch itu, sebuah buku tabungan, satu kartu debit, satu kartu lagi nampaknya adalah kartu akses sebuah apartemen, dua buah kunci dan kotak hitam dengan nama sebuah brand perhiasan terkenal di atasnya. Air mata semakin deras mengalir dari sudut mata gadis itu. Sebelah tangannya menutup mulut untuk meredam isakannya. Dadanya semakin nyeri teringat kembali akan kesalahan yang telah ia lakukan di akhir hidup sang ayah. Penyesalan yang begitu besar itu sungguh menyiksa batinnya. Mina pun tak dapat lagi menahan air matanya. Segera direngkuhnya tubuh gadis yang sudah ia anggap layaknya putrinya sendiri itu ke dalam pelukannya. Ia dapat merasakan tubuh itu bergetar. Lalu diusapnya punggung gadis itu mengalirkan kehangatan untuk menenangkannya. Beberapa saat setelah tangis itu mereda dan pelukan mereka terurai, Mina menyeka air mata di pipi Renjana dan menggenggam tangan gadis itu. "Itu adalah deposito yang disiapkan Tuan Anggoro untuk Nona. Kartu akses apartemen milik ibu ketika dulu masih bekerja di Jakarta. Kunci itu adalah kunci laci di bagian bawah rak di ruang kerja Nyonya Soraya. Sedangkan yang satu lagi, yang lebih kecil, itu kunci lemari di kamar utama apartemen. Sekitar tiga minggu yang lalu, Tuan berpesan pada saya untuk menyiapkan semuanya. Beliau mengatakan mungkin Nona akan ke Jakarta dalam waktu dekat. Saat itu saya tidak mengerti untuk apa Nona ke Jakarta. Tapi setelah kejadian malam itu, saya akhirnya mengerti." Sejenak Mina berhenti dan menarik nafas panjang sebelum kembali bicara. Ia menangkupkan sebelah tangannya di sisi wajah Renjana, menatap mata gadis itu lekat-lekat dengan tatapan teduh. "Tuan Anggoro pasti selalu mendukung Nona, bahkan meski beliau tidak ada lagi di sini. Beliau tahu Nona selalu ingin meneladani Nyonya Soraya, meneruskan impian almarhumah yang tertunda. Mungkin setelah ini semuanya akan terasa lebih berat karena Nona harus menjalaninya sendiri, tapi percayalah bahwa sebenarnya Nona tidak benar-benar sendiri. Ada Tuhan, juga tuan dan nyonya di hati Nona." Renjana tak sanggup berkata-kata. Ia hanya terus menangis dan memeluk Mina. Pikirannya berkecamuk, apakah ia harus terus berusaha mewujudkan impiannya, apakah ia mampu, ia bertanya pada dirinya sendiri. "Nona.., Nona.. Bangun, Nona." Renjana berusaha membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Ia dapat merasakan seseorang mengguncang lengannya. Sesaat kemudian akhirnya ia tersadar. Rupanya ia tertidur. Seketika itu ia merasa panik memikirkan sudah berapa lama ia terlelap dan sudah sampai mana kereta ini melaju. "Anda baik-baik saja, Nona?" Renjana menolehkan kepala dan menyadari ada seorang laki-laki muda berkaca mata berdiri di samping kursi kosong di sebelahnya. Laki-laki yang nampak ramah itu tersenyum padanya. Tapi ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia ingat pesan yang dikatakan sang Bibi sebelum berangkat, bahwa ia harus berhati-hati dan waspada pada orang asing karena orang jahat bisa bersembunyi di balik wajahnya yang nampak baik. "Maaf jika saya mengganggu tidur Anda, Nona. Tapi sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Senen. Jadi saya rasa saya memang harus membangunkan Anda. Dan ini, tabung gambar Anda tadi terjatuh dan menggelinding di lorong sampai ke bawah kursi saya di seberang." Laki-laki yang terus mendapat tatapan waspada dari Renjana itu berusaha menjelaskan sambil menunjuk kursi yang ia tempati. Renjana hanya menatap sekilas pada arah yang ditunjuk dan langsung meraih tabung gambarnya. Ia hendak membuka tutup tabung itu takut jika hal buruk kembali menimpanya. "Tenang saja, saya pastikan apa yang ada di dalamnya aman. Saya tidak membukanya sama sekali dan saya bukan orang jahat, jika itu yang Anda khawatirkan." Tambah laki-laki itu sambil kembali tersenyum lalu menegakkan tubuhnya hingga membuat Renjana harus mendongak untuk menatapnya. Ia lalu berbalik untuk kembali duduk di kursinya. "Te..terima kasih, Tuan." Ucap Renjana sebelum laki-laki itu mencapai kursinya. Sebuah senyum kembali mengembang di bibir lelaki muda itu membuat Renjana sedikit salah tingkah. Gadis itu pun menundukkan kepalanya sambil mempererat pelukan pada tabung gambarnya, seerat ia mendekap impiannya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD