MENGHILANGNYA CALON SUAMI

1215 Words
Siang itu Dira tiba-tiba panik luar biasa karena tiba-tiba calon suaminya, Denny, sepagian tidak bisa dihubungi. Berkali kali dia mondar-mandir gelisah berkeliling rumah, membuat Ibu dan adiknya yang kebetulan libur kuliah jadi ikut bingung dibuatnya. "Ada apa sih, Mbak?" tanya Lina menghampiri kakaknya. "Denny nih, kenapa ya kok dari pagi nggak bisa dihubungi?" jawab Dira dengan wajah bingung bercampur marah. "Masa sih? Memangnya nggak pamit gitu mau kemana?" "Makanya itu Lin, mbak bingung. Dia nggak ngomong apa-apa sebelumnya. Pesan terakhir yang mbak kirim semalem aja masih centang satu. HPnya nggak aktif sampai sekarang." "Coba hubungi nomer lainnya aja, Mbak." "Nggak ada Lin, nomer dia kan cuma satu." "Kalau gitu nomer keluarganya. Mbak Dira punya kan? Nyimpen kan?" desak sang adik. "Oh iya ya, kok mbak sampai nggak kepikiran sih." Dira menepuk dahinya sendiri karena tak bisa berpikir tenang sejak tadi. Perlahan wanita berambut lurus sebahu itu pun menghubungi satu per satu nomer keluarga Denny. Pertama ayahnya, ibunya, dan yang terakhir adik lelakinya yang bernama Rico. Namun nihil, tak ada satu nomer pun yang dia hubungi itu aktif. Ada apa ini? Mendadak wajah Dira pucat pasi. "Ada apa, Dir? Masih nggak bisa dihubungi si Denny?" Bu Lis tiba-tiba sudah ada di dekat kedua anak perempuannya itu. Dira menggeleng lemah. "Nomer keluarganya juga mbak? Gak aktif?" tanya Lina. Dira menggeleng lagi, lemas. Lalu tiba-tiba dia menangis tergugu memeluk sang ibu. "Lhoh lhoh lhoh, kenapa Dir kok malah nangis?" Bu Lis kebingungan melihat anak gadisnya sesenggukan di dadanya. "Gimana ini Bu? Denny kok malah ilang? Dia pergi ninggalin Dinda." "Pergi kemana ah? Jangan ngawur kalau ngomong? Memangnya dia nggak pamitan pergi kemana gitu?" tanya sang ibu masih berusaha menenangkan anaknya. "Enggak, Bu. Perasaan Dira nggak enak ini. Gimana dong?" rengek wanita berusia 25 tahun itu. "Mbaakk, bentar deh nggak usah panik gitu. Kan orangnya juga jelas dimana rumahnya. Palingan lagi mati listrik di rumahnya jadi seluruh HP keluarganya juga pada mati," timpal Lina. "Iya, benar itu adik kamu. Jangan berpikiran buruk dulu. Kamu mikirnya yang pinter dikit dong, Dir." Ibunya membenarkan. "Tapi, Bu. Ini nggak seperti biasanya. Sejak semalem lho Denny nggak ada kabar." Dira tetep bersikukuh bahwa ada yang tidak beres dengan calon suaminya itu. "Ya sudah, sudah. Nggak usah bingung gitu. Mendingan kamu siap-siap aja sana samperin ke rumahnya. Nggak usah panik, anak gadis udah gede juga masih kayak anak SMP kamu Dir," ujar Bu Lis menyindir. "Iya nih mbak Dira ih," kata Lina membela sang ibu, walaupun sebenarnya dalam hati dia agak sedikit ragu dengan pernyataannya sendiri karena sebenarnya dia pernah melihat adanya kejanggalan pada lelaki bernama Denny itu. . . . Tak butuh waktu lama untuk Dira berdandan. Lalu dia dan adiknya pun berangkat ke rumah calon suaminya. Sekitar satu jam kemudian taksi online yang membawa mereka pun berhenti di depan rumah cukup besar di pinggir jalan. Namun ada yang sedikit aneh saat kedua gadis itu datang. Rumah nampak tak seperti beberapa waktu yang lalu saat Dira beberapa kali berkunjung ke tempat ini. Kali ini rumah ini terlihat sangat sepi dan juga agak kotor halamannya. "Kok sepi ya?" celetuk Lina. "Iya nih mobil Denny juga nggak ada di halaman. Kemana sih dia?" Hati Dira mulai merasa tak enak lagi. "Udah mbak jangan panik dulu. Pencet belnya lah," kata sang adik yang langsung dituruti Dira. Satu, dua kali bel berbunyi namun tak ada seorang pun yang nampak keluar dari rumah. Kemana semua penghuni rumah ini? "Nyari siapa, Mbak?" Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya nampak keluar dari rumah sebelah menghampiri mereka. "Ini Pak, orang-orang di rumah ini pada kemana ya?" tanya Dira. "Ooh, sudah pindah mbak, kemarin sore." "Pindah? Pindah kemana?" Dira sontak kaget mendengar itu. "Ya saya kurang tau. Coba tanya aja Pak RT yang punya rumah, barangkali beliau dipamitin." "Lho, yang punya rumah bukannya Pak Munadi? Joko Munadi, Pak?" tanya Dira lagi. "Bukan mbak, ini rumahnya Pak RT. Namanya Pak Sulaiman. Kemarin memang ditempati Mas Denny, yang ngontrak di sini." "Denny? Ngontrak di sini?" Dira nampak membulatkan matanya. "Lhoh iya, lha mbak nya ini siapa?" "Saya ..." Dira tak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Ini kakak saya, Pak, calon istrinya mas Denny. Tapi kayaknya bapak salah deh. Waktu kemarin kami sekeluarga ke sini itu kami ketemu kok sama orang tuanya mas Denny, Pak Joko Munadi, istrinya, sama adiknya. Mereka ada di sini kok," jelas Lina panjang lebar. "Lhah, mungkin mbaknya yang salah. Mas Denny itu di sini ngontrak sama temannya, namanya Rico." "Lho, Rico itu bukannya adiknya?" Lina makin kaget. "Temannya, Mbak. Mereka cuma berdua saja ngontrak di sini. Jadi bukan sama orangtua mereka. Ngontraknya juga belum lama kok, baru dua bulanan kayaknya. Apa jangan-jangan mbak berdua ini korban penipuan si Denny?" "Korban apa maksud bapak? Mas Denny penipu gitu?" Kali ini Lina agak tersinggung dengan pernyataan si bapak. "Wah, saya juga nggak tau. Lebih baik mbak lapor aja ke pak RT. Itu rumahnya Pak RT di ujung jalan yang paling besar. Kesana saja kalau mau informasi lebih lanjut tentang orang yang kemarin ngontrak di sini itu, Mbak." Saat Lina mengangguk, lelaki paruh baya itu pun kembali ke dalam rumah. Sementara itu, Dira yang shock, tubuhnya mulai nampak limbung. "Mbak Dir, Mbak. Jangan pingsan dong mbak, aduuuh." Lina panik saat melihat kakaknya tiba-tiba saja bersimpuh di tanah. Tapi syukurlah ternyata Dira hanya terduduk dan bengong persis seperti orang yang sedang kemasukan setan. Tak menunggu lama, Lina pun segera memesan taksi untuk membawa mereka kembali ke rumah. . . . Mengetahui apa yang menimpa anak gadisnya, bu Lis langsung menjerit histeris. Bagaimana tidak? Tinggal 2 minggu lagi acara pernikahan sang putri berlangsung. Semua sudah tinggal menunggu hari dan entah sudah berapa banyak biaya yang dihabiskan anak lelakinya untuk segala t***k bengek pernikahan Dira. Bagaimana semua bisa seperti ini? "Sebenarnya dari awal aku sudah curiga, Bu." "Curiga apa sih?" Bu Lis melotot ke arah Lina yang tiba tiba saja mengatakan hal seperti itu. "Maaf tapi sebelumnya kalau Aku baru menceritakannya sekarang. Waktu itu aku berniat cerita tapi takut membuat mbak Dira sedih." "Ada apa sih, Lin?" tanya bu Lis lagi. "Waktu lagi hang out sama temen-temen, aku pernah lihat mas Denny jalan sama cewek lain di mall. Aku pikir palingan temen wanitanya aja. Makanya aku pikir kalau aku ceritakan sama mbak Dira, kasihan mbak Dira nanti malah sedih." "Ya allah Linaaa, kenapa hal sepenting itu nggak kamu ceritakan ke ibu sama mbakmu? Kamu ceroboh sekali sih. Lali bagainana kalau udah kayak gni? Semua sudah terlanjur seperti ini? Malu kan ibu? Gimana nanti ibu ngomongnya sama Bram coba? Lagipula kenapa kita jadi kayak orang bodoh gini sih? Bisa-bisanya kena tipu. Kamu juga Dira, bisa bisanya tertipu sama lelaki yang nggak jelas. Kenal dimana sih kamu? Kemarin sebenarnya?" Bu Lis mulai mengoceh panjang lebar dengan emosi Dira bukannya menjawab malah justru mengeraskan tangisannya. "Ibu jangan marah-marah sama Dira. Dira sendiri udah tertipu banyak sama dia, Bu. Sekarang Dira harus gimana bayar hutang?" "Hah? Apa? Hutang? Bayar hutang apa?" Lagi-lagi wanita tua itu shock. Dia dan anak bungsunya sama-sama membuka mulutnya lebar saking kagetnya. "Denny, Bu. Pernah butuh uang 70 juta buat investari tambang. Dan aku meminjamkannya sama sahabatku, Vita. Trus sekarang gimana Bu? Aku janji akan membayarnya usai pernikahanku dengan Denny nanti. Denny juga bilang dia akan menyerahkan hasil investasi tambangnya sama aku waktu itu. Gimana ini? Huhuhu ..." "Diraaaaa ... !" Bu Lis pingsan seketika mendengar pengakuan anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD