"Kalian jangan keterlaluan, aku ini kerja bukannya keluyuran seperti yang kalian tuduhkan itu," kata Dinda emosi.
"Kerja apaan emangnya, Mbak? Mana ada sih orang kerja sambil bawa-bawa anak? Jangan ngibul deh," ejek Lina.
"Percuma saja ngomong sama kalian. Kalian juga nggak akan ngerti," kata Dinda sambil berlalu meninggalkan tempat itu menuju ke kamar anaknya. Beruntung tadi Ema mengajaknya makan dulu sebelum mengijinkannya pulang. Jadi dia bisa langsung beristirahat menemani Icha setelah ini.
Usai membersihkan diri, Dinda langsung menemani anaknya bermain sebentar sebelum akhirnya gadis kecil itu menguap tanda kelelahan dan mengantuk. Tak butuh waktu lama untuk membuat anak itu tidur dalam pelukannya. Karena sudah lama tidak bekerja di luar rumah, Dinda pun jadi ikut tertidur kecapekan di sampingnya.
Rasanya baru beberapa menit dia memejamkan mata saat tiba-tiba pintu kamar anaknya diketuk dari luar.
"Din, Dinda!" Suara ibu mertua dari luar. Dinda beranjak bangun lalu membukakan pintu dengan malas.
"Ada apa, Bu?"
"Tidur kamu? Kok enak banget sih?" kata wanita tua itu kesal melihat mata Dinda yang terlihat habis bangun tidur.
"Memangnya kenapa, Bu? Dinda capek."
"Enak banget ya, suamimu belum pulang kamu malah enak-enakan tidur. Siapin makanan kek buat suami," kata ibu mertuanya.
"Mas Bram kalau pulang jam segini biasanya sudah makan di jalan, Bu. Ibu tenang saja, kalau nanti sampai rumah dan masih lapar biar Dinda siapin," kata Dinda cuek.
"Eh, mana bisa gitu. Adik-adik kamu juga belum makan dari tadi. Kamu yang harusnya masak malah nggak pulang-pulang," gerutu bu Lis.
"Astaghfirullah, Bu. Dira sama Lina itu sudah gede, bukan anak TK lagi. Masa' iya nyiapin makanan untuk dirinya sendiri aja nggak bisa?" Dinda memutar matanya dengan malas.
"Dinda! Jangan kurang ajar ngomong sama ibu!" Entah kapan dia pulang, tapi Bram tiba-tiba sudah ada di dekat mereka dengan wajahnya yang ditekuk.
Bram menatap Dinda dengan dengan wajah murka. Masalah di kantor yang menumpuk dan di rumah justru dia melihat istrinya sedang beradu mulut dengan sang ibu. Rasanya lengkap sudah kejengkelannya hari ini.
"Apa-apaan sih kamu? Berani ngelawan ibu sekarang? Sana siapin makanan!" bentaknya pada sang istri.
"Jangan keras-keras, Mas. Icha udah tidur," sahut Dinda sedikit berbisik. Lalu ditutupnya pelan pintu kamar anaknya.
"Makanya kamu nurut, jangan nunggu sampai dibentak!"
"Aku bukannya nggak nurut. Tapi mereka itu yang keterlaluan. Aku capek, Mas. Baru pulang kerja, lalu nidurin Icha. Mereka kan udah dèwasa, masa' iya makanan harus aku juga tiap saat yang nyiapin?" protes Dinda.
"Kok lama-lama makin kurang ajar sih kamu. Sejak pulang dari rumah ibu kamu kemarin kuperhatikan omonganmu udah bukan kayak kamu yang dulu. Apa sih sebenarnya yang terjadi sama kamu, heh?!" Bram mendekat ke arah Dinda. Rasanya ingin sekali dia lampiaskan kekesalannya pada wanita di depannya ini jika tak ingat Icha, anak mereka.
"Aku lelah, Mas. Aku sudah capek!"
"Capek apa? Capek jadi istriku? Atau capek tinggal di rumah ini?" sindir Bram.
"Iya, semuanya!" pekik Dinda hampir menangis. Sepertinya kalimat itu memang yang ingin sekali dia ungkapkan sedari dulu dan baru bisa dia keluarkan sekarang.
"Oooh, jadi begitu ya? Kamu mau pergi dari rumah ini? Kamu mau berpisah dari aku? Begitu?" Mata lelaki itu nyalang menatap ke istrinya. Seumur pernikahannya dengan Dinda, baru kali ini wanita itu mengatakan hal seperti itu padanya. Senyumnya tiba-tiba menyeringai melihat Dinda justru berani membalas tatapannya.
"Kamu pikir kamu akan semudah itu pergi dariku? Dengar ya Din, jika sampai kamu pergi dari rumah ini, itu artinya kamu pergi sendirian, tanpa Icha. Ngerti kamu!"
Bram mengacungkan telunjuknya ke arah sang istri. Dinda benar-benar membuatnya geram kali ini. Namun dia harus bisa mengendalikan diri untuk tidak lagi memukul. Sekuat tenaga lelaki itu berusaha tidak menuruti emosinya agar Dinda tak bisa memanfaatkan kekasarannya untuk jadi alasan dia bisa membawa pergi Icha nantinya.
Usai mengancam istrinya dengan kata-kata, Bram pun meninggalkan Dinda yang masih berdiri di depan pintu kamar anaknya. Sementara bu Lis mengejar Bram yang melangkah menuju kamar.
"Bram, kok cuma gitu aja sih marahin si Dinda? Ibu sama adik-adik kamu belum makan ini," katanya sambil berjalan cepat mengejar anak lelakinya.
"Ah sudahlah Bu! Ibu ini juga, ajari anak-anak ibu mandiri bisa nggak sih? Jangan tiap hari nyusahin aku aja! Aku pusing banyak masalah di kantor, jangan nambah-nambahin lagi!" kata Bram sedikit kasar. Lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya keras-keras.
Bu Lis yang kena imbas kemarahan anaknya beralih lagi menatap ke arah Dinda yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah kesal.
Tak ingin lagi berdebat dengan ibu mertuanya, Dinda pun segera masuk kembali ke kamar anaknya dan segera membaringkan diri di samping Icha.
Dalam diam dia merenung. Sepertinya Bram sudah bisa membaca rencananya untuk berpisah. Makanya beberapa hari ini lelaki itu seperti berusaha menghindari kekerasan terhadapnya. Walaupun sebenarnya Dinda sangat heran kenapa suaminya jadi tidak sekasar biasanya? Apakah karena sekarang dia terlihat lebih berani dari sebelumnya? Jadi ruoanya selama ini dia ditindas dan diperlakukan bak pembantu karena dia selalu saja hanya menurut tanpa memberi perlawanan?
.
.
.
Hari berikutnya seperti biasanya Dinda bangun paling awal dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Baginya, yang terpenting tugasnya menyiapkan suaminya sarapan sebelum dia berangkat ke kantor sudah dikerjakannya. Kali ini dia sudah tidak peduli lagi dengan anggota keluarga lainnya di rumah ini. Bukan seperti sebelumnya, dimana dia harus selalu menurut dengan perintah mereka semua. Dinda sudah tidak mau lagi diperbudak di rumah suaminya sendiri.
Saat semuanya berkumpul untuk sarapan, Dinda bahkan sudah tak main sembunyi-sembunyi lagi mengenakan baju kerjanya. Icha juga sudah didandaninya dengan cantik. Setelah itu dia pun bergabung di meja makan bersama yang lain.
"Kamu masih mau pergi juga?" tanya Bram memandangnya dengan tidak suka.
"Aku kerja mas sekarang, bukan pergi nggak jelas," sanggahnya.
Bram meletakkan sendok dengan kasar di piringnya. Lalu dia mulai terkekeh lebar.
"Kamu tuh benar-benar nggak bersyukur ya. Sudah enak disuruh di rumah. Semuanya sudah tersedia. Masih juga memilih kerja."
"Maaf mas, apanya yang tersedia? Kalian kan selama ini hanya menjadikanku pembantu di rumah ini. Sebagai istri, apa pernah mas mempercayakan uang mas untuk aku kelola selayaknya istri yang dinafkahi suami? Enggak kan? Semua selalu kamu berikan sama ibu dan adik-adik kamu kan?"
"Dinda!" Bram menggebrakkan dua tangannya ke meja. Dia bangkit seketika dengan gigi gemeretuk siap untuk memukul istrinya.
Melihat itu, Dinda sama sekali tak tinggal diam. Dia justru dengan berani memberikan pipinya untuk ditampar.
"Ayo pukul, Mas! Tunggu apa lagi? Ini kan yang mau kamu lakukan sejak semalam sebenarnya? Tanganmu sudah gatal kan ingin memukulku seperti biasa?"
Namun tangan Bram yang sudah terangkat ke atas bergetar mendengar kata-kata sang istri. Lalu mendadak dia menurunkan kembali tangan itu sambil menyeringai ke arah Dinda.
"Dan kamu akan dengan mudah pergi dari rumah ini jika aku memukulmu? Itu kan mau kamu? Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, Dinda! Camkan itu!"
Mendengar keributan yang terjadi di meja makan, tak cuma Icha saja yang mulai menangis, trio wanita keluarga Lis Subroto juga terlihat tegang di tempat duduk masing-masing.
Nafas Dinda pun turun naik mendengar kata-kata sang suami. Benar-benar menyebalkan kelakuan Bram kali ini. Dinda jadi semakin sadar bahwa suaminya memang tak akan melepasnya dengan mudah.
"Kamu pikir hanya karena kamu nggak memukulku aku nggak bisa bebas dari kamu, Mas? Bertahun tahun kamu tidak memberikanku nafkah saja sebenarnya sudah cukup untuk membuatku pergi membawa Icha dari sini. Ingat itu!"
Usai berkata seperti itu, Dinda pun segera menggendong Icha yang masih menangis terisak meninggalkan ruang makan. Membiarkan suami, ibu mertua, dan adik-adik iparnya terbengong mendengar kalimat terakhirnya tadi.