KAKAK IPAR DAN SAHABAT

1216 Words
Meskipun sedikit kecewa karena ternyata Dira menolak untuk melakukan wawancara dengan perusahan tempatnya bekerja sekarang, namun entah kenapa Dinda begitu yakin bahwa Dira sebenarnya menyesal telah menolak tawaran itu. Saat jam menunjukkan pukul 4 sore, Dinda pun segera bersiap meninggalkan kantor. Hari ini begitu melelahkan baginya, namun tentu saja dia lebih senang berada di kantor ini daripada di rumah yang sudah membuatnya sangat tidak nyaman itu. Dinda juga begitu senang karena pakdhenya terlihat begitu bangga dengan bagaimana cepatnya dia belajar. Mungkin karena semangatnya yang tinggi hingga Dinda begitu rajin di hari pertamanya bekerja. Sebelum meninggalkan kantor, rupanya Dinda sudah punya rencana untuk menemui kakak iparnya. Hanif terlihat masih sibuk merapikan meja kerjanya di ruangan marketing. "Mas Hanif," sapanya sambil melongok di pintu ruangan. "Eh, Din. Udah mau pulang? Tunggu bentar ya aku selesaikan beres-beres dulu. Nanti kuantar pulang," cerocos Hanif melihat adik iparnya menyembul dari balik pintu kaca. "Enggak, Mas. Aku ke sini cuma mau minta tolong. Nanti aku pulang sendiri aja naik ojek," ujar Dinda. "Lhoh gimana sih? Sekalian aja. Nanti mas diomelin mbakmu kalau tau aku nggak nganterin kamu pulang," canda Hanif. "Halah bilang aja udah nganterin," seloroh Dinda. "Tuh, malah ngajarin masnya buat bohong." Hanif memukul kepala sang adik dengan kertas yang dia pegang. "Hehe, sekali kali nggak apa-apa, Mas," ujarnya. "Sekali kali kalau namanya bohong ya tetep aja dosa, Diin." Dinda meringis melihat Hanif melotot ke arahnya. "Eh, tadi mau minta tolong apa?" tanya Hanif saat akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. "Ini mas." Dinda mulai mendudukkan diri di kursi depan meja kerja Hanif. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada sang kakak. "Kalung? Buat apa ini?" Hanif memandang Dinda keheranan. "Aku mau minta tolong, mas. Jualin kalung itu." "Ini kalung siapa?" "Kalungku, Mas. Satu-satunya simpenanku." "Trus buat apa dijual?" "Ya buat pegangan sementara aku, Mas, selama belum gajian" kata Dinda dengan wajah kocaknya. "Ya ampun Dinda, kenapa harus jual kalung sih?" "Habis gimana dong Mas, aku udah nggak punya uang buat pegangan." "Sama sekali?" Dinda mengangguk malu-malu. "Bram ... nggak kasih kamu uang bulanan?" Dinda pun menggeleng. "Kok gitu?" Dahi Hanif mengernyit parah. "Sejak kapan, Din?" "Yaa ... sejak lama, Mas. Uang semua ibunya mas Bram yang pegang." Mulut Hanif membulat. Jadi ini yang sering dibicarakan Santi, istrinya, kalau ternyata Dinda sedang bermasalah di keluarganya. Sayang sekali dua kakak beradik ini tidak terlalu terbuka padanya selama ini. Biasanya mereka hanya akan berbincang berdua saja dan tiba-tiba diam atau mengganti topik saat melihat Hanif datang. "Ya udah gini aja, ayo ikut aku dulu." Hanif segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Dinda mengikuti di belakangnya. "Kemana, Mas?" "Udah kamu ikut mas aja dulu." Akhirnya dengan rasa penasaran Dinda pun membonceng motor Hanif tanpa banyak bicara. Tak lama kemudian motor itu pun berhenti di depan sebuah gerai ATM tak jauh dari kantor mereka. Hanif menyuruh Dinda menunggu sebentar di tempat parkir sementara dia masuk ke dalam bilik dan kembali tak lama setelah itu. "Din, mas hanya punya uang segini. Ini kamu pegang dulu." Hanif menyerahkan lima lembar seratus ribuan pada adik iparnya. "Buat apa mas ini? Enggak, aku kan bukan mau pinjem uang mas Hanif, tapi minta tolong jualin kalung ini, Mas." "Jangan Din. Itu simpan aja untuk keperluan mendesak nanti. Kamu pegang dulu uang mas itu." "Tapi mas sama mbak Santi kan juga butuh uang ini." "Aku gampang. Nanti pulang dari kantor aku masih bisa ngojek, Din, buat pegangan sementara sebelum gajian. Kamu kan nggak bisa." "Tapi Mas ..." "Udaah jangan tapi tapi. Kalau kamu nggak mau nerima itu, mas nggak mau lagi lho ngurusin kamu kalau ada apa-apa," ancam Hanif sambil bercanda. "Yaah kok gitu sih, Mas. Dinda kan jadi nggak enak." "Anggap aja itu uang kakak kamu. Nanti sampai rumah mas bilang ke Santi. Mas yakin dia nggak akan keberatan kok." Wajah Dinda tiba-tiba memanas. Hampir saja air matanya jatuh karena haru jika saja tak segera diusapnya. Kakak-kakaknya ini memang terlau baik. Beruntung Dinda memiliki mbak Santi dan kakak ipar seperti Hanif. Karena Hanif sudah begitu baik, akhirnya Dinda bersikeras untuk tidak mau diantar pulang olehnya. Dinda tak ingin lebih merepotkan lagi. Dan Hanif pun menyerah karena Dinda bilang dia akan menjemput Icha dulu di tempat temannya. . . . Dinda begitu terharu saat tiba di rumah Ema dan melihat gadis kecilnya ternyata telah didandani rapi. Orang-orang di rumah ini bahkan lebih terlihat sayang sama Icha dibanding ibu mertua dan para adik iparnya di rumah suaminya. "Ya Allah Em, aku nggak tau harus bilang apa. Kamu udah bantu aku banget." "Udah ah jangan diulang-ulang lagi, Din. Bosen aku dengernya," canda sang sahabat. "Tapi Em, kamu kok jam segini belum pulang?" tanya Dinda keheranan saat tiba-tiba merasakan ada kejanggalan di rumah itu. Anak-anak yang tadi pagi di rumah itu bahkan sampai sekarang pun ternyata masih ada. Para pengasuhnya juga masih lengkap. Apa jam segini belum ada yang menjemput mereka untuk pulang? "Pulang kemana? Aku kan tinggal di sini," jawab Ema sambil terkekeh "Lhoh? Masa'? Tapi rumah kamu kan dulu bukan di sini, Em." "Ini rumah orang tuaku, Din. Dulu aku tinggal sama kakakku. Sejak orang tuaku nggak ada, aku diamanati rumah ini sama usaha mereka. Kakakku nggak mau nerusin karena dia udah punya usaha sendiri. Jadi biar nggak sepi, aku gunakan saja untuk menampung anak-anak yang kurang beruntung itu." "Jadi tempat pengasuhan ini milik kamu? Sebentar, sebentar, anak-anak kurang beruntung? Maksud kamu anak-anak ini, Em?" "Iya, Din. Mereka anak-anak yang dibuang orang tua mereka. Aku pungut dari panti-panti asuhan. Tapi mereka sudah kuanggap seperti anak sendiri. Nggak banyak sih cuma ada 10 anak. Mudah mudahan ke depannya bisa nambah." "Masya Allah. Hati kamu bener-bener mulia, Em. Aku iri sama kamu." "Ah biasa aja, Din. Kita kan memang harus saling tolong sesama, apalagi jika kita dikasih berlebih, ya kan?" "Jadi, pengasuh-pengasuh ini semua juga tinggal di sini?" "Iya, mereka kuajak berjuang sama-sama membesarkan anak-anakku." "Ya Allah. Kamu benar-benar mangagumkan, Em. Sudah berapa lama kita nggak ketemu coba? Kamu semakin hari makin baik saja. Sedangkan aku masih saja seperti ini belum berubah," ucap Dinda tak enak hati. "Tiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri, Din. Kamu beruntung sudah memiliki suami dan anak dari rahim kamu sendiri. Sedangkan aku beberapa tahun lalu udah divonis dokter tidak mungkin memiliki anak. Itulah sebabnya akan putuskan untuk bercerai dari suamiku dan memilih fokus membesarkan anak-anak angkatku ini." "Ya Allah Ema, aku benar-benar nggak tau harus ngomong apa tentang kamu. Kamu amazing. Aku bangga punya sahabat kayak kamu." Dinda memeluk sahabatnya erat. "Doakan saja aku, Din. Semoga usahaku terus lancar sampai aku bisa membantu anak-anak ini semua sukses pada masanya nanti." "Iya, Em, Aamiin." . . . Rasa haru ternyata tak begitu saja lepas dari hati Dinda. Sementara sahabatnya sudah memikirkan hidup orang lain, Dinda masih saja berkutat dengan persoalan rumahnya yang tak ada habisnya. Kekaguman Dinda pada sang sahabat bahkan masih dia bawa sampai di rumah. Saking asiknya dengan pikirannya, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa ibu dan dua iparnya sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah-wajah jengkel mereka. "Assalamu'alaikum," ucapnya. "Duuh enak bener ya jam segini baru pulang yang keluyuran?" sindir Dira saat akhirnya melihat Dinda memasuki rumah. "Iya nih, kita sampai kelaparan nggak ada makanan," celetuk Lina menimpali kakaknya. Darah Dinda mendidih mendengar itu. Bukannya menjawab salamnya, mereka malah melemparkan sindiran-sindiran menjengkelkan. Kontan saja wanita yang sedang berjalan sambil menggendong anaknya itu berbalik menatap ke arah tiga wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD