PANGGILAN KERJA

1005 Words
Bram membanting berkas di tangannya ke atas meja kerjanya dengan kesal. Laporan bulanannya ditolak oleh atasannya dengan alasan yang dia tak mengerti, padahal mati-matian dia sudah mengerjakannya beberapa hari ini dengan timnya. Kekesalannya lengkap sudah saat ditengoknya aplikasi perpesanannya banyak sekali pesan dari ibunya yang belum dia baca. Sewaktu meeting tadi Bram memang sengaja menolak panggilan wanita yang sudah melahirkannya itu berkali-kali sehingga mungkin kemudian bu Lis segera menghujaninya dengan banyak pesan. 'Pasti telah terjadi sesuatu di rumah,' batin Bram menggerutu. Masalah kantornya saja sudah membuatnya pusing hari ini. Mau ditambah apa lagi sekarang? Dihempaskannya tubuh penatnya ke kursi kerja dengan kesal tanpa berniat membaca pesan dari sang ibu. Namun baru saja dia memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan kekesalannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi lagi. Mata lelaki itu seketika membelalak lebar. "S*al," umpatnya kesal. Dia pikir atasannya yang menelpon, tapi ternyata itu panggilan dari ibunya lagi. "Ada apa sih, Bu?" jawabnya kesal setengah membentak. "Bram, kenapa bicara kasar begitu sama ibu?" protes ibunya dari seberang. "Habis ibu juga nggak ngerti situasi. Bram lagi banyak kerjaan di kantor, tadi ada meeting. Kenapa malah terus-terusan nelpon," gerutunya kesal. "Ya maaf, Bram. Ibu kan nggak tau. Lagipula pesan ibu juga tidak kamu baca. Ibu kan jadi cemas. Tapi Bram, ada hal penting yang perlu ibu sampaikan sama kamu. Ini tentang Dinda." "Kenapa lagi dengan Dinda? Jangan bilang dia bikin ulah lagi kayak kemarin, Bu. Aku lagi capek ini. Ibu aja lah tolong urusin si Dinda. Aku masih banyak urusan hari ini." "Tapi Bram," Bu Lis menyela saat menyadari anaknya akan segera menutup telepon. "Ya udah bilang aja cepat, kenapa dengan Dinda, Bu?" "Dinda pergi dari rumah tadi pagi, katanya sih bilang mau kerja. Tapi Icha dibawa, Bram," jelas bu Lis dengan nada panik dan memprovokasi. "Apa? Pergi kemana? Kerja dimana? Kenapa ibu nggak cegah?" Bram justru merasa jengkel dengan sang ibu. "Sudah, Bram. Ibu sudah berusaha mencegah. Tapi ya gitu, kamu tau sendiri kan gimana Dinda?" "Aaaargggh! Ya nanti lah, Bu. Bram masih pusing ini di kantor. Lagian ibu juga ngurusin Dinda aja nggak bisa sih. Ada Dira juga kan di rumah? Kenapa nyegah si Dinda pergi aja nggak bisa?" "Dira sedang tidur tadi pagi waktu Dinda pergi, Bram. Ibu sudah teriak-teriak panggil adikmu tapi dia nggak bangun-bangun. Ibu mana bisa cegah Dinda sendirian. Kamu kan tau ibu sudah tua." "Ahh sudah lah, Bu, Bram pusing. Tutup dulu aja deh telponnya, nanti nunggu aku pulang kita bicarain ini lagi," kata Bram semakin kesal. Lalu sambungan telepon pun segera diputusnya. . . . Sementara itu di rumahnya, Bu Lis nampak geram dan semakin jengkel dengan menantunya. "Benar-benar menjengkelkan," gerutunya setelah tak terdengar lagi suara Bram dari seberang. "Gimana, Bu? Mas Bram bilang apa?" tanya Dira yang sedari tadi duduk di samping ibunya penasaran. "Ibu malah diomelin sama Bram. Memang kurang ajar si Dinda itu, bikin masalah saja kerjaannya." "Hmmm ... Dira bilang juga apa. Waktu awal mas Bram mau nikahin dia kan Dira udah bilang, ngapain nikah sama orang miskin kayak dia, yang ada malah nyusahin keluarga kita aja. Akhirnya benar kan sekarang?" "Udah, udah, kamu juga ngapain pakai ngungkit-ungkit masa lalu? Semua juga udah terlanjur terjadi. Mau apa lagi?" "Trus, tadi mas Bram bilang apa lagi, Bu?" "Ya marah-marah. Trus katanya suruh nunggu dia pulang aja nanti bahasnya. Dia lagi banyak kerjaan di kantor, Dir. Kayaknya masmu lagi banyak masalah. Ibu jadi kasian. Mana istrinya nggak tau diri nambah-nambahin masalah aja." "Hmm ... Ya udah deh. Trus ngapain kita ikutan mikir? Ntar aja lah nunggu mas Bram." "Iya Dir, mendingan kita lanjut aja ngurusin persiapan nikah kamu. Ngomong-ngomong, Denny nggak kesini hari ini?" "Enggak, Bu. Mas Denny sibuk hari ini. Katanya sih ketemu klien dari Sulawesi. Biasa lah urusan proyek tambang di sana." "Wah, hebat ya calon suami kamu itu, Dir. Ibu rasa dia nantinya bakal bikin hidup kita lebih enak. Lihat aja, belum apa-apa dia udah suka ngasih-ngasih ibu hadiah. Ibu suka menantu kayak gitu. Kamu memang pinter cari suami, Dir. Ibu bangga sama kamu." "Iya lah, Bu. Siapa dulu, Diraa." Lalu kemudian sepasang ibu dan anak itu tertawa bersamaan seiring dengan ponsel Dira yang tiba-tiba berbunyi. "Eh, siapa ini, kok ada panggilan nomer lokal?" Dira mengernyit keheranan. "Angkat dulu lah siapa tau dari WO yang ngurusin nikahan kamu, Dir," kata sang ibu. "Kayaknya nggak mungkin deh, Bu. Soalnya pemilik WO nya biasanya kalau nelpon pake nomer HP, bukan nomer lokal. Tapi ya udah lah aku angkat dulu." Dira pun segera menerima panggilan ponselnya. "Ya, Halo?" "Dengan Nona Dira Kirana Salsabila?" suara seorang wanita dengan suara lembut dan formal dari seberang. "Betul, siapa ya?" jawab Dira ketus. "Kami dari Argha Wahana Express ingin menginformasikan, berdasarkan aplikasi anda ke kantor kami, kami bermaksud mengundang anda unruk melakukan interview minggu depan, Nona." "Interview? Ooh iya ya, tapi itu surat lamaranku kan udah dua bulan yang lalu. Kok baru dipanggil interviewnya sekarang sih, Mbak? Telat banget deh," ujar Dira sedikit sombong. "Mohon maaf Nona, kantor kami memang baru open minggu ini, jadi perekrutan staf tambahan baru dilakukan minggu depan. Bagaimana, apakah anda bersedia untuk melakukan wawancara?" "Aduuuh gimana ya mbak, maaf deh bukannya nggak mau ya, tapi telat, bulan depan aku udah nikah. Jadi kayaknya aku nggak butuh lagi kerjaan deh." "Ooh gitu ya. Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas waktunya, Nona. Dan maaf sudah mengganggu. Selamat siang." Usai sambungan teleponnya ditutup, Dira menghela nafas panjang. "Siapa, Dir?" "Haha, itu, Bu. Perusahaan yang lagi buka cabang baru di sini. Ngundang interview udah telat banget. Aku masukin lamarannya padahal udah dua bulan yang lalu lho. Aneh banget tuh perusahaan." "Wawancara kerja?" tanya bu Lis. "Iya." "Kamu tolak, Dir?" "Iya lah, Bu. Lagian ngapain coba aku kerja kalau suamiku udah kaya raya, ya kan?" "Iya, kamu benar, Dir. Hmmm, memang dasar ya anak ibu ini semuanya hebat-hebat. Ditawarin kerja aja nggak mau," kata bu Lis terkekeh. "Iya lho. Perusahaannya padahal bonafid itu, Bu. Terkenal tinggi juga gajinya. Tapi ogah lah, ngapain susah-susah kerja kalau di rumah aja aku bisa hidup enak nanti." Dira berkata sambil senyum-senyum sendiri membayangkan kehidupannya setelah menikah dengan Denny nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD