"Hari pertama bekerja saja sudah membuat kepalaku serasa mau lepas dari tempatnya," batin Hazel lagi.
Ia tidak menyangka keputusannya memperkerjakan Ariel akan membuatnya kesulitan.
Waktu begitu cepat berlalu dan waktu makan siang pun telah tiba. Hazel meminta agar Ariel pergi ke ruangannya dan memintanya untuk menyiapkan makan siang di ruangannya.
"Belikan saya makan siang," perintah Hazel.
"Tidak bisakah jika kita memesannya saja, Pak," saran Ariel.
Zaman sekarang tidak perlu capek-capek pergi ke tempatnya langsung. Tinggal memesannya melalui ponsel dan dalam sekejap pesanan sudah sampai.
"Tidak bisa, Nona Ariel," balas Hazel malas.
Ia sengaja ingin membuat Ariel kelelahan mencari pesanannya di luar sana, sebagai bentuk pembalasan dendamnya tadi pagi.
"Tapi, Pak. Jam makan siang akan terbuang sia-sia jika saya sendiri yang membelinya di luar," protes Ariel tidak suka.
Ia tahu Hazel sengaja ingin membuatnya kelelahan. Terlebih, ia sedang lemas karena dari pagi perutnya belum diisi.
"Bagaimana kalau saya pesankan Pak Hazel makan siang. Kemudian sambil menunggu pesanan datang. Saya makan siang dulu di kantin?" sambung Ariel mencoba tawar-menawar. Ia tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya bersikap sok manis.
"Astaga! Kenapa Ariel berubah manis begini?" tanya Hazel dalam hati.
Sepertinya pria itu mulai terpesona dengan senyuman manis Ariel. Jika tidak, mana mungkin ia bersikap seperti ini.
"Pak, Pak Hazel!" panggil Ariel sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Hazel.
"Eh, iya. Ada apa?" tanya Hazel canggung.
Pria itu mengerjapkan matanya mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
"Bagaimana tawaran saya? Apa Pak Hazel setuju?"
"Tidak. Saya mau kamu sendiri yang membelinya," balas Hazel kekeh.
Meskipun ia sempat terpesona karena wajah imut Ariel. Namun, ia tetap harus melanjutkan misinya untuk balas dendam terhadap Ariel.
"Ya sudah, saya pamit membeli makan siang Bapak dulu," sungut Ariel.
Dengan lesu, Ariel keluar dari ruangan atasannya dan berjalan menuju lift. Namun, ia menemukan sebuah ide cemerlang. Ia berbelok ke arah tangga darurat dan masuk ke dalam.
Ia duduk di antara banyaknya anak tangga dan merogoh saku celananya. Kemudian ia mengambil ponsel jadulnya untuk memesan makanan. Namun, ia teringat akan putrinya. Jadi, ia memiliki menghubungi Kara terlebih dahulu.
"Bunda!" teriak suara gadis kecil itu renyah. Sepertinya gadis itu sudah menunggu sang bunda menghubunginya.
"Iya, Sayang. Kara sedang apa?"
"Karya sedang bermain Bun sama Mbok Lili."
"Oh gitu. Oh iya, Maafin bunda ya, Sayang. Karena tadi pagi, bunda pergi tanpa menunggu sampai Kara bangun."
"Tidak apa-apa, Bunda. Mbok Lili sudah menjelaskan semuanya tadi pagi, kalau mulai sekarang Bunda berangkat kerja pagi-pagi sekali. Jadi, Bunda tidak perlu khawatir dan fokus bekerja saja."
"Makasih, Sayang. Kara sudah makan siang belum?"
"Sudah Bun, baru saja selesai. Kalau Bunda bagaimana? Sudah makan siang atau belum?"
"Belum, Sayang. Ya sudah, bunda makan siang dulu yah. Kara jangan lupa kerjakan PR dan tidur siang."
"Siap, Bunda."
Setelah mengakhiri panggilan, Ariel memeluk ponselnya sambil tersenyum. Ia merasa lega karena putrinya sangat mengerti akan kondisinya.
"Astaga! Pesanan makan siang Pak Hazel."
Tiba-tiba, Ariel teringat bahwa ia harus membelikan makan siang untuk Hazel. Ia lekas menghubungi makanan pesan antar. Kemudian, ia bersandar sejenak di tangga darurat sambil menyalakan musik dengan volume sedang.
Ia pikir, tidak akan ada orang yang mendengarnya dan tidak akan ada orang yang masuk ke dalam tangga darurat. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk di sana selama lima belas menit lebih.
"Bagus! Di mana pesanan saya, Ariel?" tanya Hazel sambil berkacak pinggang.
"Astaga! Pak Hazel ngapain, sih, ngagetin saya saja," protes Ariel terkejut dengan kedatangan Hazel yang tiba-tiba. Padahal, pria itu sudah dari tadi memperhatikannya selama Ariel mendengarkan musik.
"Bangun! Cepat belikan saya makan siang atau kamu mau saya tambah pekerjaan lain?!" bentak Hazel mengancam.
Ia tidak habis pikir dengan sekretaris barunya itu. Disuruh membeli makanan malah asik mendengarkan musik di tangga darurat.
"Ba-baik, Pak," balas Ariel terbata. Ia menganggukkan kepalanya dan bergegas berjalan menuruni tangga meninggalkan Hazel.
Beruntung tadi sebelum mendengarkan musik, wanita itu sudah memesan makanan. Jadi, tinggal menunggu beberapa menit lagi, pesanannya akan segera sampai. Dan saat ini, ia hanya perlu berjalan santai sampai pesanannya tiba.
Sambil menatap sekeliling area perusahaan, Ariel menyentuh perutnya yang terasa sangat keroncongan. Untuk pertama kali baginya tidak sarapan pagi. Ditambah ia harus berangkat bekerja setelah subuh tiba.
Tidak hanya itu saja, sampai di rumah atasannya, ia juga harus menjadi asisten rumah tangga. Benar-benar menyedihkan sekali nasib Ariel setelah bertemu dengan Hazel.
Masih berada dalam genggaman, ponsel milik Ariel berdering. Wanita itu sudah bisa menebaknya bahwa yang menelponnya adalah tukang pengantar makanan.
Ia bergegas memantapkan langkahnya, berjalan menuju lobby perusahaan. Dan sampai di sana, ia melihat sosok serba hitam memakai helm, dan membawa bungkusan makanan yang sepertinya ia pesan.
"Maaf, Mas. Tadi yang telpon saya Mas nya bukan yang mengantar makanan?" tanya Ariel.
Tanpa menjawab pertanyaan Ariel, pria pengantar makanan hanya mengangguk dan menyerahkan bungkusan pesanan Ariel sebelumnya.
"Sebentar, Mas," kata Ariel sambil merogoh saku celananya untuk mengambil uang. Kemudian ia menghitung jumlah uang yang harus ia bayar. "Ini M-mas ... loh, orangnya ke mana? 'Kan aku belum bayar. Kenapa main kabur saja?"
Ariel mengedarkan pandangannya mencari sosok pengantar makanan tadi. Namun, ia tak kunjung menemukannya.
Ariel menghela nafas panjang dan berkata, "Ya udah deh nanti saja kalo pesen lagi."
Akhirnya ia memilih naik ke atas, karena yang pasti Hazel sudah menunggunya. Wanita itu mengetuk pintu dan langsung mendapat balasan dari penghuni ruangan.
"Masuk!"
"Ini makanannya, Pak," kata Ariel sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang bungkus makanan.
"Siapkan di meja!"
Masih dengan ekspresi dingin. Ia merasa heran dengan kedatangan Ariel yang menurutnya sangat cepat. Memangnya wanita itu membeli makanan di mana? Kenapa bisa datang secepat ini?
"Makanan apa yang kau beli?" tanya Hazel karena ia lupa memberitahu Ariel apa makanan kesukaannya.
"Ada sushi, tsukemono, rumput laut panggang, edamame, fu, sup miso, dan salad buah sebagai makanan penutup. Minumannya ada orenge juice dan air putih," sahut Ariel sambil menata semua makanan di meja.
Pria itu menggulung kemejanya sampai ke siku. Kemudian, ia berjalan memutari meja dan mendekat ke arah sofa. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati makan siangnya.
"Sekarang, kau boleh keluar," kata Hazel setelah memposisikan duduknya.
Hazel menengadahkan kepalanya, "Apa yang kau lakukan, Ariel?" tanya Hazel melihat wanita itu masih di tempat dan tidak bergerak sama sekali.