Sementara Ariel, wanita itu berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju tangga darurat. Ia duduk di antara banyaknya tangga yang tersusun rapi. Menangis terisak meratapi nasibnya yang selalu bertemu dengan atasan yang meremehkan dirinya. Menganggap bahwa orang miskin akan melakukan segalanya demi uang.
Terdengar suara nada dering di ponselnya membuat sang pemilik menghapus air matanya dan bergegas merogoh sling bag miliknya.
"Bunda?" Terdengar suara ceria gadis kecil dari ujung telepon.
"Iya Sayang, ini bunda. Ada apa?"
"Apa wawancaranya berhasil?"
"Maaf, Sayang. Kali ini bunda gagal lagi karena banyak saingan yang lebih pintar dari bunda." Suara Ariel terdengar sedih dan Kara, putrinya pun bisa membacanya.
"Bunda 'kan pintar, cantik lagi. Masih banyak kok pekerjaan yang menanti bunda di luaran sana." Kara, anak kecil itu bersikap begitu dewasa.
Cantik? Ia tidak secantik putri Indonesia yang menjadi kebanggaan negeri ini. Pintar? Ia tidak sepintar orang-orang yang memiliki IQ sempurna. Hal itu yang saat ini terpikir oleh Ariel.
"Makasih, Sayang. Kara yang nurut yah, sama Mbok Lili. Sebentar lagi bunda pulang kok."
Mbok Lili adalah wanita paruh baya yang selalu Ariel sewa untuk menjaga Kara selama ia bekerja.
"Iya, Bunda. Bye ... muach."
Setelah nada tut, Ariel memeluk erat ponselnya seakan memeluk sosok mungil putrinya. Meskipun bukan anak kandung, tapi ia menyayangi Kara seperti anaknya sendiri.
Kara adalah anak dari kakak perempuan Ariel yang meninggal lima tahun lalu dalam sebuah kecelakaan bersama suaminya. Sejak saat itu, Ariel memutuskan untuk membesarkan Kara dengan tangannya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Karena memang setelah kehilangan sosok kakak dan kakak iparnya. Ariel tak lagi memiliki keluarga lain, selain Kara keponakan sekaligus putrinya.
Ariel menyandang status sebagai seorang ibu sejak usianya dua puluh satu tahun. Saat itu, ia masih duduk di bangku kuliah tepat di semester enam. Selain giat belajar agar beasiswanya tidak dicabut. Ia juga sibuk merawat Kara yang waktu itu baru menginjak usia enam bulan.
Setelah lulus kuliah, Ariel bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang sekretaris. Selama tiga tahun ia bekerja dengan atasan yang sangat baik. Di saat atasannya turun jabatan dan diganti oleh keturunannya. Mulailah kehidupan Ariel di perusahaan tidak pernah tenang. Ia selalu dilecehkan hingga akhirnya ia memilih untuk mengundurkan diri.
Dan di sinilah Ariel saat ini. Ia melamar pekerjaan di DN Company sebagai sekretaris. Namun Tuhan berkehendak lain, karena ia mendapat perlakuan yang sama seperti atasan sebelumnya.
***
"Siapa nama kandidat terakhir? Selidiki dia sedetail mungkin. Dalam waktu satu hari, saya mau sudah ada laporannya di meja." Hazel menghubungi Indra, sekretarisnya.
Hazel merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan mata terpejam. Selama ia hidup, baru pertama kali ada seseorang yang berani menamparnya. Terlebih yang menamparnya seorang wanita. Betapa malunya ia jika sampai ada orang lain yang tahu.
"Lihat saja, apa yang akan kulakukan nanti padamu! Aku akan menjadikanmu sekretarisku sesuai keinginanmu. Tapi bukan sekretaris seperti yang kau bayangkan. Aku akan menjadikanmu seorang b***k. Akan kubuat kehidupanmu bagai di neraka. Itu janjiku."
Laki-laki dengan sejuta pesona itu tiba-tiba menaikkan sudut bibirnya. Satu tahun berlalu setelah penghianatan mantan kekasih dan mantan sahabatnya. Ini untuk pertama kalinya ia tersenyum.
Selama ini hanya sikap dingin yang ia tunjukkan. Kecuali pada keluarganya yaitu sosok ayah dan ibunya. Pada mereka, Hazel selalu bersikap hangat.
"Sial! Ada apa denganku? Kenapa aku senang sekali memikirkan w************n itu?"
Yah, saat ini Hazel sedang memikirkan Ariel. Laki-laki itu membayangkan bagaimana ekspresi Ariel nanti jika ia menemuinya dan mengancamnya agar mau bekerja dengannya.
Entah perasaan apa itu? Namun, Hazel mengartikannya sebagai pembalasan atas sikap dan perlakuan Ariel. Ia terlihat begitu bahagia sampai-sampai tidak berhenti bersenandung. Seperti kehidupan seorang Hazel yang hangat kini sudah kembali.
Setelah jam kerja berakhir, Hazel keluar dari ruangan dengan menari dan bersenandung. Semua karyawan menatapnya heran. Bagaimana bisa seorang Hazel Dewananda yang dingin dan angkuh. Tiba-tiba berubah menjadi periang seperti itu.
"Sore, Pak," sapa Indra.
"Sore, Ndra." Hazel balas menyapa. Tidak lupa pula memberikan senyum termanisnya.
"Oh iya, Ndra. Jangan lupa pesanan saya. Saya mau besok pagi, laporan tentang wanita itu sudah ada di meja," ujar Hazel mengingatkan.
"Siap, Pak!" jawab Indra tegas.
Ia berpikir apa yang akan atasannya lakukan pada Ariel. Namun, karena Ariel mengabaikan peringatannya. Ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.
Sosok Hazel yang seperti inilah yang para karyawan rindukan. Indra dan karyawan lain merasa bahwa atasan mereka sudah kembali seperti dulu. Menjadi sosok atasan yang hangat dan peduli terhadap karyawannya.
"Aku senang melihat Pak Hazel tersenyum lagi seperti dulu."
"Iya, aku juga. Mudah-mudahan saja bisa bertahan untuk selamanya."
"Aku tidak peduli bagaimana sikap yang Pak Hazel tunjukkan. Karena apapun itu, Pak Hazel tetap tampan. Apalagi dengan sikap dinginnya. Bikin aku mau meledak."
"Huuu ...dasar ganjen!"
Sorak Sorai para karyawan setelah menyaksikan perubahan sikap Hazel. Mereka semua berharap sikap Hazel saat ini bisa bertahan lama.
Setelah sampai di rumah, Hazel merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kaki menggelantung ke bawah. Tiba-tiba pikirannya melayang di mana ia dan Ariel bersitegang di ruangannya. Ia tersenyum mengingat ekspresi panik yang Ariel tunjukkan.
"Sial! Sebenarnya ada apa denganku?" Hazel berusaha mengenyahkan bayang-bayang Ariel di pikirannya. Sepertinya Ariel sudah menguasai pikiran Hazel.
Tersenyum. Yah, lagi-lagi Hazel tersenyum membayangkan sosok Ariel. Namun lagi-lagi ia mengartikannya dengan pembalasan yang akan ia berikan nanti.
"Baiklah. Mungkin karena aku sudah tidak sabar ingin membalaskan dendamku pada w************n itu."
"Tapi dia bukan w************n. Kalau dia w************n, pasti dia akan menerima tawaranku seperti mereka-mereka itu."
"Mungkin saja, itu cara wanita itu menarik perhatianku. Dan aku sangat yakin bahwa dia sengaja ingin mencari perhatianku."
Batin Hazel saling bersahutan membicarakan Ariel. Sisi baiknya membela dan sisi buruknya mencela Ariel.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku mandi saja, agar tubuh dan pikiranku segar."
Hazel mengacak rambutnya dan bergegas bangkit berdiri. Ia berjalan sambil melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Laki-laki itu berdiri di bawah kucuran air mengalir. Sambil menyugar rambutnya, lagi-lagi ia teringat wajah cantik bermata amber itu. Namun, di pikirannya bukan tatapan nyalang yang diberikan. Justru Ariel menggigit bibir bawahnya sambil mengedipkan sebelah matanya begitu menggoda.
"Apa yang kau lakukan Hazel? Kenapa kau memikirkan w************n itu?" Hazel mencengkram rambutnya kasar kembali mengenyahkan Ariel di pikirannya.
"Sepertinya aku harus berendam agar pikiranku segar," lirih Hazel sambil mengisi air dingin di bathtub.
Ia tidak berencana mengisinya dengan air hangat. Karena ia ingin mendinginkan pikirannya dan menghapus bayang-bayang w************n itu.