Ze menatap ponselnya yang hanya memiliki satu contreng tanda chat yang dia kirimkan tidak dibaca bahkan setelah setengah jam berlalu, dia yang awalnya sudah setengah mabuk jadi agak terjaga karena menunggu balasan yang sangat lama.
Awalnya Ze akan pulang dan pura-pura tidak ada yang terjadi saat menerima kartu kamar hotel dari staf.
Jika pacarnya segera membalas chat darinya dan berbaikan dia akan menolak Justine dan rela menjadi artis figuran seumur hidup, sayangnya sepertinya pacarnya malah mendiamkan dirinya sejak pertengkaran kemarin, di mana masalahnya adalah Ze cemburu saat mendengar kabar pacarnya pulang kerja berboncengan dengan teman sekantor wanitanya.
Saat ditanya, pacarnya mengelak dan hanya mengatakan sekedar nolong temen yang searah dan menyuruhnya tidak terlalu curiga padanya karena mereka sudah pacaran hampir enam tahun. Meski begitu, Ze tetap cemburu dan menyuruh pacarnya agar tidak memberi tebengan dengan cewek lain di kemudian hari, hal yang membuat pacarnya Ibra marah dan mengatakan dia egois.
Padahal, wajar jika seorang wanita cemburu saat cowoknya dekat dengan wanita lain, kenapa jadi dia yang dianggap egois dan akhirnya malah terjadi pertengkaran hingga sampai sekarang pacarnya tidak mau membalas pesan darinya.
Ze tersenyum miris, dia tahu tidak ada pertemanan abadi antara pria dan wanita.
Karena pacarnya sepertinya sudah mendapatkan wanita lain, kenapa dia harus terikat dengan orang yang menyepelekan perasaannya? bukankah lebih baik dia fokus dengan masa depannya sendiri dan mengejar mimpinya menjadi selebriti.
Meski demi itu harus bermalam dengan Justine, Ze tidak merasa bersalah karena pacarnya sendiri saja selingkuh, kenapa dia tidak boleh.
Ze mematikan ponselnya dengan tekad, lalu membuka pintu kamar yang seharusnya sudah dia datangi sedari tadi.
Dia masuk dan yakin Justine sudah ada di sana, benar saja ada suara air di kamar mandi yang menandakan bahwa Justine sudah datang lebih dulu, untung saja karena kedatangannya yang terlambat Justine tidak pergi dan tetap menginap. Jika tidak, rencananya mendapatkan bantuan Justine agar menjadi artis terkenal bisa gagal.
Ze duduk di sofa yang tersedia dengan patuh, melepas sepatunya agar lebih nyaman dan menyalakan televisi yang ada di sana, tidak berapa lama kemudian Justine keluar dari kamar mandi dengan kimono handuk yang terikat secara longgar di tubuhnya, memperlihatkan sebagian tulang selangka dan dadanya yang kokoh.
Saat datang ke kamar yang sudah disediakan oleh kru dan tidak mendapati wanita yang dia Inginkan, Justine mengira cewek itu tidak akan datang karena biasanya Justine tidak pernah menjadi orang yang menunggu.
Justine tidak kesal saat tahu tidak ada wanita di kamarnya karena Justine selalu menerapkan prinsip bahwa apa yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka bukan paksaan.
Sebenarnya tidak semua wanita yang sekamar dengan Justine diajak having s*x, terkadang hanya dia ajak ngobrol, sekedar menemani minum atau bahkan bermain kartu. Jadi, wanita yang pernah ditiduri Justine sebenarnya tidak sebanyak yang dipikirkan orang-orang.
"Siapa namamu?" tanya Justine. Ketika dia mandi, dia mendengar suara langkah kaki masuk ke kamar.
"Ze."
"Mau mandi dulu biar segar?" Melihat wajah Ze yang sepertinya agak kusut, Justin menawarkan.
Ze mengangguk dan langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan keluar dengan kimono handuk yang sama seperti Justine.
"Kemarilah." Justine duduk di pinggir ranjang dengan pose yang terlihat santai namun membuat Ze yang melihatnya tanpa sadar menelan ludah karena merasa Justine terlihat sangat jantan dan sexy.
Saat Ze duduk di sebelah Justine pinggangnya segera ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel erat karena Ze berpindah ke pangkuan Justine.
"Apa kamu mabuk?"
"Sedikit."
"Mau melakukannya?" tanya Justine memastikan, jangan sampai wanita itu datang karena diancam.
"Bukankah aku datang ke sini untuk itu." Ze tidak mengerti kenapa Justine malah bertanya, atau ini sekedar basa basi saja.
"Film, lagu, variety show? Apa yang kamu mau?" tanya Justine.
"Film remaja, aku suka terlihat muda." Ze menjawab langsung.
"Oke, aku akan pastikan kamu menjadi bintang utama di film remaja." Justine menjanjikan.
"Terima kasih." Mendengar janji Justine, Ze semakin yakin dengan pilihannya, dia dengan aktif meletakkan ke dua tangan ke leher Justine, siap menciumnya.
Sepertinya efek minuman membuat Justine sedikit bersemangat, apalagi dengan wanita harum dan lembut yang sukarela ada diperlukannya, Justine tidak menunda lagi.
Begitu Ze setuju, dia segera memutar tubuh dan merebahkan Ze ke ranjang dengan dia berada di atas dan menindihnya, sehingga ciuman yang akan dilakukan Ze menjadi gagal.
Ze tidak kecewa, karena sejenak kemudian ke dua tangan Justine mulai menjelajah dan segera kimono handuk yang hanya diikat dengan asal terlepas. Memperlihatkan kulit putih dan lembut dibaliknya, di mana ada dua bukit yang menjulang seperti menantangnya.
"Apa kamu masih perawan?"
Ze Menggeleng.
"Itu bagus." Justine tidak pernah tidur dengan wanita yang masih perawan karena menurutnya itu akan membawa beban tanggung jawab lebih besar dari sekedar one night stand.
Melihat tatapan Justine yang membara, Ze sedikit malu, jadi dia mengangkat kepalanya berniat mencium Justine lagi agar terbebas dari rasa canggung. Namun, Justine justru menghindar.
"Aku tidak suka berciuman," ucapnya dan langsung membalikkan tubuh Ze hingga tengkurap, lalu melepas kimono handuknya hingga tidak ada lagi yang ditutupi.
Aroma harum dari sabun mandi masih tercium tapi segera digantikan oleh aroma lengket yang membuat suasana memanas, di mana dua tubuh yang sedang terjalin erat mulai membuat suara-suara serasi.
Sprei di bawahnya ikut kusut dan bahkan ranjang memantul layaknya ada gempa bumi dengan aroma intens yang semakin menguat.
***
Justine membuka mata dan melihat wanita yang semalam bersamanya ternyata masih tertidur lelap dia beranjak bangun, membersihkan diri lalu seperti biasa meninggalkan satu kartu debit dengan isi yang cukup untuk membeli mobil baru.
Hari sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan Justine harus kembali ke rumah kakeknya untuk bersiap karena nanti sore harus kembali ke kerajaan Cavendish.
Padahal dia sangat suka di Indonesia, karena memiliki tepat wisata yang sangat banyak dan beraneka ragam. Berkeliling Indonesia tidak kalah dengan berkeliling dunia saking banyaknya suku dan daerah yang memiliki kebudayaan berbeda, bahasa dan terutama makanan khas yang kebanyakan sangat lezat-lezat, hingga membuat Justine ingin menetap secara permanen.
Sayangnya, sebagai pangeran Cavendis dia juga tetap harus kembali ke negaranya sendiri walau hanya beberapa bulan dalam setahun, apalagi mendekati hari ulang tahun nenek Ai, Justine wajib berada di Cavendish.
"Justine baru pulang?" neneknya Liz melihat cucu kesayangan kembali dan segera meletakkan selang air yang dia gunakan menyiram rumput dihalaman.
"Oma, Kakek di mana?" tanya Justine.
"Ada di halaman belakang, lagi minum teh sambil kasih makan ayam," jawab Liz.
"Justine udah sarapan belum?" tanyanya lebih lanjut.
"Belum Oma." Dia saja baru bangun dan langsung pulang, gimana mau sarapan.
"Ayo, Oma bikinin sarapan dulu." Liz menggandeng cucunya agar masuk.
"Aku mau nasi uduk Oma dengan kerupuk yang banyak," ucap Justine dengan nada manja, selalu lebih suka pergi ke rumah kakeknya Marco saat makan karena masakan neneknya Liz paling lezat, tidak seperti ibunya Queen yang katanya mau masak telor ceplok, tapi telurnya saja enggak di pecahin dulu dan langsung dimasukkan semua utuh ke dalam wajan, untung enggak meledak.
"Ya sudah tunggu di belakang sama kakekmu, aku buatin nasi uduk."
"Enggak ah, Justine mau ke rumah Opa Joe buat ambil barang sebentar." Justine berbalik dan malah keluar, lalu memasuki rumah yang bersebrangan dengan rumah Marco.
Jika saat makan Justine lebih suka di rumah Marco, tapi saat tidur dan bermain Justine lebih suka di rumah kakeknya Joe.
Karena selain Joe lebih memanjakan dirinya, Marco akan selalu memberi kultum jika dia berbuat nakal. Hal yang membuat Justine akan selalu kabur dari rumah Marco begitu selesai makan agar terhindar dari wejangan yang tidak berkesudahan.
Kadang Justine berpikir keras, bagaimana orang cerewet seperti Marco dan lemah lembut seperti Liz bisa memiliki anak seperti ayahnya Junior yang memiliki sikap layaknya kulkas duabelas pintu.
Merasa gen mereka sangat tidak akurat.