Bab 7. Hamil

1211 Words
Sinar matahari yang menyilaukan membuat Ze yang tertidur lelap segera bangun, di mana dia merasa bahwa seluruh tubuhnya terasa lelah tapi juga terasa segar dan bersemangat. Ze sudah berkali-kali bercinta dengan pacarnya Ibra. Namun, dia tidak pernah merasa senikmat tadi malam bahkan Justine bisa membuatnya merasakan apa itu surga dunia, tidak seperti pacarnya yang saat Ze baru mulai memanas dia malah sudah selesai sehingga membuat dia sering kecewa dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kenikmatan bercinta yang sesungguhnya. Setelah tadi malam, Ze akhirnya tahu apa itu mencapai puncak, ternyata rasanya memang sangat luar biasa sampai Ze tidak bisa menghentikan Justine yang mengajaknya lagi dan lagi karena dia sendiri juga keenakan. Ze melihat ponselnya dan terdapat chat balasan dari sang pacar. "Sayang, maaf aku semalam ketiduran, jadi baru bisa balas." Hanya itu. Pacarnya bahkan tidak bertanya keadaan dan kondisinya, seolah-olah pertengkaran kemarin tidak pernah terjadi. Selalu seperti ini. Setiap kali mereka bertengkar, selalu dia yang harus chat dan minta maaf duluan. Tapi sekarang, Ze tidak akan melakukannya. Ze sudah capek. Jadi, jika Ibra merasa hubungan ini masih bisa diselamatkan, maka kali ini Ze akan menyerahkan semua pada Ibra, apakah masih bertahan untuknya atau pergi. Ze tidak akan jadi pihak yang aktif lagi. Ze turun dari ranjang, melihat ada kartu ATM di meja yang dia tahu pasti untuknya, dia tidak sungkan dan begitu selesai mandi serta berganti pakaian Ze mengambil kartu itu dan menyimpannya, sangat yakin isinya tidak mungkin hanya satu atau dua juta saja. Karena hari ini syuting di mulai, Ze sebagai figuran harus tetap datang meski belum gilirannya syuting karena dia harus tetap setor muka, untung dia tidak terlalu kesiangan jadi saat sampai di sana tidak ada yang menegur karena memang peran pendukung seperti dirinya tidak terlalu diperhatikan. *** "Hallo guys, aku bawa oleh-oleh buat kalian!" Suara Ze membuat ke dua teman satu kontrakannya segera menoleh dan melihat Ze membawa banyak barang di ke dua tangannya. "Ze, kamu udah selesai syuting." "Weh, banyak banget belanjaan kamu? Gajian gede nih kayaknya." Winnie dan Shu-Shu menghampiri dengan ekspresi ingin tahu saat melihat belanjaan Ze. "Kali ini aku dapat peran yang lumayan banyak, jadi gajiku juga bertambah makanya aku bisa traktir kalian." Meski perannya di tambah tapi menjadi figuran tetap tidak memiliki banyak uang, jadi jelas barang-barang ini dibeli dengan menggunakan uang yang diberikan Justine padanya, totalnya ada 200 juta, di mana jika dia ingin mendapatkan uang segitu pastinya butuh ribuan kali jadi figuran. "Kamu bilang kamu mau jaket ini 'kan? Ini aku beliin buat kamu." Ze mengeluarkan jaket mungil dengan warna hitam pada Shu-Shu. "Ini kan mahal Ze." Harganya sekitar 10 jutaan. "Enggak apa-apa, tenang saja." "Makasih Ze." Shu-Shu segera berbalik dan masuk ke kamar, ingin mencoba jaket barunya. "Ini tas buat kamu." Ze mengeluarkan kotak lain dan memberikan pada Winnie. "Seriusan ini buat aku?" tanya Winnie, meski harganya tidak setinggi jaket milik Shu-Shu. Namun, tas ini juga tidak murah, yaitu sekitar tiga juta. "Iya, aku tahu kamu suka tas model begini." "Terima kasih, aku suka banget." Setelah mengangumi sejenak Winnie memasukkan tas kembali ke dalam kotak, khawatir akan kotor. "Oh iya, aku juga bawa makanan dari restoran seafood, ayo kita makan mumpung masih hangat." Ze mengeluarkan banyak kotak dan menaruhnya di meja. "Shu-Shu, makan dulu, ada kepiting dan lobster lho!" teriak Winnie karena begitu kotak di buka aroma lezat langsung memenuhi ruang tamu. "Iya bentar," jawab Shu-Shu sambil berteriak juga "Aku ke toilet dulu ya, mau mandi sudah berasa lengket di jalan." Ze beralasan. Padahal bukan karena itu, tapi saat makanan di buka entah mengapa aroma makanannya membuat Ze terasa mual dan ingin muntah. Ze berpikir, mungkin karena dia habis dari luar dan kena debu sana sini akibat belanja di banyak tempat, sehingga merasa kotor dan seketika mual, jadi dia akan mandi dulu sebelum makan. "Enggak makan dulu, mumpung masih hangat lho." "Aku mandi cepet kok." Ze berjalan ke kamar di mana Shu-Shu masih asik di depan kaca. "Udah pasti cantik ko Shu-Shu, sana makan dulu." "Oke." Kali ini Shu-Shu tidak menunda, dia melepas jaketnya lalu berlari keluar ke ruang tamu untuk makan bersama Winnie. Ze masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri dengan cepat, merasa segar dan seperti yang dia duga perutnya tidak mual lagi setelah mandi. Dia berganti pakaian yang lebih nyaman dan menyusul ke ruang tamu, duduk di hadapan Winnie dan seketika aroma makanan laut langsung merasuk ke dalam hidung hingga membuat perutnya bergejolak. "Ini enak banget Ze, dagingnya empuk dan bumbunya meresap sempurna." Shu-Shu mengupas udang, menaruh ke piring Ze agar mencoba. Ze tidak ambil pusing dan berusaha menahan rasa tidak nyaman di perutnya, dia mengambil sendok dan memasukkan udang ke dalam mulut, seketika rasa ingin muntah menguat dan dengan segenap tenaga Ze berlari kembali ke toilet dan muntah-muntah dengan hebat. Ze hanya makan saat sarapan dan ini seharusnya makan siang, tapi karena belum ada yang masuk maka yang dia muntahkan hanya cairan pahit yang menyiksa. "Ze, kamu kenapa?" Suara Winnie mengetuk pintu kamar mandi. Ze membuka pintu dengan wajah pucat, melihat ke dua temannya berdiri di luar seperti khawatir. "Kayaknya aku masuk angin dan kecapekan deh, soalnya semalam aku syuting sampai jam tiga pagi, trus aku langsung pergi belanja." "Mau aku kerokin?" tanya Winnie. "Enggak usah." Dia enggak pernah kerokan. "Ya sudah istirahat aja kamu." Shu-Shu membantu Ze ke ranjang agar bisa rebahan. "Aku ada Paracetamol, sebentar aku ambilkan." Winnie pergi ke kamarnya. "Aku ambilkan air putih." Shu-Shu menuju dispenser dan mengisi gelas sampai penuh dan memberikan pada Ze. "Terima kasih." Ze segera meminum obat yang diberikan. "Makan dulu ya, meski hanya sedikit." Shu-Shu keluar dan mengambil beberapa makanan yang tadi di bawa Ze. Namun, begitu Ze mencium aroma ikan, perutnya kembali bergejolak dan ingin muntah. "Bawa keluar, aku enggak tahan sama baunya." Ze menutup mulutnya hampir muntah lagi, dengan cepat Shu-Shu membawa keluar lagi makanan itu. Entah kenapa Shu-Shu merasa ada yang aneh dan curiga. "Kamu kayak orang hamil aja, cium bau makanan pengen muntah." Winnie bercanda, berharap bisa membuat Ze terhibur. "Enggak usah ngaco, hamil sama siapa? Pacarku aja ada di Bogor." Ze menjawab dengan enteng, merasa hal itu tidak mungkin terjadi karena saat melakukan dengan Justine mereka menggunakan kondom. "Ya sudah aku pesankan bubur ayam ya?" Winnie menawarkan. "Boleh deh." Ze mengangguk dan Winnie segera membuka aplikasi antar makanan di ponselnya. Tidak butuh waktu lama, pesanan segera datang dan kali ini tidak ada rasa ingin muntah. Jadi, Ze dengan lahap memakan buburnya lalu segera istirahat karena dia memang merasa lelah dan mengantuk. Sayangnya mual dan ingin muntah ternyata bukan hanya sekali dia rasakan, karena beberapa hari kemudian, Ze terus mengalami mual dan muntah terutama di pagi hari dan saat mencium aroma makanan berminyak. Untung saja, Winnie dan Shu-Shu sedang sibuk, jadi mereka selalu berangkat pagi dan tidak mengetahui apa yang terjadi pada Ze yang sedang libur kerja. Seperti pagi ini selesai muntah hingga seluruh badan terasa lemas, Ze akhirnya tidak tahan lagi. Maka, dengan tangan gemetar dia memesan ojek online untuk mengantarkan dia ke puskesmas terdekat karena berniat memeriksa penyakitnya. Tapi, ternyata itu bukan penyakit, karena begitu Ze diperiksa dengan jelas dokter mengatakan bahwa dia hamil. Hamil satu bulan. Ze menatap hasil pemeriksaan dirinya dengan tangan gemetar dan air mata berlinang karena ketakutan. Bagaimana mungkin! Jelas-jelas Justine menggunakan kondom. Kenapa dia masih tetap hamil? Ze panik. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada bayi ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD