Bab 4. Party

1363 Words
"Just, berisik ah, angkat gih!" Justine yang sedang memainkan game bersama Dewa melirik ke arah ponsel miliknya yang terus bergetar. "Angkatin bentar, lagi nanggung." Deva yang sedang jaga di sana akhirnya menjawab panggilan telpon dari kakek Justine sekaligus pamannya Marco sekaligus kakek besannya. "Hallo ...." "Lho, kok Deva?" "Iya Paman, ada apa?" "Di mana kamu? Aca nyariin dari tadi." "Kerja dong Paman, biasa di cafe," jawab Dava. "Kalau Aca nyariin kenapa enggak telp aku?" Deva merogoh ponsel di kantongnya dan tidak ada chat apalagi telpon dari sang istri. "Paling bentar lagi nyamperin ke cafe, soalnya tadi bilang mau ngajak nonton topeng monyet." "Topeng monyet?" Deva memastikan. Semenjak hamil, Aca kenapa punya keinginan aneh-aneh sih? pasti ini efek gen dari Marco. "Iya, tapi kalau beneran ngajak nonton topeng monyet jangan kasih lihat, masa lagi hamil bukan nonton artis cantik atau aktor ganteng malah nonton monyet, bisa-bisa calon cicitku nanti jelek kayak bapaknya." What! Maksudnya Deva jelek gitu? "Iya, Paman!" Walau agak dongkol dikatain jelek Deva tetap menyetujuinya, orang kalau sudah tua dan enggak di Iya-in nanti malah strok, 'kan bahaya. "Trus Justine mana? Kenapa ponselnya kamu yang bawa?" tanya Marco dari seberang sana. "Lagi nanggung main game sama Dewa," jawab Deva. "Ada apa, Opa?" Justine menjawab dengan suara keras agar Marco mendengar suaranya saat ponsel akhirnya di louspeker oleh Deva. "Kakekmu Joe mau buat film, tadi aku bantu jadi investor, nanti malam kamu jadi wakil Opa buat datang ke party mereka ya? Opa sudah tua, enggak cocok datang ke party anak muda." Marco beralasan. "Kalau pada nganggur ajak aja Dewa, Deva atau Dika juga boleh," tambahnya. "Acara jam berapa dan di mana?" tanya Justine masih sambil bermain game. "Hotel Sansekerta jam 08 malam." "Oke, Opa, Justine pasti datang." "Sip, makasih cucu opa paling ganteng, jangan pulang malam-malam ya." Bersamaan dengan itu, panggilan terputus. Justine menoleh ke arah Dewa yang kebetulan sudah memenangkan game. "Mau ikutan party?" "Enggak bisa!" Bukan Dewa yang menjawab tetapi istrinya Wulan yang ada disebelahnya. "Kenapa? Kamu boleh ikut juga kok, lagian ini bukan pesta yang aneh-aneh, paling minum cuma segelas dua gelas wajarlah!" "Bukan gitu, tapi kita ada acara sendiri." Wulan menjawab. "Acara apa? Lebih asik party bareng aku kali." "Kita harus datang ke acara nikahan Torik dan Aliyah, ini sudah mau pulang buat siap-siap." Wulan menggandeng Dewa seperti menunjukkan niatnya. "Kok aku enggak diundang?" Justine merasa tidak terima. "Lah, situ siapa?" "Aku kan pangeran Cavendish," ucap Justine sombong. "Ya, walau situ pangeran, tapi emang Torik kenal sama kamu?" "Enggak juga sih, tapi, 'kan ... masa kamu dapet aku enggak?" "Kan mereka sama-sama YouTubers Just, lha kamu kenal aja enggak." Deva yang menjawab. "Kamu dapat undangan juga?" tanya Justine ke arahnya. "Enggak, cuma Dewa sama Wulan yang dapat." "Ya sudah, ikut aku party aja yuk!" Justine mengajak. Namun, belum sempat Deva menjawab suara wanita yang menjadi pujaan hatinya sedari bayi terdengar dari belakangnya. "Sayang, aku cariin kamu ke mana-mana." Aca langsung memeluk Deva yang ada di depan Justine. "Hay sayang! Kenapa nyariin hmm, harusnya kalau ada perlu telfon saja, nanti aku yang nyamperin kamu." Deva membalas pelukannya bahkan disertai ciuman sayang di dahinya, hingga membuat Justine yang tak punya pasangan berasa kecut seketika. "Aku pengen jalan-jalan." "Ke mana?" Aca mengambil tangan Deva dan meletakkan di perutnya yang masih rata. "Dede bayinya pengen nonton topeng monyet, nyari yuk!" ucap Aca dengan nada manja. Justine melihat tingkah Aca dan Deva yang super lengket, lalu menengok ke arah Dewa dan Wulan yang juga sama-sama saling menempel seperti lakban. Sialan! Sepupunya b*****t semua. Mentang-mentang dia jomblo, masa dipamerin kemesraan. Belum makan tapi udah berasa kenyang jadinya. *** Restoran bernuansa tropis dengan hidangan laut yang terkenal kelezatan dan harga yang mahal menjadi pilihan para sutradara dan kru dalam memilih tempat, tujuannya agar para investor dan artis yang bersangkutan merasa nyaman dan akrab hingga kerjasama akan berjalan dengan lancar. Di ruangan kotak yang masuk kategori VIP, para kru sudah datang lebih awal diikuti oleh pemain yang langsung saling menyapa dengan akrab, diantaranya adalah tiga perempuan yang sebenarnya bukan bagian dari film itu. "Sudah ramai ya?" Karena merasa mereka bukan tamu yang diundang, Winnie dan Shu-Shu mengajak Ze ke pojok agar tidak mencolok. "He em, tapi para pemain utama dan investor ada yang belum datang." Ze memberitahu karena di lingkaran ini hanya dia yang kenal mereka semua. "Ya wajarlah, orang penting datang terlambat itu sudah biasa." Shu-Shu sudah sering bertemu klien yang merasa kaya dan datang seenaknya. "Lagian mereka orang sibuk, enggak kayak kita yang banyak nganggurnya." Winnie membenarkan. "Lagian nebeng doang ini, tinggal makan aja banyak komentar kalian." Ze cemberut karena ke dua temannya ngomongnya enggak asik, dia kan jadi tersindir gara-gara sejak keluar kerja dan berusaha jadi artis sekarang malah banyak nganggurnya. "Katanya, investor terbesar masih besanan sama yang bikin film." Ze mengalihkan pembicaraan. "Biarin sajalah, kenal juga enggak, yang penting makan." Winnie mengambil cemilan di depannya. "Eh, bentar deh, aku pengen pipis ini, toiletnya sebelah mana ya?" Shu-Shu bertanya pada Ze. "Aku anterin sajalah, nanti malah nyasar, Winnie mau ikut enggak?" Winnie menggeleng. "Aku di sini saja, mager ke mana-mana, ntar malah tempat duduk kalian dipakai orang lain kalau kita pergi semua." "Ya udah deh, jagain tempat aku ya." Ze dan Shu-Shu segera menuju toilet, meninggalkan Winnie yang nyemil sambil main ponsel karena tidak mengenal siapa pun. "Hai, temennya Ze ya?" Winnie mendongak dan melihat seorang cowok ganteng yang sepertinya pernah dia lihat, ah ... Winnie ingat, dia kan artis pendatang baru yang lagi naik daun. Siapa ya namanya? duh ... Winnie lupa. "Ya." Winnie menjawab dengan senyum ramah, di sini dia cuma nebeng nongkrong jadi tidak mau bikin masalah dengan kasih wajah jutek ke orang lain. "Aku Dani, boleh duduk di sini?" "Boleh sih, tapi nanti Ze sama Shu-Shu duduk di mana?" Tanpa menjawab pernyataan Winnie, Dani malah langsung duduk. "Tenang aja, masih banyak tempat duduk di sana." Dani menunjuk ke tempat paling ramai. "Lagipula Ze masih baru dan dia butuh sosialisasi. Jadi, biarkan saja dia ngobrol sama yang lain, siapa tahu ada tawaran baru buat dia." "Kamu enggak butuh sosialisasi?" "Aku punya manager yang mengatur semuanya, aku hanya perlu datang dan tersenyum." Dani memang anak orang kaya jadi saat dia debut jadi aktor, jalan yang dia ambil lebih mulus karena koneksi sang ayah yang merupakan pengusaha ternama. "Tapi Ze juga punya manager kok." "Iya, Ze memang punya manager tapi satu manager di pakai barengan." Memang sudah menjadi hal biasa jika seorang manajer memegang beberapa artis apalagi jika mereka masih pendatang baru dan minim pengalaman. Biasanya memang lima sampai sepuluh artis baru akan di urus oleh satu manager karena jadwal kerja yang belum tetap. Mendengar itu Winnie hanya mengangguk, dia hanya punya sedikit gambaran tentang pekerjaan Ze, namun tidak terlalu paham proses dan keadaan sebenarnya di dalamnya. "Mau minum?" Dani mengambil sebuah minuman di meja. "Nanti deh, acara belum mulai." Dia enggak berani mabuk tanpa ada Ze dan Shu-Shu di dekatnya. "Ini non alkohol kok." Dani mengambil satu dan meminumnya sedikit. "Oh, oke." Winnie akhirnya tidak menolak dan menyesapnya sedikit. Pada saat itulah tiba-tiba perhatian semua orang terarah ke pintu masuk, walau suasana di dalam kotak itu tidak terlalu cerah, namun wajah pemuda itu terlihat sangat jelas sehingga tanpa dikomando para petinggi dan aktor utama segera berdiri dan datang untuk menyapanya. "Siapa dia?" tanya Winnie heran karena semua orang bergegas ke arah pemuda itu, seolah-olah dia adalah orang paling berpengaruh di sana. "Kamu enggak tahu?" tanya Doni heran. Winnie dengan jujur menggeleng. "Dia cucu pemilik JJ entertainment, sekaligus tuan muda dari keluarga Cohza, siapapun artis yang bisa dekat dengannya di jamin bakal sukses." "Oh ...." Winnie harus mengakui bahwa pemuda itu terlihat sangat tampan. "Mau ikut untuk menyapa? Siapa tahu kamu akan dapat peran penting jika dia suka dan mau temenan sama kamu." Doni menawarkan. "Enggak deh, aku enggak ada niat masuk dunia hiburan," tolak Winnie dengan halus, dia merasa tidak pantas untuk SKSD dengan orang yang bahkan enggak dia kenal. "Sayang banget, padahal kamu cantik dan cocok jadi artis." Winnie hanya tersenyum menanggapinya, sedang Doni bergegas ke arah pemuda itu untuk menyapa dan terlihat sekali mereka memang sudah saling kenal hingga bahkan langsung memilih tempat duduk yang berdekatan. Ditinggalkan sendiri, Winnie merasa ingin tertawa, karena kecantikan ternyata tidak terlihat mengesankan dibawah kekuasaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD