Bab 3. Teman

1073 Words
Rumah kontrakan itu bergaya minimalis dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Halamannya cukup untuk menaruh sebuah mobil dan dihiasi beberapa tanaman yang katanya bunga tetapi tidak pernah berbunga sama sekali. Sebenarnya itu adalah rumah subsidi yang beralih fungsi menjadi rumah kontrakan, di mana 3 wanita yang kontrak di sana semuanya lajang. 1. Windarti dipanggil Winnie, asli Pemalang Jawa timur, cantik dan tinggi 1,7 dengan kulit sawo matang khas Indonesia, bekerja sebagai SPG showroom mobil dengan gaji yang bisa memenuhi kebutuhannya untuk perawatan wajah dan tubuh. 2. Shuliana atau temannya suka memanggil Shu-Shu, wajahnya lebih ke arah manis dengan mata besar dan lesung pipit setiap kali tersenyum, tinggi 1,68 dan asli Sulawesi. Awalnya merantau ikut paman dan bibi, namun akhirnya berusaha mandiri dan bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan asuransi. 3. Zeline atau memiliki nama beken Ze, cantik dan memiliki kulit putih tanpa cacat, rambut hitam bergelombang dan gigi kelinci yang menambah daya tariknya, tinggi 1,74 dan asli Bogor, dia masih merintis karier sebagai artis dengan mengikuti berbagai audisi yang sampai saat ini belum memiliki peran penting. Mereka bertemu dua tahun yang lalu di wawancara sebuah perusahaan yang mencari staf untuk bagian gudang. Awalnya hanya basa basi biasanya, namun ketika ke tiganya di terima dan jadi rekan kerja, mereka akhirnya jadi akrab dan bahkan mencari rumah kontrakan untuk ditinggali bersama. Setahun setelah menjadi rekan kerja, Ze yang keluar lebih dulu karena saat kerja tergiur dengan tawaran menjadi model oleh sebuah agensi yang mengiming-imingi peran dan ketenaran. Sebulan kemudian Winnie dan Shu-Shu akhirnya ikut keluar karena mengincar perusahaan dengan gaji yang lebih tinggi dan sepertinya keberuntungan ada pada mereka karena akhirnya diterima di perusahaan incaran masing-masing. Jadi, walau tinggal di tempat yang sama mereka memiliki pekerjaan yang berbeda dengan lokasi yang juga tidak searah. Winnie baru pulang kerja dan merebahkan diri di kamar tidurnya sendiri, di kontrakan itu hanya ada dua kamar sehingga yang bayar kontrakan paling banyak yang berhak memiliki kamar pribadi, karena gaji paling tinggi adalah milik Winnie akhirnya dia yang mendapatkan hak atas kamar itu, sedang Shu-shu dan Ze tidur di kamar yang sama. "Winnie, nanti malam kamu ada acara gak?" Suara teriakan Ze terdengar dari ruang tamu. "Enggak!" jawab Winnie dari kamar tetapi tidak dengan berteriak karena mendengar suara langkah kaki Ze yang mendekat ke kamarnya. Ze membuka pintu kamar Winnie tanpa mengetuknya, hal yang sudah biasa mereka lakukan yaitu keluar masuk kamar masing-masing tanpa harus bersikap sopan. Ze hanya memasukkan kepalanya dan mengintip ke arah Winnie yang terlihat pasrah di ranjang tanpa mengganti seragam yang tadi dia gunakan bekerja, bahkan sepatu hak tingginya juga masih melekat di sana, kelihatan sekali kalau dia kelelahan. "Ikut party yuk!" "Males, capek banget aku." Winnie membalas tanpa menggerakkan tubuhnya, setiap weekend orderan selalu banyak sehingga dia sering kelelahan saat pulang. "Ayolah, besok Lo libur 'kan? Nanti Shu-Shu juga bakalan ikut kok." Winnie menoleh ke arah Ze. "Emang Shu-Shu sekarang di mana?" "Nyari makan." "Dia sudah pulang kerja?" Winnie akhirnya duduk dan melepas sepatunya, merasa gerah dan ingin segera mandi agar tubuhnya terasa lebih segar. "Udah dari siang, dia cuma ketemuan sama satu klien di mangga dua trus langsung pulang." Ze membuka lebar pintu dan akhirnya masuk ke kamar Winnie dan duduk di pinggir ranjang. "Oh ... tapi aku beneran capek." "Ish, party baru mulai nanti jam sepuluh malam, jadi sekarang kamu masih bisa istirahat beberapa jam." "Party apaan sih?" "Biasalah, film yang aku ikuti audisinya sebentar lagi bakal mulai syuting. Jadi, sutradara, kru, investor dan pemeran utama sampai peran yang ter-abaikan macam aku ini, semuanya berkumpul sebagai ajang perkenalan." "Lah, aku kan bukan kru film, aku juga bukan artis, berarti enggak bisa ikut datanglah." Winnie kembali merebahkan tubuhnya. "Artis yang datang banyak banget lho, saking banyaknya kru dan para petinggi enggak akan ngenalin satu-satu. Jadi, walaupun kamu dan Shu-Shu datang enggak akan ada yang komentar, palingan kalian dikira salah satu pendatang baru yang dapet peran kecil." Ze menjelaskan "Lagi pula, banyak kok yang pada bawa Teman-Temannya." "Oh, oke deh, aku ngikut sajalah, kalau Shu-Shu mau datang nanti aku juga pasti datang, sekarang aku mau tidur dulu." "Kamu enggak mandi dulu?" tanya Ze saat melihat Winnie kembali rebahan, padahal habis kerja di pameran pasti dia keringetan. "Males." Winnie terlanjur rebahan saat ngobrol sama Ze, jadi niat mandi yang sudah dia rencanakan akhirnya dia tunda karena terlanjur mager. "Cantik-cantik jorok." Di rumah itu memang Ze yang paling perfeksionis soal kebersihan dan yang paling sering ngomel jika Winnie dan Shu-Shu males-malesan. Winnie tidak menanggapi perkataan Ze dan memejamkan matanya dan langsung tertidur pulas. *** "Jadi berangkat enggak sih?" Shu-Shu sudah duduk cantik di ruang tamu sambil menunggu temannya yang katanya ngajakin ke pesta. "Sebentar, aku bingung ini, sepatu mana yang lebih cocok buat baju yang sekarang aku pakai?" Ze keluar dari kamar dan menunjukkan dua pasang sepatu di tangannya. "Cocok semua, warnanya juga sama gitu!" balas Shu-Shu. "Bedalah, ini hitamnya lebih mengkilat sedang ini lebih misterius." Ze menunjukkan perbedaannya yang di mata Shu-Shu masih terlihat sama. "Ini lebih oke." Shu-Shu memilih acak, toh baginya dua sepatu hak tinggi itu masih terlihat sama saja. "Iya kah? Iya juga sih, lebih oke sama baju ini." Ze setuju dan meletakkan sepatu yang tidak dia pakai ke rak, lalu mengenakan sepatu yang dipilih oleh Shu-shu. Suara klakson mobil membuat keduanya menoleh. "Kalian berdua, jadi ke pesta enggak!" teriakan Winnie sekaligus suara klakson mobilnya bergema. "Bentar, Ze ngambil tas dulu!" Shu-Shu berjalan keluar dari rumah dan menjawab Winnie yang sudah nangkring di mobilnya. "Yang ngajak siapa? Yang bangunin aku suruh buru-buru berangkat siapa? Sekarang yang paling telat siapa?" Winnie menggerutu, sebagai pekerja yang menghargai waktu sebagai uang, melakukan segala sesuatu dengan tepat waktu adalah keharusan. Namun, setiap bersama dua temannya itu, Winnie harus selalu sabar karena mereka suka lelet. "Biasalah, kayak enggak tahu Ze aja, dia dandan paling ribet." Shu-Shu membuka pintu mobil penumpang di sebelah Winnie dan masuk. Karena di sini yang punya mobil hanya Winnie maka setiap bepergian bersama mereka hanya mengandalkan mobil miliknya untuk transportasi. Suara klakson mobil kembali bergema. "Ze ... jadi enggak!!!" Winnie kembali berteriak dan mengklakson ketika sudah sepuluh menit kemudian dan Ze tak kunjung muncul. Tidak berapa lama kemudian, suara langkah kaki Ze yang terburu-buru muncul di pintu masuk rumah. "Guyz, bentar deh, aku bingung, menurut kalian tas yang cocok aku pake yang mana ya?" Ze menunjukkan empat tas di tangannya agar temannya bisa membantu memilih dengan ekspresi seperti kebingungan. Winnie dan Shu-Shu saling memandang lalu memukul dahinya masing-masing. Astagaaa!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD