"Bulshit, enggak usah ngaco deh opa! Aku bahkan enggak kenal perempuan itu, bagaimana bisa dia mengatakan bayi itu anakku!" Justine langsung menolak mentah-mentah ketika sang kakek Marco menyidang dirinya karena dituduh seorang wanita tidak mau bertanggung jawab pada darah dagingnya sendiri.
"Justine, aku kenal kamu dengan baik, kamu memang playboy, tapi aku enggak menyangka bahwa kamu juga b******n yang tidak bertanggung jawab." Juliette saudara kembar Justine merasa kecewa. Sebagai calon ratu Cavendish, Juliette selalu tenang dan terkontrol tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan saudara kembarnya selalu membuatnya kehilangan ketenangan itu.
"Juliette yang paling cantik, kamu lupa kalau saudaramu ini memiliki ingatan fotografis? Jangankan ingatan seminggu lalu, ingatan sepuluh tahun lalu saja aku bisa mengingat dengan jelas. Jadi, kalau aku bilang tidak kenal berarti aku memang tidak kenal wanita itu, kenapa aku harus mengakui hal yang tidak aku lakukan!" Justine benar-benar tidak mengenal wanita itu, kenapa semua keluarganya menganggap dia berbohong.
Oke, Justine memang b******n dan kadang suka membuat tipu muslihat, tetapi untuk hal sepenting ini tidak mungkin dia berbohong apalagi menyangkut nama baik keluarga dan darah daging Cohza serta Cavendish.
"Juliette, aku masih ingat semua wajah wanita yang sudah aku tiduri, aku juga ingat dengan jelas siapa yang pakai kondom dan siapa yang minum pil, di hotel mana, jam berapa? Nama, alamat bahkan ukuran p******a semua wanita yang sudah aku tiduri aku juga masih ingat sampai sekarang. Jadi, untuk hal sepenting ini aku sudah pasti tidak akan lupa." Justine menegaskan.
Justine mengambil napas seperti meminta jeda, lalu melihat video dari paparazi yang entah dapat sumber dari mana dan memfitnah dirinya.
"Sedang wanita itu! Aku benar-benar tidak kenal dan baru melihat wajahnya sekarang." Justine menunjuk ke arah layar televisi di mana seorang wanita yang masih muda menggendong bayi berusia sekitar satu bulan yang mengaku bahwa bayi itu adalah anak dari pangeran Cavendish.
Marco menggebrak meja.
"Kamu tidak kenal? Benar-benar tidak kenal!" Marco berdiri, ingin sekali memukul cucu laknat di hadapannya.
"Marco, tenang!" Lizz sang istri segera ikut berdiri dan menenangkan Marco agar tidak marah.
"Papa, jangan marah-marah oke! Nanti darah tingginya kumat." Qi sang Ratu Cavendish sekaligus menantunya ikut menenangkan dengan senyum manis tanpa beban, padahal di sini anaknyalah yang sedang membuat ulah.
"Aku enggak punya darah tinggi!" Marco duduk semakin kesal, menantunya itu cantik, pinter tapi ngeselin, pantas cucunya Justine tingkahnya juga tak terkendali, pasti ini gen dan sikap turunan dari mantunya itu.
Lihatlah Juliette cucu perempuannya yang kalem dan anteng, mirip anaknya Junior yang juga dingin dan coll, sesuai sama Marco yang juga berwibawa.
Kalau Junior enggak terlanjur cinta sama itu Queen, Marco engak rela anaknya yang ganteng dan bersahaja bersanding sama anaknya Joe yang ganjen dan centil itu.
Tapi sudahlah, bubur sudah terlanjur di aduk, tidak mungkin di makan terpisah lagi. Sekarang yang paling urgen adalah nasib cucu buyutnya yang masih ada di luar sana.
Justine sebagai cucu yang bersangkutan walau dia lebih banyak tinggal di Indonesia, tetapi statusnya masihlah pangeran di kerajaan Cavendish dan kabar bahwa sang pangeran menelantarkan anak kandungnya tentu membuat pihak kerajaan merasa malu sehingga harus membersihkan nama baik mereka.
Marco sebagai kakek yang sudah merawat Justine sedari bayi langsung menyelidiki kebenaran itu, dia tidak marah jika benar bayi itu anak dari Justine karena tahu pasti Justine selain nakal juga sangat playboy. Jadi, jika suatu hari dia kedapatan menghamili anak orang, hal itu tidak akan menjadi kejutan sama sekali, justru jika dia tidak membuat bunting anak orang, maka Marco akan mempertanyakan kejantanannya.
Tetapi yang membuat Marco marah adalah, bocah tengik dan bau itu tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri, Marco tidak pernah mendidik keturunannya untuk jadi manusia yang tidak bertanggung jawab seperti itu.
Tidak mau menikahi perempuan itu, bukan masalah, Marco bisa mengatur agar bisa merawat bayi dan membiayai hidup ke duanya tanpa khawatir kekurangan apa pun, tetapi sayangannya bukan hanya tidak mau menikahi wanita itu, Justine bahkan mengaku tidak mengenal wanita itu sama sekali.
Logikanya saja, kalau Justine tidak kenal, bagaimana mungkin wanita itu bisa hamil dan melahirkan anak Justine, memang wanita itu bisa hamil via online atau transfer s****a via M-banking.
Marco melempar berkas ke meja.
"Lalu ini apa? Tes DNA menunjukkan 100% kamu adalah ayah dari anak itu!" Marco menghempaskan hasil pemeriksaan di hadapan Justine.
Justine yang melihat lembar pemeriksaan itu seketika melotot karena terkejut.
"Tidak mungkin!!! Aku benar-benar tidak ... ini pasti palsu kakek." Justine membaca hasil laboratorium, di mana tertulis jelas 100% cocok.
"Apakah rumah sakit milik kakekmu ini kau pertanyakan kejujurannya? Lihat dengan jelas, pemeriksanya Dokter Mahesa, abang sepupumu sendiri!"
"Bagaiman ini bisa terjadi???" Justin membaca lagi dan lagi tetapi hasilnya tetap sama yaitu bayi itu anaknya.
Semua dokter bisa dia pertanyakan kemampuannya, tapi jangan pernah mempertanyakan kemampuan Mahesa sebagai dokter, bisa-bisa dia kehilangan organ dalam dan masih dipaksa berjalan.
Hanya saja, kenapa bisa!
Bagaimana mungkin bayi itu benar-benar anaknya.
Kapan dia menghamili perempuan itu? Kenapa dia tidak ingat sama sekali?
Ini benar-benar mustahil!!!
"Masih enggak mau ngaku?" Marco menatap tajam Justine.
"Opa ... ini ... aku benar-benar enggak tahu! Aku enggak kenal Aw ...."
Sebelum Justine menyelesaikan perkataannya Marco sudah mengambil tongkat dan memukuli cucunya itu.
"Masih berani bilang enggak kenal."
"Masih mau bohong!"
"Masih mau mengelak!!!"
"Marco ... hentikan!!!" Lizz yang melihat Marco memukuli cucunya langsung menghampiri dan menariknya agar berhenti, Queen juga ikut membantu Lizz mencegah Marco memukuli anaknya.
"Papa, jangan marah oke, nanti kamu kecapekan." Qi menepuk lengan Marco dengan senyum menenangkan.
"Lepaskan! Biar aku patahkan kaki bocah tak bertanggung jawab ini biar enggak bisa kelayapan lagi!" Marco hendak memukul Justine lagi
"Papa." Suara tenang Junior segera membuat seluruh ruangan seketika hening.
Jangan tanya kenapa.
Aura Junior yang dingin bahkan bisa membekukan gurun sahara. Jadi, satu kata langsung menghentikan Marco dan akhirnya membuatnya duduk meski masih kesal.
Junior menatap anak lelakinya dengan tatapan tajam, "Justine, tes DNA menunjukkan itu adalah anakmu," jelasnya.
Justine hendak membantah tetapi tatapan dingin Junior menghentikan perkataannya.
"Temui wanita itu dan bawa pulang keturunan Cohza," perintah Junior pada Justine.
"Tapi, Pa ...." Lagi-lagi tatapan dingin Junior membuat Justine tidak berani membantah, karena seseram-seramnya paman Lucas sebagai mafia, entah kenapa Justin masih paling takut dengan papanya yang diam dan menatap dengan tenang, seolah-olah satu tatapan bisa membunuhnya seketika.
"Baiklah, aku akan jemput mereka," ucap Justine tak punya tempat menolak.
"Se-ka-rang!" tekan Junior.
Justine seketika duduk tegak dan mengangguk, lalu dengan mendesah pasrah berdiri lagi, "Justine berangkat dulu," ucapnya dengan rasa tidak rela karena dituduh menelantarkan anak oleh keluarganya, padahal pikirannya masih bertanya-tanya kapan dia bertemu wanita yang hamil anaknya itu? Justine tidak ingat sama sekali.
***
Winnie menatap cincin mahal di jarinya dengan rasa tidak percaya.
Kemarin, dia masih berteriak-teriak meminta tanggung jawab pada Justine, tapi hari ini Justine yang benar-benar bertanggung jawab padanya malah membuatnya panik sekaligus takut.
Karena, dia tiba-tiba dinikahi.
Benar.
Dia menikah dengan Justine, tuan muda kaya dari keluarga Cohza.
"Kamu capek? Istirahat dulu aja kalau cape." Justine yang baru keluar dari kamar mandi melihat istri barunya yang duduk di atas ranjang dengan linglung.
Sejak menikah hingga Justine membawa istrinya ke pulau pribadi untuk bulan madu, Justine merasa Winnie seperti robot, hanya melakukan apa yang diperintahkan.
Membuat Justine berpikir, apakah wajahnya terlalu tampan hingga istrinya terpesona dan tidak bisa berkata apa-apa.
Winnie mendongak dan langsung terkejut karena Justine tidak mengenakan pakaian, hanya ada handuk melilit di pinggangnya.
"Kamu ... kenapa ... tidak pakai baju?" tanyanya dengan napas tercekat.
"Ini kan malam pernikahan kita, ngapain aku pake baju." Melihat kegugupan istrinya entah kenapa malah tumbuh minat di hati Justine.
"Malam ... maksudmu ... kita ... kita, tapi ... bukankah pernikahan ini hanya perjanjian sementara?" Winnie mundur dan reflek ingin kabur, tapi kaki Justine sangat panjang dan dengan mudah menarik Winnie ke dalam pelukan.
"Perjanjian atau tidak, aku tidak akan melewatkan malam pengantinku sendiri." Justine meletakkan ke dua tangan di pinggang, membuat Winnie seketika kaku dan tegang.
"Aku, belum siap." Winnie berusaha menolak.
"Tenang saja, aku akan membantumu bersiap." Justine mulai mencoba membuka pakaian Winnie.
"Tidak ... tunggu! Apa yang kamu lakukan ... jangan dilepas ... Justine, Justine hentikan!!!" Winnie berusaha mencegah, namun Justine yang terlalu profesional saat membuka pakaian wanita tidak bisa dihentikan.
Winnie berusaha menggeliat namun selalu berhasil ditangkap, hingga dia tidak berdaya untuk menolak dan dengan penuh air mata melayani Justine di malam pertama.
Kenapa?
Kenapa ini bisa terjadi padanya?