Bab 1. Skandal

1569 Words
Satu tahun sebelum kejadian itu, Winnie berjalan mondar-mandir dengan ponsel di telinganya dan berusaha melakukan panggilan ke nomor yang sama berkali-kali. Namun, nomor yang bersangkutan tidak ada tanda-tanda akan menjawab. Di belakangnya ada suara bayi menangis yang membuat Winnie merasa panik dan sangat ingin menangis, dia berusaha menepuk dengan pelan berusaha menghibur sang bayi sambil tetap melakukan panggilan telpon. Meski sudah 23 tahun, tapi Winnie belum pernah merawat bayi dan tidak tahu bagaimana cara melakukannya, karena meski dia memiliki adik laki-laki bukan berati dia pernah merawat adiknya saat masih bayi. Winnie terduduk lemas dengan air mata berlinang, merasa pusing dan kesal karena nomor temannya bukan hanya tidak bisa dihubungi bahkan sekarang seperti sengaja dimatikan atau mungkin dia diblokir. "Hsshh, jangan nangis ya ganteng, kakak telpon mama kamu dulu sebentar." Winnie berusaha menenangkan bayi itu, tapi bukan berhenti malah tangisannya makin kencang. "Pada ke mana sih? Kenapa enggak diangkat?" Seketika Winnie ikut menangis bingung, bagaimana mungkin teman yang sudah dia kenal lama bisa setega ini padanya, dengan tanpa perasaan dia meninggalkan bayi yang baru berusia satu bulan di kontrakan rumahnya dan sekarang menghilang entah ke mana. Membuang bayi itu. Tidak mungkin. Menghubungi keluarga temannya, dia tidak punya nomor mereka. Menghubungi RT / RW dia malah takut dikira dia ibu bayi yang mau menelantarkan anaknya, di tambah meski temannya jahat dia masih tidak tega merusak nama baiknya dengan memberitahu semua orang bahwa temannya melahirkan anak diluar nikah. Menghubungi polisi. Winnie tidak berani menginjakkan kaki di kantor polisi karena takut dengan wajah polisi yang tegas-tegas. "Shu-Shu, Ze, please ... tolong di angkat! Kenapa kalian tega sama aku?" Sambil menangis sekaligus menepuk dan mengelus sang bayi, Winnie terus berusaha menghubungi temannya kali ini ke nomor satunya, berharap dia masih memiliki kasih sayang kepada sang bayi dan mau mengangkat telponnya. Sayangnya bahkan hingga ratusan kali panggilan dia lakukan, tetap tidak ada satupun panggilan yang dijawab oleh temannya. "Ini aku harus gimana? Bayinya nangis terus." Winnie merasa bingung dan putus asa. Seandainya dia tahu akan ada kejadian seperti ini, dia tidak akan pernah kembali ke kontrakan dan akan memilih meneruskan pekerjaan di luar kota. Jika saja kemarin dia langsung pergi ke lokasi tempat kerja yang lain, mungkin hal ini tidak akan terjadi, tapi sepertinya takdir tidak bisa disalahkan, karena ketika dia baru kembali dari luar kota tiba-tiba dia mendengar suara tangis bayi yang mengejutkan. Karena rumah kontrakan ini memang di sewa oleh Winnie dan dua temannya yaitu Ze dan Shu-Shu. Winnie tidak ambil pusing saat ada bayi di sana karena menurut Ze bayi itu anak kakaknya Ze yang dititipkan sementara karena suaminya masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Sebagai manusia yang memiliki empati, Winnie tentu tidak keberatan dan ikut senang dengan bayi yang terlihat menggemaskan itu, bahkan karena habis mendapatkan bonus dia membelikan mainan secara online dengan pengantaran someday untuk menghibur sang bayi agar tidak menangis saat berada di sana. Baru setelah temannya Ze menghilang sejak siang tadi dan meninggalkan surat di box bayi, Winnie sadar bahwa dia telah dijadikan kambing hitam. Ze adalah anak tunggal, bagaimana mungkin dia bisa memiliki kakak. Di tambah lagi, bayi ini ternyata adalah bayi yang dilahirkan oleh Ze sendiri. Pantas, beberapa bulan lalu Winnie merasa Ze terlihat lebih gemuk, dia tidak berani bertanya karena takut membuatnya tersinggung. Bahkan baru Winnie sadari bahwa Ze sempat tidak pulang ke kontrakan hampir 3 bulan, sepertinya itu adalah waktu saat di mana dia melahirkan bayinya. Winnie tidak pernah curiga karena sebagai artis garis 18, Ze sering pergi untuk syuting dan tidak kembali sampai berbulan-bulan jika mendapatkan pekerjaan yang bagus. Jadi, bahkan hari ini saat Ze tiba-tiba pergi, dia hanya berpikir bahwa dia akan keluar untuk mencari makan siang dan Winnie dengan polosnya bahkan ikut nitip hingga akhirnya kelaparan karena temannya ternyata tidak kembali Sekarang malam telah tiba dan bayi mulai rewel sedangkan tidak ada tanda-tanda Ze akan kembali, pada saat inilah akhirnya Winnie merasa panik dan berusaha menghubungi Ze serta beberapa teman Ze yang dia kenal. Sayangnya semua tidak tahu keberadaan Ze, sedangkan teman satu kontrakan yang sering dia panggil Shu-Shu ikut menghilang dan tidak bisa dihubungi juga, karena sepertinya dia sudah tahu dengan keadaan Ze dan bayinya, sehingga sekarang dia juga memilih pergi karena tidak mau ikut campur. Hanya tersisa Winnie yang pusing tujuh keliling karena tiba-tiba harus merawat bayi yang bahkan dia tidak tahu siapa nama bayi tersebut. "Cup cup ... jangan nangis lagi, jangan nangis lagi." Winnie berusaha menepuk dengan lembut bayi yang ada di kasur seperti yang pernah dia lihat dari Ze kemarin, dia tidak berani menggendong terus karena masih kaku, khawatir jatuh karena tangannya yang tidak terampil. "Kamu kenapa sih ... janganlah nangis terus, aku pusing ini ... ya Allah ini gimana ...." Winnie membuka popoknya dengan panik hingga membuat popok sekali pakai itu robek, tapi popoknya jelas masih bersih dan bayi ini menangis bukan karena ngompol. "Oke ... oke ... kakak bikin s**u, cup cup jangan nangis, tunggu di sini sebentar ya ...." Dengan gerakan cepat, Winnie membuka kotak s**u yang ditinggalkan, membaca dengan cermat takaran dan suhu air di kemasan. Namun, karena tidak adanya pengalaman dia membutuhkan waktu hampir sepuluh menit untuk membuat sebotol s**u, di mana bayi yang menunggu sampai berwarna merah dengan suara serak karena menangis terlalu lama. Baru setelah s**u diberikan, bayi itu akhirnya berhenti menangis dan menghisap s**u dalam botol dengan rakus, seolah-olah sudah terlalu lama kelaparan. Melihat bayi yang akhirnya tenang dan tertidur, Winnie yang sedari tadi pontang panting karena panik akhirnya terduduk lemas dengan rasa lega. Meski begitu, tidak ada wajah bahagia di sana, karena otaknya masih berpikir dengan semerawut. Apa yang harus dia lakukan pada bayi ini? *** "Shhh, bobo ya ganteng." Winnie menepuk punggung bayi yang habis minum s**u agar bersendawa, setelah itu dengan lembut dia membawanya ke kamar agar tidur. Setelah seminggu bersama sang bayi, Winnie mulai agak terampil mengasuhnya, selain ratusan tutorial yang dia lihat dan praktekkan, Winnie juga mulai kebal saat mengganti popok bayi yang ngompol atau buang air. Tapi, bukan berarti dia dengan senang hati mau merawat anak ini karena dia juga memiliki pekerjaan yang tidak mungkin dia tinggal demi bayi yang bukan anaknya. Itulah kenapa, seminggu ini Winnie berusaha keras menghubungi keluarga dari ayah bayi ini, karena senin besok harus mulai bekerja. Dia hanya bisa mengambil cuti seminggu, sehingga semakin mendekati hari senin, dia semakin khawatir dan kesal karena belum ada satupun pesan pribadi darinya mendapatkan balasan. Menurut keterangan yang ditinggalkan temannya dalam box bayi, bayi ini adalah anak dari tuan muda keluarga Cohza, cucu pemilik rumah sakit Cavendis dan setelah hasil searching yang lumayan lama, Winnie baru mengetahui bahwa, Justine juga merupakan pangeran dari kerajaan Cavendish. Terkejut, kaget bahkan terjungkal, itu sudah pasti. Karena Winnie baru melihat Justine sekali di pesta waktu itu dan mengira dia hanya cowok tampan cucu pemilik JJ entertainment. Namun, siapa sangka identitasnya bahkan lebih luar biasa dari yang dia duga. Sayangnya, meski dia tampan dan bayi ini lucu, mereka tidak ada hubungannya dengan dirinya. Jadi, Winnie tidak mau ambil pusing karena yang terpenting bagi Winnie saat ini adalah, menyerahkan bayi ini pada ayahnya agar dia bisa menjalani hidupnya lagi seperti biasa. "b*****t! Asyu ...." Winnie tidak tahan dan mengumpat saat dia melihat postingan terbaru Justine bersama salah satu artis ternama, terlihat mesra dan sangat akrab. Dia sangat kesal karena sudah susah payah merawat anaknya. Eh, si Justine malah party sana sini. Dia sudah menghubungi lewat pesan pribadi, baik sss, Ig, t****k, Twitter, email bahkan Linkedin, semua sosial media milik Justine, kakak bahkan orangtuanya, namun semua tidak ada tanggapan seolah-olah itu hanya spam. Winnie tidak tahan lagi. Dengan gusar dia akhirnya membuka aplikasi t****k miliknya, membuat video dengan semangat menggebu-gebu disertai air mata, di mana dia dan wajah bayi terlihat sangat jelas dalam video itu agar tidak dikira penipu, lalu memposting dengan isi tuntutan permintaan tanggung jawab kepada Justine karena menelantarkan anaknya. Untuk mencegah postingannya tenggelam dan tidak ada yang singgah, Winnie bahkan membeli bot agar bisa Fyp. "Mampus kau, ku buat viral! Siapa suruh enggak balas pesanku!" ucap Winnie dengan nada kesal. Dengan skandal sebesar ini, tidak mungkin keluarga Cohza akan diam saja. Sesuai dugaan Winnie, tidak membutuhkan waktu satu jam dan postingan yang dia buat benar-benar Fyp. Namun, yang tidak dia sangka adalah, begitu postingan itu meledak, para paparazi yang suka mencari gosip langsung menghubunginya satu persatu hingga ponselnya tidak bisa berhenti bergetar dan akhirnya dia nonaktifkan karena panik. Lebih ngerinya, di sore hari ada paparazi yang langsung datang ke kontraknya dengan bocoran alamat entah dari siapa? begitu alamat rumahnya bocor, maka semua pencari berita langsung berbondong-bondong memenuhi halaman rumah untuk mendapatkan jawaban langsung darinya. Karena ketakutan dengan pemandangan sebesar itu, Winnie akhirnya menghubungi RT dan RW setempat untuk membantu, memberi konferensi pers sejenak dan meminta petugas keamanan dan RT untuk mengusir mereka semua. Winnie memang ingin meminta tanggung jawab untuk bayi ini, tapi bukan berarti dia ingin jadi artis yang jadi bahan gosip dan kejaran paparazi. Jadi, setelah memberi pernyataan sekali, Winnie segera menutup pintu rumah dan tidak berani keluar. Tapi, malam itu ditakdirkan menjadi malam yang mengerikan bagi Winnie, karena selain bayi yang rewel, masih ada puluhan paparazi yang standby memenuhi halaman rumahnya dan terus berteriak meminta penjelasan meski sudah di usir pergi. Keamanan di komplek tidak mampu mengusir mereka karena terlalu banyak, membuat Winnie pasrah dan akhirnya menjawab pernyataan mereka lagi hingga semua mendapat berita yang mereka inginkan dan akhirnya pergi. Setelah semua selesai, Winnie merasa seluruh tulang dilucuti, hingga dia segera jatuh tertidur dan bahkan tidak terbangun saat bayi menangis karena terlalu lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD