Jam istirahat tiba, semua orang berkumpul di tempat-tempat tertentu sesuka hati mereka. Fakhrul merangkul pundak Farid dan duduk di salah satu meja kantin yang kosong.
"Bagaimana kabarmu Akh? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Fakhrul.
Farid tersenyum.
"Alhamdulillah Akh Fakhrul, saya baik-baik saja," jawab Farid.
"Yakin? Kamu benar-benar baik-baik saja setelah Bu Sarah pergi meninggalkanmu dan menikah dengan Pria lain?" Fakhrul terlihat tidak yakin akan jawaban dari Farid.
"Yakin Akh, saya sudah mengikhlaskan. Saya mungkin memang tidak pantas untuk Bu Sarah, persis seperti yang Bu Sarah katakan sendiri pada saya waktu itu," ujar Farid, seakan sedang mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu.
Fakhrul menyodorkan teh hangat untuk Farid saat pesanan makanan mereka datang. Farid menerimanya dan mulai meminumnya pelan-pelan.
"Kamu tidak berada di posisi yang salah Akh, Bu Sarah saja yang penilaiannya terlalu tinggi. Apa yang dia katakan tidak benar sama sekali. Bagi saya, Akh Farid adalah orang baik dan tidak pantas dipandang sebelah mata, apalagi jika harus dinilai hanya dari segi ekonomi," ujar Fakhrul.
Farid terdiam, kedua tangannya kembali dingin seperti waktu itu ketika Sarah menolaknya mentah-mentah di depan banyak orang.
Flashback On
Sarah menatap Farid dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya pada Pria itu.
"Begini Pak Farid, sebelumnya saya mohon pengertiannya. Saya tidak bisa menerima lamaran keluarga Pak Farid meskipun semalam Keluarga Bapak datang secara langsung ke rumah Orangtua saya," ujar Sarah di Kantor Guru pagi-pagi sejali.
Fatid terdiam ketika semua orang menatap ke arahnya seakan dia sudah melakukan kesalahan fatal.
"Tolong lah Pak, harusnya Bapak sadar dengan sendirinya kalau Keluarga Bapak tidak setara dengan Keluarga saya! Tidak perlu sampai harus datang ke rumah Orangtua saya! Saya sudah punya calon Suami, dan dia jauh lebih mapan ketimbang Pak Farid! Apa Bapak tidak bisa sadar diri?" Sarah benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tak menghina.
Fakhrul mendekat ke arah Farid.
"Bu Sarah, seharusnya hal seperti ini tidak perlu diperbesar. Bu Sarah.harusnya menjawab secara pribadi saja pada Pak Farid agar tak menjadi tontonan banyak orang seperti ini," saran Fakhrul.
"Jangan ikut campur ya Pak Fakhrul! Ini urusan saya! Saya merasa sangat dipermalukan oleh Pak Farid semalam saat Keluarganya datang begitu saja dan tiba-tiba melamar! Di mana wajah saya ini harus saya simpan? Sekarang semua keluarga saya berpikir kalau selera saya terhadap Pria sangat rendah! Saya dianggap mencoreng nama Keluarga karena berani membawa calon Suami dari kalangan rendah! Siapa yang mau bertanggung jawab?" tantang Sarah, marah.
"Bu Sarah, saya minta maaf. Sebaiknya kita bicarakan hal ini di luar ruangan," bujuk Farid.
"Nggak perlu Pak! Saya tidak mau nama baik dan kehormatan saya tambah tercoreng gara-gara Bapak! Mulai sekarang menjauh dari saya, jangan coba-coba mendekat lagi! Saya tidak akan segan-segan mempermalukan Bapak lebih daripada hari ini jika Pak Farid tidak juga sadar diri!" bentak Sarah.
Wanita itu pun pergi, meninggalkan Farid dengan perasaan hancur dan penuh hinaan.
Flashback Off
"Akh! Akh Farid!" panggil Fakhrul.
Farid pun tersadar dari lamunannya. Ia menatap Fakhrul lalu tersenyum seakan semua baik-baik saja.
"Kenapa melamun Akh? Dari tadi saya panggil-panggil kamu tidak menyahut," Fakhrul khawatir.
"Tidak apa-apa Akh Fakhrul, hanya saja saya merasa badan saya kurang enak hari ini," Farid mencoba menutupi kebenaran.
"Saya bilang dari tadi, Guru baru itu banyak disukai oleh siswa dan siswi. Mereka mengatakan kalau cara mengajarnya sangat berbeda dari cara mengajarnya Bu Sarah. Sangat mudah dipahami," cerita Fakhrul.
Farid pun terdiam lalu melirik sesaat ke tempat Gia dan Safira duduk di salah satu sudut kantin. Tentu saja anak-anak menyukainya, sikap Gia sejak dulu tak pernah berubah. Selalu ramah, sabar dan juga rendah hati. Bahkan Safira yang tak pernah bergaul dengan sembarang orang pun mudah sekali menjadi temannya meski baru saling mengenal.
"Bagus kalau begitu Akh, anak-anak akan senang belajar lebih giat kalau memiliki Guru yang humble seperti Ukhti Gia," Farid memberikan penilaian.
"Anak-anak juga mengadu pada Ukhti Gia mengenai bagaimana cara Bu Sarah mengajar selama ini, tapi reaksi Ukhti Gia yang hanya beristighfar dan meminta mereka untuk tidak melakukan ghibah terhadap kesalahan Bu Sarah, membuat mereka semakin menyukai sosoknya."
"Alhamdulillah, mereka kini punya panutan yang baik seperti Ukhti Gia. Semoga akhlak mereka akan semakin baik ke depannya," Harap Farid.
Fakhrul memperhatikan kejanggalan yang ada pada diri Farid saat ia membicarakan Gia. Farid sangat terlihat seakan tidak peduli, namun nyatanya dia peduli.
"Kamu kenal dengan Ukhti Gia?" tanya Fakhrul.
Farid pun menatap Fakhrul dengan cepat.
"Iya, aku mengenalnya. Dia adalah gadis yang pernah kuceritakan padamu setahun yang lalu. Dia gadis yang aku tolak saat akan dijodohkan denganku karena aku lebih memilih Sarah," jawab Farid dengan sangat jujur.
Fakhrul terlihat sangat tak percaya dengan apa yang Farid katakan.
"Astaghfirullah Akh Farid! Bisa-bisanya kamu membuang permata yang berkilau hanya untuk seonggok sampah yang menjijikan seperti Bu Sarah! Kamu sangat keterlaluan Akh! Sangat keterlaluan!" geram Fakhrul, pelan-pelan.
"Iya aku tahu. Aku tahu kalau aku salah Akh, tapi saat ini rasanya sudah telambat bagiku untuk menyesalinya. Lagipula aku yakin, Ukhti Gia pasti sudah menemukan orang yang tepat dalam hidupnya," balas Farid.
Safira yang diam-diam mendengar pembicaraan itu saat dirinya sedang mengambil pesanan pun segera berlalu. Ia segera duduk di hadapan Gia yang masih memeriksa beberapa tulisan siswa sambil menikmati makan siangnya.
"Ukhti Gia, boleh saya bertanya?" tanya Safira.
Gia tersenyum dari balik niqob-nya.
"Tentu Ukhti, silahkan," jawab Gia.
"Apakah Ukhti sudah menikah?"
"Belum Ukhti Fira, saya masih fokus pada pekerjaan saat ini. Lagipula saya belum menemukan orang yang pas untuk menjadi pendamping saya," jawab Gia.
"Apakah pernah ada yang mengkhitbah Ukhti sebelumnya?"
"Belum pernah ada. Tapi saya pernah dijodohkan dengan seseorang, hanya saja orang itu menolak dijodohkan dengan saya karena dirinya sudah memiliki tambatan hati. Jadi, saya batal dijodohkan pada saat itu."
Gia mengatakannya dengan sangat jujur pada Safira. Safira tersenyum dari balik niqob-nya.
"Apakah Pria itu adalah Akh Farid?"
DEG!!!
Gia pun berhenti memeriksa buku catatan yang tengah dipegangnya saat itu. Ia menatap ke arah Safira dengan serius sekaligus serba salah.
"Afwan, Ukhti Fira tahu dari mana?" tanya Gia, pelan-pelan.
"Dia baru saja membicarakannya dengan Akh Fakhrul. Saya tidak sengaja dengar dan ingin memastikan sendiri kebenarannya pada Ukhti Gia," jawab Safira, jujur.
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat.
"Wanita itu..., tambatan hati Akh Farid, adalah Bu Sarah. Dia menolak Pak Farid secara terang-terangan di depan semua Guru beberapa bulan yang lalu dan bahkan menghinanya dengan kejam," ujar Safira.
"Astaghfirullahal 'adzhim! Saya pikir Akh Farid sudah menikahi Wanita pilihannya saat ini, saya pikir dia sudah berbahagia, saya pikir...," Gia tak berani melanjutkan kalimatnya.
Safira menggenggam tangan Gia dengan lembut.
"Kita tidak pernah tahu bagaimana cara takdir akan bekerja di dalam kehidupan kita. Dan apa yang terjadi pada Akh Farid bukanlah kesalahan Ukhti Gia!" tegas Safira.
* * *