Usai jam istirahat berakhir Safira dan Gia kembali ke Kantor Guru untuk melanjutkan jadwal mereka selanjutnya. Safira meraih buku panduannya, begitupula dengan Gia.
"Nanti pulang sama-sama ya Ukhti, rumah kita kan searah," ajak Safira.
"Boleh Ukhti Fira, kalau perlu kamu mampir dulu ke rumahku. Masakan Ummiku enak sekali loh, siapa tahu kamu mau mencicipi," tawar Gia.
"Wah, kalau soal mencicipi kuliner rumahan saya jagonya. Insya Allah kapan-kapan saya pasti mampir ke rumah Ukhti Gia," janji Safira.
Fakhrul mendengarkan pembicaraan itu dengan jelas dari balik mejanya sendiri. Gia keluar lebih dulu menuju kelas yang akan diajarnya, sementara Safira masih memeriksa buku absen kelas.
"Ukhti Fira sepertinya cepat akrab dengan Ukhti Gia," tegur Fakhrul sambil tetap menatap ke layar laptopnya.
Safira tak mengangkat wajahnya, ia lebih memilih tetap memeriksa daftar absen.
"Ukhti Gia orang yang baik, rendah hati, dan juga tidak sombong. Saya suka kepribadiannya," jelas Safira.
"Saya dengar dari siswa dan siswi yang sudah diajar olehnya pun seperti itu. Anak-anak suka padanya, cara mengajarnya sangat menyenangkan bagi mereka," ujar Fakhrul.
"Alhamdulillah kalau begitu, anak-anak tidak akan tertekan lagi ketika belajar di kelas. Ukhti Gia sangat mampu membawa suasana menjadi menyenangkan, jadi mereka pasti akan betah belajar lama-lama di kelas," tambah Safira.
"Sejak dulu dia memang selalu mampu membuat orang lain betah berlama-lama di satu tempat. Dia tidak berubah," ujar Farid.
Safira menutup buku daftar absen yang sedang ia baca.
"Ya, benar sekali Akh Farid. Sayangnya hanya orang-orang tertentulah yang mau berada lama-lama di dekatnya. Saya yakin, orang itu bukanlah Akh Farid, karena Ukhti Gia bukanlah Bu Sarah," sindir Safira secara terang-terangan.
Fakhrul berhenti menatap layar laptop dan menatap ke arah Safira untuk pertama kalinya. Farid pun sama. Safira sendiri bergegas meraih tas-nya dan keluar dari Kantor Guru menuju kelas yang akan diajarnya.
"Astaghfirullah, Ukhti Fira kah itu tadi?" Fakhrul benar-benar terpaku di tempatnya.
"Iya, itu Ukhti Fira, dan dia tidak salah saat mengatakan apa yang dikatakannya tentang saya. Dia benar," jawab Farid, yang dipenuhi sesal.
* * *
Kriiiinnnnggg!!!
Bel tanda jam pelajaran berakhir telah berbunyi. Gia tersenyum ke arah siswa siswi di kelasnya saat itu.
"Baiklah, karena waktu sudah habis, maka kalian boleh meneruskan mencatat dan menghafal ayat-ayat ini di rumah. Minggu depan akan Ibu nilai," ujar Gia.
"Syukron Bu Gia," ujar semuanya, serempak.
Gia pun tersenyum dari balik niqob-nya.
"Afwan. Sekarang silahkan bereskan buku dan alat tulis kalian lalu berdo'a sebelum pulang," pinta Gia.
Semua berjalan lancar, hari pertama Gia mengajar sangatlah menyenangkan. Safira sudah menunggunya di depan kelas, Gia pun segera menghampirinya untuk memenuhi janji pulang bersama.
"Besok ada jadwal di kelas mana Ukhti Fira?" tanya Gia sambil melihat kertas jadwalnya.
"Insya Allah besok saya ada jadwal mengajar di kelas 12 IPS 2, IPS 3 dan IPA 2," jawab Safira.
"Saya ada jadwal di kelas 11 IPA 2, IPS 2, dan IPS 3. Lusa baru mengajar di kelas 12," ujar Gia.
"Jadwalnya sangat padat tidak untuk Ukhti? Kalau terlalu padat, biar saya ubah jadwalnya dan saya tempatkan Ukhti di waktu yang bagus," saran Safira.
Gia tersenyum. "Tidak usah Ukhti, Insya Allah jadwal ini sudah sangat bagus buat saya. Saya tidak kerepotan sama sekali dengan jadwal yang padat ini. Rasanya menyenangkan bisa berlama-lama mengajar anak-anak di kelas."
Safira pun kini ikut tersenyum.
"Ukhti Gia ini aneh, disaat semua Guru ingin cepat-cepat selesai mengajar di kelas, Ukhti malah ingin berlama-lama mengajar di kelas. Tapi saya salut, sejauh ini tidak ada yang protes mengenai cara mengajar Ukhti. Bahkan mereka memberitahu semua Guru yang lain kalau cara mengajar Ukhti sangat menyenangkan dan mudah dipahami," ujar Safira.
"Masya Allah, anak-anak mengatakan hal seperti itu tentang saya?"
"Iya, dan mereka suka sekali belajar bersama Ukhti."
"Alhamdulillah, kalau begitu saya akan semakin bersemangat dalam mengajari mereka," janji Gia.
Mereka berdua berhenti di depan rumah Gia setelah berjalan kaki dari sekolah.
"Yakin, Ukhti tidak mau mampir dulu ke rumah saya?" tawar Gia sekali lagi.
Safira tersenyum. "Iya Ukhti Gia, Insya Allah lain kali mungkin saya akan mampir untuk mencicipi masakan Umminya Ukhti Gia."
"Baiklah kalau begitu Ukhti Fira, saya masuk duluan ya. Assalamu'alaikum," pamit Gia.
"Wa'alaikumsalam Ukhti Gia," balas Safira.
Gia menutup pagar rumahnya setelah melihat Safira yang berjalan menjauh. Ia masuk ke dalam rumah setelah membuka sepatunya di teras.
"Assalamu'alaikum," ujar Gia.
"Wa'alaikumsalam. Sudah pulang Neng?" tanya Lastri dari arah dapur.
"Sudah Mi, Alhamdulillah," jawab Gia sambil menyimpan tas-nya di atas meja belajar ruang tengah.
Gia mencium tangan Ibunya lalu bergegas ke dapur membantu Lastri memasak makanan untuk makan malam nanti. Lastri membiarkannya mengaduk sayur yang baru saja dimasak di atas kompor.
"Bagaimana di sekolah tempat kerja kamu Neng? Bagus suasananya?" Lastri ingin tahu.
"Alhamdulillah Mi, suasananya bagus, siswa siswinya juga penurut. Tadi aku pulang sama-sama dengan Guru yang mengajar di sana. Namanya Ukhti Fira, dia tinggal tidak jauh dari sini, kami searah jalan pulang dan pergi," cerita Gia, bersemangat.
Lastri menatap sambil tersenyum pada Putrinya dengan penuh rasa sayang.
"Kamu ketemu sama Nak Farid nggak? Bagaimana kabarnya?"
Gia pun berhenti tersenyum setelah mendengar pertanyaan Ibunya.
"Iya Mi, aku juga bertemu dengan Akh Farid. Kabar dia baik, Alhamdulillah."
Gia hanya menjawab seadanya, ia tak mau Orangtuanya kembali berinisiatif untuk menjodohkannya lagi dengan Farid. Ia sudah berjanji untuk tidak memaksa Pria itu, dan ia akan menepati janjinya.
"Neng, Ummi tahu kalau Nak Farid belum menikah. Orangtuanya yang memberitahu Ummi dan Abi, hanya saja mereka sudah merasa malu untuk kembali mengkhitbahmu seperti waktu itu," ujar Lastri.
Gia berusaha tersenyum.
"Mi, Akh Farid tidak mencintai aku. Dia tidak akan bisa mencintai aku Mi sekalipun dia berusaha keras. Aku tidak mau membuat dia merasa menjalani hidup dengan terpaksa. Aku takut berbuat zhalim padanya. Tolong Ummi mengerti ya, Insya Allah suatu saat aku pasti akan mendapatkan jodoh yang baik," Gia memohon.
Lastri pun tersenyum dari balik niqob-nya sambil mengusap punggung Putrinya yang begitu sabar sejak kecil.
"Amiin, Ummi berharap hari itu akan datang dengan cepat. Ummi ingin melihat kamu menikah dan membangun keluarga. Kamu Putri Ummi satu-satunya, dan Ummi ingin kamu selalu bahagia," do'a Lastri.
"Amiin yaa rabbal 'alamiin," balas Gia dengan sepenuh hati.
Ismail hanya mendengarkan dari pintu luar dapur, ia tak ingin memberi tambahan pikiran pada Gia dan membuatnya stress hanya karena perkara jodoh.
* * *