Pagi-pagi sekali Safira datang ke rumah Gia untuk menjenguk ketika mendengar kabar kalau Wanita itu sedang sakit. Lastri membukakan pintu saat mendengar suara ketukan.
"Assalamu'alaikum Ibu, saya temannya Ukhti Gia," ujar Safira memperkenalkan diri.
"Wa'alaikumsalam. Neng Fira ya? Mari masuk, Neng Gia ada di kamarnya," Lastri menyambutnya dengan ramah.
Safira mengikuti langkah Rahmi menuju kamar Gia.
"Neng Gia, ada Neng Fira datang," ujar Rahmi.
Gia membuka matanya dan tersenyum saat melihat sosok Safira di ambang pintu kamarnya.
"Ummi tinggal dulu ya Neng, ngobrol saja sama Neng Gia, anggap rumah sendiri jangan sungkan-sungkan," ujar Lastri.
"Syukron Mi, eh..., saya jadi ikutan panggil Ummi," Safira salah tingkah.
"Nggak apa-apa. Anggap saja seperti Ummi sendiri juga boleh."
Lastri meninggalkan Safira dan Gia berdua.
"Assalamu'alaikum Ukhti Gia," sapa Safira dengan ceria.
"Wa'alaikumsalam Ukhti Fira. Sini duduk sama saya," pinta Gia.
Safira mendekat dan memeluk Gia dengan erat.
"Aku khawatir sekali saat dengar berita kalau Ukhti sakit. Semua pasti gara-gara saya, seandainya saja saya bisa lebih menahan diri untuk tidak membalas sindiran Bu Sarah, mungkin Ukhti Gia tidak akan sakit seperti ini," sesal Safira.
Gia tersenyum. Wajahnya yang kali itu tidak tertutup niqob memancarkan kecantikan yang Safira tak pernah lihat sebelumnya. Bahkan kecantikan yang Sarah miliki sekalipun, sangat jauh jika dibandingkan dengan kecantikan Gia yang begitu alami.
"Bukan salah Ukhti Fira. Sama sekali bukan. Daya tahan tubuh saya saja yang agak sedang kurang baik. Ukhti tidak perlu merasa bersalah, saya ikhlas melindungi Ukhti kemarin, karena saya tahu Ukhti tidak pantas menerima penghinaan seperti itu," ujar Gia mencoba menenangkan Safira yang matanya sudah berkaca-kaca.
Safira pun menghapus airmatanya, Wanita itu tersenyum kembali pada Gia.
"Anak-anak menanyakan Ukhti, beberapa orang hendak menyetor hafalan Al-Qur'an mereka tadi. Saat saya bilang kalau Ukhti sakit, mereka ikut terlihat khawatir," ujar Safira.
"Masya Allah, saya jadi rindu ingin segera mengajar kembali. Apakah mereka hari ini mencatat tugas yang saya berikan?" tanya Gia.
"Alhamdulillah Ukhti, mereka semua sangat bersemangat ketika saya memberitahu bahwa Ukhti memberikan tugas mencatat. Mereka sangat antusias dengan semua hal yang Ukhti berikan," jawab Safira, jujur.
"Alhamdulillah Ya Allah..., Alhamdulillah," Gia sangat bersyukur.
Safira membuka tas-nya lalu mengeluarkan sebuah kotak untuk diberikan pada Gia.
"Apa ini Ukhti Fira?" Gia mengerenyitkan keningnya.
"Ini titipan dari Bu Mila. Katanya isinya kurma agar Ukhti bisa memakannya dan segera cepat sembuh," jelas Safira.
"Masya Allah, saya jadi tidak enak pada Bu Mila. Kesannya saya jadi seperti membuatnya repot."
"Jangan berpikiran begitu Ukhti Gia, Bu Mila tidak merasa repot sama sekali. Insya Allah."
Tok..., tok..., tok...!!!
Lastri kembali muncul di ambang pintu sambil membawa baki berisi teh hangat dan cemilan untuk Safira.
"Masya Allah Mi, jangan repot-repot. Mari saya bantu," Safira mengambil alih baki dari tangan Lastri.
Lastri tersenyum senang.
"Tidak repot sama sekali Neng. Ayo di minum tehnya dan dimakan cemilannya," balas Lastri.
Gia menyodorkan kotak yang tadi Safira berikan kepadanya pada Lastri.
"Ini kurma Mi, dari Bu Mila. Ukhti Fira yang membawakannya," ujar Gia dengan suaranya yang masih serak.
"Masya Allah, kenapa repot-repot? Bagusnya Ummi balas dengan apa ya?" tanya Lastri.
"Bagaimana kalau Ummi berikan wajik? Wajik yang Ummi buat kan enak sekali," saran Gia.
"Ah, iya betul. Ummi akan bawakan wajik saja untuk Bu Mila," Lastri terlihat sangat setuju dengan saran dari Gia.
Setelah Lastri keluar, Safira kembali mengobrol dengan Gia.
"Akh Farid dan Akh Fakhrul menanyakan Ukhti pagi ini," ujar Safira.
"Oh ya? Memangnya ada apa sehingga mereka menanyakan saya?" tanya Gia.
"Kalau Akh Fakhrul menanyakan Ukhti karena anak-anak sudah mengantri untuk menyetor hafalan pagi-pagi sekali. Dia kelihatan tidak bersemangat ketika menyampaikan pada anak-anak bahwa Ukhti sedang sakit sehingga tidak bisa hadir," jawab Safira.
Gia tertawa mendengarnya.
"Sepertinya Akh Fakhrul suka sekali mendengar muroja'ah dari anak-anak, sehingga dia merasa tak bersemangat saat anak-anak batal menyetor hafalan" ujar Gia.
"Tepat sekali! Akh Fakhrul bahkan bilang sama saya kalau suasana baru saja berubah dalam sehari karena kedatangan Ukhti Gia dan kembali sepi dalam sehari karena Ukhti Gia tidak bisa hadir," tambah Safira.
Mereka berdua tertawa bersama.
"Lalu Akh Farid, kenapa dia menanyakan saya?" tanya Gia lagi.
"Entahlah, mungkin dia merasa bersalah saja atas apa yang Bu Sarah lakukan kemarin lalu merasa tidak enak pada Ukhti yang tiba-tiba sakit setelah kejadian kemarin," tutur Safira.
Gia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa bertanya lebih lanjut mengenai Farid.
"Kalau Ukhti sembuh, bisakah Ukhti hadir di majelis kajian malam yang akan berlangsung di Masjid Al-Muhajirin?" pinta Safira.
"Insya Allah, kalau tidak ada halangan saya pasti akan hadir. Siapakah yang akan mengisi kajiannya?" Gia ingin tahu.
Safira tersenyum dari balik niqob-nya dengan malu-malu.
"Saya baru saja meminta Ukhti untuk datang, kan? Maksud saya, Ukhti Gia datang ke acara itu sekaligus menjadi pengisi materi kajian malam," jawab Safira.
Gia pun tertawa tanpa bisa ditahan. Safira senang sekali saat melihat Gia bisa tertawa lepas seperti itu.
"Oh, jadi ada maksud terselubung dari undangan yang Ukhti ajukan?" goda Gia.
Safira pun terkekeh pelan.
"Seperti itulah kira-kira Ukhti Gia."
"Baiklah kalau begitu, Insya Allah saya akan datang sebagai pengisi materi kajian jika saya sudah sembuh," janji Gia.
"Amiin yaa rabbal 'alamiin. Saya harap Ukhti bisa sembuh secepatnya."
Lastri tersenyum-senyum sendiri di ruang tengah saat mendengar apa yang dibicarakan oleh Putrinya dengan sahabatnya. Ia juga merasa ikut senang saat Gia kembali tertawa bahagia seperti itu.
'Semoga bahagiamu ini tidak lagi terhalang oleh kesedihan. Amiin.'
* * *
Farid duduk di depan layar laptopnya dengan gelisah. Sejak pagi setelah mendengar kabar dari Safira bahwa Gia sakit, perasaannya menjadi tidak karuan sama sekali. Ia benar-benar merasa sangat tidak menyangka kalau Sarah akan datang hingga akhirnya berakhir dengan membuat Gia kesakitan dan merasa malu.
Ia sangat geram dengan kelakuan Wanita itu. Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa dulu ia begitu menggilai Wanita itu hanya karena kecantikannya? Bahkan tanpa ia duga, ada kecantikan lain yang tersembunyi di balik niqob rapat yanh menutupi wajah Gia, Wanita yang hampir ia miliki setahun yang lalu. Mengapa ia begitu bodoh, sehingga dengan mudah melepaskan berlian paling berharga yang Allah kirim untuknya secara percuma?
Kini ia bahkan tidak mungkin memiliki peluang yang sama lagi seperti dulu untuk hidup bersama Gia. Karena saat ini bukan hanya dirinya yang mungkin ingin mengikatnya dalam sebuah pernikahan.
"Baru satu hari saya tidak melihatnya, rasanya seperti sudah seribu tahun tidak pernah bertemu," ungkap Fakhrul secara terang-terangan.
* * *