Fakhrul terus mengerjakan semua pekerjaannya di rumah. Ia tak pernah berhenti bekerja sejak tiba siang tadi. Yuni menatap Putranya yang terlihat berusaha fokus padahal sangat kentara kalau dia sedang kacau.
"Arul, kamu nggak makan malam dulu?" tegur Yuni.
Fakhrul menoleh untuk menatap Ibunya sambil tersenyum.
"Aku belum lapar Mi, kalau pekerjaan aku selesai Insya Allah aku akan makan," jawab Fakhrul.
Yuni pun mendekat untuk duduk di samping Putranya.
"Ada apa? Ayo bilang sama Ummi, jangan dipendam sendiri," bujuk Yuni sambil mengusap punggung Fakhrul dengan lembut.
Fakhrul tahu benar kalau Ibunya adalah orang yang peka. Ia tak pernah bisa menyimpan masalah apapun selama ini karena Ibunya sudah jelas akan tahu kalau ada hal yang tidak beres.
"Ada kejadian pertengkaran tadi di sekolah Mi," ujar Fakhrul mengakui.
"Hmm, lalu?"
Fakhrul menghela nafasnya pelan-pelan.
"Sarah datang ke sekolah dan tiba-tiba menyindir Ukhti Fira. Dia menyindir Ukhti Fira lalu Ukhti Fira membalasnya. Yang kami tidak duga sama sekali adalah, Sarah akan meraih gelas berisi teh panas untuk menyiramnya ke arah Ukhti Fira."
"Astaghfirullahal 'adzhim!!! Lalu bagaimana keadaan Nak Fira? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Yuni, khawatir.
"Alhamdulillah Ukhti Fira baik-baik saja Mi. Karena Ukhti Gia, Guru baru yang menggantikan Sarah, melindunginya dengan cepat. Wajahnya lah yang terkena siraman teh panas itu," jawab Fakhrul.
"Astaghfirullah..., kok Sarah itu tega sekali sih? Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Bu Mila turun dari ruangannya dan memarahi Sarah. Sarah tidak terima di marahi lalu dia menarik paksa niqob yang ada di wajah Ukhti Gia hingga robek Mi."
Kini Fakhrul terlihat sangat menyesal luar biasa, Yuni pun dapat menangkap ekspresi itu di wajah Putranya dengan jelas.
"Nak? Lalu apa yang terjadi?"
"Ukhti Gia menangis Mi, Ukhti Fira berusaha menenangkannya dan aku melakukan kebohongan dengan mengatakan bahwa aku tak melihat wajahnya hanya untuk membuatnya tidak merasa malu. Nyatanya aku melihatnya Mi, dan sekarang aku merasa sangat bersalah karena terus mengingat bagaimana wajahnya yang selama ini tertutupi oleh niqob," Fakhrul mengakui kesalahannya.
Yuni pun kembali mengusap punggung Putranya agar tenang.
"Nak, dua hal yang kamu lakukan itu tidak salah. Tidak salah kamu melihat wajahnya karena kamu tidak sengaja. Tidak salah juga kamu berbohong karena kamu ingin menutupi aibnya," ujar Yuni.
"Tapi aku tidak bisa melupakan wajahnya Mi. Aku merasa sangat berdosa karena tak bisa lupa dengan wajahnya. Dia menutupi wajah itu sejak kecil dan dia tak ingin ada Pria yang melihatnya selain Pria yang akan menjadi Suaminya. Aku merasa sangat bersalah Mi," ungkap Fakhrul yang sudah tak tahan dengan kegelisahan hatinya.
"Begini saja. Coba kamu memohon sama Allah agar bisa melupakan apa yang kamu lihat tadi. Berusahalah lebih dulu, hadapi dengan tenang," saran Yuni.
Fakhrul menganggukan kepalanya.
"Iya Mi, akan aku coba."
* * *
Yuni membuka pintu kamar Fakhrul pelan-pelan. Fakhrul sendiri terlihat masih membuka matanya meskipun sudah berbaring di tempat tidur. Kini ia meyakini kalau kegelisahan yang dialami Putranya bukanlah hal yang sepele. Ia masuk ke dalam dan menghampirinya.
"Arul, kamu belum tidur Nak?" tanya Yuni.
"Belum Mi, aku masih berusaha," jawab Fakhrul sambil bangkit dari pembaringannya.
Yuni duduk di sisi tempat tidurnya sambil menggenggam tangan Fakhrul dengan erat.
"Katakan, kenapa kamu tidak bisa melupakan wajahnya? Bukankah selama ini kamu juga terbiasa melihat Wanita yang tidak menggunakan niqob? Sarah misalnya," Yuni bicara perlahan-lahan.
Fakhrul pun kembali memikirkan apa yang Ibunya katakan. Ibunya benar, selama ini ia sudah sangat terbiasa menghadapi Wanita yang memakai niqob dan ia tak memikirkannya sama sekali. Ia bahkan tak terlalu peduli ketika bisa melihat wajah-wajah itu dengan bebas. Tapi mengapa ia sangat merasa sulit untuk melupakan wajah Gia yang terlihat hanya karena ketidak sengajaan?
Yuni tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Fakhrul yang ada di dalam genggamannya.
"Anak Ummi sudah dewasa sekarang. Mungkin memang sudah saatnya kamu beranjak dari hidupmu yang hanya sendiri menuju ke kehidupan yang genap, di mana dirimu tidak lagi hidup sendiri melainkan memiliki pendamping," ujar Yuni.
"Maksud Ummi?" tanya Fakhrul.
Yuni memilih tak menjawab.
"Nak, ceritakan pada Ummi bagaimana sosok Nak Gia yang kamu kenal selama dua hari ke belakang?" pinta Yuni.
"Ukhti Gia orang yang baik Mi, dia sangat sabar. Keluarga Akh Farid pernah mengkhitbah dia untuk dinikahkan dengan Akh Farid. Tapi Akh Farid menolak dijodohkan dengannya sehingga perjodohan itu batal, karena waktu itu Akh Farid masih tergila-gila pada Sarah," Fakhrul mengatakannya dengan sangat jujur.
"Ya Allah, lalu Nak Gia ikhlas begitu saja saat perjodohannya batal?" tanya Yuni, kaget.
"Iya Mi. Dia ikhlas begitu saja, dia yang mendatangi Akh Farid dan memintanya untuk jujur. Akh Farid bercerita padaku sebelum aku mengenalnya, sebelum dia mengajar di sekolah. Dia sosok yang sangat tidak terduga Mi, baru sehari dia mengajar di sekolah anak-anak sudah mengantri menunggu dia datang untuk menyetor hafalan Al-Qur'an pagi-pagi sekali. Aku salut dengan caranya memberikan sesuatu untuk orang lain," jelas Fakhrul dengan senyum mengembang di wajahnya tanpa ia sadari.
Yuni melihat senyuman itu, ia tahu kalau Putranya sangat bahagia saat diminta menceritakan tentang Gia.
"Kenapa Ummi tiba-tiba ingin tahu tentang Ukhti Gia?" tanya Fakhrul.
"Karena anak Ummi satu-satunya ini sedang merasakan anugerah dari Allah yang biasa disebut oleh banyak orang jatuh cinta," jawab Yuni sambil menangkup wajah Fakhrul dengan kedua tangannya.
"Mi, aku nggak jatuh cinta sama Ukhti Gia, nggak Mi!" bantah Fakhrul.
"Oh ya? Coba tanya sama hati kamu, apakah dia bisa menolak kehadiran Nak Gia yang kini selalu kamu pikir-pikirkan?"
Yuni pun beranjak meninggalkan Fakhrul dan berjalan menuju pintu kamar. Ia tersenyum ke arah Putranya yang masih saja terlihat kebingungan.
"Mantapkan hati kamu, kalau sudah tahu apa jawaban dari hatimu katakan pada Ummi. Biar Ummi yang mengkhitbahnya untukmu."
* * *
Fakhrul POV
Aku jatuh cinta? Hanya karena tak sengaja melihat wajahnya secara sekilas aku jatuh cinta? Mana mungkin?
Aku memang sengaja menggoda Farid dengan mengatakan kalau aku akan mengkhitbah Gia jika Farid tak mau maju untuk yang kedua kalinya. Tapi itu hanya main-main, aku hanya mau membuat Farid bertindak seperti yang seharusnya dia lakukan. Lalu mengapa bisa aku jatuh cinta pada Gia?
Aku masih saja berusaha mengingat bagaimana prosesnya. Aku berusaha mengingat setiap detik yang kulalui saat pertengkaran kemarin terjadi di Kantor Guru. Aku memang memperhatikan Gia yang begitu tenang saat terjadi aksi saling sindir antara Sarah dan Safira. Dia tetap diam dan memperhatikan Sarah dengan sangat hati-hati, seakan tahu apa yang akan terjadi jika dirinya lengah.
Hingga pada saat Sarah meraih gelas berisi teh panas yang baru dibuat oleh Safira, aku dibuat terkejut dengan gerakan Gia yang begitu cepat mendekap Safira ke dalam pelukannya. Teh panas itu akhirnya mendarat di wajah Gia yang membuatnya teriak saat itu juga karena kesakitan.
Aku pun refleks bangkit dari kursiku dan menarik tubuh Sarah bersama Farid lalu mendorongnya ke lantai karena merasa marah dan kalut secara bersamaan saat melihat Gia kesakitan. Aku geram, sangat geram! Berulang-ulang kali aku melirik ke arah Gia untuk memastikan kalau Wanita itu tidak apa-apa setelah tersiram teh panas.
Ya, akhirnya aku sadar, aku jatuh cinta padanya saat pertengkaran itu terjadi. Bukan karena aku telah melihat wajahnya, aku jatuh cinta padanya karena dia begitu ikhlas melakukan sesuatu untuk melindungi orang lain.
* * *