Liam melangkah lebih jauh

533 Words
BAB 21 – LIAM MELANGKAH LEBIH JAUH Pagi itu di Milan, Grayson duduk di ruang kerja hotelnya, menatap laporan dari timnya yang baru saja diterima. Semua berita tentang Exelina telah dihapus dari media dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi dia tahu permainan Liam belum selesai. Pintu terbuka, dan Exelina masuk dengan ekspresi tajam. “Aku mendapat undangan.” Grayson mengangkat alis. “Dari siapa?” Exelina meletakkan sebuah kartu di atas meja. "Liam." Grayson menatap undangan berlapis emas itu. Sebuah pesta eksklusif di sebuah villa mewah di luar kota Milan, malam ini. “He’s playing dirty,” gumam Grayson sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Exelina menyilangkan tangan di dadanya. "Dan aku akan datang." Grayson mendongak tajam. “No, you won’t.” Exelina tersenyum tipis. “Aku tidak suka diperintah, Tuan Walker.” Grayson menggeram, bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan. “Dan aku tidak suka ketika seseorang mencoba mengambil yang menjadi milikku.” Ia menekan jemarinya di bawah dagu Exelina, memaksanya menatap ke dalam matanya. "Jangan biarkan dia mendekatimu." Exelina menantang tatapannya. “Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan. Aku ingin bermain di levelnya.” Grayson menghela napas panjang, lalu menyentuh pipinya lembut. “Kalau kau ingin bermain, Nonaku, kau akan bermain dengan aturanku.” “And what is your rule?” tanya Exelina. Grayson menyeringai. “Aku akan datang bersamamu.” --- Malam Itu – Pesta Liam Villa mewah Liam dipenuhi tamu-tamu dari kalangan elite. Lampu kristal berpendar, alunan musik klasik mengisi udara, dan deretan anggur mahal memenuhi meja. Exelina melangkah masuk dengan gaun hitam beludru yang membalut tubuhnya dengan sempurna, ditemani oleh Grayson yang mengenakan setelan hitam elegan. Mata-mata langsung tertuju pada mereka. Termasuk sepasang mata berbahaya yang sudah menunggu di ujung ruangan. Liam. Pria itu berjalan mendekat, mengenakan jas biru gelap yang berkelas. Senyumnya penuh ketertarikan saat matanya menelusuri Exelina. "Kau akhirnya datang," ucap Liam, suaranya halus tapi menusuk. Grayson berdiri tegak di sisi Exelina, ekspresinya dingin. "Dan aku pastikan dia tidak datang sendirian." Liam menyeringai. “Aku tidak menyangka kau akan mengawalnya begitu ketat, Walker. Kau takut aku akan mencuri sesuatu yang berharga darimu?” Grayson menyipitkan mata. “Aku tahu kau cukup bodoh untuk mencoba.” Exelina tersenyum kecil, lalu menyela, "Kita tidak datang untuk bertukar ancaman, Liam. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Liam menatapnya lekat, lalu mengulurkan tangannya. "Menari denganku, dan aku akan memberitahumu." Grayson langsung mencengkeram pergelangan tangan Liam sebelum ia bisa menyentuh Exelina. "Sentuh dia, dan aku pastikan kau tidak akan bisa menggunakan tanganmu lagi." Ruangan terasa membeku. Liam tertawa pelan. “Relax, Walker. Itu hanya dansa.” Exelina menatap Grayson, lalu berkata pelan, "Lepaskan dia." Grayson menatapnya dengan ekspresi tajam, tetapi setelah beberapa detik, ia melepaskan cengkeramannya dengan enggan. Exelina menerima uluran tangan Liam, membiarkan pria itu membawanya ke lantai dansa. Grayson berdiri di sana, rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh bahaya. Liam mendekatkan bibirnya ke telinga Exelina saat mereka mulai berdansa. "Kau tahu aku tidak akan menyerah begitu saja, bukan?" bisiknya. Exelina tersenyum tipis. "Dan aku tidak akan jatuh ke dalam perangkapmu, Liam." Liam mengencangkan genggamannya di pinggang Exelina. “Kita lihat nanti.” Di sudut ruangan, Grayson mengepalkan tangannya. Permainan ini baru saja dimulai. --- TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD