BAB 15 – CEMBURU ITU MEMATIKAN
Perjalanan pulang dari gala terasa sunyi. Exelina duduk di dalam mobil Rolls-Royce hitam bersama Grayson, tetapi atmosfer di antara mereka penuh dengan ketegangan.
Grayson duduk dengan rahang mengeras, jemarinya mengetuk-ngetuk paha celananya dengan ritme teratur—tanda bahwa ia sedang menahan diri.
Exelina menyadarinya, tetapi ia sengaja membiarkan pria itu berdiam diri. Ia ingin tahu seberapa jauh batas kesabaran seorang Grayson Walker.
Mobil melaju di jalanan Milan yang berkilauan oleh cahaya lampu kota, tetapi suasana di dalam kendaraan terasa lebih gelap.
Akhirnya, Grayson bersuara.
"Kau menikmatinya, bukan?"
Exelina menoleh, menampilkan senyum kecil. "Menikmati apa?"
"Liam. Perhatiannya padamu. Cara dia menantangku di depan banyak orang."
Exelina menyandarkan kepalanya ke jok, menatap pria itu dengan ekspresi tenang. "Aku hanya menikmati bagaimana kau bereaksi."
Mata Grayson menyipit, dan dalam satu gerakan cepat, ia menarik dagu Exelina, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya yang gelap.
"Aku tidak suka permainan ini, Nonaku."
Exelina tersenyum tipis, meskipun ada getaran aneh di dadanya karena intensitas tatapan pria itu. "Tapi aku suka."
Rahangnya mengeras. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak menghancurkan sesuatu.
"Exelina," suaranya dalam, nyaris seperti geraman. "Aku bisa sangat kejam jika aku menginginkannya."
"Dan aku bisa sangat tak terduga jika aku menginginkannya."
Mata mereka saling beradu, penuh tantangan.
Mobil berhenti di depan hotel bintang lima tempat mereka menginap. Grayson turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Exelina. Tapi kali ini, ia tidak hanya menawarkan tangannya. Ia menggenggam tangan Exelina erat, seolah memastikan bahwa wanita itu tetap berada di sisinya.
Mereka berjalan masuk tanpa sepatah kata pun. Namun, saat mereka sampai di kamar suite mewah mereka, Grayson akhirnya tak bisa menahan diri.
Dalam satu gerakan cepat, ia menekan Exelina ke dinding, tubuhnya mendominasi ruang di antara mereka.
"Berhenti bermain dengan apiku, sayang."
Exelina menatapnya, tidak gentar sedikit pun. "Dan jika aku tidak mau?"
Grayson tersenyum miring, tetapi tidak ada kelembutan di sana. "Maka aku akan memastikan kau terbakar di dalamnya."
Jemarinya mengangkat dagu Exelina, ibu jarinya menyapu bibirnya dengan sentuhan yang begitu ringan, tetapi sarat akan ancaman tersembunyi.
"Jangan pernah menguji kesabaranku lagi, Exelina."
Exelina merasakan detak jantungnya meningkat, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Dan kau jangan pernah meragukan seberapa jauh aku bisa melangkah."
Keheningan mengisi ruangan.
Dua jiwa penuh bara saling menguji, saling menantang.
Dan satu hal yang pasti—
Ini bukan hanya kecemburuan biasa. Ini adalah obsesi.
---
TO BE CONTINUED…