Risma menatapi pesan itu lama. Membeku sampai lupa berkedip. Beberapa hari lalu, pesan itu membawakan kebahagiaan paling manis di hidupnya. Sangat manis, sampai ia menelan semuanya tanpa sadar kalau itu racun. Lebih mematikan dari racun manapun hingga ia mati rasa. Itu hanya awal bencana yang membuatnya beku seperti mayat hidup. Otaknya masih menghayal seandainya ia menolak ajakan Hanin Rahardja, apakah Chris masih bersamanya? Drrt... Di atas pesan itu ada pesan dari Bank yang menginformasikan saldo masuk dari rekening seseorang. Angkanya tak main-main. Entah berapa digit, namun sepertinya cukup untuk membiayai program doktornya kelak. Risma tak perlu mengecek itu dari siapa. Mereka telah bernegoisasi. Di jari manis itu masih terpasang cincin berlian yang berkilauan. Serta nominal u

