A Girl From The Past

1316 Words
Chris masih ingat—sekitar dua tahun lalu di sebuah kafe, ia tengah sibuk memilih kue yang tersusun dalam etalase. Mata sipitnya terfokus ke deretan kue-kue empuk itu hingga tak menyadari eksistensi pria berbaju hitam di belakang punggungnya. Saat itu posisi dompetnya terselip di saku belakang celana, menunjukkan sepertiga sisi dompet yang seolah berkata, “Aku siap dicuri.” Dan siapapun yang sedang sekarat ekonomi pasti tergoda. Kebetulan kafe itu tidak terlalu ramai pembeli karena menjelang petang. Dan b******n berbaju hitam itu dengan nekatnya berpura-pura menjadi calon pembeli sambil terus berdiri di belakang Chris. Matanya awas pada dompet kulit berlogo 'Coach' milik pria itu. Beberapa menit setelahnya, ketika pria ini berhasil mencuri dompet milik si pria sipit, muncul suara lengkingan dari seorang gadis yang memenuhi ruangan. Gadis itu berteriak, "Pencuri! Mas baju biru awas, mas!" Chris spontan menoleh, mendapati sosok pria yang memegang dompet miliknya dengan posisi siap melarikan diri. Beberapa orang termasuk barista kafe seketika panik, ada pula yang menjerit. Suasana menjadi kurang kondusif. Namun, gadis bersuara nyaring itu justru maju dan menghadang jalan si pencuri, bersamaan dengan Chris yang sigap mengunci pergerakannya. Tangan kecil gadis itu merebut dompet milik Chris dan menyimpannya di saku rok abu-abu. Salah satu barista ada yang menelpon polisi sementara pengunjung lain keluar menyelamatkan diri. Meski berhasil merebut dompet milik Chris, siswi berseragam ini masih mengepung si pencuri dengan ransel sebagai tameng. Chris tahu anak itu kesulitan karena rok panjangnya yang melebihi mata kaki—terlihat rentan untuk robek ke atas. "Diam di tempat, pak. Diam di tempat!" siswi itu mengangkat ranselnya, berniat mengancam. Kaki-kakinya lincah menghadang layaknya bocah bermain gerobak sodor. Ia menjegal kaki b******n itu hingga terjerembab ke depan. Jatuh dengan muka mencium lantai. Kalau dipikir-pikir, berani sekali dia menghadang pencuri dengan tubuh sekecil itu. Siapapun tahu ia jelas kalah dari segi fisik. Tak lama kemudian, untungnya polisi datang bersama timnya. Mereka bergegas mengambil alih pelaku untuk segera diborgol—Chris mendapat dompetnya kembali. "Makasih ya, dek." "Sama-sama, mas." siswi itu mengangguk, "Lain kali hati-hati." Ia berbalik pergi. "Tunggu sebentar!" Chris berhasil menghentikan langkah gadis itu. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkan tangan. "Ini, ada sedikit—" "Aduh, nggak usah mas. Disimpen aja." gadis itu menolaknya dengan halus. Gigi-giginya yang rapi tampak manis dengan lesung pipi di kedua sisi. "Nggak usah, terimakasih." Chris tak bisa berbuat apapun ketika gadis itu mengangguk sopan lalu berbalik untuk pulang. Ingin rasanya ia mengantar dan mengikuti sampai rumah, lalu berterimakasih sekali lagi. Dompet itu bagaikan nyawa bagi Chris. Tanpa gadis dengan lengkingan keras itu, entah apa yang akan terjadi. Oh, sebentar. Ada sesuatu yang jatuh di lantai. Chris membungkuk dan mendapati sebuah name tag milik siswi tadi. Ia buru-buru keluar untuk memberikan benda kecil itu namun batang hidungnya sudah tak tampak di area sekitar. Selain bersuara cempreng, gadis bertubuh kecil itu cepat sekali menghilang. Farisma Adrienata; Chris membatin. Nama yang indah, omong-omong. Gadis penyelamat dompet itu bernama Farisma Adrienata. Bocah bersuara nyaring itu sekarang menjadi salah satu karyawannya. Pantas ia merasa tak asing saat membaca namanya di salah satu berkas pelamar. Ternyata ia gadis pemilik name tag itu. Mereka bertemu kembali di sesi interview kerja. Mengenal satu sama lain sebagai atasan dan calon karyawan. Diam-diam Chris berharap agar Risma masih mengingatnya. Ia tersenyum tipis di sepanjang interview sambil memberikan pertanyaan yang sesekali out of topic. Netranya memperhatikan gigi putih yang tersusun rapi, serta kedua lesung pipi yang masih memberi kesan manis. Namun sepertinya, gadis ini sama sekali tak ingat. Mulutnya hanya berbicara ketika diberi pertanyaan. "Perusahaan suka dengan pribadi pekerja keras. Saya harap kamu bisa bekerja dengan semangat yang sama." Chris menarik kurva di bibirnya, memandang Risma dengan mata yang tersenyum. Itu alasan sebenarnya Christian meng-interview pelamar mereka. Ia tak sengaja membaca berkas calon rekrutan baru sebelum mendapati nama itu. Farisma. *** Satu hal yang jarang diketahui publik adalah status Risma yang sebenarnya mahasiswa. Ia masuk ke kampus swasta tahun ini dan memilih kelas karyawan—yakni kelas yang dilaksanakan saat malam hari, selepas kerja. Rekan-rekan sekelasnya didominasi oleh pekerja kantor, freelancer, bahkan ada yang telah menikah dan berumah tangga. Risma merasa seperti bocah yang tersesat ketika berada di kelas yang sama dengan mereka. Agaknya ia kesulitan mengikuti alur pembicaraan yang melulu tentang anak, pekerjaan, bahkan kebiasaan seks. Ew. Ting! from : Pak Indra Manj. Bisnis Diinfokan pada seluruh mahasiswa, bahwa malam ini tidak ada kelas. Ada kepentingan mendadak di rumah sehingga saya tidak dapat memberikan kuliah. Silakan anda tetap mengerjakan tugas individu minggu lalu terkait tema yang telah ditentukan. Konsultasi akan dimulai minggu depan, terimakasih. Group chat mahasiswa di kelas Risma mendadak heboh seiring pembatalan kelas. Sebagian antusias karena bisa istirahat, namun ada juga yang mengeluh karena tak dapat mengonsultasikan tugas lebih awal—biasanya sih, mahasiswa ambis. Satu pesan lagi masuk dari Nisha, mahasiswa ber-IPK dua koma, yang hobinya bilang “Info tugas.” di grup kelas. Dan apabila grup chat itu tak merespon, ia akan memberondong notifikasi Risma dengan pesan, “Bagi tugas dong, kak.” Kemudian akan dijawab, belum, oleh Risma. “Alah, tipu. Kak Farisma nggak mungkin belum ngerjain tugas.” Gadis itu mengetik balasan, “Kalau mau ngerjain bareng, gue tunggu di kafe tiga puluh menit lagi. ” Lalu mengirim Share-loc. Setelah itu tidak ada respon dari seberang. Berbekal dompet dan totebag berisi laptop, Farisma berangkat menuju kafe 24 jam yang berlokasi di dekat swalayan kota. Jalanan belum terlalu ramai saat ia melintas dengan motor matic putihnya. Segera setelah memesan, mahasiswi semester muda itu mengambil tempat duduk dekat jendela. Tentu saja setelah mengisi password WI-FI kafe, ia membuka file makalah yang masih terisi setengah. Ia sengaja memilih spot itu karena terdekat dengan stop kontak dan jauh dari AC. Tubuhnya tak tahan dingin. “Iya, minggu depan gue berangkat ke Surabaya. Tenang aja kalau soal franchise yang di jalan Kalimantan, udah gue serahin sama Dinda.” Tunggu sebentar, suara itu— Risma menoleh, menatap punggung lebar berbalut kemeja biru yang membelakanginya. Dapat ia hirup aroma white musk yang familiar. Wajah pucatnya kebetulan menoleh ke samping dan mempertontonkan mata sipit yang familiar. Wajah oriental itu. Beliau, Pak Chris?! “Shit.” Detik itu juga Risma ingin menutup laptopnya, mengambil kunci motor lalu ngacir pulang. Tak peduli dengan kopinya yang masih diracik—ia hanya ingin menghilang. Demi apapun dirinya tak menyangka akan bertemu Christian Rahardja di area publik. Risma tak ingin menyangkal bahwa ini adalah jackpot, namun seperempat dari otaknya mencoba realistis. Lebih baik segera menghindar daripada- “Ice coffee latte, silakan.” Terlambat. Minumannya sudah datang. M-makasih. Tangan Risma sedikit tremor selagi menggeser minuman. Mulutnya segera menyesap kopi dingin itu dan berusaha untuk low profile. Muncul keringat dingin, Risma menggeram frustasi yang naasnya menarik perhatian Chris. Sialan. “Maaf mbak, boleh minta tisu?” Apa? “Tisu.” ulang Chris. Apa pria itu bicara padanya? “Ah, ya. Maaf.” Farisma buru-buru mengambil sekotak tisu di mejanya, lalu memutuskan— Apakah ia harus memutar badan? Tapi, nanti Chris akan mengenalinya. Tapi tak sopan kalau, aargh. “Ini, mas. Maaf leher saya tengeng.” Christian menerima sekotak tisu itu dengan kernyitan, meski akhirnya mengucap terimakasih. Risma menghembuskan nafas lega usai bersikap konyol pada pria yang lebih tua. Ia baru saja menyalurkan kotak tisu melalui samping lehernya, tanpa menoleh. Oke, ia memang tak sopan. Namun, menghadap Chris sama saja dengan membuka percakapan. Risma pribadi takut tak sengaja membocorkan statusnya yang masih mahasiswi; ia ingin menjaga privasinya rapat-rapat karena banyak perusahaan yang menolak pekerja mahasiswa sepertinya. Ia takut disidang. Tak berselang lama, Farisma mendapati Chris yang menuju pintu keluar. Setelah sekian menit, ia mampu bernafas lega sambil menyenderkan tubuh ke kursi. Kepalanya menoleh ke kursi bekas milik sang bos, ada dua gumpal tisu di samping gelasnya, serta sebuah kartu. Kartu berwarna hitam dengan sederet angka yang tercetak menonjol, serta sebuah logo bank di atasnya. Apa itu kartu kredit? Tubuh Risma mendekat. Sambil menyipit. “Wait…MasterCard…" Sial, apa Chris meninggalkan kartunya?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD