Sleep Over?

1422 Words
Farisma buru-buru menyambar benda berharga itu, berlari keluar untuk mengejar sang empunya kartu. Tubuh Chris masih tampak di pandangan ketika ia melangkah keluar. Namun sayang, kaki-kaki pendek milik Risma tak mampu mengejar lebih cepat. Chris telah masuk ke mobilnya. Ia kehabisan waktu. Jadi, mau tak mau Risma harus melipat laptopnya, berkemas dalam sekian detik lalu menyusul dengan motor matic yang kecepatan berlarinya kalah jauh dengan kuda besi milik si bos. *** Usai memarkirkan mobil di garasi, Chris melepas sepatu putihnya dan duduk di teras rumah. Menyamankan posisi lalu merogoh ponsel yang berdering sedari tadi. Pelakunya ialah Januar, kawan sekampus yang kini menjadi asisten pribadinya dalam berbisnis. “Iya, iya. Nanti gue kirim lewat email aja gampang, kan? Nggak usah buru-buru, lagian—” Belum selesai mulutnya berbicara, Chris mendapati sebuah motor yang berhenti di depan gerbang. Tak nampak jelas siapa, namun ia tahu bahwa sosok itu adalah wanita. Bisa ia lihat dari celana high waisted dan sweater merah muda yang melekat di tubuhnya. “Lo bilang bakal kirim email kemarin. Mana, Chris? Gue udah tungguin—” “Bentar, gue tutup dulu. Nanti sambung lagi.” ponsel itu masuk ke saku. Mungkin Januar sedang menyumpah sekarang—masa bodoh. Matanya terfokus pada gadis yang tertangkap pandangannya. Ia sendirian. Berdiri dengan tubuh kaku. Chris berjalan pelan ke depan. Sedikit mengintip dari celah gerbang. “Maaf, cari siapa, ya?” Wanita itu tertutup kaca helm. Diam beberapa detik dengan tangan gemetar kecil. Pria bermata sipit itu akhirnya membuka gerbang. “Bisa saya bantu?” Risma mengangkat kaca helmnya, “Pak Chris?” Mereka berpandangan. Mata Christian mengernyit samar sebelum akhirnya mengingat sosok itu. Farisma, yang pernah ia wawancarai, yang tiap hari bekerja di perusahaannya. “...Iya, ada perlu apa?” Terlepas dari itu, Chris dengan gentle membiarkan Risma memasuki pekarangan rumahnya. Momen ini tampak sangat janggal. Bagaimana motor butut gadis itu mengikutinya sampai sini? “Nggak lama kok, pak. Cuma mau ngembaliin ini,” Risma merogoh tasnya. “Kartunya ketinggalan.” Chris terkejut bukan main. Kartu berlogo MasterCard dengan nomor seri persis miliknya, ada di tangan gadis itu. “Ya ampun, kok bisa?! Kamu nemu di mana?” Risma tersenyum canggung. Ia menyerahkan benda tipis itu sebelum menjelaskan, “Jadi begini, Pak Chris…” gadis itu gugup. “Setelah anda pulang dari kafe tadi, saya mau ambil tisu saya lagi. “Terus nggak sengaja lihat kartu, yang saya asumsikan milik Bapak.” Farisma meringis sebentar, ia tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. “Oh, kamu yang ngasih kotak tisu tadi ke saya?” Nah, kan. Risma mengangguk. “Iya, hehe…” Chris menelisik, “Lehernya masih tengeng?” Masih, pak. Risma benar-benar merasa diinterogasi. Bukannya senang mendapat kartu itu kembali, Chris justru bertanya-tanya pasal dirinya yang tak penting. Percakapan itu langsung terhenti saat Risma berpamit pulang. Ia sudah menaikkan standar motor lalu menekan tombol starter, namun urung karena Chris menahan lengannya dengan alasan ingin konyol; menyuguhinya minum. “Kamu bela-belain nyusul saya sampe ke sini cuma buat ngembaliin kartu. Jadi sebagai rasa terimakasih, saya mau kamu masuk dan minum dulu. Sebentar aja, ya? Saya juga punya kue. Saya ngga bisa ngabisin sendiri.” serentetan kalimat Chris meluluhkan hati Risma. Rasanya tak sopan bila menolak pria sebaik ini. Itu tadi tidak konyol, itu manner karena Chris merasa harus balas budi, pikir Risma positif. “Nggak perlu malu, saya tinggal sendiri, kok.” Saya tinggal sendiri, kok... Kalimat itu terngiang-ngiang di otaknya. Seketika Farisma mencicit, “Um, tapi ini—” “Nggak, apa-apa. Ayo, masuk!” Akhirnya kedua insan itu masuk ke dalam rumah. Risma mendudukkan bokongnya dengan canggung sementara Chris berjalan menuju dapur. Pria dua puluh delapan tahun itu kembali beberapa saat kemudian dengan secangkir white coffee dan lemon cheese cake lembut. Ia mempersilakan tamunya untuk menikmati jamuan “seadanya” di meja. Masih dengan perasaan malu, Farisma mencoba mencicipi cake yang ia yakin setara uang jajan bulanannya. Obrolan pun tak dapat dihindari karena Chris selalu punya topik untuk dibahas. Pria itu ternyata lumayan talkative tatkala di luar kantor. Suasana mencair dengan sendirinya. Beberapa menit berlangsung dengan obrolan yang tak jauh dari masalah pekerjaan. Ruangan itu terisi dengan tawa ringan Chris yang sesekali mengalun indah. Hingga mereka lupa, bahwa detik jam terus berputar. “Udah setengah sembilan.” ucap Chris, sambil memandang mata Risma. “Yakin mau pulang sendiri?” Well, otaknya tak bisa memungkiri bahwa rasa takut kian melekat di dadanya. “Saya bisa antar kamu pakai mobil. Motor kamu biar dianter orang suruhan saya besok pagi.” tawarnya. “Lagipula ada sisa kamar kok, kalau kamu mau menginap.” Farisma tetap menggeleng meskipun Chris memberi tawaran bagus, ia mengucap tidak usah, terimakasih, lalu melangkah keluar dari rumah. “Jalan raya kalau jam segini bahaya sekali, lho. Apalagi di sini kawasan perumahan baru. Rentan. Udah ada duka kasus begal selama sebulan. Kamu nggak baca cerita?” Chris melanjutkan ucapannya. Otak Risma mulai denial. “Tapi kalau mau pulang nggak apa-apa sih, berdoa aja ya, biar nggak ada kakek-kakek yang nyegat minta dianter ke makam.” Chris terkekeh kecil, ia memandang gadis di depannya yang mulai pucat. Tangannya berpura-pura menutup gerbang sambil berkata, “Tapi jangan ngebut. Soalnya lampu jalan sering mati. Hati-hati ya, Risma-” “Tunggu.” “...” “Saya mau.” *** Tak seperti kebanyakan eksekutif, Chris memilih untuk mendesain rumahnya menjadi minimalis dan nyaman untuk ditinggali. Ia membeli sebidang tanah di kawasan perumahan baru untuk dibangun menjadi tempat tinggal pribadinya selama setahun terakhir. Putih gading menjadi pilihannya dalam mengecat tembok rumah agar terkesan hangat. Ia memilih furnitur dengan warna yang serupa serta beberap lukisan bunga yang terpasang di di ruang tamu. Usai Risma setuju untuk menginap—meski setelah beberapa kali dilingkupi keraguan, Chris memberikan mini home tour pada gadis itu. “Saya bangun tiap pagi, bersihin tiap sudut rumah pakai itu.” jelas Chris sambil menunjuk vacuum cleaner. “Tapi kadang, mama saya panggil maid buat bersihin rumah kalau saya ke luar kota.” Ucapan Chris seolah menjawab pertanyaan di benaknya. Sebelumnya, Risma mengira bahwa Chris tinggal di mansion seperti rumah-rumah CEO di novel. Namun, praduganya meleset. Christian lebih memilih tinggal di tempat yang menurutnya comfy tanpa harus bermewah-mewah. “Nah, malam ini kamu tidur di sini. Kamu bisa ambil selimut di lemari kalau masih dingin, oke?” Risma mengangguk, lalu bapak tidur di mana? “Saya bisa tidur di ruangan satunya,” “Bukannya yang itu kantor pribadi bapak?” Chris menggeleng. “Di sana ada single bed, kok. Lengkap. Kamu nyamanin diri aja di situ, oke?” Mereka berpisah. Farisma memasuki kamar dan segera mencuci kaki. Kebetulan ada kamar mandi dalam yang membuatnya bersyukur tidak harus keluar lagi. Sebelum merebahkan diri, Risma memutuskan untuk berjalan ke balkon untuk menghirup udara malam. Netranya menangkap bentuk bulan yang nampak seperti kedua mata Chris saat tersenyum; bulan sabit. Sipit, namun manis. Wajah tulus pria itu terekam di otaknya dan secara tak langsung meingkatkan kadar serotonin di tubuh—membuatnya bahagia. Christian Rahardja benar-benar visualisasi dari pria karakter novel yang selalu indah dipandang namun mustahil dijangkau. Sepertinya Risma harus bersyukur karena berkesempatan untuk tidur seatap dengan pria semenawan Chris, meskipun tak seranjang. Farisma, kondisikan pikiranmu! Ia menepuk pipinya sendiri. Tok tok! Kepala gadis itu menoleh. Mempersilakan Chris untuk masuk. Pria itu menyembulkan kepala dari balik pintu, lalu bilang bahwa selimut yang di lemari ternyata sedang di-laundry. Makanya ia datang untuk mengantar selimut tebal tambahan karena akhir-akhir ini suhu di Indonesia seperti di puncak. Aduh, gemasnya. “Kamu liatin apa?” Farisma nyengir, “Bulan. Dari sini bagus, Bapak pasti sering liatin langit dari sini.” Chris tersenyum. “Oh iya, udah kasih info ke ibu kamu?” Risma mengangguk. “Yaudah, silakan kalau mau tidur sekarang. Mau main hape juga boleh.” Mereka berdua terkekeh. “Biasanya anak-anak zaman sekarang tidurnya malem-malem, ngga sih? Atau malah ngga tidur.” tukas Chris yang ditanggapi tawa ringan. Usai Risma duduk dan menyamankan dirinya di ranjang, tiba-tiba saja Chris mendekat. Pria itu memajukan tubuh hingga sang gadis mundur dan membentur kepala ranjang. Indra penciumannya menghidu harum parfum yang menguar dari tubuh tegap sang pemilik rumah. Tangan kiri Chris sudah berada di sisi kanan Risma, sementara jarak hidung mereka mungkin hanya dua puluh senti. Terdengar suara nafas mereka yang saling bersahutan. Risma bahkan bisa merasakan hembusan lembut pria yang secara harfiah—berada di atasnya itu. Ia sudah menatap takut. Tubuh pria itu begitu besar dibanding miliknya. Namun ternyata, Christian hanya ingin membantu menyalakan lampu. Lampu tidur yang berada di nakas kanannya. Chris melangkah mundur, “Selamat tidur.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD