Late Night Talk

1008 Words
Selamat tidur… Suara bariton milik Chris bergaung di telinganya. Tak lupa dengan seringaian kecil yang sialnya terlihat sangat menarik di mata si Risma. Punggungnya yang tegap, seperti perisai yang sanggup melindunginya dari apapun.. Tak ada yang gadis itu lakukan selain mendengus sebal sambil menetralisir rasa gugup yang hinggap. Risma tahu pria itu baru saja bermain-main, namun apa-apaan tadi?! Dengan posisi seperti itu, tiap orang yang melihat pasti mengira mereka akan— 02.05 Terbangun di pagi buta sangatlah menyebalkan. Hasrat ingin ke kamar mandi, rasa haus, perut keronconagn, Risma benci itu semua. Dengan sebal, ia menendang selimut dan memutuskan bangkit—menyeret kakinya keluar kamar. Temaram lampu di rumah bosnya menerangi ruang itu. Jadi, ia memberanikan diri untuk jalan ke dapur untuk segelas air. Ia pikir Chris tengah tertidur, mengingat pintu ruangannya yang tertutup. Namun ternyata, “Ya Tuhan!” Farisma menjerit kaget, hampir menjatuhkan gelasnya. “Ya ampun, pak. Kenapa bapak berdiri di situ?” Kedua matanya melotot. “Maaf, kamu kaget ya?” kekeh pria itu. Tampaknya Chris baru bangun tidur, suaranya serak. Dan dalam. “Ekhm,” Risma mendekati dispenser. “Saya cuma mau ambil minum.” “Silakan.” Entah mengapa, Risma merasa atmosfir di sekitar mereka kembali canggung. Ia gugup tanpa sebab usai mendengar kekehan Chris yang mengalun dengan indah. Selain senyum yang tulus, suara bangun tidur pria itu menjadi favorit barunya. “Oh ya, waktu di kafe tadi, kamu lagi ngerjain apa?” Sial, Risma harus menjawab apa? “Umm, sebenarnya…” gadis itu menatap manik milik Chris. “Saya mahasiswi.” “Oh, ya?” Chris justru antusias. Tangannya menarik kursi di meja makan diikuti Farisma. Mereka duduk bersebelahan. “Pak Chris nggak marah?” Kenapa saya harus marah? “Bukannya, perusahaan cari karyawan yang full-time worker, ya? Bukan yang sambil kuliah?” “Saya nggak menerapkan aturan seperti itu sejak awal.” tukas Chris yang membuat Risma tercenung beberapa detik. “Saya justru mengapresiasi orang yang mau melanjutkan studi seperti kamu. Itu berarti kamu punya desire, punya gairah untuk meningkatkan kualitas hidup dan nggak stuck di satu tempat.” Chris memandang netra milik Risma dengan teduh. Ia meminung gelasnya yang ternyata berisi wine. “Masa’ kamu mau bekerja terus-terusan di perusahaan saya, nggak kan?” Dua orang itu saling pandang. Chris memberinya tatapan tulus, sementara Risma sibuk menyelami manik pria yang dihormatinya itu dengan perasaan kagum. Rasanya ia dibuat jatuh berkali-kali dengan pesona pria yang seperti ini. Selama melabuhkan hati pada pria semenawan itu, Risma belum pernah merasa kecewa. “Justru kalau kamu ada kendala sama kuliah, saya siap kok membantu.” Chris tersenyum samar, tangannya mengusak rambut gadis itu. “You deserve it, Farisma.” Kedua manik gelap gadis itu bergetar kecil. Meresapi setiap kalimat dari mulut Chris yang benar-benar menjadi penyembuh tersendiri baginya. Ia tak bosan menatap lengkungan bulan ketika pria itu tersenyum. Tak sampai di situ, Chris masih menambahkan, “Kamu juga bebas buat nggak ikut lembur seumpama ada jadwal mendadak. Kamu kuliah malem, kan?” Pertanyaan itu diangguki oleh Risma. “Saya dulu juga ambil kelas malem.” “Pak Chris?” “Hu’um.” pria itu tersenyum sambil mengangguk. “Saya sering ikut Papa ngurus perusahaan, terjun langsung buat menangani masalah-masalah yang muncul di kantor. Berusaha ambil bagian di tengah hectic-nya cara kerja sebuah company, ngerjain sedikit demi sedikit tugas Papa sambil pusing sendiri. Malemnya berangkat kuliah, ngerjain tugas sampe pagi, tidur sebentar, terus berangkat. Diulang terus selama empat tahun.” Christian tidak lahir untuk menjadi pemimpin—dia dibentuk. “Saya melewati semua proses itu, saya juga nggak malu mengakui kalau dulu sering nangis. Merasa nggak cukup baik buat ngisi posisi Papa, takut nggak lulus, takut IPK jeblok. Jadi kalau ada orang yang berada di proses demikian, saya salut. “Dan kamu adalah salah satunya, Farisma. Kalau kamu masih berjuang di tengah-tengah badai ini," Chris menarik ujung bibir. "saya dukung sepenuhnya. Belajar yang rajin, capai sukses kamu sendiri dan jadi saingan saya.” Menjadi saingan Pak Chris? Farisma meloloskan tawanya, yang ditanggapi kekehan oleh pria yang lebih tua. “Lho, mungkin aja nanti kamu bisa bangun perusahaan sendiri, dan jadi pesaing saya, kan?” Ia tersenyum lembut, menyadari satu hal yang jarang orang pikir selama ini; Chris ditempa sebegitu keras hingga menjadi Christian yang sekarang. “Bapak hebat.” Alis pria itu memicing, “Hm?” “Maksud saya, untuk mencapai di titik yang sekarang pasti berat sekali, kan? Saya tahu kalau beban yang ada di pundak bapak pasti berat.” Kekehan Chris mengalun pelan. Sambil menggoyangkan gelas wine, ia tatapi mata gadis yang setengah ngantuk itu. “Karena bercermin dari diri sendiri, kuliah sambil kerja itu susah. Apalagi bapak yang harus berhadapan sama perusahaan di umur yang masih muda.” Chris balik menatap Risma. Tersungging senyuman tipis di sudut bibirnya. “Bapak dulu sebagai mahasiswa pasti pingin bebas sama temen-temen, kan? Apalagi awal dua puluhan. Saya juga gitu. Tapi kita sama-sama sadar kalau ada tanggung jawab yang menanti di depan mata.” gadis itu menjeda. “Meski sering merasa ngga adil, tapi sebenarnya kita sedang berinvestasi pada diri sendiri. “Ada masa-masa di mana saya ingin nyerah aja, pilih salah satu antara kerja atau kuliah. Tapi begitu melihat bapak, entah kenapa saya jadi terpacu. Bapak seperti role model buat saya kalau menjalani dua kesibukan di waktu yang sama bukanlah hal yang sia-sia, walaupun prosesnya panjang.” kalimat itu Risma akhiri dengan senyum tipis, dan mata yang menatap teduh. Orang seperti bapak sangat pantas untuk mendapat kasih sayang lebih. Jujur saja, pria bermarga Rahardja itu tak pernah mendapat ulasan semenyenangkan ini dalam hidupnya. Farisma adalah yang pertama mengerti. Publik hanya menganggapnya beruntung karena terlahir sebagai putra direktur utama. Tak pernah mereka menyaksikan seberapa keras perjuangan dan betapa lelah mental serta fisiknya hingga tiba di titik ini. Christian sadar bahwa Farisma hanyalah dirinya di versi muda. Ia paham bahwa gadis itu sedang merasakan kegelisahan yang sama—gelisah akan hasil yang entah membuatnya berhasil atau justru babak belur setelah semua ini. “Trust me, Fa. You won’t regret it.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD