A Slight Attention From That Man

1348 Words
Pukul 07.30, suasana garmen besar yang masih sarat eksistensi orang-orang itu harus terisi oleh pekikan Nova yang nyaring. Gadis itu heboh sambil mengguncang-guncang tubuh sohibnya; Farisma yang baru saja selesai menceritakan kejadian semalam. Nova menjadi pendengar pertama atas peristiwa yang terdengar sedikit fiksional itu—bagaimana Risma yang awalnya cuma ingin mengembalikan kartu kredit milik sang bos, namun berakhir menginap di kamarnya. Serta bagaimana beliau memperlakukan Risma dengan gentle dan membangun obrolan di jam dua pagi. You know how romantic that is? Nova masih menjerit tak jelas, gemas sendiri usai mendengar kisah yang menurutnya too good to be true. “Terus, lo pulang jam berapa?” “Jam enam. Pada akhirnya dianterin juga sih, dan motornya dibawa sama bawahannya pak Chris.” Usai perbincangan tak jelas itu, keduanya segera masuk. Orang-orang telah bersiap di belakang mesin jahit bersama helaian kain. Risma menempati mesin jahit putih, menekan tombol on di sisi kanan dan memulai tugasnya. Kondisi di ruangan itu berjalan kondusif sebelum tiba-tiba Pak Rudi mengumumkan jadwal lembur pada seluruh pekerja. Cukup mengejutkan mengingat tak adanya persiapan diri untuk bekerja overtime hari ini. Farisma tentu kelimpungan, ia tak bisa tiba-tiba izin pada dosen mengingat hari ini jadwalnya melakukan presentasi. Haram pula baginya untuk membolos lembur jika tak ingin disidang di ruangan Pak Rudi. Pria berperut buncit itu jarang menoleransi karyawan yang menurutnya pemalas, dan seenaknya sendiri memberi poin minus yang berdampak pada gaji bulanan, sial. Tepat pukul 11.30, asisten kepala bagian tim jahit melakukan listing pada karyawan yang mengikuti lembur. Beliau berjalan mengelilingi tiap line untuk meminta paraf persetujuan, termasuk pada Farisma yang masih menatapnya ragu-ragu. Tangan gadis itu masih memegang bolpoin, namun enggan menggoreskan paraf. Panik tiba-tiba menyerang kala Bu Sri merecokinya dengan pertanyaan, "Kamu ikut lembur, nggak? Kalau enggak cepet kembaliin pulpennya." Beberapa orang memandang seolah tahu apa yang sedang ia pikirkan. Menggigit bibir, akhirnya Farisma menyerahkan kembali bolpoin itu sambil mendesah kesal. "Maaf, Bu. Saya ada kelas malam ini." ucap Risma yang tak mendapat respon apapun. Bayangan pria tua yang menyidangnya di kantor mendadak muncul di kepala Risma. Ia takut—bukan, ia jengah menghdapi ocehan Pak Rudi yang terhormat itu. Di sisi lain, agenda kelas malam juga amat penting karena presentasi sangat memengaruhi nilai keaktifan. Argh, dasar sial. Risma merengut, kembali melanjutkan tugasnya dalam mood yang buruk. Ia mendecak sebal ketika beberapa orang mulai menanyakan alasannya melewatkan lembur. Ia telah menjawab belasan kali pertanyaan itu dengan, "Saya kuliah, mbak." yang tentu mendepat bermacam respon termasuk pandangan remeh karena menolak bayaran lembur dan memilih studi. Mereka tak akan paham, abaikan saja, Risma. Nova menimpali, "Santai coy, bonus lembur ngga seberapa. Yang penting kuliah dulu." dan dibalas senyuman olehnya. Meskipun pada akhirnya dipanggil ke ruangan Pak Rudi, ia lega karena alasan kuliah masih bisa ditolerir. Beliau memang sempat memberinya “wejangan” agar tidak mencampuradukkan kedua aktivitas menjadi satu. Namun usai menerima telepon singkat dari seseorang, Pak Rudi mengubah keputusannya dan mengizinkan Risma untuk membolos lembur. Ajaibnya lagi, beliau bilang bahwa ada kebijakan khusus bagi karyawan-mahasiswa untuk diberi kelonggaran. Sebuah privilege yang harus Risma syukuri. Meski diliputi kebingungan, gadis sembilan belas tahun itu masih mengucap syukur. Tanpa sepengetahuannya, pria bermata sipit itulah yang memberi libur spesial. Akan sangat mencolok bila Chris masuk dan membebaskan gadis itu dari kandang macan macam Pak Rudi, maka ia berinisiatif untuk menelpon singkat dan memerintahkan bawahannya agar meloloskan Risma yang malang. Tentunya dengan embel-embel kebijakan khusus pada karyawan-mahasiswa. Sedikit nonsense bila mengingat peraturan ini tak pernah muncul di tahun-tahun sebelumnya. Namun peduli setan, asalkan Risma bisa menggunakan privilege ini dengan baik, maka tak akan muncul masalah. Oh, dan apa kalian tahu? Kalau sebenarnya kartu kredit milk Christian tak benar-benar ketinggalan malam itu? *** Kelas malam. Selain peserta yang tak terlalu banyak, program khusus ini juga kurang populer—tentu karena jam pelaksanaan yang larut dan melenceng dari kelas pagi pada umumnya. Mahasiswa di kelas ini didominasi pekerja dan telah berkeluarga. Beberapa orang dewasa bahkan ada yang menganggap kuliah ini sebagai formalitas demi menambah gelar atau mendapat promosi jabatan, tricky sekali. Di antara mereka, alumni SMA usia di bawah duapuluh juga tak banyak. Hanya empat orang termasuk Risma, sisanya telah berumur dua puluh ke atas, bahkan empat puluhan. Hal ini menjadi struggling tersendiri bagi para mahasiswa muda karena tingkat kompetisi yang tinggi. Kawan sejawat mereka adalah orang berpengalaman yang tentu lebih cerdas, partisipasi mereka dalam kelas pun tak main-main apalagi saat beropini dan menyusun tugas. Cukup memusingkan bagi Risma yang terbilang masih piyik dan punya nol experience, apalagi dengan tuntutan berat karena dosen telah menganggap mereka dewasa hanya karena status pekerja. Di kuliah malam ini, lagi-lagi Risma harus menelan kesialan karena dosen memberikan tugas makalah yang harus disertai interview dengan pengusaha lokal—boleh dari pemilik UMKM maupun petinggi perusahaan di tempat mahasiswa tersebut bekerja. Menambahkan file video atau audio rekaman interview dapat menjadi nilai plus. Risma mengumpat sial. Tak habis pikir dengan dosen tua satu ini. Dia pikir mahasiswa program malam punya waktu untuk hal seperti ini? Rasanya seperti menjalani simulasi skripsi; depressing. “Kami kan, kerja, Pak?” protes salah satu mahasiswi yang langsung disetujui lainnya. “Di hari minggu, kalian masih kerja?” skak sang dosen yang tak direspon apapun oleh mahasiswanya. “Bisa kan, explore-explore dulu pas hari minggu atau tanggal merah, terus susun pertanyaan, baru interview. Waktunya masih sebulan kok, masa nggak cukup?” Susah kali, cari pengusaha yang kayak gitu. Dwi berbisik pada Risma. “Nggak susah.” Dua mahasiswi yang duduk di depan itu langsung menunduk. “Nggak susah kalau kalian mau turun ke jalan dan cari yang masuk kriteria interview. Saya lihat banyak kok, anak-anak muda sekarang yang jualan makanan, pakaian, tapi dengan brand makanan sendiri. Nah, itu kan kalian bisa tanya-tanyain dulu.” Risma menyahut, “Ini tugas kelompok, kan, Pak?” “Individu.” *** “Tuh dosen mikir apa nggak sih, kalau gue tuh udah kerja?” Nova meletakkan ponselnya, “Sabar. Bukan cuma lo kok yang repot, tapi sekelas. Santai aja kali!” “Tapi ya, yang logis kek, beliau kan juga pernah jadi mahasiswa. Masa asal ngasih tugas, pake interview pula.” Risma menyebik. “Mana harus turun ke jalan. Anjir lah, hari minggu gue masa dipake buat nugas, ah sebel banget.” “Heh!” Nova menggebrak meja. “Lo tadi bilang kalau interview sama pengusaha, kan?” Risma mengangguk. “Hooh?” “Bos lu tuh, pengusaha. Kenapa mesti repot-repot turun ke lapangan, si?” Benar juga. Mengapa harus jauh-jauh di jalanan kalau bosnya sudah memenuhi kriteria? Risma hampir saja mengiyakan usulan sohibnya kalau tak ingat bahwa Chris adalah pria yang amat sibuk—bahkan tersibuk di antara para petingginya. “Nggak bisa, Va. Pak Chris sibuk.” sambil mengupas kulit kacang. “Belum dicoba udah pesimis.” “Bukan pesimis, tapi logis. Berharap lebih tuh nggak baik, apalagi gue bukan klien pentingnya.” “Lo emang bukan klien penting, tapi lo pernah kan, tidur serumah?” Nova mengangkat sebelah alisnya, yang spontan mendapat hadiah tepukan di dahi. Perbincangan itu berlanjut hingga beberapa jam, dengan Risma yang masih gelisah meracaukan tugas. Sahabatnya tetap diam—diam-diam merencanakan satu hal yang ia jamin akan membuat kawan senasibnya itu terkejut esok di tempat kerja. Jumat, 16.35 “Farisma?” “Iya?” gadis itu menoleh malas. Tak berekspektasi untuk bertemu sosok menawan di hadapannya, “…Pak, Chris?” Christian tersenyum, lalu memposisikan diri di hadapan salah satu karyawannya itu. “Belum pulang?” Nungguin bapak. “Hehe, parkiran masih ramai, Pak.” Christian menganggguk kecil. “Waktu kamu menginap, saya pernah bilang kalau saya bersedia membantu kalau kamu ada kendala di kampus, kan?” Risma mengerjap-erjap. “Iya?” “Tawaran saya masih berlaku sampai sekarang.” Hmm? “Temen kamu bilang, kamu ada tugas untuk interview?” Nova sialan. Tapi tunggu, kapan gadis itu bilang ke bosnya— “You want me to help you?” Mata Chris yang diliputi anak rambut itu tampak tulus. Senyumnya lebih menghangatkan daripada perapian musim dingin. “Mungkin kita bisa lakukan interview di luar, atau kalau kamu mau,” Chris mendekat selangkah. “Kita lakukan di tempat saya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD