Tawaran itu dimulai dari Nova.
Gadis itu sibuk menuntaskan Sudoku tatkala sahabatnya mengeluh soal tugas kuliah, interview pengusaha, atau semacamnya. Kedua gadis itu melipat kedua kaki untuk naik ke kursi. Menikmati angin malam yang semakin dingin di kedai kopi 24 jam. Hampir satu jam mereka rusuh membincangkan kesialan Risma di kuliah malam ini; yang mana membuat gadis berambut lurus itu geram tak beralasan. Ia mencomot satu roti goreng lalu meneguk lagi kopinya yang setengah panas.
“Tuh dosen mikir apa nggak sih, kalau gue tuh udah kerja?”
“Sabar. Bukan cuma lo kok yang repot, tapi sekelas. Santai aja kali!”
“Tapi ya, yang logis kek, beliau kan juga pernah jadi mahasiswa. Masa asal ngasih tugas, pake interview pula.” Risma menyebik. “Mana harus turun ke jalan. Anjir lah, hari minggu gue masa dipake buat nugas, ah sebel banget.”
Tiba-tiba saja terlintas ide cemerlang di otak dua giga byte milik Nova
“Heh!” ia menggebrak meja. “Lo tadi bilang kalau interview sama pengusaha, kan?”
Risma mengangguk. “Hooh?”
“Bos lu tuh, pengusaha. Kenapa mesti repot-repot turun ke lapangan, si?”
Benar juga. Mengapa harus jauh-jauh di jalanan kalau bosnya sudah memenuhi kriteria?
Risma hampir saja mengiyakan usulan sohibnya kalau tak ingat bahwa Chris adalah pria yang amat sibuk—bahkan tersibuk di antara para petingginya. Pria bermata sipit itu tak mungkin asal menyetujui ajakan interview karena urusan kantornya tak cuma ada di kota ini. Sebenarnya Risma pun tak yakin kalau bos nya itu punya waktu luang, mengingat ucapannya tempo hari lalu yang menjelaskan, “Sehari mungkin saya cuma tidur tiga sampai empat jam. Kalau weekend, paling pol sampai enam jam.” ketika dirinya menginap saat itu.
Gadis berstatus mahasiswi itu menggerutu sebal, “Nggak bisa, Va. Pak Chris sibuk.” sambil mengupas kulit kacang.
“Belum dicoba udah pesimis.”
“Bukan pesimis, tapi logis. Gue bukan klien pentingnya.”
“Lo emang bukan klien penting, tapi lo pernah kan, tidur serumah?”
Kalimat itu bukan gurauan. Nova yang sudah gemas mendengar keluhan itu, akhirnya memberanikan diri berjalan ke area parkir eksekutif.
Pagi-pagi sekali, ia menunggu Audi milik Christian sambil mengunyah sosis. Ia pikir pria itu akan datang awal karena ia putra direktur. Ternyata salah. Batang hidung Chris baru muncul pukul 08.30.
Bukan kebetulan, Nova yang terus mengawasi jendela akhirnya menangkap eksistensi pria itu. Ia ngacir ke luar sebelum mencegat bos-nya. Memperkenalkan diri singkat, kemudian menjelaskan maksud terselubung soal kawan karibnya yang tengah “bersusah hati” karena tugas yang begitu rumit.
Agak didramatisasi. Namun berhasil.
Jumat, 16.35.
Risma menatap matic putihnya yang tenggelam di antara ratusan motor lain di area parkir. Mustahil ia bisa menembus kendaraan sebanyak ini meskipun ingin pulang lebih awal
Menghela napas, gadis itu pun mendudukkan diri di bangku dekat kantin perusahaan sambil melamun. Hari ini Nova izin sakit, ia merasa kehilangan mood saat tiada satupun yang mengalihkan pikirannya dari tugas—makalah bisnis yang sama sekali belum ia susun.
Kedua iris gelapnya menatap Audi hitam milik si tuan besar yang terparkir cantik di area khusus petinggi—berikut dengan mobil lain yang punya akses lebih mudah untuk keluar tanpa berdesakkan. Ia menghela napas lelah, entah untuk yang keberapa hari ini.
Ia terduduk sambil menunggu kerumumanan orang mereda, menyentuh ikon aplikasi permainan yang sebenarnya tak sepersen pun menghibur. Matanya fokus ke layar hingga tak menyadari kehadiran pria berkulit pucat, bermata sipit—yang kau tahu siapa, mendekat.
Tangan kokohnya menepuk bahu sempit Risma yang menunduk.
“Farisma?”
“Iya?” gadis itu menoleh malas, menangkap sosok menawan di hadapannya dengan pupil yang melebar. “…Pak, Chris?”
Christian tersenyum, lalu memposisikan diri di hadapan salah satu karyawannya itu.
“Belum pulang?”
Nungguin bapak. “Hehe, parkiran masih ramai, Pak.”
Christian menganggguk kecil. “Waktu kamu menginap, saya pernah bilang kalau saya bersedia membantu kalau kamu ada kendala di kampus, kan?”
Risma mengerjap-erjap. “Iya?”
“Tawaran saya masih berlaku sampai sekarang.”
Hmm?
“Temen kamu bilang, kamu ada tugas untuk interview?”
Nova sialan. Tapi tunggu, kapan gadis itu bilang ke bosnya—
“Saya dengar kamu lagi bingung cari orang yang mau diwawancara. Katanya buat tugas, ya?”
“Err, iya, Pak.” Risma tergagap, ia mengeratkan tangannya yang berkeringat. “T-tapi, saya udah dapat kok Pak, orang yang bersedia diinterview nanti.”
Beneran?
Risma mengangguk cepat.
“Di mana?”
Aduh, di mana? “Di…, jalan raya. D-dekat pasar,” alis Risma bertaut. “mm, dekat pasar maksudnya. Iya, di daerah itu ada, banyak.”
Chris manggut-manggut usai melihat cengiran Risma. “Beliau jualan apa?”
Argh, si bapak nanya mulu dah.
“Jualan…, jualan itu. Kue—”
“Risma.” potong Chris dengan suara baritone-nya. “Saya tahu kamu ngarang. You’re really bad at lying.”
Gadis itu meneguk ludah. Ia semakin melemah ditusuk oleh tatapan itu.
“You want me to help you?” Mata Chris yang diliputi anak rambut itu tampak tulus. Senyumnya lebih menghangatkan daripada perapian musim dingin. “Mungkin kita bisa lakukan interview di luar, atau mungkin,” Chris mendekat selangkah.
“Di tempat saya?”
Kedua iris mereka beradu. Sementara Risma hanya membeku, pria itu melanjutkan, “Kamu nggak perlu sungkan untuk minta bantuan. Kalau saya pernah menawarkan sesuatu, berarti kamu termasuk orang yang saya hargai. Saya jarang menawarkan bantuan ke sembarang orang, kecuali pada orang yang saya respek.”
Risma lupa berkedip—ia berusaha menahan euforia yang tengah meletup sekarang.
“Saya juga pernah di posisi kamu, kesulitan sendiri waktu ngerjain tugas tuh, nggak enak. Saya nggak mau itu terjadi.”
Apa orang yang bernafas di depan Risma ini bersungguh-sungguh? Kalimatnya sudah membuat pipinya terasa panas sejak beberapa menit terakhir.
Namun, Chris justru melepas kekehannya. “Kalau kamu mau, temui saya di kafe yang kemarin. Jam tujuh malam, beserta daftar pertanyaannya. Untuk merekam, saya bisa memfasilitasi pakai alat pribadi.”
…
“You heard me. Kita pakai alat saya, kamera maybe, anything…”
Muka Risma sudah mirip orang dungu. Ia berkedip beberapa kali usai mendengar Chris yang berbicara santai. Pria itu yang akan menjadi subjek wawancara, kenapa pula ia repot-repot menyiapkan semuanya?
“Oh iya, di tempat itu juga ada—”
“Hei, Chris.”
Dari arah utara, muncul kaki panjang wanita berkemeja fuschia. Dari sepatu hingga hiasan rambut, Risma mampu menilai ia termasuk jajaran petinggi.
Wanita ini menyapa Christian dengan senyum paling lembut, seperti seorang istri yang menyambut suaminya pulang, lalu mencopot dasinya.
“Oh iya, Asna. Kenalin, dia Farisma. Yang saya ceritakan tempo lalu.”
Mahasiswi?
“Betul.”
Tangan Asna begitu lembut. Menjabat tangan Farisma yang kotor dan berkeringat. Kedua perempuan itu sangat kontras. Ia seketika merasa ciut saat di depan wanita itu, dibanding dirinya yang penuh dengan sisa-sisa benang.
“Kalian mau kemana?”
Chris menggeleng, “Nggak kemana-mana, kok. Cuma tugas kecil.”
“Oh, ya?” Asna tampak antusias. “Tugas apa?”
Wanita ini termasuk cukup kepo ternyata.
“Ehm, mungkin saya bisa duluan, Pak Chris.”
“Oh, gitu.”
“Mari, Bu Asna.”
Kedua petinggi perusahaan itu mengangguk. Memandang punggung Risma yang menjauh. Diam-diam Chris terkikik geli sambil menatap asistennya.
“Stop laughing, Chris.”
“Lo dipanggil ‘ibuk’, tuh.”
“So, what? Lo juga manggil gue gitu pas kerja.”
Mereka terkekeh ringan
“Oh iya, As.” Chris berceletuk. “Gue minta tolong kirimin contact personnya Farisma, ya. Urgent. Thankyou.” lalu menepuk lengan wanita itu. Berlalu meninggalkan secuil pertanyaan di kepala asistennya.